Selasa, April 25, 2017

Gairah Keindonesiaan ala Semarang

Dua wanita dengan latar belakang kontras, tersenyum melakukan transaksi (foto: Elzam)

Saya cinta Indonesia, saya bangga lahir dan tumbuh di negeri ini. Saya suka traveling.

Dua hal inilah, cinta Indonesia dan traveling, menjadi modal saya mewujudkan mimpi, bertekad bisa mengunjungi seluruh kota-kota di Indonesia. Dari merasakan damai Pulau Sabang di Aceh yang menghadap samudera biru, hingga menyesap segar tanah bergunung-gunung milik Papua di ujung timur Indonesia. Sebelum saya sesumbar mengatakan pernah ke negara ini ke negara itu, dan memuji keelokannya, saya ingin setiap sudut Indonesia telah saya jejaki. Itulah tekad saya.

Tentang kota paling Indonesia, saya langsung teringat film Soegija. Maksudnya apa? Tepat sekali, saya ingin menyebutkan Semarang, kota tempat setting film Soegija tersebut bagi saya sejauh ini merupakan kota paling Indonesia. Setidaknya bagi saya yang telah mengunjungi hampir seluruh kota di Pulau Sumatera dan Jawa.

Soegija mengingatkan traveling saya yang sungguh berkesan dan berpikir inilah Indonesia sesungguhnya. Film karya Garin Nugroho dengan akting cukup apik dari sastrawan Nirwan Dewanto itu membayangkan saya ingin berada di Semarang tempo dulu. Merasakan denyut-denyut patriotisme yang sama, dengan perbedaan yang sebenarnya begitu banyak karena keragaman Indonesia itu sendiri.

Provinsi yang telah saya jelajahi di Sumatera adalah Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Lampung. Satu lagi, tentu saja Bengkulu, di mana daerah pegunungan dan pesisir membentuk lanskap yang menakjubkan dari tanah jajahan Inggris tempo dulu ini. Saya lahir dan besar di Bengkulu, sampai terdampar di Jakarta setelah menamatkan kuliah di jurusan Administrasi Negara Universitas Bengkulu tahun 2006. Budaya Melayu kental di daerah-daerah Sumatera, dengan pesona alamnya yang indah tak habis dieksplorasi. TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat) salah satunya, Saya suka berpetualang di hutan belantara yang melingkupi kawasan Bengkulu, Sumatera Barat, Jambi, dan Sumatera Selatan sekaligus. Di sini ada Pusat Pelatihan Gajah Seblat, habitat puspalangka Rafflesia, fauna semacam harimau sumatera, macan, atau landak. Sayang, saya belum sempat mengunjungi Bangka-Belitung yang terkenal dengan pantai menarik.

Jawa Barat, Banten, Jakarta, Jawa Tengah, dan Jogjakarta pernah saya datangi. Di Banten saya beranjangsana dengan Suku Badui di Banten, plesir ke Anyer, menjejaki trek gowes mountain bike di Hutan Cidampit Serang, sampai mengelilingi Pandeglang yang tak ingin ada mal di kotanya. 

Di Jakarta, ehm ada banyak tempat yang menarik. Nongkrong di Kota Tua, mengelilingi Kepulauan Seribu (Pulau Pramuka, Onrust, Bidadari, Tidung, Pari, atau Harapan), Monas, aneka museum, wisata belanja, sampai TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Ah, kata orang di Jakarta semua ada. Tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar.

Di Jawa Barat saya sebatas mengunjungi objek-objek wisata di Bandung, Bogor, dan Sukabumi. Gunung Salak, Cikuray, Gede Pangrango pernah saya daki. Untuk rafting, Sungai Citarik memang menjadi magnet tersendiri. Sangat luas Jawa Barat untuk dikelilingi, butuh waktu yang panjang!

Bagaimana dengan Jogjakarta? Sejuta romantisme memang akan didapatkan. Budaya dan pendidikan menjadi identitas yang tak pernah mati. Tak pernah bosan mengunjungi Jogjakarta. Beruntunglah, saya berkesempatan mendapatkan traveling gratis mengunjungi Jogjakarta dan Jawa Tengah selama 15 hari dari Detikcom. Alhasil, saya menjelajahi Bantul, Gunung Kidul, Wonosobo, Semarang, Magelang, Banjarnegara, dan kota-kota lain di sini. 15 hari penuh berpetualang. Rafting di Serayu, menelusuri gua-gua dan sungai bawah tanah Gunung Kidul, camping di Pantai Kapen, menikmati sunrise di Puncak Sekunir Dieng, bercengkerama dengan Penduduk Gunung Merapi, sampai merasakan aura mistis di makam raja-raja Mataram Kuno. Termasuk wisata kuliner menikmati wedang uwuh, mie koplok wonosobo, dan belalang goreng buatan penduduk Wonosari, lengkap dengan sayur lombok ijo.  

Lantas, mengapa saya berpendapat Semarang kota yang paling Indonesia?

Paling membangkitkan gairah keindonesiaan saya, adalah atmosfir Indonesia yang saya rasakan tampil  iconic jika menelusuri kota-kota di nusantara. Saya sebut demikian karena  menjelajahinya membuat saya kagum sekaligus bangga menjadi bagian dari 230 juta-an penduduk Indonesia. Semarang salah satunya. Di kota ini, Indonesia tampil apa adanya dan mengalir dalam riak yang tak pernah terhambat. Rasanya manis menikmati sudut-sudut kota Semarang yang tak seberapa luas itu, Berpindah dari satu spot ke spot berikutnya dengan jarak yang tak terlalu jauh. Di kota ini, miniatur Indonesia terungkap dalam spirit keberagaman yang kuat dan menginspirasi saya untuk selalu kangen. Kota multikultural yang penuh pesona karena toh di sini perbedaan tetaplah mengidentitaskan satu, yaitu Indonesia kita. Indonesia saya, Indonesia kamu, Indonesia dia, Indonesia mereka….

Waktu itu saya mengunjungi Semarang menggunakan kereta api dari Jakarta. Turun di Stasiun Tawang, disergap cuaca yang hangat menjelang sore. Sejarah perkeretaapian Indonesia tak bisa lepas dari Semarang, karena kantor kereta api tertua berada di Semarang, apa yang sekarang di sebut Gedung Lawang Sewu di kawasan Simpang Lima. Begitu keluar dari Stasiun Tawang, saya langsung terperosok ke dalam sejarah kelam Indonesia. Little Netherland tampak begitu tua, setua negeri itu (Belanda) menjajah kita lebih tiga setengah abad, lebih lama dari penjajahan Portugis, Jepang, dan Inggris.

Di kota lama ini, sejatinya saya kagum dengan arsitektur gedung-gedung yang merupakan Belanda kecil di timur dunia. Bangunan khas  Eropa menjulang, berjendela besar, ventilasi melengkung, dengan pilar-pilar besar dengan tata letak teratur dan sinergis, seakan membenarkan rasa inferior yang menggelayut manja di benak orang Indonesia. Wong Londo dianggap kelas atas, terdidik, berilmu, dan bermartabat, meski sebenarnya mereka tetaplah penjajah. Saya sedih, tapi ini masih anggapan banyak orang Indonesia sekarang. Di mana terbukti layar kaca dan lebar kita bangga memajang wajah Indo di seni peran. Kuliner  western (dan luar negeri lainnya) menjamur, lalu seakan mengkasta di tingkat teratas. 

Dan saya lebih miris lagi, Kota Lama alias Little Netherland yang kokoh dan tetap berdiri berabad-abad ini memojokkan saya dengan Indonesia yang saya cinta. Kami kolonial membangun stasiun kereta api, gedung-gedung, jembatan dengan benar seakan-akan kami akan hidup ratusan bahkan ribuan tahun ke depan di Indonesia. Tapi sekarang, kalian membangun jembatan, jalan, atau mega proyek lain untuk waktu yang lebih singkat dari umur kalian satu generasi sekali pun, karena digerogoti mentalitas korupsi. Saya menikmati menyusuri Gereja Blenduk, Gedung Marabunta, Jembatan Berok, dan Folder Tawang. Tapi saya tak bisa menikmatinya dengan baik, begitu membandingkannya dengan bangunan-bangunan Indonesia yang kerapkali jebol, hancur, dalam hitungan bulan di media massa. Entah ini perasaan yang berlebihan atau tidak, tapi inilah yang sebagian membenak ketika saya menelusuri Little Netherland.

Namun di balik rasa miris tadi, saya pun masih tetap bangga menjadi bagian dari Indonesia. Di Kota Semarang saya melihat patriot-patriot sejati yang tak sekali pun meminta pamrih, apalagi tanda jasa. Di jalan-jalan Kota Semarang, saya kagum dengan bapak tua berkaki telanjang menjajakan wedang jahe, mbok-mbok penjual jajanan pasar, dan mas-mas pengemudi becak yang santun mengantar saya berkeliling. Bagi mereka ini, mencari nafkah bukan persoalan seberapa besar yang kita dapat, tapi seberapa keras kita berjuang dan berkah bagi keluarga di rumah. Pelajaran yang sangat sulit saya dapatkan melihat situasi bermasyarakat kita saat sekarang. Biasanya yang paling suka saya amati kehidupan sehari-hari masyarakat, lalu lalang di jalanan, dan pasar tradisional.

Seorang nenek yang berbelanja di Pasar Gang Baru, Semarang (foto: Elzam)
Di Pasar Tradisional Gang Baru, saya sangat tersentuh dengan praktik pluralisme masyarakat Semarang yang notabene terdiri dari banyak penganut agama. Ada Buddha dan Konghucu yang banyak dianut peranakan, Tionghoa, Nasrani, dan Muslim. Di Gang Lombok, pasar sepanjang jalan yang rasanya tak lebih dari satu kilometer ini semua tumplek-blek menjadi satu. Tidak ada lagi perbedaan, karena lebur menjadi satu kepentingan; berjual beli. Saya melihat perempuan tua Njawani berjualan jajanan tradisional  seperti gablok, jadah ketan, cetot, gendar, kue pandan, dan apem. Pembelinya tumpah ruah dari orang Tionghoa, Padang, Jawa, sampai Sunda. Di lain tempat, pedagang Tionghoa sibuk menjual peralatan sembahyang di kuil. Ada perempuan berjilbab yang sumringah melayani pembeli berkerudung sepertinya, tapi bukan muslim, melainkan seorang biarawati. Pemandangan ini membuat saya benar-benar haru, sekaligus bangga. Saya merinding. Seperti inilah Indonesia kita yang penuh perbedaan, yang seharusnya damai tanpa sekat yang harus dipaksakan dalam identitas-identitas personal/komunitas, tapi tak mengindahkan ragam lain yang juga punya identitas.

Bagian inilah juga yang membuat saya mengingat Semarang menjadi kota yang paling Indonesia yang pernah saya kunjungi. Kota tempat pastoral pertama Indonesia, Soegija membaktikan hidupnya untuk kejayaan Indonesia ini tampak sangat nyaman ditinggali oleh beragam latar belakang. Tidak heran di sini mesjid menjamur (dengan icon Mesjid Kauman dan Mesjid Agung Jawa Tengah) , vihara dan kelenteng bertahan, gereja menjulang. Sekolah-sekolah semacam pesantren atau kolose terbuka untuk didatangi setiap anak muda yang ingin memelajari keyakinannya.

Berkaca dari pengalaman menelusuri Pasar Tradisional Gang Baru yang buka subuh sampai menjelang tengah hari itu, saya tak lagi kaget dengan kultur paling Indonesia milik Kota Semarang. Di Kelenteng Sam Pho Kong, saya menikmati obrolan dengan peziarah muslim peranakan Tionghoa yang datang berombongan. “Cheng Ho adalah pelaut muslim yang gagah berani mengajarkan keteladanan simpati dan toleransi,” ujar bapak yang seingat saya mengaku bernama A Seng itu. Atas dasar itu pula, di Kelenteng Sam Pho Kong, banyak muslim berziarah. Selain tentunya penganut Konghucu, Buddha, ataupun Tao (keyakinan yang banyak dipeluk warga Tionghoa).

Sembahyang di kelenteng (foto: Elzam)
Lalu siapa yang tak mengenal herbal Indonesia kebanggaan Indonesia yang disebut jamu? Ketika berkunjung ke Museum Jamu Jago lagi-lagi saya dibuat bangga. Berkat usaha dan kerja keras T.K. Suprana, pemilik perusahaan jamu tertua Indonesia, jamu sekarang tak pernah lekang Berjaya. Bahkan menemukan bentuknya dalam bentuk yang modern menyesuaikan zaman, di samping jamu tradisional yang dijual dalam bentuk segar oleh mbok-mbok jamu dan tetap lestari.

Membicarakan kuliner pun, Semarang saya pikir tetap menunjukkan kota paling Indonesia. Ada soto kudus yang mengenyangkan, wedang tahu yang menghangatkan, lumpia yang eksotis perpaduan kuliner Tionghoa dan Jawa, ganjel rel yang merupakan makanan tempo dulu, atau wingko babat yang sebenarnya “impor” dari provinsi sebelah (Jawa Timur).


Jadi lengkaplah sudah. Jika ditanya harus ke manakah mengunjungi objek wisata untuk merasakan satu rasa paling Indonesia? Saya menjawabnya Kota Semarang dan saya tak akan pernah ragu atau enggan untuk mengunjunginya kembali. Dua hari sewaktu saya berkunjung tak cukup untuk menuliskan kesemua hal tentang kota di tengah-tengah Pulau Jawa tersebut. Di kota ini, sejarah, kultur, kebiasaan, dan keragaman suku menjawab inilah Indonesia sebenarnya. Satu kota paling Indonesia yang pernah saya datangi. Dan tentu saja, saya percaya masih ada kota-kota paling Indonesia lain dalam ruang, waktu, atau konteks yang berbeda. 

Rabu, Maret 22, 2017

Totalitas Persahabatan Tiga Gadis Cantik di Web Series Ciamik "Sahabat Total"

Posternya aja udah seru, ya? (Foto: panitia)
Tren web series yang tayang di jejaring sosial berbasis video model Youtube makin marak. Banyak brand yang ikut ambil bagian membuat semarak tayangan video di Youtube. Asalkan menghibur dan menarik dipastikan netizen bakal berbondong-bondong menonton. Lantas menjadi fans setia dengan subscribe, biar nggak ketinggalan nonton update-an. 
Bikin web series kreatif nan menghibur. Ini juga yang dilakukan Total8+ alkaline water. Bertajuk "Sahabat Total" web series-nya menarik karena memajang pemeran cantik-cantik dengan akting ciamik. Beruntung kemarin saya diundang untuk launching mewakili blogger, di Holiday Inn Hotel, Kebayoran Baru, Jakarta. 
Perjalanan naik motor bikin senewen dari Pasar Rebo. Sampai di Danau Sunter, hujan deras sekali mengguyur. Campur badai lagi. Mana belum tahu jalan. Tapi untunglah, dengan drama hujan-hujanan menderu deras, nyampe juga di acara. Pyiuuh... syukur nggak telat, karena acaranya belum mulai. 
Oke, udah sesi curhatnya. Balik lagi ke web series "Sahabat Total". Ceritanya Total8 + ingin mengkampanyekan gaya hidup sehat melalui web series menghibur dan komikal yang bisa ditonton netizen di kanal Youtube berjudul “Sahabat Total”.
Soal kenapa di Youtube? Ada alasannya, lho. 
“Kami menayangkannya di Youtube, karena bisa menjangkau semua orang. Tidak hanya Indonesia, tapi juga seluruh dunia. Selain pertimbangan, sekarang dengan berbagai kesibukan banyak orang yang tidak sempat menonton televisi saat ini,” ujar Aldi Trifantika, produser “Sahabat Total” Senin (20/3/2017) lalu.
Si Pinky alias Lola lagi ngomong. Aslinya emang lucu (Foto: Elzam)
Dibintangi oleh Intan Saumadina, Pinky Ovien dan Chika Audika, “Sahabat Total” menceritakan suka duka persahabatan Mila (Intan), Bela (Chika) dan Lola (Pinky). Ketiga gadis urban ini disibukkan dengan impian masing-masing yang terkadang berujung konflik. Meski demikian, tetap saja persahabatan yang tulus mengikat mereka untuk terus kompak. Berantem dikit, baikan lagi. Ehm, jadi ingat. Seorang sahabat saya yang sampai sekarang hubungan kami jadi dingin karena sesuatu hal. Sesuatu yang nggak ingin terjadi oleh saya sebenarnya. Ada advice buat solusinya? Wakakaka, curcol lagi dah.
Sempat nonton episode kedua bareng teman-teman media dan blogger. Bisa dijelaskan sebenarnya karakter Mila diceritakan seorang personal trainer yang bercita-cita  menjadi model profesional, yang kerapkali mengajak kedua sahabatnya untuk hidup sehat. Ada juga Bella yang berprofesi sebagai barista tapi hobi melukis. Lantas Si Lola yang bekerja sebagai karyawan perusahaan doyan ngemil. Mila selalu mengajak sekaligus mencontohkan Bella dan Lola untuk berolahraga teratur dan minum air putih yang cukup.
“Keinginan kami, semoga web series ini bisa mengajak kita semua terhibur dengan cerita persahabatan Mila, Bella dan Lola. Tentunya juga dapat memberi pesan kampanye sehat yang perlu dibiasakan,” ungkap Intan yang ikut hadir ditemani Pinky dan sang sutradara Subhan Lora dari Idealight Creative Indonesia.
Satu hal, saya nggak bosen liat si Intan. Kayaknya doi ini model cewek yang cocok buat ajang putri-putrian. Duduknya tegap, bahasanya tertata, dan senyumnya selalu terkontrol, ha-ha-ha.... Dan ternyata bener. Intan pernah jadi Putri Pariwisata. Sekarang pun dari cerita doi, sedang persiapan untuk ikut bertarung merebut mahkota Puteri Indonesia. Bikin lebih terkejut lagi, ternyata Intan mewakili Bengkulu. Jadi semangat mau nulis tentang Intan, sekaligus promote dia. Secara saya juga berasal dari Bengkulu. Sayangnya, ketika akhir acara dia sibuk wawancara dengan seorang rekan media. Tadinya mau wefie bareng, lalu pamer sama teman-teman sosmed saya di Bengkulu. Cuma si Kekey, bocah ajaib yang saya bawa merengek minta pulang. Ya udin lah, melayang kesempatan berbuat riya :D 
Subscribe kuy, biar nggak penasaran
Rencananya, akan ada 20 episode yang bercerita dengan tema yang berbeda-beda. Sementara episode pertama telah tayang 1 Maret 2017 lalu. Setiap bulan Total 8+ alkaline water akan mengunggah episode baru di tanggal satu atau tengah bulan (pertengahan minggu kedua). 
Setiap cerita pun diupayakan relevan dengan tren dan timing peristiwa yang terjadi sehari-hari. Misalnya episode Ramadhan dengan aktivitas puasa, traveling dan sebagainya. Satu yang bikin saya penasaran, ketika nonton episode yang ditayangkan pas launching, scene demi scene cuma ceritain tiga cewek cakep tadi. Dan shoot-nya cuma di interior, jadi sedikit boring. Cuma bisa dimaklumi, dengan durasi sekitar empat menit tentu ada keterbatasan dari Idealight selaku rumah produksinya. Nanti kepanjangan bikin cerita dengan lokasi syuting di mana-mana, netizen malah protes karena kuota abis, wakaka.... Nggak, ding! Idealnya memang segitu juga udah cukup. Web series kan harus menghibur, ringan, padat cerita dan tetap ada value yang bisa dipetik. 
Lagi pula, sang sutradara juga menjanjikan ceritanya akan terus berkembang semakin menarik, semakin konyol dengan tingkah Si Lola (yang kabarnya sering bikin banyak cut ketika ngambil gambar, karena kru pada nggak tahan untuk ketawa). Soal figuran lain, tenang. Spoiler, akan ada pemeran lain nanti. Nggak mulu Trio La La La alias Mila, Bella, Lola. Ada juga pemeran cowok. Dan gue ngebayangin ini pasti soal failing in love atau justeru rebut-rebutan cowok? Entah lah. Kita tunggu aja lah, kuy. 

Jumat, Maret 10, 2017

One Day One Note Challenges. Why Not?


Blogger Mungil, kebanyakan ibu-ibu 

Swear, ini nulis blog kok susah banget ya? Bingung harus menulis apa, ha-ha-ha....

Berulang kali keyboard ditekan, sebaris kalimat muncul. Control A plus delete! Rasanya garing banget, padahal tiap hari saya nulis kerjaannya di kantor.  Emang susah, nulis karena tuntutan kantong dengan tuntutan kesenangan belaka (yang harus dipaksakan mood-nya). 

Jadi apa yang mesti ditulis? Sebenarnya banyak perjalanan hidup, event, sekaligus traveling kecil-kecilan bin unyu bareng keluarga yang dilakukan. Tapi buat nulisnya itu, butuh effort lebih. Nanti lah saya akan tulis deh, satu per satu.  Pengen bikin one day one note challenges.

Ceritanya saya tertantang bikin challenge ketika ikut Blogger Gathering Sun Life Financial di Kota Kasablanka Mal, 18 Februari lalu. Ketemu Mbak Ainun Chomsum yang punya blog www.ainun.net. Doi jadi pembicara yang ngomongin banyak pengalamannya. 

Menurut Mbak Ainun, psikologi masyarakat Indonesia yang menjadi netizen tertarik pada 5 of content utama. Apa saja?

1. Drama
2. Komedi
3. Isu sosial
4. Kontroversi
5. Pornografi 

Saya berpikir, sepertinya harus mulai mengelola blog dengan serius. Udah kepikiran mau ganti domain sendiri. Biar keren, hahaha.... Tapi nggak kejadian dari dulu. Kalau dipikir-pikir, buat apa saya bikin blog? sebenarnya lebih kepada saya suka nulis (tapi kenapa blog lo jarang update, why? why?)

Well, saya punya alasan sendiri, kok. Saya tetap nulis di kantor, hahaha.... Produknya udah banyak di koran, website berita, dan lain-lain. Tapi menulis yang hobi ini yang males-malesan. Nulis blog kalo ada event dan diwajibkan nulis sebagai konsekuensi dapet goodie bag atau nonton premier.

Kembali ke konten yang paling menarik minat netizen buat dibaca tadi. Believe me, saya selama ini nggak pernah berpikir harus menargetkan traffic sekian, bikin google ads. Saya menulis sesuka saya, sesuai dengan hati dan pikiran. Lebih ke representasi isi kepala yang ringan-ringan, cerita sehari-hari dan kalau tertarik ikut lomba blog sesekali. 

Kalo dirangking, apa yang sebenarnya suka saya tulis di blog? Bukan apa yang disuka oleh netizen ya, itu terserah mereka. Kan saya yang pula blog, hahaha....

1. Fiksi dan seputar dunia perbukuan. 
Nah, kalau dilihat, ada rubrik blog saya yang memuat semua cerpen saya yang pernah dimuat. Juga review buku atau resensi. Saya mendokumentasikan beberapa buku yang pernah saya tulis juga di blog ini. 

2. Jalan-jalan,  
Mau bilang traveler, kayaknya masih jauh. Jarang ngetrip, belum pernah ke luar negeri juga. Prestasi jalan-jalan saya kemping-kemping sekitaran Jabodetabek bareng teman-teman. Paling prestisius sih waktu jadi Petualang Aku Cinta Indonesia (ACI) 2011 lalu. Kemudian nulis destinasi yang kita kunjungi gratis di kanal www.travel.detik.com. Lima belas hari cuy, saat si kecil waktu itu baru berusia empat bulan. Ini pengalaman sangat menyenangkan, lima belas hari jalan-jalan di Yogya dan Jawa tengah. Keluar masuk hotel, makan enak, naik mobil charteran (bukan mobil umum). "Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan?"  Begitu Allah bilang soal nikmat buat manusia di Qur'an Surat Ar-Rahman. 

Nanti, saya akan tulis pengalaman jalan-jalan saya atu-atu. Biar lebih fokus!

3. Curcol
Apa itu curcol? Ya, remeh-temeh kehidupan di dunia fana ini. Nggak usah diperjelas. 

4. Politik
Ehm, ini tema yang menarik tapi bikin saya malas berinteraksi di media sosial. Bukan saya apolitik. Bukan. Makin ke sini, ritme politik dan pembicaraan politik masyarakat bikin eneg. Nggak jauh-jauh dari berantem, saling serang, nyindir dan puja-puji tokoh/pilihan politik yang cocok dengan yang bersangkutan. Maka, kalau dilihat, sekarang saya paling kalem membicarakan politik di Facebook. Sesuai anjuran istri juga sih, daripada mengeraskan hati. Kita nulis A, sebaik dan sesantun apapun tulisan kita, kalau ada yang nggak sepakat, di-bully lah kita. Didoakan bertobat, diancam neraka, disuruh peduli agama, bla bla bla...

Baiklah. Cukup sekian. Besok lah, saya cerita lagi. Nulis-nulis lagi. 

Jumat, Februari 10, 2017

11 Filosopi Supir Angkot yang Wajib Kamu Terapkan dalam Hidup



Sumber: www.yeaharip.com
Tentu kamu familiar dengan profesi supir angkot dalam kehidupan sehari-hari. Pernahkah kamu berpikir di balik kesederhanaan profesi ini, tersimpan filosopi hidup yang wajib kamu terapkan dalam hidup. Apa saja pelajaran yang tak bisa diremehkan, karena ternyata menyimpan pelajaran berharga untuk kita tersebut? Sangat penting untuk membedahnya. Dan yang paling penting, kamu bisa memulainya begitu usai membaca.

1. Fokus pada Tujuan yang Ingin Kamu Capai
Kamu akan berhasil mencapai tujuan hidupmu, jika kamu fokus dengan apa yang dilakukannya saat ini. Apapun yang dilakukan supir angkot, tujuannya tetap ke suatu tempat yang diinginkan penumpang, bukan? Demi tujuan itu mereka fokus  menghadapi dan mengatasi hujan deras, macet, risiko kecelakaan atau razia polisi. Nah, kamu bisa menirunya. Lakukanlah semua hal demi mewujudkan satu tujuan akhir seperti halnya supir angkot.

2. Kunci Kepercayaan Orang Lain adalah Jujur
Mendapatkan kepercayaan itu sesederhana kamu berlaku jujur. Pasti senang dan tidak segan dong, jadi penumpang setia supir angkot yang jujur mengambil ongkos sesuai tarif. Pernah melihat supir angkot mengambil ongkos seenak perut yang berujung penumpang ngedumel? Itulah pentingnya bersikap jujur untuk mendapatkan kepercayaan.

3. Hidup itu untuk Melayani Sesama
Kamu bisa belajar arti filosofi hidup itu untuk melayani sesama melalui profesi supir angkot. Tidak percaya? Mereka siap sedia dengan pelayanan mengantar yang dapat diandalkan, ketika aktivitas kamu menuntut bepergian ke suatu tempat. Kebayang dong, betapa bermanfaatnya angkot. Sementara kamu tak punya kendaraan pribadi dan tidak bisa mendapatkan transportasi umum lain.

4. Bersabar dengan Setiap Ujian
Merasa tak kuat menjalani hidup dengan beban hidupmu bertumpuk? Kayaknya kamu perlu menerapkan  sikap yang terdengar klise. Bersabar dengan setiap ujian. Supir angkot jagonya, dalam urusan menahan kesabaran. Sabar ngetem untuk menunggu penumpang penuh. Sabar didera panas dan kebisingan ketika macet. Sabar pulang larut malam demi mengejar setoran. Sabar selalu berujung manis, ketika kamu menjalani ketidaknyaman hidup dengan ikhlas.

5. Alon-alon Asal Kelakon
Filosopi njawani ini sadar atau tidak, dipraktikkan oleh supir angkot yang berorientasi jauh ke depan. Alon-alon asal kelakon yang bearti pelan-pelan asalkan tujuan tercapai. Mereka memilih mengemudikan angkot pelan-pelan asalkan bisa mengantar penumpang dengan selamat. Alon-alon asal kelakon juga terbukti membuat rezeki supir angkot bertambah, karena lebih jeli melihat peluang penumpang di kanan-kiri jalan. Penumpang pun tidak was-was dengan risiko kecelakaan yang mengancam keselamatan.  Nah, kamu perlu pelan-pelan, step by step melakukan suatu pekerjaan tanpa terburu-buru. Hasil maksimal pasti menunggumu!

6.  Aturan Dibuat untuk Menciptakan Harmoni
Penuh kesadaran mematuhi rambu-rambu lalu lintas, tidak ugal-ugalan nyetir, surat-surat lengkap dan tidak ngetem sembarangan adalah sebagian aturan di jalan. Jika tidak ingin lalu lintas kacau, lantas membuat kenyamanan pengguna jalan lain terganggu. Setiap aturan dimaksudkan untuk menciptakan harmoni di masyarakat. Nah, kamu akan menemukan harmoni yang indah di manapun berada. Hanya, jika memiliki kesadaran untuk menaati aturan yang berlaku.

7. Perlakukan Semua Orang dengan Sama
Kunci etika manusiawi yang baik adalah ketika kamu memperlakukan semua orang sama tanpa memandang latar belakang. Ini jadi etos supir angkot dengan tidak memilih-milih penumpang. Tua-muda, kaya-miskin, pria-wanita, mahasiswa atau bukan, semua diangkut. Sudah bukan zamannya berpikir primitif memandang manusia di luar kita. Misalnya, bersikap dengan pertimbangan SARA (suku, agama dan ras) yang ujung-ujungnya berbuah pertikaian. Ini sangat relevan agar dunia yang kita tempati ini damai dan indah.

8. Rutinitas Bukan Bearti Hidupmu Membosankan
Banyak orang terjebak kebosanan, karena menjalani rutinitas. Mereka stress, gampang marah, bahkan tidak bisa menerimanya. Kamu satu di antaranya? Kendalikan rutinitasmu dengan kreatif layaknya supir angkot. Buang rasa bosan dan ganti dengan mood yang baik. Supir angkot membuang jenuh  seharian di balik setir lewat mendengar musik atau radio, ngobrol dengan penumpang, membaca koran saat ngetem, saling menyapa sesama supir angkot dan sederet kiat lain.

9. Berbagi Rezeki itu Penting
Jiwa sosial supir angkot patut diacungi jempol. Mereka rela berbagi rezeki dengan kenek, polisi cepek atau pedagang asongan. Bahkan dengan pengamen yang mengais recehan dari penumpang angkot. Terlepas ada aturan yang melarang mengamen di jalanan, ya! Supir angkot sama sekali tidak berniat menghambat rezeki orang lain. Kamu harus malu dengan supir angkot. Jika berlaku curang dan sikut sana-sini demi keuntungan sendiri. Please, jangan ‘menutup’ pintu rezeki orang lain.

10. Hidup Tak Melulu Lurus, Penuh Lika-liku
Mustahil mengharapkan hidup yang lurus, karena lika-liku justru membuat hidup semakin dinamis. Semua harus dihadapi, ketika sedang susah atau senang, lapang atau sempit, mendapati masalah atau tidak. Supir angkot percaya seratus persen, untuk sampai ke tujuan, jalan yang dilalui berlika-liku, naik-turun dan bergelombang. Kamu harus menikmati semua proses dalam hidup yang digariskan Tuhan.

11. Sejauh Apapun Kamu Pergi, Rumah adalah Tempat Kembali.
Jalani hidupmu sejauh apapun yang kamu mau. Temui setiap orang, peluang, dan ikhtiar kesuksesan di dunia luar sana. Seperti halnya supir angkot yang menghabiskan sebagian besar waktu di tengah kerasnya jalanan. Tapi kamu perlu ingat. Sejauh apapun kamu pergi, rumah adalah tempat kembali. Temukan arti hidup dengan orang-orang tercinta bernama keluarga.


Nah, kamu siap membuat kualitas hidup semakin membaik setelah ini?  

Selasa, Oktober 11, 2016

Film Wonderful Life: Disleksia dan Definisi Ulang Kebutuhan Anak-anak Kita

Produser     : Angga Dwimas Sasongko, Handoro Hendroyono, Rio                      Dewanto
Sutradara    : Agus Makkie
Penulis      : Jenny Jusuf
Produksi     : Visinema Pictures, Creative & Co
Pemeran      : Atiqah Hasiholan, Sinyo, Lydia Kandou, Alex Abbad,                  Putri Ayudya. Arthur Tobing,Abdul Arif, Totos Rasiti,                Didi Nini Thowok   
                     
Salah satu scene yang saya suka di film Wonderful Life

Penting untuk mendapatkannya. Keajaiban-keajaiban terbaik selalu akan ada pada “keburukan” takdir yang harus dilewati.

Apa yang Anda bayangkan, ketika anak Anda ternyata di zaman modern yang begitu menekankan pada pentingnya baca tulis justru sama sekali tidak bisa belajar huruf dan angka; mengenali, mengidentifikasi dan membacanya? Seseorang tanpa harapan. Tanpa masa depan. Apakah begitu?

Inilah yang diangkat oleh Film Wonderful Life (Karena Setiap Anak Terlahir Sempurna).

Sudah lama tidak menonton akting Atiqah Hasiholan, saya cukup terkesima ketika dia memerankan tokoh Amalia dengan begitu baik di Film Wonderful Life. Amalia, wanita karir yang dihadapkan pada kenyataan anaknya Aqil (diperankan Sinyo) adalah penderita disleksia atau dyslexia. Sebuah gangguan dalam perkembangan baca-tulis yang umumnya terjadi pada anak menginjak usia 7 hingga 8 tahun.

Amalia seorang pekerja keras yang diandalkan perusahaan periklanan tempatnya bekerja. Perfeksionis, pintar dan berkarit cemerlang. Sikap yang sebenarnya dibentuk “dibentuk” oleh ayahnya. Bagaimana kesuksesan diukur dengan nilai akademis mentereng dan prestasi yang gemilang. Ini juga yang membuat Amalia tertekan, karena Aqil tidak seperti dirinya. Aqil sakik dan itu harus diobati. Ayahnya atau kakek dari Aqil pun sedemikian membuat semua menjadi beban. 

Desakan sang ayah, penyangkalan dirinya atas kondisi Aqil menjadi benang merah Film Wonderful Life.

Beruntung, saya orang pertama yang diundang menonton salah satu film anak bangsa yang memunyai visi mencerahkan ini di XXI Senayan City, Sabtu 8 Oktober 2016 lalu. Bersama rekan-rekan media dan tentunya geng blogger Jakarta. Dari Blogger Koalisi Pesona Indonesia (KOPI) dan Blogger Mungil (Blomil). 

Geng blogger yang selalu antusias dengan acara-acara inspiratif 

Sepanjang menonton film ini, sesekali saya mengenggam tangan mungil Kekey (5 tahun) anak saya. Saya pekerja kreatif, menulis cerita anak, menulis animasi anak, pernah bekerja di penerbitan anak. Jelas, saya paham betul dunia tidak berisi dokter, ilmuwan, dosen, akuntan dan profesi yang mengandalkan (kebanyakan) sisi akademik seseorang. Penari, pelukis, aktor, desainer ternama banyak yang sukses dan menjalani hidupnya dengan fun. Tapi kadang, entah bagian dari pemikiran saya yang mana, kadang lebih dominan. Menginginkan Kekey les Bahasa Inggris, Matematika, Calistung dan sederet mimpi dia akan kuliah di jurusan kedokteran, teknik atau sains.

Padahal, Istri saya adalah seorang sarjana Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sudah 10 tahun lebih menjadi guru dari bocah-bocah dengan berbagai latar belakang. Sejak selesai sekolah menengah atas istri memang sudah menjadi guru TK. Sekarang mengajar di TKIT Buah Hati Jakarta yang tidak menekankan calistung sebagai target yang penting pada anak didiknya.


Di sinilah, saya mulai membongkar ulang miss-interpretasi saya pada ukuran kesuksesan. Film Wonderful Life telah membuatnya lebih jelas. Ya, meski sebenarnya saya tidak se-saklek orang tua pada umumnya. Mungkin, (sedikit) ambisi saya ingin Kekey jadi dokter, sarjana teknik, atau saintis pada kekaguman masa kecil saya pada siswa jago matematika, fisika, kimia dan pelajaran wah lain,disayang guru-guru. Mereka populer, hahaha... Meski sebenarnya, kebanggaan tersendiri saya adalah mengenang pengalaman di SMP ketika membaca puisi, kelas hening karena menurut saya mereka terpukau dengan penjiwaan dan cara saya membawakannya. Atau ketika praktik menulis cerpen di SMA, teman-teman memuji cerpen sudah seperti cerita kebanyakan di Kawanku, Aneka Yess dan majalah keren lain. Bahkan, saat kuliah prestasi menulis saya go national, hehehe...

Istri selalu bilang, tidak apa-apa anak tidak pintar di pelajaran sains, toh dia punya kelebihan di bidang lain. Tidak apa-apa di kelas B Kekey belum bisa membaca dengan lancar, karena usia segitu bukan saatnya belajar. Tapi bermain, mengasah aspek motorik dan sosial. Yang paling penting, sekolah (TK/PAUD terutama) menghasilkan anak yang bahagia dan berkepribadian baik. Lebih penting membangun anak jujur, berempati, kritis, suka menolong, berani, ketimbang bisa calistung usia 3-6 tahun. Intinya anak harus B-A-H-A-G-I-A. 

Jadi ketika pulang dari menonton Wonderful Life, istri saya antusias. Dan mengatakan film ini penting untuk ditonton para orangtua, terutama perempuan sebagai ibu. Rencananya ia akan share dan mengajak bareng guru-guru lain dan ibu-ibu agar bisa mengetahui. Kebutuhan penting anak adalah bisa diterima apapun keadaan yang diberikan Tuhan.

Media gathering dengan Rio Dewanto dan Atiqah Hasiholan
Terbukti Aqil dalam Film Wonderful Life membuktikannya. Tak bisa baca tulis, toh ia sangat terampil "menulis kata dan angka" melalui gambar-gambar yang menakjubkan. Membaca imajinasi dan menuangkannya di kertas putih. Bahkan, karyanya telah tersebar secara komersial. Apa ada anak se-usianya yang casciscus baca tulis bisa menghasilkan uang? Ini baru satu sisi. Tapi yang paling penting dan melegakan, Aqil dan Amalia di film ini menemukan keajaiban dalam “kekurangan” bernama disleksia. Benar-benar keajaiban yang didapatkan dari proses menemukan kesadaran oleh sang ibu, yang kelak diikuti kakek Aqil yang pelan-pelan menerima semua orang tidak terlahir sama dan harus sama sesuai keinginan.



Film ini berhasil membawa penonton dalam realitas yang sebenarnya. Sesuai tagline Film Wonderful Life di mana "Setiap Anak Terlahir Sempurna". Kita akan dengan sangat mudah menemukan realitas bahwa anak disleksia pun punya kelebihan. Bisa sukses, bahagia dan tumbuh dengan baik. Asal kita bijaksana menghadapinya, tepat menyiasatinya, dan mencintainya apa adanya. Bagaimana caranya? Silakan tonton film yang mulai tayang di bioskop tanggal 13 Oktober 2016 ini.


Apakah film ini gambaran ideal disleksia yang rasanya "tak mungkin terjadi"? Mengingat, seperti di awal, rasanya di zaman melek baca tulis, rasanya hidup seorang disleksia akan sedemikian sulit, karena bisa dikatakan menjadi buta huruf. 


Perlu diketahui, film ini bukan menjual mimpi anak disleksia bisa sukses atau sekadar fiksi, karena Film Wondeful Life ada dalam kehidupan nyata. Tokoh Aqil benar-benar ada, kisahnya dibukukan sendiri oleh sang ibu, Amalia Prabowo. 

Ini dia bukunya, berjudul sama dengan film

Ini dia anak yang istimewa tersebut. Aqil! 

Menariknya, Film Wonderful Life merupakan pembuka gerakan Sariayu Martha Tilaar. Dinamakan Be Wonderful Movement. Gerakan yang mengkhususkan agar perempuan menjadi motor penggerak perubahan, berwawasan luas, mandiri, kuat, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. 

Di gerakan ini pula, brand kosmetik terkenal Indonesia ini akan merangkul perempuan inspiratif Indonesia untuk mengangkat isu-isu beauty green, beauty education dan beauty culture. Dan salah satu perempuan tersebut, tentunya Amalia Prabowo. [Elzam]



PS:
Saya dan Kekey sangat suka visual film ini. Hutan. Danau. Sawah. jalan lengang,pasar tradisional (ini saya yang suka, Kekey suka jejeritan karena becek dan bau, hahaha...) Karena kami bertiga memang hobi jalan-jalan outdoor. Jadi sepanjang film, saya mengingat-ngingat nama daerah yang kebetulan masuk scene. Bisa dijadwalin buat trip besok-besok. Cmiiww...!