tentang

Senin, Agustus 10, 2009

Sutardji: Akan Selalu Ada Penyair Baru Seperti Rendra

By: Elzam




Penyair bersahaja, Wahyu Sulaiman (W.S.) Rendra boleh pergi meninggalkan kita, bangsa Indonesia, dengan segenap warisan karyanya. Kini jasadnya telah dikebumikan di pemakaman yang menyatu dengan Bengkel Teater W.S. Rendra, Citayam, Depok. Tidak akan ada lagi puisi yang bisa dinikmati pecinta karyanya. Puisi dengan keindahan kata-kata yang lugas, khas Rendra. Terakhir puisi yang beliau tulis dan belum sempat diberi judul salah satu penggalannya adalah Tuhan, aku cinta padamu.

Akankah ada penyair baru yang mengikuti jejak cerdasnya? Rendra adalah penyair yang dikenal kritis pada penguasa tiap zaman yang digaulinya, yang menulis karya tanpa "bergenit-genit" dalam kata-kata. Tak heran sehingga karakter puisinya begitu jernih dan ringan untuk dipahami orang awam sekali pun. Tentang ini, teman sesama penyair Rendra, Sutardji Calzoum Bachri punya pandangan sendiri.

Ditemui di sela-sela pemakaman Rendra, Sutardji mengakui kemahiran luar biasa Rendra berpuisi. Rendra telah begitu lama dia kenal. Sosok tersebut dalam penilaiannya sangat baik dan pemurah karena sering memberi uang pada siapa pun yang membutuhkan. Sebagai budayawan yang pernah dimiliki bangsa, penyair kelahiran Solo, 7 November 1935 ini dinilainya sangat berintegritas, cerdas, sekaligus humoris. Dan jika malam 6 Agustus 2009 lalu Si Burung Merak tersebut telah terbang, akan ada penyair baru yang lahir dari rahim bangsa.

"Pada suatu saat akan muncul. Penduduk Indonesia itu 220 juta jiwa. Kalau ada 1,5 persen saja yang suka berkesenian, yang diberi Tuhan kecerdasan akan selalu ada. Pada saatnya akan lahir penyair seperti Rendra," kata Sutardji.

Puisi Rendra menurut Sutardji memang banyak diakui sebagai puisi yang lugas bagi rakyat. Semua orang menyenangi, lalu membekas di hati masyarakat. Suatu bentuk kepenyairan yang tidak ditemui lewat karya penyair-penyair periode sekarang yang cenderung kabur dan gelap. "Karena penyairnya sibuk dengan dunianya sendiri, berbeda dengan Rendra yang berpuisi langsung ke masyarakat karena kelugasan itu."

Terlepas dari itu, Rendra juga meninggalkan komunitas Bengkel Teater W.S Rendra. Bagaimana arah perjuangan Bengkel Teater di Citayam yang menjadi tempat bergiat banyak penyair setelah Rendra tiada, akankah bentuk atau gagasan kepenyairan beliau pupus begitu saja? Soal ini, Rendra menurut Sutardji membangun bengkel teater dengan sikap apolitik. Sosoknya menjadi guru kreatifitas yang mendukung semua bentuk ide kreatif berkesenian. "Tidak memihak, karena kalau politik untuk mengumpulkan massa, mengumpulkan satu gagasan saya pikir bukan itu tujuan bengkel teater Rendra," tambahnya.

Bengkel teater Rendra akan tetap menjadi tempat pendidikan teater. Dalam prosesnya adalah untuk menampung kreativitas yang masing-masing bisa berbeda, termasuk dengan Rendra sendiri misalnya. Perbedaan yang menurut Sutardji sangat mungkin terjadi. [Elzam]

Puisi terakhir Rendra yang ditulis ketika sakit, dan diperlihatkan masih dalam tulisan tangan Rendra sendiri.

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

Rendra
31 July 2009
Mitra Keluarga

Kamis, Juli 02, 2009

Imelda cantik dan sepeda kecilnya



Rambutnya sedikit pirang bergelombang dengan mata jenaka, kulit putih, dan wajah keindo-indoan yang cantik. Kelincahannya membuat kegembiraan bagi yang mengenalnya. Benar-benar gadis yang memesona...

Beberapa hari yang lalu, ketika berangkat kerja aku terkejut (dan juga gembira) ketika ponsel berdering. Nyaring. Sederet nama yang kusave "Imelda Cantik" memanggil. Benar-benar kejutan. Sampai-sampai aku gelagapan mengangkat panggilanya. Wah, bisa nyombong neh di depan Ibu Lita, penjual nasi yang kuminta membungkus nasi untuk sarapan di kantor nanti.

"Halo, ini Kak Elzam ya? yang kurus itu?"
Gubraks... Masa aku yang diingat kurusnya doang! Tapi demi terdengar keren, kujawab dengan sopan.
"Iya, benar. Ini Kak Elzam yang ganteng itu. Kenapa Sayang?"
Hahaha,ibu penjual nasi sempat melirik dan aku pura-pura nggak ngeliat.

Terdengar suara Imelda yang ketawa-ketiwi, kayaknya neh anak agak gaptek. Nggak bisa menggunakan ponsel dengan baik, atau mungkin Ge Er-an ngobrol dengan cowok. Masa sih, gadis secantik Imelda polos banget. Kayak belum pernah ngomong ama cowok, karena cantik pasti nya dia banyak yang naksir dong.
Hanya saja, begitulah Imelda.
"Imelda lagi ngapain?" tanyaku.
"Lagi di rumah. Kak Elzam kapan mau ketemu lagi?"
Hehehe.... Imelda mau ketemu aku. Asyiiik. Tapi jam segini masih di rumah?
"Lho,nggak sekolah memang?"
"Kan libur..."
"Oh, ya udah. Ntar deh kita ketemu. Mau nonton, atau ke mana, hehe...". Aku menjawab pertanyaan sebelumnya dengan nada bercanda."
"Mau tapi aku nggak boleh. Nanti ketemunya gimana?"

Terus tiba-tiba obrolan terputus. Yaah, benar-benar gaptek atau apa si Imelda cantik ini?
Aku biarkan saja. Nggak call balik. Lagian buru-buru berangkat. Nasi buat sarapan udah dibungkus, bayar, dan kabur sambil mengucapkan terimakasih plus bayar. Di kantor beberapa jam kemudian Imelda nelpon lagi. Males ah, ngangkatnya. Mana aku lagi repot begini. Siangnya aku sempatkan sms, "Maaf ya tadi Kak Elzam lagi sibuk. Ada apa Imelda?" Sayang, Imelda nggak balas. Hikss...

Jujur aku sampai sekarang belum bisa melupakan Imelda. Abis dia cantik dan bikin aku tertawa kalau bertemu. Lantas soal sepeda kecilnya? Hampir ketinggalan menceritakan soal sepedanya.

Aku mulai tertarik dengan Imelda ketika ia dengan riangnya bersepeda. Waktu itu ia dengan temannya yang kulupa siapa namanya. Imelda bolak-balik di depanku sambil melirik-lirik. Lama-lama dia negur, "nama Kakak siapa? Boleh kenalan nggak?"

Dan pelataran Museum Fatahillah di kala menjelang senja menjadi saksi perkenalan kami. Berlanjut ke tukaran nomor. Dia dulu lho minta nomorku! Ngobrol tentang sekolahnya, toko orangtuanya, kakaknya, dan lain-lain. Polos dan menggemaskan. Juga riang, sehingga aku selalu tertawa-tawa gembira. Dari penuturannya, rumah Imelda tak jauh dari Kota Tua. Kutebak, dia adalah anak keturunan Portugis yang banyak tinggal di sana. Turun-temurun zaman Batavia tempoe doeloe.

Imelda cantik dan sepeda kecilnya. Benar-benar memesona.
Sayang, tak hanya sepedanya yang kecil. Dirinya pun masih kecil. Masih kelas dua atau tiga SD. Hehehe...
Kalau sudah kuliah, ehm... kayaknya lebih asyik punya kenalan seperti Imelda.

Ah, Imelda. Nanti kita telpon-telponan lagi ya. Nomor XL-mu masih Kakak simpan kok, Sayang. :-)