tentang

Kamis, Desember 04, 2014

[Info Lomba] Menulis Kisah Nyata Misteri (Ghost Writing Competition) 2014


Yuhuuuu, Writing Management akan menyelenggarakan event Lomba Menulis Kisah Nyata Misteri nih,kerjasama bareng dengan Penerbit Grasindo, dan Sonora FM, Bandung. Ada yang punya pengalaman yang berhubungan dengan makhluk halus yang horror banget dan nggak bakal terlupakan seumur hidup? Atau mungkin ada orang-orang terdekat yang mengalaminya dan curhat sama kalian?

Daripada dipendam dalam hati dan cuma diceritain dari mulut ke mulut, lebih baik ditulis dan kirim ceritanya ke kami yuk, siapa tau kalian termasuk salah satu dari 20 orang beruntung yang tulisannya akan dibukukan oleh Penerbit Grasindo dan mendapat hadiah keren.

Begini nih aturan mainnya,

Tema:

1.     Pengalaman Misteri Dengan Hantu diSekolah atau Kampus
2.     Pengalaman Misteri Dengan Hantu di Rumahatau Kantor
3.     Pengalaman Misteri Dengan Hantu di Tempat Umum (Mall, Hotel, Asrama, Jalanan, Jembatan, CafĂ©, Resto, dan tempat-tempat umum lainnya)

Syarat Umum:

1.     Usia minimal 15 tahun, laki-laki dan perempuan
2.     Tulisan harus berisi kisah nyata pribadi, maupun orang-orang terdekat, dan harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, bukan sekadar mitos atau isapan jempol belaka. Jika nanti naskah lolos seleksi, maka kamu akan diminta untuk menyerahkan surat pernyataan keaslian naskah.
3.     Jika kamu menuliskan kisah nyata orang lain, maka di akhir cerita tuliskan nama lengkap si tokoh nyata tersebut,misalnya “Berdasarkan kisah yang dituturkan oleh …..”.
4.     Tulisan belum pernah dipublikasikan dalambentuk apapun (termasuk di dunia maya).
5.     Tuliskan kisah nyata kamu yang paling menyeramkan dan tak terlupakan tentang pengalaman yang berkaitan dengan makhluk gaib.
6.     Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu tulisan untuk satu atau lebih tema yang telah ditentukan di atas.

Syarat Khusus:

1.     Naskah dikirim berupa tulisan nonfiksi populer ataupun dalam bentuk cerpen (kisah nyata), dengan kisah yang mengalir,ringan, dan mudah dicerna, memakai bahasa Indonesia yang baik tapi tetap meremaja dengan target pembaca remaja dan dewasa muda. Boleh menyelipkan bahasa santai dan gaul tapi wajib tetap sesuai dengan EYD. Hindari pemakaian kata-katayang menyinggung SARA, mengandung pornografi, bahasa kasar, dan bahasa ALAY.
2.     Panjang naskah maksimal 8 halaman kertasA4, ketik 1,5 spasi, huruf Times New Roman 12. Jangan lupa, cantumkan judul naskah dan nama penulis di bagian bawah judul sebelum isi cerita.
3.     Naskah dikirim berupa file berformat.doc atau .docx dalam bentuk attachment (jangan di badan email) ke alamat: ghostwritingcompetition@gmail.com.Pada subyek, tuliskan: (Ghost Writing) – Judul Naskah dan (kategori), contoh:(Ghost Writing) – Siapa Membonceng di Belakangku? (Tema 3).
4.     Cantumkan nama asli, nama FB, nomor telepon, dan biodata deskriptif sepanjang satu paragraph di akhir naskah.
5.     Like fanpage http://www.facebook.com/pages/Lygia-Pecanduhujan-Fanpage/121905561178499dan Follow Twitter @giapecanduhujan.
6.     Share catatan pengumuman ini di FB masing-masing dan tag minimal 20 teman.
7.     Bagi yang telah mengirimkan naskahnya, wajib untuk melapor/komen di postingan Info Lomba di Fanspage Lygia Pecanduhujan (https://www.facebook.com/notes/lygia-pecanduhujan-fanpage/info-lomba-menulis-kisah-nyata-misteri-ghost-writing-competition-2014/722384141144621) dengan format : Naskah Sent – (Judul Naskah).  Contoh: Naskah Sent – (Siapa Membonceng diBelakangku?)
8.     Naskah ditunggu paling lambat hingga tanggal 15 Desember 2014 pukul 24.00 WIB.
9.     Seluruh naskah yang masuk akan menjadi milik penyelenggara.
10. Peserta akan bertanggung jawab atas segala materi konten tulisan dan  membebaskan pihak Penyelenggara dari segala kewajiban, ataupun keberatan, klaim, dan tuntutan hukum, apabila timbul perselisihan hak cipta dan kepemilikan atas karya yang disertakan peserta dalam kompetisi ini ataupun jika terjadi tuntutan lainnya oleh pihak tertentu.

INFORMASI:

1.     Akan dipilih 20 naskah dari masing-masing tema (artinya ada 60 naskah terpilih) yang dinilai paling baik oleh dewan juri dari Writing Management.
2.     Pengumuman siapa saja pemenang dan kandidat yang masuk 20 besar dalam lomba ini akan diposting di Fanspage LygiaPecanduhujan pada tanggal 30 Desember 2014 pukul 24.00 WIB.
3.     20 naskah terpilih untuk masing-masing tema akan dibukukan dan diterbitkan oleh penerbit GRASINDO.
4.     Tiga (3) tulisan terbaik dari masing-masing tema akan mendapatkan hadiah sebagai berikut:
a.       JuaraI       : Hadiah uang tunai senilai Rp.750.000,-, Voucher Belanja di Toko Buku Gramedia senilai Rp. 50.000,-, Paket buku, dan satu (1) eksemplar bukti terbit.
b.      JuaraII      : Hadiah uang tunai senilai Rp.500.000,-, Voucher Belanja di Toko Buku Gramedia senilai Rp. 50.000,-, Paket Buku, dan satu (1) eksemplar bukti terbit.
c.       JuaraIII    : Hadiah uang tunai senilai Rp.250.000,-, Voucher Belanja di Toko Buku Gramedia senilai Rp. 50.000,-, Paket Buku, dan satu (1) eksemplar bukti terbit.
d.      17 tulisan terbaik lainnya di masing-masing tema akan mendapatkan Voucher Belanja di Toko Buku Gramedia senilai Rp. 50.000,-, Paket Buku, dan satu (1) eksemplar bukti terbit.
5.     Hadiah akan dikirim ke masing-masingalamat pemenang paling lambat satu (1) bulan setelah pengumuman dengan ongkos kirim ditanggung oleh penerbit.
6.     Bacalah kembali seluruh persyaratan diatas (umum dan khusus) dengan TELITI, karena naskah yang tidak memenuhi satu saja persyaratan tersebut akan dinyatakan gugur dan dianggap tidak ada.
7.     Tidak melayani tanya jawab melalui jalur pribadi selain melalui komen di Postingan Fanspage.


Salam,

Lygia Pecanduhujan dan Iin Susanto


Jadi, tunggu apa lagi? Tulis kisahmu yang paling menarik, lalu kirimkan sekarang juga.



(*) Jangan tunggu sampai Deadline untuk mengirimkan naskah jika ingin naskah teman2 dibaca dengan teliti.  

Please feel free to copy paste and share to everyone !

Tulisan re-post dari https://www.facebook.com/notes/10152369753016876/?pnref=story

Perempuan-Perempuan yang Dicekam Sunyi karena Perkawinan


Judul                 : SUNYI

Jenis                  : Novel

Pengarang         : Eni Martini dan Ifa Avianty

Penerbit             : Panser Pustaka (Cetakan pertama, Oktober 2013)


Halaman            : 240

Foto oleh: Sri Rahayu
Sedikit novel yang berani menceritakan masalah rumah tangga yang penuh perdebatan sekaligus sensitif. Kemudian menulisnya lewat novel yang renyah. Salah satunya adalah novel berjudul Sunyi, besutan Eni Martini dan Ifa Avianty. Duet penulis ini cukup berhasil menceritakan poligami dalam sudut pandang yang wajar. Terutama dalam kaca mata perempuan. Di mana poligami menjadi wacana sekaligus praktik yang tak ada habisnya dibahas tiap orang. Dalam obrolan santai ataupun yang lebih serius semisal seminar. 

Novel sunyi menceritakan tiga perempuan berikut dengan masalah masing-masing nan pelik. Semuanya terkait perkawinan, yang menciptakan ‘kesunyian’ di tiap tokoh. Ada Melati, pemilik daycare bersuamikan Radit, si work-holic sebagai ilmuwan, yang membuat depresi istrinya karena sikap apatis yang kentara. Malaya, teman SMA Melati, pemilik coffee shop yang kesepian karena jodoh tak kunjung bertemu. Padahal usianya menginjak 35 tahun. Kemudian Soraya, karyawan Melati yang bersuamikan Reza dan sayangnya mandul. Rasa sunyi membuat Soraya bekerja sebagai pengasuh anak-anak. Di sisi lain, kerinduan pada keturunan membuat Reza ingin menikahi Malaya. Ia biasa bertemu Malaya ketika menikmati secangkir kopi di coffe shop. Sementara Soraya, sejujurnya tak sanggup berbagi suami, tapi ketegasan tak ditampakkannya, membuat Reza berpendapat Soraya bersedia dimadu (hal. 148).

Melati tak tahu, jika nama Reza yang melamar sahabatnya  adalah suami Soraya. Ketika misteri terbuka, dirinya tak kuasa memihak pada Soraya atau Melati. Baik Malaya atau Soraya sama-sama dicintainya, berharap kedua perempuan itu mendapatkan kebahagiaan. Soraya galau di tengah keriuhan Malaya mempersiapkan pernikahan. Istri Reza yang mencintai sang suami sepenuh hati itu tak bisa tegas berkata jujur. Keadaan dirinya yang tak bisa memberi keturunan meruntuhkan kepercayaan diri. Di sisi lain, biduk rumah tangga Melati dengan Radit terombang-ambing karena ketidakjujuran keduanya dan komunikasi tak bernyawa. Padahal di mata Soraya dan Malaya, Radit-Melati dengan karunia anak bernama Zea merupakan tipikal keluarga bahagia. Keduanya kagum. Tentunya juga iri melihat Melati mendapatkan semuanya. 

Di Bab 16 (hal. 178), Melati dilarikan ke rumah sakit karena memikirkan Radit yang sibuk sendiri.  Penyakit autis asperger membuat ia demikian sibuk dengan diri sendiri, tak percaya diri. Itu juga yang menyebab Radit melarikan kegersangan hati dengan terus bekerja. Keadaan semakin gawat karena keluhan Soraya pada Melati. Tentang nasibnya yang akan segera menjadi korban poligami. Malaya jadi bimbang, ketika tiba-tiba Melati memberikan pesan via ponsel yang penuh tanya, apakah Malaya bisa bahagia bersama Reza? Sementara di ujung sana ada perempuan pemilik pertama sang lelaki terluka. (hal. 176).

Pada akhirnya kejernihan hati dan kejujuran menjadi solusi konflik batin tiap tokoh dengan kesunyian masing-masing.  Eni Martini dan Ifa Avianty tak mencoba membuat cerita poligami dalam novel ini menjadi begitu kejam. Lalu mengadu pihak yang pro dan kontra ngotot pada argument masing-masing. Soal wanita yang bersedia dimadu atau tidak, dikembalikan pada keputusan dan kehendak para perempuan itu sendiri. Silakan menolak, silakan pula menerima! Para lelaki harus menghargai dan menerima pilihan mereka. Walaupun hukum dalam Islam membolehkan. Dengan demikian, novel ini seperti mengajak pembaca menarik benang merah. Lakukan praktik berpoligami, tapi jika dengan dua istri tersebut pelakunya tak bahagia, berpikirlah untuk tidak melakukannya. Simpel sekali!

 

Jumat, September 12, 2014

Cara Praktis Berpikir Positif dengan Tindakan

Resensi ini dimuat di Dimuat di rubrik resensi www.okezone.com






















Judul             : Positive Thinking Itu 
                    “DiPraktekin”
Penulis           : Tim Wesfix
Penyunting        : Adinto F. Susanto
Penerbit          : Grasindo, Jakarta
Cetakan           : ke-2, Maret 2014
Jumlah halaman    : 144 halaman
ISBN              : 978-602-251-217-2

Berpikir positif patut menjadi kebiasaan setiap orang yang ingin hidup stabil; bahagia sekaligus sukses. Sayangnya semua orang mengetahui berpikir positif itu penting, tetapi tidak tahu caranya atau enggan mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan tujuan demikianlah, Tim Wesfix menulis buku Positive Thinking itu “Dipraktekin” yang dapat membantu kita untuk mulai berpikir positif sekarang juga dengan niat dan usaha sendiri.

Buku  ini mengajak pembacanya membedah secara ringan apa-apa yang perlu dilakukan, ketika seseorang ingin memiliki pikiran positif. Setiap orang tujuan utama dalam hidupnya, tentu saja memiliki kadar bahagia yang melimpah dalam memandang diri dan semua yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu diperlukan berpikir positif yang tidak hanya tertanam dalam pikiran sebagai pengetahuan, tetapi dikerjakan secara praktis. Di mana menurut buku ini menjadi semacam kebiasaan yang akan memberikan hasil maksimal. Di Bab I, buku ini memulai pengertian positive thinking sebagai upaya atau kemampuan menarik makna dari segala hal atau segala peristiwa yang menimpa (hal. 3). Faktor utamanya berupa keyakinan dan integritas diri, yang berperan penting memberi makna positif, bukan pengaruh orang lain. Perlu mengembangkan pengharapan akan segala hal membahagiakan, jika kita membiarkannya membahagiakan hidup. 

Hal-hal yang perlu dipahami dalam berpikir positif dalam buku ini dijelaskan dalam berbagai bagian penting. Semuanya tidak memiliki urutan yang pasti dan baku untuk dikerjakan secara berurutan. Bisa dilakukan secara acak atau bersamaan tergantung kenyamanan masing-masing orang. Bagian-bagian tersebut meliputi aspek; memahami prinsip positif, keyakinan positif, memiliki mental positif, percaya pada diri sendiri, positive behavior, menemukan makna hidup, be positive, again be positive, dan you can do it! 

Dalam setiap pembahasannya, buku ini menjadi lebih menarik karena banyak terdapat quote tokoh-tokoh, yang dikenal sebagai pelaku yang berhasil membangun pikiran positif dalam diri mereka. Misalnya apa yang dikatakan Michael Jordan, “Always turn a negative situation into a positive situation,” (hal. 37). Banyak tokoh-tokoh inspiratif ikut menyumbang pemikiran mereka, seperti Williard Scott, Paulo Coelho, Hellen Keller, Donna Karan, Willie Nelson, Pittbull, dan lainnya.

Secara praktis, buku Positive Thinking Itu “DiPraktekin” juga memberikan langkah-langkah yang mudah sekali dikerjakan. Terdiri dari uraian-uraian yang dibuat sederhana dan gampang dipahami. Lebih penting lagi, sesuai judulnya, dijelaskan juga apa yang harus diterapkan langsung setiap hari oleh orang yang ingin berpikir positif. Penulis memberikan tips-tips untuk dipraktikkan. Di antaranya dengan perintah membuat catatan penilaian apa yang dilakukan setiap hari dengan skala 1-10 (hal. 63) dan memanjakan diri untuk relaksasi (hal. 65). Dalam hubungannya dengan orang lain, disebutkan juga langkah untuk mendapatkan pikiran positif, dengan cara berinteraksi sosial yang baik, “Ungkapkanlah pada teman-teman, betapa berharganya mereka” (hal. 104). 

Dengan membaca buku ini, sudut pandang kita yang kerapkali berpendapat berpikir positif itu susah terbantahkan. Semua yang dibagikan dalam pembahasannya sederhana dan mudah dijalankan siapapun. Lagipula buku ini bukan buku tebal yang dipenuhi catatan-catatan psikologi teoritis. Tulisannya sangat singkat-padat, tiap lembar halamannya tidak selalu penuh kalimat tapi juga ilustrasi yang indah, dengan desain warna-warni yang menarik dan simpel. [Elzam]

Selasa, Juli 22, 2014

Pilpres 2014, Sebuah Catatan Subjektif

Beliau melakukan pencitraan di televisi dan media lain, jauh sebelum perhelatan pilpres 2014 dimulai. Bekerja sedemikian keras untuk meyakinkan, ada sosok pemimpin yang tegas, berwibawa, ksatria, dan membangun Indonesia menjadi macan Asia, dikagumi bangsa asing. Didukung oleh sedemikian banyak parpol dan ulama, dikulik kisah cintanya yang penuh pesona karena setia menanti belasan tahun dengan tetap bertahan menyendiri. Dipuja kegagahan dan ketampanannya. Dihormati sifat kerasnya. Diakui patriotismenya sebagai prajurit nasionalis, dan, dan, dan…

Tidak mudah menelan kekalahan setelah bertahun-tahun mensosialisasikan keinginan menjadi presiden Indonesia. Yang terkubur dalam satu hari saja, pilpres 7 Juli 2014.

Tidak heran, beliau pantas berjuang lebih keras lagi agar situasi bisa berubah. Undang-undang masih mengatur agar kekalahan pahit mungkin bisa berbuah manis. Meminta rekapitulasi ulang atau gugatan ke MK. Dengan alasan kecurangan dan pemilihan yang inkonstitusional. Demi demokrasi yang bermartabat?

Sementara kita diminta  abai, sang pemenang sudah sedemikian parah ditikam kecurangan karena oknum partai yang menguasai pemerintah memanfaatkan posisi untuk teman koalisi,sejumlah elit birokrasi membuat “seruan” tertulis/tak tertulis memenangkan sang jenderal, oknum panitia pemilihan terindikasi condong ke merah-putih, fitnah dan kampanye hitam bertubi-tubi yang mengabaikan demokrasi beretika disemat sangat pekat, fisiknya dicela, tampangnya jadi soal, pion/boneka ditasbihkan, beragam idelogi kontra satu sama lain yang katanya tak pantas di negeri agamis-pancasilais dilabeli pada otaknya, kerja singkatnya disebut tak amanah, hasil kepemimpinannya dinihilkan, daerah kelahiran disebut-sebut membencinya, ibukota dipastikan tak sudi memilih karena telah ditinggalkan, dan, dan, dan… Tapi sayang, itu tak membuat suara untuk sang lawan menjulang. Sang pemenang sudah mulai terkuak dari berbagai prediksi statistika-matematika. Kita abai, bahkan ilmu tak boleh ada sekadar memprediksi, setelah kemarin-kemarin boleh jadi acuan di lain pemilihan. Alasan berderet-deret.

Atas nama kecurangan dan inkonstitusional, pengumuman minta ditunda ulang, pemilihan minta diulang.

Rasanya sekarang tak lagi menjadi penting bagi rakyat! Siapa yang paling menderita dan menjadi korban paling dominan dirugikan dengan cara-cara demokrasi tak bermartabat, kekanak-kanakan, mengabaikan etika manusiawi, dan memaklumi nilai agama tak perlu menjadi pijakan saat mengajak orang pada pilihan presiden yang dielu? Kau yang kalah menjadi korban ketidakadilan dan ketidakbenaran? Sementara, bagiku sang pemenang rasanya korban paling teraniaya. Di musim pilpres ini, di musim pilkada lalu.

Kedua pihak belum bisa berdemokrasi dengan elegan dan bermartabat. Memang. Pun pendukungnya. Kita menuju ke sama, dan mungkin masih jauh.

Tapi jangan menepuk air di dulang, mengatakan kemenangan diraih karena kecurangan, sementara sang pemenang lebih banyak dicurangi meski (dan tetap dimenangkan rakyat). Oleh siapa? Tanya kepada jejak-jejak di belantara sosial media, cetakan koran, tebaran website-blog, arsip video, tabloid musiman, ceramah-ceramah,  dan, dan, dan …  Jangan tanyakan pada rumput yang tak lagi  bergoyang, dengan hijau segarnya yang meranggas kering. Sang rumput tak tahu apa-apa, ikut mati dibius aura hitam sifat kita...

*Soal catatan ini, jangan dianggap. Hanya coretan satu orang subjektif yang begitu semangatnya mengikuti pilpres dibanding tahun-tahun sebelumnya, yang memilih Jokowi sejak dari awal. Memilih Jokowi jadi gubernur, lantas memilih Jokowi menjadi presiden. Ia tak lebih sosok pemegang jabatan politik yang tak biasa, anti-mainstream, yang kulihat selama ini tak kutemui di birokrasi, namun sekarang mulai bermunculan pemimpin yang serupa. Dan ia tetap bukan nabi bagiku, dalam tahiyat Muhammad Saw masih kusebut, Allah Swt masih kutuhankan.

Senin, Februari 24, 2014

Mak, Ipang Juga Mau Sekolah

(Dimuat di Lampung Post, Minggu/16 Februari 2014)  

Versi koran, difotoin temen dari Lampung. 



Ini versi e-paper yang ditemukan di internet
Asih berjalan lesu usai pulang sekolah. Bukan karena terik matahari, tapi ingat permintaan adiknya tadi pagi. Sewaktu ia mau berangkat. 
“Mak, Ipang juga mau sekolah.”
“Ehm... kamu pasti sekolah, Pang. Kalo tidak tahun ini, mudah-mudahan tahun depan,” ujar emak. Asih melihat emak menenangkan adiknya, tapi murid kelas 4 SD itu tahu emak tidak yakin Ipang bisa sekolah. Entah sampai kapan...
Ipang sudah 8 tahun sekarang, telat setahun masuk sekolah. Emak cuma tukang cuci dan setrika. Hidup mereka seadanya karena sang ayah telah lama meninggal. Rumah mengontrak, harga kebutuhan yang tak terjangkau membuat mereka hidup pas-pasan.
“Ipang malu kalo tahun depan sekolah, badan Ipang kan lebih gede dari anak lain,” jawabnya ngambek.
Emak tak memedulikan keluhan Ipang. Beliau tetap membereskan cucian yang sudah bersih, melipat, dan memasukkannya ke keranjang untuk disetrika. Setelah itu baru emak mendekati Ipang, merangkul pundaknya.
“Tapi Ipang kan pintar, sudah bisa membaca, perkalian, menghitung...”
Ipang memotong omongan emak, “pintar tapi tak punya rapor, huh...”
Emak tertawa kecil melihat Ipan kali ini manyun. “Ipang sabar ya! Sekarang baru satu anak emak, mampu emak sekolahin. Kalau Ipang sekolah, artinya Kak Asih berhenti. Ipang mau begitu?”
Ipang menggeleng mendengarnya.
Asih yang mengintip dari balik gorden pintu hanya bisa bersedih. Itulah yang membuat Asih berpikir seharian tadi di sekolah. Bagaimana caranya Ipang bisa sekolah?
***
Hari ini sebelum ke sekolah, emak meminta Asih memberikan cucian ke rumah Bu Ridwan.
“Ini cuciannya, kamu jangan lupa ya, Nak. Jangan lupa ucapkan juga terimakasih nanti,” pesan emak sambil menyerahkan kantong berisi pakaian yang sudah rapi.
“Iya, Mak. Nanti Asih sampaikan,” ujar Asih.
Emak menerima uluran tangan Asih yang menyalaminya, “sekarang berangkatlah, hati-hati!”
“Mak... bagaimanana kalau Asih berhenti sekolah? Biar Ipang saja sekolah. Asih kan perempuan,” jelas Asih tiba-tiba.
 “Jangan Asih. Sayang kalau kamu berhenti.”
“Tapi Ipang...”
“Sudahlah, jangan kamu pikirkan. Tugas utama kamu adalah belajar, yang lain biar emak yang pikirkan, mengerti?” tanya emak lembut.
Asih pun mengangguk pelan. Terbersit sedikit rasa kecewa di hatinya.
Di kelas Asih masih memikirkan Ipang. Gadis kecil itu terus berpikir bagaimana mendapatkan uang untuk sekolah Ipang. “Mengamen sepulang sekolah?” otaknya berputar. Tentu saja emak akan bertanya jika ia pulang terlambat.
“Hayooo... lagi ngelamunin apa?” Tiba-tiba Fitri, teman sekelas menepuk pundaknya.
“Eh... tidak. Aku lagi tak mikirin apa-apa kok,” Asih berusaha menutupi masalahnya.
“Jangan bohong deh, aku tahu kamu akhir-akhir ini seperti ada masalah. Siapa tahu aku bisa membantu lho,” ujar Fitri. Rupanya dia tidak percaya begitu saja.
Asih terdiam cukup lama. Bimbang antara bercerita atau tidak. Akhirnya ia putuskan bercerita. Tidak ada salahnya mencoba. Siapa tahu Fitri memang bisa membantu. Asih pun menceritakan soal Ipang yang ingin sekolah dan kendalanya. Fitri mendengar dengan penuh perhatian.
“Oh jadi begitu...” jelas Fitri begitu selesai mendengar cerita Asih.
“Iya. Jadi bagaimana, kamu ada ide buat aku bekerja?”
“Hehehe... sayangnya, nggak,” jawab Fitri sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Pura-pura.
Asih pun makin tidak bersemangat.
“Jangan manyun, Non. Begini nih, aku baca di majalah ada yayasan yang programnya membiayai sekolah anak tidak mampu. Orangtua asuh begitu. Bagaimana kalau kita datangi yayasan itu sepulang sekolah nanti?”
Beneran? Aku mau.” Wajah Asih berbinar-binar bahagia. Dia meraih kedua tangan Fitri, “Terimakasih ya, mau membantuku.”
“Sama-sama. Tenang saja, Fitri...” jawab Fitri pura-pura seperti merasa hebat.                 
Sepulang sekolah mereka naik bus kota ke tempat tersebut, Yayasan Orangtua Asuh Anak Bangsa. Di sana mereka bertemu perempuan yang sudah cukup berumur, yang  biasa dipanggil Oma Martha. Rupanya beliau sehari-hari mengurus yayasan tersebut bersama beberapa relawan lain.
“Jadi setiap anak mendapat biaya dari orangtua asuh masing-masing. Yayasan inilah yang menjadi perantara,” sahut Oma Martha memberi penjelasan. Asih dan Fitri mengangguk tanda mengerti.
“Oma akan mengusahakan donatur untuk adikmu, Ipang. Tahun ini dia sudah harus kita sekolahkan,” tambahnya lagi.
“Benar Oma?” Asih seperti tidak percaya.
“Iya. Oma dan teman-teman di yayasan akan berusaha, dan biasanya berhasil,” katanya penuh semangat. Beliau mengambil selembar kertas. Lalu menanyakan beberapa hal tentang Ipang dan keluarganya, kemudian menuliskannya.  Setelah itu, beliau menyarankan Asih dan Fitri untuk pulang. Oma Martha akan memberi kabar secepatnya.
***
Tiga hari kemudian Asih terkejut begitu tiba di sekolah. Hampir semua teman sekelas menghampirinya. Beberapa memberikan selamat. Tentu saja Asih bingung.
“Ada apa sebenarnya?” tanya Asih pada Rafael, sang ketua kelas.
“Lho, memangnya kamu belum diberitahu ibu koperasi?”
Asih bengong. “Soal apa?”
“Kamu dipilih jadi pengurus kantin koperasi sekolah. Kata ibu koperasi, sebagian keuntungan akan diberikan untukmu, sebagai upah karena menjaganya setiap istirahat. Lumayan untuk bantu biaya sekolah,” jelas Rafael.
“Kok bisa?”
“Kami yang mengusulkan, atas ide dari Fitri, hehehe...” ujar Rafael sambil tertawa.
Asih terharu sekali atas kebaikan teman-temannya. “Terimakasih ya, sudah banyak membantuku,” ujarnya pada teman-teman yang menggelilinginya. Dalam hati ia berkata, “uh, Fitri nyebelin. Kenapa tidak bilang-bilang, sampai aku seperti mau pingsan  kegirangan begini.”  Asih benar-benar gembira.
Saat pulang ke rumah kejutan kedua membuat Asih tak kalah gembira. Emak mendapat surat dari Yayasan Orangtua Asuh Anak Bangsa. Isinya menjelaskan Ipang mendapatkan orangtua asuh yang bersedia membiayai sekolahnya.
“Sih, kita harus bersyukur pada Tuhan. Ipang dapat orangtua asuh. Masih banyak orang baik yang membagikan rezekinya untuk orang seperti kita. Kalian berdua akhirnya sama-sama sekolah, Nak,” ujar emak.
Asih mengangguk sambil memeluk emak. Dia sudah tidak sabar membayangkan perasaan Ipang mendengar berita gembira itu. Sayangnya, Ipang sedang bermain bersama temannya.
“Coba kamu cari adikmu. Biar dia cepat mengetahui kabar yang diimpikannya selama ini,” pinta emak.
Asih pun berlari riang ke luar rumah. “Ipang pulaang! Ada berita gembira, kamu bisa sekolah...” Asih berteriak penuh semangat. [Elzam]