tentang

Senin, Februari 24, 2014

Kisah ABG Amrik si Trouble Maker di Sekolah

(Dimuat di Koran Jakarta, Kamis, 21 Februari 2014, versi edit Koran Jakarta di sini)

 

Judul                : Middle School (The Worst Years of My Life)
Penulis             : James Patterson & Chris Tebbets
Penerjemah      : Gusti Nyoman Ayu Sukerti
Penyunting       : Nuraini Mastura
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : I, November 2013
Tebal               : 330 hlm
ISBN               : 978-602-7816-14-5


Masa-masa di sekolah penuh dengan peristiwa-peristiwa ajaib bagi tiap orang.  Lengkap dengan bumbu-bumbu kenakalan khas Anak Baru Gede (ABG).  Lantas, apakah kenakalan kita menyamai masalah demi masalah yang dibuat Rafe Khatchadorian di buku Middle School (The Worst Years of My Life)

Inilah buku yang menggelitik tentang sosok anak yang terobsesi menjadi trouble maker di sekolah setingkat SMP, yaitu Hills Village Middle School (HVMS) di Amerika. Bercerita misi Rafe untuk melanggar 16 bagian peraturan di sekolah yang baginya memenjarakan siswa. Ia tidak suka menjadi siswa normal yang patuh. Pelanggaran pertama yang dilakukannya membunyikan alarm pemadam kebakaran sampai seisi sekolah panik (hal. 37). Ulah pertama Rafe ini justru dilakukan di hari pertama saat peraturan HVMS sedang dibacakan di aula oleh Mrs. Stricker. Rafe tak sendiri, ada Leonardo, si tukang gambar sahabatnya yang terus menyalakan nyali Rafe supaya melanggar peraturan. Leo juga membuat gambar pelanggaran siswa di buku peraturan miliknya yang memancing inspirasi Rafe membuat ulah.

Rafe kemudian membuat misi yang harus tuntas selama di HVMS dengan akronim namanya. Rules Arent For Everyone (RAFE) atau Peraturan Bukan Untuk Semua orang (hal. 54). Tujuannya, tentu saja untuk membuktikan bahwa normal itu membosankan. Di sinilah penulis berhasil membuat kelucuan-kelucuan ala Rafe untuk pembaca. Tidak sekadar narasi, lembaran-lembarannya juga dihiasi dengan ilustrasi yang sangat komikal. Membacanya membuat pembaca tak bosan karena penasaran kenakalan apa lagi yang menjadi misi Rafe. Apakah pelanggaran itu tak berujung hukuman? Sayangnya tidak, Rafe kerap mendapat hukuman, padahal targetnya menjadikan pelanggaran sebagai sahabat terbaik tanpa dihukum. 

Diceritakan pula tokoh Miller, siswa bermasalah yang tak suka dengan Rafe. Miller sejak awal sudah menetapkan Rafe sebagai target. Sadar dengan hal itu, niat Rafe untuk berbaur dengan Miller tak dilanjutkannya. Di HVSM Rafe merasa semakin terpenjara. Para guru dengan senang hati memberi hukuman setiap pelanggaran dan memanggil orangtuanya.

Di rumah, Rafe tinggal bersama Mom, Georgia, dan Carl (ayah tirinya). Ia kesal dengan Carl karena selalu bersantai di rumah. Sementara ibunya bekerja sampai dua shift agar mereka hidup layak. Sayangnya, masalah Rafe membuat sedih sang ibu. Mom ingin anak-anaknya menjadi normal seperti yang lain. Puncaknya ketika Rafe melihat ibunya menangis karena ulahnya di HVSM. Ia berjanji berubah dan menghentikan misi sementara waktu. Hal ini membuat Leo kesal. Terlebih ibu Rafe melarang anaknya tersebut bermain dengan Leo. Berubah jadi anak yang patuh membuat Rafe disenangi Jeane Galleta, gadis yang disukainya. Mrs. Donatello yang kerap menghukumnya pun ikut senang dan menyadari Rafe mempunyai bakat gambar.

Rafe yang sudah bersikap normal ternyata tetap dianggap musuh oleh Miller. Anak itu berusaha memancing kemarahan Rafe yang tak menanggapi. Lewat buku ini pembaca disodorkan bagaimana untuk menjadi baik pun harus melewati proses yang tak mengenakkan. Rafe pun demikian, Miller yang mendapatkan buku berisi catatan misi Rafe mengharuskan anak itu menebus dengan harga yang ditentukan (203). Di akhir cerita, Rafe mampu menyelesaikan masalahnya. Ia juga berhasil membuat decak kagum seisi HVSM dengan mural goresan tangannya. Tapi ia tetap dikeluarkan dari sekolah karena nilai akademik yang tak bagus. Oleh karena itu Mrs. Donatello menyarankan pindah ke Airbrook, sekolah gabungan seni visual dan akademis (hal. 309). Dari buku ini kita diajak menyadari tidak semua anak cocok belajar di sekolah formal. Bisa saja, seseorang nyaman dan berhasil justru bersekolah di sekolah nontradisional. [Elzam] 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hayuk-hayuk, kumen di sini biar saya tahu respon Anda di sajian ala kadar KecekAmbo, ukeh, ukeh... :-D

Bonusnya, ntar saya balik silaturahim, Insya Allah... ;-)