tentang

Sabtu, Agustus 28, 2010

Perempuan Kereta


(Dimuat di Majalah Alia Edisi Maret 2009)

“Di sini ada seorang pengamen khas yang mampu menarik perhatian semua penumpang. Ia bisa membuat penumpang tersenyum geli, tertawa dan menggodanya. Ya…hitung-hitung refreshing dalam bentuk lain.”
Hah... Tanpa sadar aku terkejut. Inilah kelemahan kita yang tidak bisa menaruh empati kepada orang lain. Kalau pun ada biasanya dilatar belakangi oleh maksud tertentu, cari perhatian, biar dianggap dewa penyelamat, atau penjilat. Point terakhir ada di mana-mana dan membudaya. Tentu saja untuk kelas pengamen empati orang lain sulit didapatkan. Orang akan berfikir apa yang didapat jika berbaik-baik kepada kelas kumuh.
Terus terang aku tidak suka! Aku berharap tidak akan menemukan pengamen itu dalam perjalanan nanti. Apalagi menikmatinya sebagai bahan tertawaan.
Di antara beragam penumpang yang memenuhi tempat duduk aku mencoba menahan nafas. Kereta api belum berangkat. Ukh…aromanya sedemikian beragam juga. Dalam perjalanan nanti pastilah semakin kuat menghempaskan penumpang dalam keletihan yang amat sangat. Apalah dayaku kantong mahasiswa lebih mengizinkan untuk naik kelas ekonomi.
Berfikirlah positif, anggap saja wangi kesturi, hiburku memotivasi diri. Nikmatilah hal ini dengan perspektif yang lebih menyenangkan. Ya, semoga ada hal yang menyenangkan dalam perjalanan ini ketimbang melamun memikirkan susahnya mengakses data skripsi mengenai prosedural penunjukkan proyek yang di berikan Pemerintah Daerah. Mungkin mereka takut terbongkar bagaimana mereka bermain cantik dalam memenangkan tender proyek pembangunan seorang pengusaha. Masalah klasik di zaman yang katanya reformasi. Permasalahan penelitian di Indonesia selalu saja terhambat pada data yang sering ditutup-tutupi.
Aku mendapatkan tempat duduk sesuai tiket. Nomor 14 A. Lumayan dipinggir jendela. Di samping tempatku duduk adalah seorang bapak berkaca mata, berperawakan cukup tinggi namun gemuk.
Aku mengingat pertemuan pertama tadi ketika aku sibuk mencari tempat dudukku. Tas kerja kulit dan sepatu mengkilap silau telah cukup menunjukkan kelas sosial pada tingkat yang mapan dan berpendidikan. Aku tersenyum dan memberikan isyarat permisi untuk duduk di sampingnya. Heran…! Kok mau-maunya orang ini naik kelas buntut.
Waktu berangkat tinggal lima belas menit lagi. Aku mulai menikmati perjalanan dari perspektif yang kucoba buat menyenangkan tadi. Setidaknya sekarang ada fasilitas musik gratis yang berulang-ulang. Permasalahan membayar tidak menjadi masalah karena ada banyak orang lain yang bersedia melepas recehannya selain aku. Sebuah lagu dari beberapa remaja terdengar cukup apik. Lagu wakil rakyat dari Iwan Fals seperti ini kupikir lebih cocok untuk pesta kebun dirumah pejabat atau malah jeda istirahat saat sidang anggota dewan di parlemen. Untuk suasana gerbong ini lebih menghibur lagu dangdut atau mungkin nasyid Raihan yang disukai anak-anak kerohanian Islam di kampus. Aku tersenyum geli.
“Mahasiswa ya?” tanya Bapak di sampingku membuka kembali perbincangan.
“Hmm…Iya Pak” jawabku sopan. “Bapak sendirian saja?” Aku balik bertanya.
“Oh, saya bekerja di perusahaan farmasi memenej pemasaran. Saya ingin pulang mengunjungi isteri kedua saya. Inilah resikonya jika berlainan kota.”
Aku tersenyum kepada bapak itu. Cepat sekali ia menceritakan dirinya kepada orang lain yang belum sempat ia kenal.
“Bapak sering…?”
Pembicaraan kami terpotong dengan sodoran bekas kantong permen. Bapak itu (sebut saja begitu karena aku tidak mengetahui namanya) memberikan beberapa keping uang logam yang Ia punya. Ketika giliranku aku menggeleng sambil tersenyum.
“Gimana?” lanjutnya.
“Bapak sering naik kereta api ini?
“Mengapa? Pangling? Bapak tidak suka naik kereta api kelas lain. Ha…ha…ha….kalau kereta api ini ada nuansa tersendiri yang membuat kita jadi lebih segar. Ketegangan yang menjadi pemicu stress selama kerja menjadi berkurang.”
“Maksudnya gimana, pak ?” Aku bertanya kebingungan. Tak mampu menebak arah pembicaraannya.
“Penumpang kereta ini rata-rata penumpang tetap, karena mereka rutin pulang dan pergi pada waktu-waktu tertentu seperti saya misalnya. Kita menjadi terbiasa menikmati perjalanan. Pasti kamu jarang naik kereta ekonomi?” Beliau menebak.
Aku mengangguk. Terpaksa kali ini aku naik kereta ekonomi karena dana yang tersedia benar-benar cekak alias tipis. Biasanya minimal aku memilih kelas bisnis.
“Ya, itu tadi ada pengamen khas yang tadi Bapak bilang!” ujarnya tersenyum-senyum. Bodoh, pikirku. Mengapa harus melayani orang tua yang sama sekali tidak menyenangkan ini bagiku.
Entah berapa lama aku terlelap. Laju kereta terasa terhenti. Perlahan kubuka mata. Kereta api berhenti sesaat menurunkan penumpang di stasiun ini.
“Nasi… nasi…nasi…”
“Aqua dingin…aqua dingin…aqua dingin…”
“Kipas…kipas…kipas…”
Suasana pasar pun tercipta. Berhamburan pedagang asongan mengisi gerbong demi gerbong. Mereka berlomba-lomba menawari dagangan dari nasi sampai tahu isi, dari pistol mainan anak-anak sampai tisu. Dan pengamen meningkahi suasana tersebut.
“Assalamuallaikum, oke Ibu-ibu, Bapak-bapak, Mbak-mbak, Mas-mas semuanya semoga perjalanannya selamat sampai di tujuan dan terimalah lagu dari kami…” Ujar seorang pemuda mewakili grup pengamen yang berjumlah empat orang. Satu orang dari mereka memegang gitar, galon kosong dan keduanya temannya sebagai vokal. Mereka menyanyikan lagu kisah sedih di hari minggu. Memang lagu lama ini kembali melejit didongkrak dengan di ambilnya sebagai soundtrack sebuah sinetron berjudul sama.
Seorang gadis di sudut sana kulihat ikut bersenandung. Penumpang laim diam menikmati bahkan ada yang tertidur. Tiba-tiba dari arah berlawanan dengan pengamen seorang laki-laki buta berjalan tersaruk-tersaruk. Aku melihat jelas retina matanya yang tidak sempurna. Warna hitam yang tidak bisa dikatakan hitam. Bagian putihnya pun lebih didominasi kemerahan. Bapak ini pengemis betulan, belakangan ini banyak sekali orang-orang yang berpura-pura buta mengemis.
Lho kok aku seperti pengamat perkeretaapian saja. Aku membatin. Dari tadi selalu saja tingkah laku pengamen, penumpang, dan pengemis yang diperhatikan.
“Assamuallaikum, minta sedekah…” berulang-ulang pengemis tua itu mendekati setiap penumpang. Tak seorangpun yang memberi, apalagi sekedar menjawab salam saja mereka enggan.
“Wallaikumsalam” Aku meletakkan uang seribu di tas yang ia sodorkan. Ucapan terimakasih terdengar takzim ia ucapkan.
Pengamen terus bergantian menghibur penumpang. Apa mereka tidak berfikir kalau recehan penumpang habis untuk memberi sekian bayak antrian pengamen dan pengemis.
“Permisi Om, Tante, Anak-anak…” Suara cempreng terdengar jelas dari sudut pintu gerbong.
“Selamat malam duhai kekasih…bawalah daku diriku didalam mimpi…sebutlah…” Suaranya jelas tidak bisa dikatakan bagus, mendekati lumayan pun sangat susah diakui. Anehnya semua orang tampak menyukai suara perempuan itu.
Garis-garis wajah membentuk sudut ketuaan tampak di wajahnya. Wajah yang kotor penuh debu, namun terang, atau lebih tepat dikatakan tegar. Penampilannya sangat kontras dengan mimik yang ia hadirkan.
Perempuan yang kutaksir berumur empatpuluhan lebih itu menggunakan rok kembang selutut, bewarna biru terang dan sangat lusuh. Baju hijaunya pun semakin mencolok dengan motif kembang merah dan kuning yang berserakan besar-besar.
Aku melihatnya sambil berpikir tak mungkin ibu tersebut memperkirakan jika padanan itu kurang tepat. Mana ada orang seperti itu memikirkan warna dan model dalam berpenampilan. Hal terpenting adalah baju itu menutupi tubuh, titik.
Lagu selamat malam telah berakhir, “Gimana, nak?” Ujarnya manja pada seorang pemuda. Sang cowok tersenyum.
“Aku dapat senyum cowok ganteng.” Kedua tangannya mengapit didepan dada. Semua orang tertawa, termasuk pemuda yang di maksud.
“Ha...ha...haaaahaaa” tawa penumpang
“Lucu banget.”
“Ada-ada saja.”
“Wah, pengamen kayak sinden.”
Masih banyak komentar yang lain. Rata-rata mentertawakan kenorakannya.
“Lagi dong lagu dangdutnya.” Ujar seorang ibu muda disamping seorang gadis.
“Goyang dombret, sekalian goyangnya..” Bapak di sampingku nyeletuk.
“Nggak bisa goyang. Udah tua…!” jawab pengamen itu bercanda sambil memainkan alat musiknya. Alat musik berbentuk kotak papan, di depannya berjejer karet ban sebagai senar gitar yang biasa dipetik. Sisi papan yang ditindih karet itu menunjukkan berapa lama eksistensi ibu tersebut mengamen. Bagaimana tidak, bagian itu telah melengkung ke dalam seiring seringnya karet dipetik melahirkan bunyi.
“Ah, coba dulu” sambar penumpang yang lain.
“Selang-seling aja deh, lagu pop dulu “ujarnya menolak halus.
“Iya dong, kan banyak anak muda . Lagu yang romantis ya!” pinta seorang remaja cewek. Semua penumpang setuju, Ini pasti lucu, pikir mereka. Semua berkonsentrasi, termasuk sang panyanyi.
Bak pop singer beken ia menghadirkan intro musik dari gitar nan uniknya. Tangannya melambai-lambai.
Ada cinta yang kurasakan…
saat bertatap dalam canda
Dalam tawa…
Semua orang bersorak riang. Lagu andalan kelompok Bening mengalir dari pita suaranya.
“Suit ...suit...”
“Wah boleh juga seleranya” ujar gadis remaja yang meminta lagu tadi.
Suara yang sangat sumbang, andaikan Bening melihat ibu itu menyanyikan lagu mereka tentu saja marah. Lagu mereka telah dirusak oleh cara menyanyi yang sama sekali tidak mengikuti penyanyi asli. Tapi penumpang suka, karena gayanya sangat konyol. Lihat saja, semua orang di situ tersenyum senang melihat sang pengamen. Aku melihat ibu itu tidak bermaksud bergenit-genit ria. Ada ketulusan yang ia pancarkan untuk menghibur orang lain dengan caranya sendiri. Ia pun menyadari kekerdilan dirinya sebagai bulan-bulanan penumpang.
Pernah kuragu...kuragu...
Tapi mengapa kini
Seolah ...
cinta telah kugenggam
Ia berjalan pelan mengajak seorang bapak berduet. Bapak itu mengelak malu-malu. Kini ia beralih ke seorang anak muda berkulit putih, sambil terus bernyanyi. Sang cowok pun menanggapinya layaknya seorang model yang menjadi pacar sang penyanyi. Kontan saja semua orang tertawa…tersenyum ….Melihat tingkah pasangan ‘dua generasi’ tersebut.
“Ih kok senyum dengar lagu ini. Wah ini cowoknya ya yang di samping. Jangan marah dong...! Cuma bercanda” tegurnya pada seorang remaja yang duduk berdampingan.
“Terus...terus, dangdut...”
Begitulah lagu demi lagu dibawakan pengamen perempuan itu. Sesekali ia berputar-putar dan sedikit bergoyang menyenangkan penumpang.
“Tau nggak sejak jaman aku SMP dia udah ngamen seperti itu. Sudah lama banget ya!” Seorang pemuda yang kebetulan duduk di depanku memberitahukan.
“Wah yang bener? Pantesan dia pinter nyenengin orang” komentar temannya.
“Gimana stressnya hilangkan?” ujar Bapak di sampingku.
“Biasa aja kok pak” jawabku sekenanya.
“Orang-orang pada suka kok kamu nggak?”
“Saya suka semua pengamen, asal nggak maksa-maksa penumpang ngasih uang kayak di terminal Rajabasa.” Aku menjawab pertanyaan Bapak itu. Kuingat pengalaman waktu di terminal bus Rajabasa. Pengamen di sana selalu mengancam penumpang kalau tidak memberi uang.
“Makasih...terimakasih” ibu pengamen tadi menampung uang dari penumpang.
“Yang ada aja mas! Yang ada aja. Gimana lagunya, enak?” masih saja ia tersenyum.
“Nih, ada sedikit” seorang bapak memberi tulus.
“Iya dikit aja, pak. Kalau banyak ntar saya kaya dong. Nggak bakalan ngamen lagi” balasnya yang di sambut riuh penumpang lain.
Pengamen eksentrik itu telah sampai di dekat kami. ia melirik bapak yang ada di sampingku dengan seksama.
“Pak produser kapan saya rekaman?” keluhnya dengan maksud bercanda.
“Entar deh kalo saya udah bosan naik kereta.”
“Kejaaaaaaam...” suaranya melengking menirukan lagu dangdut Elvi Sukaesih.
Geerrrrrrr...semua orang tertawa tertawa terbahak-bahak.
“Oke...makasih semuanya ya. Sampai jumpa lagi. Cup...cup...cup.” Ia pun pamit sambil menempelkan tangan di bibir.
Aku merasa jengah dengan sikap orang-orang di kereta ini. Pernahkah mereka membayangkan jika posisi ibu pengamen itu berpindah pada mereka. Mampukah mereka membuat pengamen itu bahan tertawaan.
Lamunanku terhenti karena ada yang mendesak-desak. Aku kebelet ingin buang air kecil. Segera aku bangkit dari tempat duduk. Menyusuri jalan di antara penumpang menuju toilet. Letak toilet cukup jauh di ujung dekat pintu gerbong yang menghubungkan dengan gerbong lain. Setelah selesai aku bergegas keluar. Tak tahan dengan bau pesing yang memualkan perut, biasa fasilitas umum. Aku memaklumi.
Aku dikejutkan dengan suara isak tangis pelan.
“Sudahlah Wati, apalagi yang kamu tangiskan. Sebentar lagi uang kita cukup untuk operasi si bungsu. Sabar saja...!” nasehat seorang laki-laki pada perempuan yang ada di sampingnya. Seorang wanita lusuh duduk jongkok di pinggir gerbong.
Itu kan ibu pengamen itu tadi!. Ia menangis begitu memprihatinkan. Laki-laki buta yang tadi melewati kami tadi pastilah suaminya jika mendengar kata-katanya. Rupanya mereka sepasang suami isteri.
“Aku sekarang menangis bukan karena si bungsu mau operasi Pak. Bukan juga karena takdir si bungsu yang harus buta seperti bapaknya” ujarnya terbata-bata.
“Lantas kenapa?’
“Aku merasa tak berharga. Selalu mengharapkan duit dari orang lain dengan tersenyum. Selalu harus menjadi lawakan agar orang suka tertawa. Aku tak dianggap manusia wajar” isak tangisnya makin keras. Ia mengelap hidungnya dengan ujung baju.
“Tapi tak apalah, asal si bungsu bisa melihat sesuai dengan impiannya selama tiga belas tahun.” Ia menambahkan pasrah.
Kini ia beringsut berdiri. Wajahnya kembali tegar.
“Menangis saja kalau bisa lega. Jangan sampai kita menangis kecewa pada Allah. Tuhan tak pernah dzalim terhadap hamba-Nya. Aku pergi dulu ya, Ti. Hati-hati ngamennya!”
Laki-laki itu berjalan terseok-seok mengikuti instingnya yang telah terasah meninggalkan isterinya.
Aku mendekati ibu pengamen itu.
“Tadi itu suami ibu ya?” tanyaku sesopan mungkin memastikan dugaanku.
“Eh, iya” Jawabnya tersipu. Ia segera mengusap air matanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Aku bertanya lagi, “Sama-sama satu kampung ?”
“Nggak. Kami bertemu di kereta. Bapak mengemis dan ibu mengamen” ujarnya datar.
“Oh maaf, Bu saya mendengar semuanya tadi” Aku berterus terang. Ibu itu terkejut. Ia sama sekali tak menyangka jika aku melihatnya sejak tadi.
“Ya...sudahlah.”
“Maaf, bu. Ini ambil saja untuk membantu si bungsu” Aku keluarkan walkman mahal dari tasku. Jam tangan yang melingkari tangan pun kulepaskan. Kedua benda itu kusodorkan padanya.
“Ia menolak halus. “Tidak usah, kamu pasti kasihan pada nasib kami. Ibu tidak perlu dikasihani.”
“Ambil saja Bu, nggak apa-apa kok Bu...”
“Kamu lebih membutuhkan barang-barang ini.” Ia semakin menolak.
“Saya kehabisan uang. Cuma ada barang-barang ini. Nanti saya bisa beli lagi.” Aku sangat berharap ia menerimanya.
“Jangan mudah kasihan pada orang lain!”
“Pokoknya ibu harus terima. Silahkan jual barang ini di toko. Jangan dijual pada orang lain, nanti murah. Anggap saja ini balas jasa ibu telah mengamen untuk saya.” Aku memasukkan jam tangan dan walkman kedalam tas kumal yang ia bawa.
Ia berusaha menolak dengan mengambilnya kembali. Aku menggeleng, “Nggak usah Bu, ambil saja..” Akhirnya Ia menerima juga pemberianku.
“Kalau begitu kamu harus mendengarkan nyanyian ibu sebagai pengamen. Biar sah...”. Ia berkomentar polos.
“Boleh.” Aku tersenyum dengan usulnya.
Timang-timang anakku sayang
Buah hati Ibunda seorang
Bila kelak kau telah dewasa
Hidupmu kan bahagia..
Tak terasa bening air mata menderas dari kedua sudut matanya. Ah, tiba-tiba aku merasa menjadi anaknya. Ia bernyanyi penuh cinta untukku.
Aku teringat awal melihatnya saat pertama tadi. Penumpang di kereta pasti masih menyimpan senyum jika mengingat sosok di depanku. Sementara di sini ia menangis. Aku makin jengah. [Elzam Zami]

(Foto/ilustrasi diambil dari www.tutinonka.wordpress.com)

**Melihat ke bawah akan membuat kita takut pada Yang Di Atas**

2 komentar:

  1. Assalamu'alaikum ...
    k Elzam ... ^_^

    syukron udah bersedia tersesat di blog ane ... hehehe ...
    salam ukhuwah ...
    salam juga tuk crew annida ... ^_^

    BalasHapus
  2. :-D

    Yohee...Salam ukhuwah... Thanks dah main ke sini juga.

    tapi saya nggak di Nida lagi, ntar kalo ketemu disampein ya.

    BalasHapus

Hayuk-hayuk, kumen di sini biar saya tahu respon Anda di sajian ala kadar KecekAmbo, ukeh, ukeh... :-D

Bonusnya, ntar saya balik silaturahim, Insya Allah... ;-)