tentang

Rabu, Juni 24, 2015

Cinta Pop Urban Renyah yang Sarat Hikmah

Judul                : Insya Allah, Sah!
Penulis             : Achi TM
Penyunting      : Raya Fitra
Penerbit           : GPU (Gramedia Pustaka Utama)
Cetakan            : 1 (2015)
Tebal                : 328 hlm
Nomor ISBN    : 978-602-03-1465-5
Harga               : Rp. 59.500





Untuk pembaca perempuan, GPU identik dengan novel pop urban renyah. Berkutat soal cinta, karir, dan kehidupan sosial kelas menengah ke atas dengan tokoh utama yang tentu saja, perempuan. Bagaimana jika lantas kemudian berbalut satu aspek lagi, tema islami yang pekat? Hasilnya adalah Novel Insya Alah, Sah! Karya Achi TM ini. Bergaya bahasa ringan, renyah, dan sarat hikmah.

Achi TM tak sekadar menempelkan Islam sebagai pemanis, tapi benang merah cerita dari awal hingga akhir. Asyiknya, pembaca tidak akan sadar jika sejatinya sedang didakwahi. Ini karena cerita yang begitu hidup dan menghibur diramu dengan baik untuk pembaca. Insya Allah, Sah! bercerita tentang Silviana, desainer terkenal pemilik Silviana Sexy Boutique yang sedang mempersiapkan pernikahan dengan Dion, eksekutiflabel musicmentereng. Masalah datang ketika Silvi bernazar akan berhijab jika selamat dari jebakan di lift kantor Dion bersama Raka (hal.12). Ketika selamat, Silvi lupa seiring kesibukan mengurus pernikahan yang tinggal 99 hari saja. Meski sebenarnya gadis tersebut hapal luar kepala hukum menutup aurat karena sering diingatkan Kiara, sahabatnya yang jadi hijaber sejak kuliah.

Mengurus pernikahan tanpa weddingorganizerpun berbuntut masalah demi masalah. Dari catering, gedung, baju pengantin, hingga tanggal yang nyaris batal dari KUA. Padahal Dion yang sibuk mengurus tur luar kota telah meminta Raka membantu, bawahannya. Setali tiga uang dengan Kiara, si tampan nan shalih itu cerewet mengingatkan segala sesuatu jika dipandang tak mengindahkan agama.
Silviana mulai merenungi, mengapa persiapan pernikahannya kacau. Apalagi ketika Raka menyinggung nazar yang wajib ditunaikan. Sesuatu yang membuat Silvi sebal dan menganggap Raka pembawa sial. “Hati kamu seperti tertutup, Sil. Kamu menolak semua nasihat. Bahkan kamu nggak menjalankan nazarmu waktu di lift. Apa kamu lupa? Atau sengaja tak mau memenuhi nazarnya?”(hal. 206). Silvi tahu itu, dan diam-diam simpati dengan Raka yang bagaimanapun benar adanya. Hatinya nyaris terkotori melihat Raka ternyata tak hanya si mapan nan tampan, tapi juga religius. Kalau harus jujur,cewek mana yang tak suka?

Butuh pertimbangan panjang Silvi mencoba hijab, ia mendesain baju seksi, Dion suka hijab, bahkan adiknya Gina menjadikannya kiblat fashion. Akhirnya Silvi mencoba berhijab di mana saat yang sama Dion mulai tak bisa dihubungi. Muncul pula tokoh Anna, si psyco teman SMA yang dulu acap mem-bully Silvi karena lebih cantik. Trauma itu pula yang membuat Silvi bertekad menunjukkan dirinya si lemah yang bermertaforsis makin cantik, fashionabledanjuga desainer kondang. Anna mahasiswa kedokteran drop out itu melabraknya ketika datang bersama Madam Wulan. Anna shock demi melihat Silvi sekarang, tapi sifat angkuhnya tak hilang.

Bisnis Silvi sempat ambruk karena konsentrasinya pecah. Nazar terus membayangi. Sampai akhirnya Silvi membuat gebrakan mendesain busana muslimah yang ternyata diterima pasar. Silvi tak lagi coba-coba dengan hijabnya, tapi mantap hijrah. Tapi malang, kejutannya di hadapan Dion dengan penampilan baru ditentang.“Udah, kamu nggak usah pakai jilbab. Aku tidak suka perempuan berjilbab. Orangtuaku juga nggak suka. Oke? Aku pilih kamu karena kamu bukan perempuan berjilbab.”Puncaknya adalah Dion menghilang, persis ketika hari H pernikahan kian dekat. Silvi pingsan ketika tahu Dion memutuskan menikah dengan Anna, gadis yang diam-diam menjadi “dokter pribadinya” saat tur.

Ketika membaca di awal, saya berpikir Dion akan sadar dibantu Raka, lantas menerima hijab Silvi. Nyatanya tidak! Takdir memang tak bisa dibaca. Pada akhirnya cinta suci milik Raka yang dikubur dalam-dalam karena sadar berdosa menaruh hati pada calon istri orang lain, menemukan muaranya. Tak ada alasan lagi, ketika Dion membatalkan pernikahan dengan Silvi. Raka pun melamar desainer seksi yang mencoba berislam dengan lebih baik itu. “Kamu sudah berhasil memperjuangkan jilbabmu. Itulah sebabnya saat ini saya memutuskan untuk memperjuangkan cinta saya... dengan menikahimu.”(hal. 315). Sebuah akhir bahagia yang tentu melegakan pembaca.