tentang

Selasa, Agustus 31, 2010

TO KILL A MOCKING BIRD



Membaca novel To Kill A Mocking Bird karya Harper Lee adalah membaca dunia kita sendiri yang sangat mungkin masih kacau dengan persoalan rasis. Ketika warna kulit seharusnya menjadi begitu sederhana. Tuhan menciptakannya begitu saja, sekehendak-Nya saja. Jadilah kamu kulit putih, kulit kuning, atau kuli hitam (dan tetap manusia). Lalu manusia pula yang menjadikannya sama sekali tidak menyenangkan bagi orang berkulit tertentu –yang dalam novel ini nigger atau kulit hitam- karena seperti membawa cacat turunan dari alam lahir.

Masa kecil Jean Louis Finch alias Scout bersama kakaknya diwarnai dengan banyak tindakan untuk memuaskan mereka mengetahui banyak hal. Ditemani Dill yang selalu datang setiap musim panas ke kota mereka, Maycomb City di Alabama, Amerika. Misteri terbesar bagi mereka adalah keberadaan Boo Radley, tetangga mereka yang tak pernah keluar rumah lebih dari 15 tahun. Boo Radley yang memakan tikus dan musang, anggapan mereka pasti menyeramkan. Ketiga bocah itu, Scout yang berusia 8 tahun, Jeremy Finch alias Jim sang kakak 12 tahun, dan Dill alias Charles Baker Harris yang bertaut beberapa tahun di atas Scout selalu memancing Boo Radley keluar. Diselingi JUGA kenakalan-kenalan kecil mereka terhadap para tetangga yang tak menyukai Mr.Finch yang membela seorang nigger dalam sebuah tuduhan pemerkosaan. Cara menulis penulisnya menyenangkan, disertai kelucuan segar khas anak kecil yang membuat kita tertawa.

Scout menjadi tidak mengerti mengapa ayah mereka yang berprofesi sebagai pengacara ikut menjadi nista karena membela Tom Robinson, nigger itu. Begitu juga dengan Jim yang mulai beranjak ke masa remaja dan meletup-letup keinginannya untuk memberontak pada ketidakadilan, yang diciptakan kulit putih di Maycomb.

Saya senang membaca novel ini karena begitu sederhana menerjemahkan persoalan pelik masa itu (ketika rasis masih begitu dominan di Amerika)ke dalam bahasa, dialog, dan deskripsi yang mudah pembaca kunyah. Seperti juga novel-novel luar, To Kill A Mocking Bird penuh dengan emosi-emosi yang tampak hidup dan pembaca bisa hanyut di dalamnya. Meski pada tokoh-tokoh anak sekali pun, karakter utama yang dibuat Lee. Harper Lee detail menceritakan apa yang membuat pembaca suka dan akhirnya membentuk kesan utama pada suatu konsep cerita di benak pembacanya.

Atticus, begitu Scout dan Jim memanggil ayahnya membesarkan kakak beradik itu sebagai single parent yang bijak. Siapa pun bagi Mr.Finch, sepanjang ia manusia, patut dihormati. Sepanjang ia benar, harus dibela. Sepanjang ia tidak menganggu keberadaan orang lain, hormati pilihan hidupnya. Tidak peduli ia berkulit putih seperti Boo Radley (yang belakangan menampakkan dirinya, berwajah seputih kapas) atau hitam, sehitam malam tanpa cahaya. Faktanya Tom Robinson tidak bersalah, Mayela Ewell yang sebenarnya memaksa karena gadis miskin, tak berpendidikan, dan dijauhi warga Maycobm tersebut ingin melampiaskan hasratnya. Meski proses persidangan benderang menjelaskan hal itu karena kepiawaian Mr.Finch membela Tom. Toh, akhirnya Pengadilan memutuskan Tom Robinson bersalah dan pantas dihukum mati.

Cemoohan warga Maycomb pada keluarga Finch yang membela nigger dirasakan oleh Scout dan Jim. Mereka tegar, Karena begitulah Atticus mengajari. “Satu hal yang tidak tunduk pada mayoritas adalah nurani seseorang," kata Mr Finch pada Scout ketika menanyakan kenapa ayahnya berbeda. Tapi mereka, hanya anak-anak, yang mengerti di antara orang-orang dewasa yang menciptakan kebenaran atas prasangka turun-menurun. Nigger identik dengan berandalan, pembohong, kelas rendah, dan penjahat. Tidak penting lagi fakta berbicara sebaliknya.

Ada yang mencabik-cabik anak-anak itu ketika melihat langsung persidangan tolol. Bahkan Dill menangis dan perutnya mual. Mereka kalah, ayah mereka kalah. Tapi tak surut untuk naik banding. Sayang, Tom ditembak mati ketika mencoba melarikan diri atas hukuman untuk kesalahan yang tidak pernah dilakukannya.

Belum usai. Keluarga Finch mendapat terror dari ayah ayah Mayella, Mr.Ewell. Sampai ingin membunuh Jim dan Scout. Dendam dipermalukan di pengadilan membuat ia kalap, walaupun kemenangan di pihaknya.

Akhir novel ini mendebarkan. Sama ketika Harper Lee membuat pembaca berdebar atas apa yang terjadi pada keluarga Boo Radley yang mengasingkan diri selama belasan tahun dari peradaban, rumah mereka menyeramkan, kusam, dan tak terurus. Jim terancam diproses pengadilan karena diduga terlibat pembunuhan Mr.Ewell ketika membela diri saat lelaki pemabuk itu menyarang Jim dan adiknya. Waktu itu mereka baru pulang pada malam yang gulita setelah mementaskan teater di sekolah. Atticus bersihkeras memproses anaknya ke Pengadilan karena begitulah dia membesarkan Scout dan Jim. Bagi Mr.Finch, adalah kebenaran menempatkan siapa pun dan apa pun pada persamaan perlakuan.

Kulit putih yang menganggu hidup orang kulit hitam yang tak bersalah hanya karena terlahir nigger, maka dia adalah sampah. Pernyataan Mr.Finch ini juga menghujam saya ketika membaca, betapa kuatnya pendirian pengacara Finch. Novel To Kill A Mocking Bird tetap relevan untuk dinikmati, meski Obama telah menjadi presiden kulit hitam pertama di Amerika. Dan kita, bukankah streotif tertentu masih kita lekatkan pada tiap identitas bawaan seseorang. Bacalah buku ini!

To Kill A Mocking Bird adalah satu-satunya novel Harper Lee. Dia menulisnya terinspirasi dari masa-masa ketika berusia 10 tahun di kampung halamannya pada tahun 1936. Realitas tetangga-tetangganya dan kehidupan nigger di Monroeville, Alabama menciptakan novel humanis itu. Pertama terbit tahun 1960, lalu diangkat menjadi film berjudul sama oleh sutradara Robert Mulligan, yang sekaligus meraih Piala Oscar. [Elzam]

Catatan
Oh ya, sedikit gambaran kenapa novel ini berjudul To Kill A Mocking Bird. Mungkin sekali berkaitan dengan pertanyaan Scout pada ayahnya, mengapa mereka dilarang menembak mocking bird (sejenis Burung Murai) ketika dihadiahi senapan angin pada saat Natal. Mocking bird adalah sebaik-baiknya burung di Maycomb. Mereka terbang sambil bernyanyi merdu, tidak memakan hasil pertanian, tidak menganggu manusia. Mereka hanya bernyanyi, bernyanyi, yang membuat hidup di Maycomb begitu musikal. Jadi membunuh mocking bird yang sama sekali tak bersalah adalah dosa menurut Mr.Finch.

**Kamu akan menjadi "hidup" hanya dengan menghargai kehidupan setiap orang**

2 komentar:

  1. Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi,
    Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa,
    Dalam kelembutan lidah ada juga keterlanjuran kata,
    Dalam gurau tentu ada ikhlaf dan dosa,
    Segenap Keluarga Besar Indra Kusuma Sejati dan
    "Ejawantah's Blog"
    Mengucapkan
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H / 2010 M
    Taqobbalallahu minna wa minkum
    Mohon Maaf Lahir Dan Batin

    Salam untuk keluarga.

    BalasHapus
  2. Taqobal ya kariim...
    Mohon maaf lahir batin juga Kang Indra.
    Semoga kita menjadi kian takwa usai ramadhan ini.

    BalasHapus

Hayuk-hayuk, kumen di sini biar saya tahu respon Anda di sajian ala kadar KecekAmbo, ukeh, ukeh... :-D

Bonusnya, ntar saya balik silaturahim, Insya Allah... ;-)