Selasa, Agustus 08, 2017

Film "Nyai Ahmad Dahlan", Heroiknya Perempuan Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia


Soekarno pernah bilang, "Jasmerah, jangan melupakan sejarah..."

Untuk ukuran Indonesia, yang sebentar lagi memasuki 72 tahun kemerdekaannya, maka sejarah bagaimana perjuangan melepaskan bangsa dari belenggu penjajahan asing belum jauh-jauh amat. Masih cukup banyak veteran perang yang bisa ditemui, bahkan...

Tapi rasanya, sejarah menjadi bagian asing yang mulai jauh dari anak-anak sekarang, generasi muda. Entah karena minat mempelajari sejarah yang minim, alih-alih kita terpapar banyak pengaruh luar. Penjajahan model baru... Idola sekarang berkiblat ke luar, banyakan hasil produk budaya pop semacam aktor/aktris, penyanyi luar.

Sejarah kepahlawanan Indonesia tertutup oleh lembaran buku-buku, arsip dokumentasi di museum-museum. Susah untuk diketahui, kecuali di bangku sekolah yang tentu saja rasanya berbeda transfer spiritnya.

Jadi tidak heran, mengikuti arus tren kekinian. Belajar sejarah harus lebih kreatif. Kalau Hollywood dengan entengnya membombardir dunia lewat betapa heroiknya Amerika, Korea membius anak muda dengan kisah kolosal sejarah mereka. Maka Indonesia pun bisa. Dan sudah dilakukan beberapa tahun terakhir dengan mulai banyaknya film yang diangkat dari ketokohan seeorang. Soekarno, Ahmad Dahlan, Habibie, Cut Nyak Dien, pernah difilmkan.

Teaser Film Nyai Ahmad Dahlan


Tahun 2017 ini, Iras Film mempersembahkan film "Nyai Ahmad Dahlan". Di benak kita, sebagian besar masyarakat, adalah sosok wanita yang masih samar-samar, katakanlah menjadi bagian dari anak bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Jujur, saya pun begitu. Meski pun tahu, Pemerintah memang telah menganugerahkan beliau sebagai pahlawan pejuang kemerdekaan. Tapi sebatas itu yang saya ketahui. Dan fakta dia adalah seorang istri Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Kemarin, Kamis (3 Agustus 2017), alhamdulillah mendapat kesempatan mengikuti press conference Film Nyai Ahmad Dahlan. Surprise sekali, ternyata yang memproduseri Nyai Ahmad Dahlan sekaligus skenarionya adalah Dyah Kalsitorini. Ehm, saya pikir masih muda, hahaha... Dulu tulisan-tulisan Mbak Dyah ini selalu saya pantengin di Aneka Yess. Rata-rata cerpen gokil, bahkan ada serial hantu Zahara yang kocak abis. Hebat euy, karirnya... Dari penulis cerita remaja ke film...

Nyai Ahmad Dahlan diperankan oleh Tika Brivani. Artis spesialis biopic yang pernah memerankan Athirah (ibunda Jusuf Kalla) dan Fatmawati (Ibu negara pertama, istri Bung Karno). Ini kali pertama saya melihat Tika langsung. Mukanya serius, jadi saya pikir nih artis sedikit jutek. Tapi ternyata begitu senyum dan ketawa... Uwow, langsung kepincut. Cantik dan renyah. Dan baru kemarin ngobrol ama istri baru tahu kalo Tika sudah menikah dengan Dimas Aditya :-/

Saking terpesonanya dengan Tika, di akhir sesi tanya jawab saya nunjuk tangan. Bukan buat nanya, cuma buat bilang doi cantik, haha... Sekarang lagi hunting film-film Tika yang emang belum saya tonton itu, maafken....

Tika Bravani, Ehm...


Balik ke Nyai Ahmad Dahlan, sebagai film biopic, ini pasti sangat keren. Apalagi settingnya Jogjakarta. Tempat di mana kerinduan setiap orang selalu tercurah ke sana. Jogja itu, meski panas tapi adem. Jogja itu, meski ramai tapi menenangkan. Jogja itu meski modern, tapi juga klasik. Jogja itu meski maju, tapi sederhana. Jogja itu...

Selama ini saya berpikir tradisi keislaman yang paling lekat di Indonesia itu adalah Sumatera Barat, Aceh, Makassar, Nusa Tenggara Barat. Setidaknya dari buku-buku yang sempat saya baca. Kalo Jogjakarta, saya pikir biasa-biasa saja, lebih banyak kejawen yang sebenarnya bercampur dengan ajaran njawani yang lekat dengan animisme. Begitu pikiran saya. Kecuali Muhammadiyah, saya tahu berdiri di Jogjakarta, tapi seberapa kuat mewarnai keberagamaan masyarakatnya secara luas dan terbuka...

Setidaknya, saya berharap Film Nyai Ahmad Dahlan bisa membuka cakrawala berpikir bagaimana Islam adalah bagian penting dari sejarah Jogjakarta, sejarah Indonesia. Spirit yang dibawa Nyai Ahmad Dahlan (dan tentu istrinya) merupakan spirit sekaligus aksi nyata membangun Indonesia sebagai bangsa yang merdeka. Dan itu memang sudah diakui sejarahwan dan Pemerintah. Gaungnya mesti diperluas.

Dari cerita sang sutradara, Olla Atta Adonara, sebenarnya ada scene khusus antara Nyai Ahmad Dahlan tua yang sudah sakit-sakitan dengan Soekarno. Proklamator itu mendatangi Nyai Ahmad Dahlan di pembaringannya, duduk di lantai dan bercengkrama. Ini membuat saya merinding. "Tapi pada akhirnya adegan ini dihapus, ada pihak-pihak yang berkeberatan, kita sendiri tahu lah...," gitu kira-kira ujaran Olla ketika itu. Sayang banget. Tapi sebagai gantinya, ada scene ketika Nyai Ahmad Dahlan sedang berjalan-jalan dan mendengar suara radio. Soekarno lantang meneriakkan kemerdekaan.

Kru dan pemain pendukung Nyai Ahmad Dahlan


Tika Bravani sendiri bermain bersama David Chalik yang menjadi Kyai Haji Ahmad Dahlan. Dari Nyai Ahmad Dahlan gadis, ibu-ibu, sampai uzur diperankan oleh Tika semua.

Sebagai pahlawan, Nyai Ahmad Dahlan terlibat langsung mendirikan dapur umum untuk pejuang, menggerakkan wanita-wanita lain. Dia juga aktif bertukar pikiran dengan Panglima Besar Soedirman dan Soekarno. Makanya, sayang banget kalo adegan dengan Bung Karno yang dramatis itu harus dihapus sebenarnya. Hebatnya, sebagai seorang perempuan Jawa, yang kita tahu benar posisinya dengan pria ketika zaman itu. Bahkan sekarang ini pun, di mana wanita menjadi sosok belakang layar atau terdoktrin harus manut apa kata pria. Baik suami, ayah, atau saudara lelakinya. Nyai Ahmad Dahlan sudah sangat terbuka dan menjadi satu-satunya perempuan pertama yang pernah memimpin Kongres Muhammadiyah tahun 1926. Berbicara di depan 500-an orang dari seluruh Indonesia di waktu itu.

Film Nyai Ahmad Dahlan juga menjanjikan film ini juga menceritakan bagaimana sosok pahlawan wanita tersebut menjadi pribadi yang sangat santun dan memuliakan suami. Di balik ketegasan dan emansipasinya di luar sana... Subhanallah...

Mbak Dyah sendiri memerlukan riset 6 bulan untuk menyelesaikan skenario. Ini karena terbatasnya literaratur yang tersedia. Namun dia banyak dibantu oleh keluarga Nyai Ahmad Dahlan, bahkan 90 persen pemain adalah keluarga besar Ahmad Dahlan. Barang-barang yang bernilai sejarah pun ikut ambil bagian menjadi properti film, seperti selendang yang dipakai oleh Nyai Ahmad Dahlan ketika memimpin kongres tadi.

Keluagra Nyai Ahmad Dahlan berfoto dengan Olla Adonara (sutradara dan Tika Bravani)

Penasaran untuk menonton utuh film ini. Kapan preview filmnya nyampe, nih? *Eh

Yang pasti Nyai Ahmad Dahlan akan hadir pada 24 Agustus 2017 mendatang. Catat dan mari mengetahui sejarah bangsa dengan cara yang menyenangkan.

Minggu, Mei 14, 2017

Tour de Cibitung Bareng Domus, Menelisik Pabrik yang Mengusik Impian

Pengalaman menarik di luar aktivitas sehai-hari, ngulik pabrik genteng :) 

Pilkada DKI 2017 yang melelahkan udah lewat. Gubernur terpilih sudah dikantongi setelah proses “berdarah-darah”. Apa yang saya ingat soal Pilgub kemarin yang mempertandingkan Anies vs Ahok? Ya sama lah dengan kebanyakan orang lain, janji-janji yang nempel di kepala ha-ha-ha...

Paling seksi sih, janji KPR rumah nol persen yang akan digagas Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Itu yang pertama. Kedua, adalah janji menaikkan gaji guru PAUD setara UMP DKI Jakarta. Ingatan paling egois karena berkaitan dengan kami yang belum punya rumah dan profesi istri sebagai guru di TKIT Buah Hati Jakarta yang terkenal ngeluarin bocah kreatif, pinter dan manis-manis pribadinya itu (ngendorse, Om?). Meski guru TK swasta, TK yang masuk dalam jenjang PAUD, boleh dong mengharapkan perhatian layaknya buruh yang standar upahnya jadi isu tahunan itu. Nah, lho....

Apapun, semoga lebih baik dari era Ahok pelayanan birokrasi, mengayomi masyarakat dari berbagai latar belakang dan ngurusin setumpuk soal di Jakarta yang tetap jadi tugas abadi gubernur Jakarta. Yaitu macet dan banjir.

Balik ke rumah, udah jadi rahasia umum kepemilikan rumah di Jabodetabek menjadi persoalan mendasar. Kabarnya, persentase pasangan muda urban di Jakarta yang kesulitan memiliki rumah semakin meningkat dari tahun ke tahun. Harga tanah menjulang mengakibatkan properti tempat tinggal kebutuhan demikian mahal untuk dijangkau. Punya tanah, nggak gampang juga bikin rumah.

Mencoba KPR? Tidak mudah untuk lolos. Beberapa tahun lalu saya sempat ngajuin, belum rezeki. Dan sekarang kebiasaan pindah-pindah kantor juga sepertinya menyulitkan untuk bank menyetujui permohonan kami.

Impian saya sih, pengen nyiapin tanah sekitaran Depok atau Bogor. Lantas bikin rumah back to nature, berbahan bambu yang di-combine dengan beton untuk lantai dan pondasinya. Nggak mau ngajuin KPR, lama nyicilnya, euy. 

Metal yang belum dilapisi batuan alam (Foto: Elzam)

Susunan genteng metal yang sudah kering (Foto: Elzam)

Nah, impian saya masih tetap seperti itu. Kebetulan di kampung istri ada hutan bambu yang dimiliki almarhumah nenek-nya. Bisa banget dimanfaatkan. Namun impian saya ini sedikit terganggu, ketika kemarin bareng teman-teman blogger mengikuti Tour de Cibitung (Cikarang), meninjau lokasi Pabrik PT Tata Logam Lestari di beberapa tempat. Produk PT Tata Logam Lestari ini adalah genteng metal yang dilapisi butiran batu alam (Multi Roof, Sakura Roof dan Surya Roof). Kemudian produk atap lain berbahan metal semacam seng dengan aneka warna, bentuk dan ukuran. 


Pionir Genteng Logam Indonesia

Berdiri sejak 1994 sebagai pionir produsen genteng metal, PT Tata Logam Lestari cukup terpandang di kalangan konsumen. Kata salah satu direktur-nya, Bapak Setyadi Wihardjono, indikator genteng metal yang lolos quality control mereka harus berkontur sama atau homogen, rata dan tidak terburai ketika melewati tes benturan. Ketika ditekuk membentuk sudut pun, maka butiran batu alam yang melapisi metal genteng tidak terburai.

“Konsumen kami sudah tahu dan toko yang menyediakan biasa memberikan jaminan ini kepada calon konsumen ketika merekomendasikan,” ujar Pak Setyadi.

Pak Setyadi Widharjono yang sabar tapi antusias jawab A to Z genteng metal (Foto: Elzam)

Pengalaman yang menakjubkan, ketika kemarin saya dan teman-teman sesama blogger datang ke pabrik PT Tata Logam Lestari. Dikenalin batuan alam yang dipasok dari Kediri, Jawa Timur. Namanya batu rijang atau batu api yang dibentuk langsung oleh tangan Tuhan. Selanjutnya, batu-batu ukuran kecil ini diayak untuk mendapatkan ukuran tertentu. Misalnya dari grade 18 disaring menjadi grade 16 untuk hasil yang cocok secara estetika pada genteng metal dan kekuatan melekatnya. 

Batu rijang yang didatangkan dari Kediri (Foto: Elzam)

Kemudian nanti masih ada proses lain. Seperti dicampur dengan lem khusus serta pewarna, agar warna aslinya tetap stabil dan tahan puluhan tahun. Proses pengopenan sampai suhu maksimal 250 derajat celcius menjadi rangkaian terakhir. 

Total kemarin ada tiga pabrik yang khusus memproduksi genteng metal, yang kami kunjungi di lokasi berbeda. Tidak lupa, ditunjukkin juga perbandingan genteng metal dari tetangga sebelah dan buatan PT Tata Logam Lestari. Dijejerin di salah satu sudut halaman pabrik. Memang terlihat perbedaannya, dari sisi stabilnya warna, kekuatan metal yang tidak muda tertekuk, bocor, estetika penampilan dan kekuatan menahan beban. Bisa jadi banget, jam terbang sebagai pionir tadi dan quality control yang ketat membuat produk PT Tata Logam Lestari lebih dipertimbangkan konsumen.

Selain genteng metal, produksi lain dari PT Tata Logam Lestari adalah taso, yaitu rangka atau kaso metal yang lazim digunakan untuk perumahan dan bangunan era sekarang. Fungsinya menggantikan kayu yang mulai susah didapatkan dan mahal harganya. Lantas ada pula kolom metal instant.Ini dalam proses pembuatan rumah konvensional adalah tiang cor-an yang merupakan kombinasi koral dan semen yang dimasukkan ke dalam tiang cor (rangka besi). 


Kolom metal instan menggantikan fungsi tiang cor ini. Dan, seperti kita ketahui, baja merupakan logam antikarat yang teruji kekuatannya. Si mas guide, orang dalam PT Tata Logam Lestari kemarin, punten, saya lupa namanya memberikan bocoran. Kekuatan dari kolom metal instan dan taso diuji di Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mendapatkan intensitas menahan beban yang kuat dipakai puluhan tahun, tahan guncangan seperti gempa dan tentunya aman.



Tidak heran, jika penggunaan taso dan kolom metal instant ini telah lumrah dilakukan pengembang properti ataupun bangunan pribadi. Biasanya kita mendengar istilahnya, menggunakan rangka atap baja ringan.

Semua proses produksi bahan-bahan bangunan tadi dilalui ke-10 blogger secara maraton sampai menjelang sore, Rabu, 10 Mei 2017 lalu. Mas-mas dan mbak-mbak yang pinter-pinter sigap menjawab semua pertanyaan. Sepertinya sih, mereka tukang insinyur seperti Si Doel Anak Betawi, soalnya pintar banget ngomongin istilah-istilah yang bahkan saya baru sekali dengar. Jadi maklum, cerita di sini yang umum-umum aja. Faktor U---mur sepertinya telah menjangkiti. Tolong, dimaafken....

Well, PT Tata Logam Lestari sendiri punya misi menyediakan bahan bangunan berbasis metal yang ringan, kuat dan cepat. Dari kesemua produk mereka, yang terakhir inilah yang berkesan bagi saya. Mengusung brand “Domus”, PT Tata Logam Lestari menyediakan rumah permanen instant. Emejing-nya, rumah ini cukup dibuat dengan waktu lima hari saja. Gila, nggak?

Pembeli hanya diminta untuk membuat pondasi dan lantai. Selain itu, serahkan kepada PT Tata Logam Lestari untuk mewujudkan rumah impian. Jaminan kekuatannya ada pada penggunaan taso, kolom metal instant dan genteng produksi sendiri. Dindingnya pun menggunakan hebes, model batako ringan yang praktis dan cepat disusun dibandingkan menggunakan bata merah. Kedengarannya mahal, iya nggak?

Ternyata tidak. Pembeli bisa menghitung harga setiap tipe rumah di aplikasi play store android, yaitu Simantapp. Selain desain yang sudah disediakan, bisa juga memilih desain custom sesuai keinginan dengan harga sedikit berbeda jika memesan desain yang sudah fix dari PT Tata Logam Lestari. Harganya Rp 1.25 juta untuk rumah satu lantai dan Rp 1.5 juta untuk rumah dua lantai untuk pilihan rumah custom. Artinya, desain disesuaikan dengan keinginan buyer.

Berapa harga rumah yang sudah ditentukan sesuai tipe-tipe? Anda bisa pikirkan sendiri, murah atau mahal. Dari aplikasi Simantapp yang saya lihat, masing-masing tipe 21 (Rp 16. 415.000) tipe 30 (Rp 20.685.000, tipe 36 (Rp 22.699.000) dan tipe 45 (Rp 27.315.000). Dengan harga ini, lima hari setelah transaksi, rumah impian pun sudah terwujud. Dahsyat? Perumahan model Domus ini sudah menjangkau pengembang perumahan di Pekanbaru, kota-kota di Pulau Jawa dan daerah lain. Termasuk mereka yang meminta PT Tata Logam Lestari membuatkan untuk rumah pribadi.


Domus menjadi inovasi revolusioner PT Tata Logam Lestari (Foto: Elzam)
Nah, Domus inilah yang membuat saya mikir lagi, nih. Bikin rumah tradisional atau rumah modern berkonsep Domus. Kemarin sih, tertarik, begitu melihat seperti apa jadinya rumah contoh yang diperlihatkan PT Tata Logam Lestari. Tidak jauh dari pabrik yang mereka punya. 

Bisa jadi nih, buat jalan tengahnya. Nanti bikin rumah inti dengan paket Domus. Kemudian untuk tambahannya sesuai ekspektasi saya pribadi, rumah bernuansa tradisional yang membuat kita berasa di kampung.

Jadi klop, rumah cantik modern-tradisional yang murah tapi berkelas. Sekarang lanjut dulu nabungnya, biar cepat direalisasikan. Aaamin.


Selasa, April 25, 2017

Gairah Keindonesiaan ala Semarang

Dua wanita dengan latar belakang kontras, tersenyum melakukan transaksi (foto: Elzam)

Saya cinta Indonesia, saya bangga lahir dan tumbuh di negeri ini. Saya suka traveling.

Dua hal inilah, cinta Indonesia dan traveling, menjadi modal saya mewujudkan mimpi, bertekad bisa mengunjungi seluruh kota-kota di Indonesia. Dari merasakan damai Pulau Sabang di Aceh yang menghadap samudera biru, hingga menyesap segar tanah bergunung-gunung milik Papua di ujung timur Indonesia. Sebelum saya sesumbar mengatakan pernah ke negara ini ke negara itu, dan memuji keelokannya, saya ingin setiap sudut Indonesia telah saya jejaki. Itulah tekad saya.

Tentang kota paling Indonesia, saya langsung teringat film Soegija. Maksudnya apa? Tepat sekali, saya ingin menyebutkan Semarang, kota tempat setting film Soegija tersebut bagi saya sejauh ini merupakan kota paling Indonesia. Setidaknya bagi saya yang telah mengunjungi hampir seluruh kota di Pulau Sumatera dan Jawa.

Soegija mengingatkan traveling saya yang sungguh berkesan dan berpikir inilah Indonesia sesungguhnya. Film karya Garin Nugroho dengan akting cukup apik dari sastrawan Nirwan Dewanto itu membayangkan saya ingin berada di Semarang tempo dulu. Merasakan denyut-denyut patriotisme yang sama, dengan perbedaan yang sebenarnya begitu banyak karena keragaman Indonesia itu sendiri.

Provinsi yang telah saya jelajahi di Sumatera adalah Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Lampung. Satu lagi, tentu saja Bengkulu, di mana daerah pegunungan dan pesisir membentuk lanskap yang menakjubkan dari tanah jajahan Inggris tempo dulu ini. Saya lahir dan besar di Bengkulu, sampai terdampar di Jakarta setelah menamatkan kuliah di jurusan Administrasi Negara Universitas Bengkulu tahun 2006. Budaya Melayu kental di daerah-daerah Sumatera, dengan pesona alamnya yang indah tak habis dieksplorasi. TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat) salah satunya, Saya suka berpetualang di hutan belantara yang melingkupi kawasan Bengkulu, Sumatera Barat, Jambi, dan Sumatera Selatan sekaligus. Di sini ada Pusat Pelatihan Gajah Seblat, habitat puspalangka Rafflesia, fauna semacam harimau sumatera, macan, atau landak. Sayang, saya belum sempat mengunjungi Bangka-Belitung yang terkenal dengan pantai menarik.

Jawa Barat, Banten, Jakarta, Jawa Tengah, dan Jogjakarta pernah saya datangi. Di Banten saya beranjangsana dengan Suku Badui di Banten, plesir ke Anyer, menjejaki trek gowes mountain bike di Hutan Cidampit Serang, sampai mengelilingi Pandeglang yang tak ingin ada mal di kotanya. 

Di Jakarta, ehm ada banyak tempat yang menarik. Nongkrong di Kota Tua, mengelilingi Kepulauan Seribu (Pulau Pramuka, Onrust, Bidadari, Tidung, Pari, atau Harapan), Monas, aneka museum, wisata belanja, sampai TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Ah, kata orang di Jakarta semua ada. Tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar.

Di Jawa Barat saya sebatas mengunjungi objek-objek wisata di Bandung, Bogor, dan Sukabumi. Gunung Salak, Cikuray, Gede Pangrango pernah saya daki. Untuk rafting, Sungai Citarik memang menjadi magnet tersendiri. Sangat luas Jawa Barat untuk dikelilingi, butuh waktu yang panjang!

Bagaimana dengan Jogjakarta? Sejuta romantisme memang akan didapatkan. Budaya dan pendidikan menjadi identitas yang tak pernah mati. Tak pernah bosan mengunjungi Jogjakarta. Beruntunglah, saya berkesempatan mendapatkan traveling gratis mengunjungi Jogjakarta dan Jawa Tengah selama 15 hari dari Detikcom. Alhasil, saya menjelajahi Bantul, Gunung Kidul, Wonosobo, Semarang, Magelang, Banjarnegara, dan kota-kota lain di sini. 15 hari penuh berpetualang. Rafting di Serayu, menelusuri gua-gua dan sungai bawah tanah Gunung Kidul, camping di Pantai Kapen, menikmati sunrise di Puncak Sekunir Dieng, bercengkerama dengan Penduduk Gunung Merapi, sampai merasakan aura mistis di makam raja-raja Mataram Kuno. Termasuk wisata kuliner menikmati wedang uwuh, mie koplok wonosobo, dan belalang goreng buatan penduduk Wonosari, lengkap dengan sayur lombok ijo.  

Lantas, mengapa saya berpendapat Semarang kota yang paling Indonesia?

Paling membangkitkan gairah keindonesiaan saya, adalah atmosfir Indonesia yang saya rasakan tampil  iconic jika menelusuri kota-kota di nusantara. Saya sebut demikian karena  menjelajahinya membuat saya kagum sekaligus bangga menjadi bagian dari 230 juta-an penduduk Indonesia. Semarang salah satunya. Di kota ini, Indonesia tampil apa adanya dan mengalir dalam riak yang tak pernah terhambat. Rasanya manis menikmati sudut-sudut kota Semarang yang tak seberapa luas itu, Berpindah dari satu spot ke spot berikutnya dengan jarak yang tak terlalu jauh. Di kota ini, miniatur Indonesia terungkap dalam spirit keberagaman yang kuat dan menginspirasi saya untuk selalu kangen. Kota multikultural yang penuh pesona karena toh di sini perbedaan tetaplah mengidentitaskan satu, yaitu Indonesia kita. Indonesia saya, Indonesia kamu, Indonesia dia, Indonesia mereka….

Waktu itu saya mengunjungi Semarang menggunakan kereta api dari Jakarta. Turun di Stasiun Tawang, disergap cuaca yang hangat menjelang sore. Sejarah perkeretaapian Indonesia tak bisa lepas dari Semarang, karena kantor kereta api tertua berada di Semarang, apa yang sekarang di sebut Gedung Lawang Sewu di kawasan Simpang Lima. Begitu keluar dari Stasiun Tawang, saya langsung terperosok ke dalam sejarah kelam Indonesia. Little Netherland tampak begitu tua, setua negeri itu (Belanda) menjajah kita lebih tiga setengah abad, lebih lama dari penjajahan Portugis, Jepang, dan Inggris.

Di kota lama ini, sejatinya saya kagum dengan arsitektur gedung-gedung yang merupakan Belanda kecil di timur dunia. Bangunan khas  Eropa menjulang, berjendela besar, ventilasi melengkung, dengan pilar-pilar besar dengan tata letak teratur dan sinergis, seakan membenarkan rasa inferior yang menggelayut manja di benak orang Indonesia. Wong Londo dianggap kelas atas, terdidik, berilmu, dan bermartabat, meski sebenarnya mereka tetaplah penjajah. Saya sedih, tapi ini masih anggapan banyak orang Indonesia sekarang. Di mana terbukti layar kaca dan lebar kita bangga memajang wajah Indo di seni peran. Kuliner  western (dan luar negeri lainnya) menjamur, lalu seakan mengkasta di tingkat teratas. 

Dan saya lebih miris lagi, Kota Lama alias Little Netherland yang kokoh dan tetap berdiri berabad-abad ini memojokkan saya dengan Indonesia yang saya cinta. Kami kolonial membangun stasiun kereta api, gedung-gedung, jembatan dengan benar seakan-akan kami akan hidup ratusan bahkan ribuan tahun ke depan di Indonesia. Tapi sekarang, kalian membangun jembatan, jalan, atau mega proyek lain untuk waktu yang lebih singkat dari umur kalian satu generasi sekali pun, karena digerogoti mentalitas korupsi. Saya menikmati menyusuri Gereja Blenduk, Gedung Marabunta, Jembatan Berok, dan Folder Tawang. Tapi saya tak bisa menikmatinya dengan baik, begitu membandingkannya dengan bangunan-bangunan Indonesia yang kerapkali jebol, hancur, dalam hitungan bulan di media massa. Entah ini perasaan yang berlebihan atau tidak, tapi inilah yang sebagian membenak ketika saya menelusuri Little Netherland.

Namun di balik rasa miris tadi, saya pun masih tetap bangga menjadi bagian dari Indonesia. Di Kota Semarang saya melihat patriot-patriot sejati yang tak sekali pun meminta pamrih, apalagi tanda jasa. Di jalan-jalan Kota Semarang, saya kagum dengan bapak tua berkaki telanjang menjajakan wedang jahe, mbok-mbok penjual jajanan pasar, dan mas-mas pengemudi becak yang santun mengantar saya berkeliling. Bagi mereka ini, mencari nafkah bukan persoalan seberapa besar yang kita dapat, tapi seberapa keras kita berjuang dan berkah bagi keluarga di rumah. Pelajaran yang sangat sulit saya dapatkan melihat situasi bermasyarakat kita saat sekarang. Biasanya yang paling suka saya amati kehidupan sehari-hari masyarakat, lalu lalang di jalanan, dan pasar tradisional.

Seorang nenek yang berbelanja di Pasar Gang Baru, Semarang (foto: Elzam)
Di Pasar Tradisional Gang Baru, saya sangat tersentuh dengan praktik pluralisme masyarakat Semarang yang notabene terdiri dari banyak penganut agama. Ada Buddha dan Konghucu yang banyak dianut peranakan, Tionghoa, Nasrani, dan Muslim. Di Gang Lombok, pasar sepanjang jalan yang rasanya tak lebih dari satu kilometer ini semua tumplek-blek menjadi satu. Tidak ada lagi perbedaan, karena lebur menjadi satu kepentingan; berjual beli. Saya melihat perempuan tua Njawani berjualan jajanan tradisional  seperti gablok, jadah ketan, cetot, gendar, kue pandan, dan apem. Pembelinya tumpah ruah dari orang Tionghoa, Padang, Jawa, sampai Sunda. Di lain tempat, pedagang Tionghoa sibuk menjual peralatan sembahyang di kuil. Ada perempuan berjilbab yang sumringah melayani pembeli berkerudung sepertinya, tapi bukan muslim, melainkan seorang biarawati. Pemandangan ini membuat saya benar-benar haru, sekaligus bangga. Saya merinding. Seperti inilah Indonesia kita yang penuh perbedaan, yang seharusnya damai tanpa sekat yang harus dipaksakan dalam identitas-identitas personal/komunitas, tapi tak mengindahkan ragam lain yang juga punya identitas.

Bagian inilah juga yang membuat saya mengingat Semarang menjadi kota yang paling Indonesia yang pernah saya kunjungi. Kota tempat pastoral pertama Indonesia, Soegija membaktikan hidupnya untuk kejayaan Indonesia ini tampak sangat nyaman ditinggali oleh beragam latar belakang. Tidak heran di sini mesjid menjamur (dengan icon Mesjid Kauman dan Mesjid Agung Jawa Tengah) , vihara dan kelenteng bertahan, gereja menjulang. Sekolah-sekolah semacam pesantren atau kolose terbuka untuk didatangi setiap anak muda yang ingin memelajari keyakinannya.

Berkaca dari pengalaman menelusuri Pasar Tradisional Gang Baru yang buka subuh sampai menjelang tengah hari itu, saya tak lagi kaget dengan kultur paling Indonesia milik Kota Semarang. Di Kelenteng Sam Pho Kong, saya menikmati obrolan dengan peziarah muslim peranakan Tionghoa yang datang berombongan. “Cheng Ho adalah pelaut muslim yang gagah berani mengajarkan keteladanan simpati dan toleransi,” ujar bapak yang seingat saya mengaku bernama A Seng itu. Atas dasar itu pula, di Kelenteng Sam Pho Kong, banyak muslim berziarah. Selain tentunya penganut Konghucu, Buddha, ataupun Tao (keyakinan yang banyak dipeluk warga Tionghoa).

Sembahyang di kelenteng (foto: Elzam)
Lalu siapa yang tak mengenal herbal Indonesia kebanggaan Indonesia yang disebut jamu? Ketika berkunjung ke Museum Jamu Jago lagi-lagi saya dibuat bangga. Berkat usaha dan kerja keras T.K. Suprana, pemilik perusahaan jamu tertua Indonesia, jamu sekarang tak pernah lekang Berjaya. Bahkan menemukan bentuknya dalam bentuk yang modern menyesuaikan zaman, di samping jamu tradisional yang dijual dalam bentuk segar oleh mbok-mbok jamu dan tetap lestari.

Membicarakan kuliner pun, Semarang saya pikir tetap menunjukkan kota paling Indonesia. Ada soto kudus yang mengenyangkan, wedang tahu yang menghangatkan, lumpia yang eksotis perpaduan kuliner Tionghoa dan Jawa, ganjel rel yang merupakan makanan tempo dulu, atau wingko babat yang sebenarnya “impor” dari provinsi sebelah (Jawa Timur).


Jadi lengkaplah sudah. Jika ditanya harus ke manakah mengunjungi objek wisata untuk merasakan satu rasa paling Indonesia? Saya menjawabnya Kota Semarang dan saya tak akan pernah ragu atau enggan untuk mengunjunginya kembali. Dua hari sewaktu saya berkunjung tak cukup untuk menuliskan kesemua hal tentang kota di tengah-tengah Pulau Jawa tersebut. Di kota ini, sejarah, kultur, kebiasaan, dan keragaman suku menjawab inilah Indonesia sebenarnya. Satu kota paling Indonesia yang pernah saya datangi. Dan tentu saja, saya percaya masih ada kota-kota paling Indonesia lain dalam ruang, waktu, atau konteks yang berbeda. 

Rabu, Maret 22, 2017

Totalitas Persahabatan Tiga Gadis Cantik di Web Series Ciamik "Sahabat Total"

Posternya aja udah seru, ya? (Foto: panitia)
Tren web series yang tayang di jejaring sosial berbasis video model Youtube makin marak. Banyak brand yang ikut ambil bagian membuat semarak tayangan video di Youtube. Asalkan menghibur dan menarik dipastikan netizen bakal berbondong-bondong menonton. Lantas menjadi fans setia dengan subscribe, biar nggak ketinggalan nonton update-an. 
Bikin web series kreatif nan menghibur. Ini juga yang dilakukan Total8+ alkaline water. Bertajuk "Sahabat Total" web series-nya menarik karena memajang pemeran cantik-cantik dengan akting ciamik. Beruntung kemarin saya diundang untuk launching mewakili blogger, di Holiday Inn Hotel, Kebayoran Baru, Jakarta. 
Perjalanan naik motor bikin senewen dari Pasar Rebo. Sampai di Danau Sunter, hujan deras sekali mengguyur. Campur badai lagi. Mana belum tahu jalan. Tapi untunglah, dengan drama hujan-hujanan menderu deras, nyampe juga di acara. Pyiuuh... syukur nggak telat, karena acaranya belum mulai. 
Oke, udah sesi curhatnya. Balik lagi ke web series "Sahabat Total". Ceritanya Total8 + ingin mengkampanyekan gaya hidup sehat melalui web series menghibur dan komikal yang bisa ditonton netizen di kanal Youtube berjudul “Sahabat Total”.
Soal kenapa di Youtube? Ada alasannya, lho. 
“Kami menayangkannya di Youtube, karena bisa menjangkau semua orang. Tidak hanya Indonesia, tapi juga seluruh dunia. Selain pertimbangan, sekarang dengan berbagai kesibukan banyak orang yang tidak sempat menonton televisi saat ini,” ujar Aldi Trifantika, produser “Sahabat Total” Senin (20/3/2017) lalu.
Si Pinky alias Lola lagi ngomong. Aslinya emang lucu (Foto: Elzam)
Dibintangi oleh Intan Saumadina, Pinky Ovien dan Chika Audika, “Sahabat Total” menceritakan suka duka persahabatan Mila (Intan), Bela (Chika) dan Lola (Pinky). Ketiga gadis urban ini disibukkan dengan impian masing-masing yang terkadang berujung konflik. Meski demikian, tetap saja persahabatan yang tulus mengikat mereka untuk terus kompak. Berantem dikit, baikan lagi. Ehm, jadi ingat. Seorang sahabat saya yang sampai sekarang hubungan kami jadi dingin karena sesuatu hal. Sesuatu yang nggak ingin terjadi oleh saya sebenarnya. Ada advice buat solusinya? Wakakaka, curcol lagi dah.
Sempat nonton episode kedua bareng teman-teman media dan blogger. Bisa dijelaskan sebenarnya karakter Mila diceritakan seorang personal trainer yang bercita-cita  menjadi model profesional, yang kerapkali mengajak kedua sahabatnya untuk hidup sehat. Ada juga Bella yang berprofesi sebagai barista tapi hobi melukis. Lantas Si Lola yang bekerja sebagai karyawan perusahaan doyan ngemil. Mila selalu mengajak sekaligus mencontohkan Bella dan Lola untuk berolahraga teratur dan minum air putih yang cukup.
“Keinginan kami, semoga web series ini bisa mengajak kita semua terhibur dengan cerita persahabatan Mila, Bella dan Lola. Tentunya juga dapat memberi pesan kampanye sehat yang perlu dibiasakan,” ungkap Intan yang ikut hadir ditemani Pinky dan sang sutradara Subhan Lora dari Idealight Creative Indonesia.
Satu hal, saya nggak bosen liat si Intan. Kayaknya doi ini model cewek yang cocok buat ajang putri-putrian. Duduknya tegap, bahasanya tertata, dan senyumnya selalu terkontrol, ha-ha-ha.... Dan ternyata bener. Intan pernah jadi Putri Pariwisata. Sekarang pun dari cerita doi, sedang persiapan untuk ikut bertarung merebut mahkota Puteri Indonesia. Bikin lebih terkejut lagi, ternyata Intan mewakili Bengkulu. Jadi semangat mau nulis tentang Intan, sekaligus promote dia. Secara saya juga berasal dari Bengkulu. Sayangnya, ketika akhir acara dia sibuk wawancara dengan seorang rekan media. Tadinya mau wefie bareng, lalu pamer sama teman-teman sosmed saya di Bengkulu. Cuma si Kekey, bocah ajaib yang saya bawa merengek minta pulang. Ya udin lah, melayang kesempatan berbuat riya :D 
Subscribe kuy, biar nggak penasaran
Rencananya, akan ada 20 episode yang bercerita dengan tema yang berbeda-beda. Sementara episode pertama telah tayang 1 Maret 2017 lalu. Setiap bulan Total 8+ alkaline water akan mengunggah episode baru di tanggal satu atau tengah bulan (pertengahan minggu kedua). 
Setiap cerita pun diupayakan relevan dengan tren dan timing peristiwa yang terjadi sehari-hari. Misalnya episode Ramadhan dengan aktivitas puasa, traveling dan sebagainya. Satu yang bikin saya penasaran, ketika nonton episode yang ditayangkan pas launching, scene demi scene cuma ceritain tiga cewek cakep tadi. Dan shoot-nya cuma di interior, jadi sedikit boring. Cuma bisa dimaklumi, dengan durasi sekitar empat menit tentu ada keterbatasan dari Idealight selaku rumah produksinya. Nanti kepanjangan bikin cerita dengan lokasi syuting di mana-mana, netizen malah protes karena kuota abis, wakaka.... Nggak, ding! Idealnya memang segitu juga udah cukup. Web series kan harus menghibur, ringan, padat cerita dan tetap ada value yang bisa dipetik. 
Lagi pula, sang sutradara juga menjanjikan ceritanya akan terus berkembang semakin menarik, semakin konyol dengan tingkah Si Lola (yang kabarnya sering bikin banyak cut ketika ngambil gambar, karena kru pada nggak tahan untuk ketawa). Soal figuran lain, tenang. Spoiler, akan ada pemeran lain nanti. Nggak mulu Trio La La La alias Mila, Bella, Lola. Ada juga pemeran cowok. Dan gue ngebayangin ini pasti soal failing in love atau justeru rebut-rebutan cowok? Entah lah. Kita tunggu aja lah, kuy. 

Jumat, Maret 10, 2017

One Day One Note Challenges. Why Not?


Blogger Mungil, kebanyakan ibu-ibu 

Swear, ini nulis blog kok susah banget ya? Bingung harus menulis apa, ha-ha-ha....

Berulang kali keyboard ditekan, sebaris kalimat muncul. Control A plus delete! Rasanya garing banget, padahal tiap hari saya nulis kerjaannya di kantor.  Emang susah, nulis karena tuntutan kantong dengan tuntutan kesenangan belaka (yang harus dipaksakan mood-nya). 

Jadi apa yang mesti ditulis? Sebenarnya banyak perjalanan hidup, event, sekaligus traveling kecil-kecilan bin unyu bareng keluarga yang dilakukan. Tapi buat nulisnya itu, butuh effort lebih. Nanti lah saya akan tulis deh, satu per satu.  Pengen bikin one day one note challenges.

Ceritanya saya tertantang bikin challenge ketika ikut Blogger Gathering Sun Life Financial di Kota Kasablanka Mal, 18 Februari lalu. Ketemu Mbak Ainun Chomsum yang punya blog www.ainun.net. Doi jadi pembicara yang ngomongin banyak pengalamannya. 

Menurut Mbak Ainun, psikologi masyarakat Indonesia yang menjadi netizen tertarik pada 5 of content utama. Apa saja?

1. Drama
2. Komedi
3. Isu sosial
4. Kontroversi
5. Pornografi 

Saya berpikir, sepertinya harus mulai mengelola blog dengan serius. Udah kepikiran mau ganti domain sendiri. Biar keren, hahaha.... Tapi nggak kejadian dari dulu. Kalau dipikir-pikir, buat apa saya bikin blog? sebenarnya lebih kepada saya suka nulis (tapi kenapa blog lo jarang update, why? why?)

Well, saya punya alasan sendiri, kok. Saya tetap nulis di kantor, hahaha.... Produknya udah banyak di koran, website berita, dan lain-lain. Tapi menulis yang hobi ini yang males-malesan. Nulis blog kalo ada event dan diwajibkan nulis sebagai konsekuensi dapet goodie bag atau nonton premier.

Kembali ke konten yang paling menarik minat netizen buat dibaca tadi. Believe me, saya selama ini nggak pernah berpikir harus menargetkan traffic sekian, bikin google ads. Saya menulis sesuka saya, sesuai dengan hati dan pikiran. Lebih ke representasi isi kepala yang ringan-ringan, cerita sehari-hari dan kalau tertarik ikut lomba blog sesekali. 

Kalo dirangking, apa yang sebenarnya suka saya tulis di blog? Bukan apa yang disuka oleh netizen ya, itu terserah mereka. Kan saya yang pula blog, hahaha....

1. Fiksi dan seputar dunia perbukuan. 
Nah, kalau dilihat, ada rubrik blog saya yang memuat semua cerpen saya yang pernah dimuat. Juga review buku atau resensi. Saya mendokumentasikan beberapa buku yang pernah saya tulis juga di blog ini. 

2. Jalan-jalan,  
Mau bilang traveler, kayaknya masih jauh. Jarang ngetrip, belum pernah ke luar negeri juga. Prestasi jalan-jalan saya kemping-kemping sekitaran Jabodetabek bareng teman-teman. Paling prestisius sih waktu jadi Petualang Aku Cinta Indonesia (ACI) 2011 lalu. Kemudian nulis destinasi yang kita kunjungi gratis di kanal www.travel.detik.com. Lima belas hari cuy, saat si kecil waktu itu baru berusia empat bulan. Ini pengalaman sangat menyenangkan, lima belas hari jalan-jalan di Yogya dan Jawa tengah. Keluar masuk hotel, makan enak, naik mobil charteran (bukan mobil umum). "Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan?"  Begitu Allah bilang soal nikmat buat manusia di Qur'an Surat Ar-Rahman. 

Nanti, saya akan tulis pengalaman jalan-jalan saya atu-atu. Biar lebih fokus!

3. Curcol
Apa itu curcol? Ya, remeh-temeh kehidupan di dunia fana ini. Nggak usah diperjelas. 

4. Politik
Ehm, ini tema yang menarik tapi bikin saya malas berinteraksi di media sosial. Bukan saya apolitik. Bukan. Makin ke sini, ritme politik dan pembicaraan politik masyarakat bikin eneg. Nggak jauh-jauh dari berantem, saling serang, nyindir dan puja-puji tokoh/pilihan politik yang cocok dengan yang bersangkutan. Maka, kalau dilihat, sekarang saya paling kalem membicarakan politik di Facebook. Sesuai anjuran istri juga sih, daripada mengeraskan hati. Kita nulis A, sebaik dan sesantun apapun tulisan kita, kalau ada yang nggak sepakat, di-bully lah kita. Didoakan bertobat, diancam neraka, disuruh peduli agama, bla bla bla...

Baiklah. Cukup sekian. Besok lah, saya cerita lagi. Nulis-nulis lagi.