tentang

Sabtu, Agustus 28, 2010

Perempuan Di Pertigaan


(Juara II LMCPI, Dimuat di Annida, Oktober 2005)

Dahaga sekali Mut sepulang dari merumput dan suaminya menyambut dengan tawaran air pahit. “Aku mau menikah dengan Rohana, terserah kau mau dimadu atau ingin sendiri! Aku tak peduli.”
Apa yang membuat Badar mau menikah lagi? Harta! Apa yang ia punya selain dari sehektar-dua hektar tanah itu! Siapa pula yang tekun menggarapnya?
“nikeak bae1)…” Kata Mut. Dengan Rohana lagi, lekat sekali keadaan perempuan itu di benak Mut. Juga keadaan keluarganya. Tak cantik-cantik amat perempuan itu.
Wajah Mut sedikit menjadi sendu. Tak perlu berlebihan melarutkan rasa. Berlebih-lebihan memang selalu tak berujung baik. Ketika ada riak berdentum di benak cukup ia bentuk segaris mimik mewakili riang, benci, iba atau sesak. Tipis saja!
Kini paras sendu Mut berubah garis lengkung ke atas. Tersenyum. Tak apalah persahabatannya dengan matahari menjadikan ia hitam. Pun panasnya api tungku dapur dan asap yang mengaroma ditubuhnya. Tubuh yang semasa Mut gadis sering dibicarakan keindahannya. Kulit halus, wajah menarik, bentuk tubuh sintal…
Tapi aku perempuan. Tak seharusnya begini. Kewajarannya adalah tampil cantik dan wangi.
Itu dulu, ketika kau masih gadis, kata hatinya.
Hhmm…benar juga. Itu yang membuat ia tersenyum. Sekarang Mut adalah isteri Badar dan ibu dari tiga anak. Adakah waktu luang untuk memanja diri?
“Nak, yang namanya wanita itu dicipta dari tulang rusuk lelaki! Pengabdian pada suami menjadi garis hidup…” Sebuah kalimat yang sering Mut dengar dari Ibunya semasa gadis.
Pernyataan yang sangat jelek, klaim Mut. Ceramah Ustadz Jaelani waktu Sri, anak tetangga sebelahnya menikah dulu pernah menjelaskan. Katanya tidak ada apa itu...? nash shahih alias kebenaran yang menerangkan hal itu. Dan ia makin jengah.
@@@
Sore tadi enak saja suaminya menanti ia di depan rumah. Segudang serapah keluar dari mulutnya. Sebanding lurus dengan seringai sinisnya melihat Mut, sang isteri. Katanya, “Perempuan lelet2)…apa saja kerja kau, heh? Di rumah tak ada apa-apa! Apa kau kira aku makan beras mentah…!” Marah besar Badar rupanya.
Nasi… nasi saja pikirannya kalau pulang. Coba sesekali berpikir bagaimana nasi bisa selalu ada di rumah ini. Mut menggeram. “Aku juga bisa marah” batinnya.
Ia tidak kalah berteriak, “Apa tidak salah pertanyaan dang3)? Kerja? Aku dari pagi memetik kopi sampai matahari merah. Pantas saja sudah habis dimakan anak-anak.” Ia berkata tidak kalah garang.
“Setahun aku menunggu kopi berbuah. Merumput, menyemprot, meranting berbulan-bulan, Dang di mana?
Seketika bunang4) yang ia sandang di bahu terhempas kasar. Ia yang lebih berhak marah. Bukan lelaki pengecut yang bisanya hanya keluyuran, judi, main perempuan…Berhamburan biji kopi merah memenuhi lantai.
Mut hanya memberi murka di dialog hati. Selebihnya, apalah yang dapat ia muntahkan mengenai kata sampah yang ingin sekali dilisankan ke telinga suaminya itu.
“Maaf Dang… kesorean, aku pikir Dang tidak pulang. Sebelum ke kebun aku masak untuk anak-anak, sedikit” ujarnya lirih sambil meletakkan bunang di lantai.
Badar memegang dagu Mut. Bukan untuk menggagumi wajah itu.
“Ko as aduknu coa belek, heh?5) Cepat kau masak! Aku mau pergi lagi nanti!”
Oh, Mut tak habis pikir. Kenapa perempuan selalu berada di bawah. Selalu saja terhempas lepas. Bahkan untuk berani berkata Ia adalah Muthmainah. Dengan tenang mendefinisikan kebebasan pada jiwa. Jiwa seorang Mut juga yang mempunyai badani. Bukan Badar, ayahnya dulu—ketika belum berijab kabul pada Badar—atau masyarakat.
Masyarakat terlalu turut campur! Apalagi bagi tun jang6), sepertinya setiap orang harus tunduk pada anggapan yang dibentuk orang lain.
“Kebun kopi Badar itu berhasil terus. Berton-ton ia dapat hasil panen. Giat sekali sebong o7) berkebun…” Pembicaraan sehari-hari orang sedusun.
Apa mereka pikir Mut buruh yang dipekerja Badar. Harusnya ia mempertontonkan jadwal rutinnya. Setiap hari, subuh-subuh ia bangun dengan tubuh tanpa tenaga. Badar masih saja lelap setelah menumpahkan nafsunya yang sangat jelek. Baginya Mud adalah pelayan. Tak patut diperlakukan perempuan yang tidak mau melayani nafsunya dengan kasih.
Ia akan segera mennyalakan api. Menjerang air dan menanak nasi. Memandikan si bungsu dan menyiapkan Syamsudin dan syifa untuk berangkat ke sekolah. Setiap pagi anaknya selalu menjadi pangeran dan puteri yang harus dilayani.
Suami bangun! Tentu saja rumah telah lengang, kecuali piset8) dua tahun mereka. Badar akan segera berangkat ke kebun setelah makan. Mut akan segera menyusul setelah membereskan rumah. Orang sedusun akan melihat Badar sebagai tipe pekerja keras.
Mut sangat benci anggapan itu. Ketika sampai di kebun tugasnya menjadi nyata. Suaminya malah menampakkan kenyataan miris. Ia masih asyik melanjutkan dengkur setelah jeda makan pagi. Malas-malasan beranjak melihat Mut telah sibuk dengan wangi rerumputan liar. Kebun harus dirumput dengan sekuit9).
Tangannya memang terasa lebih bertenaga sekarang ini. Bertahun-tahun ia melepas bedak untuk sebuah hidup. Bukan hidupnya saja, tapi juga hidup keluarganya.
Cras…cras…tangan sigapnya menebas rumput liar, kadang juga membersihkan ranting kopi yang kering. Saat-saat inilah ia menjelma menjadi sang penantang.
Ia tantang si Badar itu! Memang suaminya selalu saja kalah di adu berperang di medan yang mempertaruhkan hidup keluarga mereka. Seenaknya saja ia akan pulang setelah matahari lari dari putaran zhuhur.
“Aku masih banyak urusan! Kau kerjakanlah dulu kebun ini. Tak pantas aku melalaikan urusan di luar sana!”
Mut hanya diam. Toh ia butuh pekerjaan untuk menghidupi anak-anaknya, benteng yang membuat ia bertahan dari musuhnya. Bukan mengharapkan uang dari setumpuk urusan Badar.
Sesiang ini mulut perempuan-perempuan sedusun ia pastikan sedang bercuap-cuap menggunjing. Tak tahu mereka perempuan macam apa yang mereka gunjingkan itu.
“Coa nam murus keluargo rupone Mut o10). Sampai-sampai Badar harus beristeri seorang lagi. Lihat saja badannya. Tak pernah memperhatikan kemauan suaminya. Percuma ia cantik dulu. Kini tak lagi merawat badan untuk suaminya. Gumak11) sekali Mut kini…”
Hapsah yang dulu sangat membenci Mut menyambung, “Tentu saja, puas ia dinikahi laki-laki macam Badar yang digilai setiap perempuan waktu masih bujang. Untuk apa pula ia berdandan. Telah menang Mut dengan status isteri Badar”
“Meradanglah ia sekarang karena mau di madu dengan Rohana!” ujar Mar, tetangga sebelah-menyebelah Mut.
“Pantas sekali ia menerimanya. Perempuan yang sebenarnya tak perempuan. Hidupnya sebenarnya tergolong berkecukupan meskipun tidak kaya…”
Kalimat seperti itu sampai juga di telinganya. Malam ketika ia bertandang ke rumah ibunya. Marah besar ibunya kepada Mud.
“Mud, apa yang kau lakukan sampai suamimu mau menikah lagi. Tak cukup keadaan hidup kalian yang semakin baik itu?” kata Ibunya.
“Apa yang saya lakukan, Mak? Siapa pula yang berperan menciptakan keadaan baik itu? Banyaklah aku berkebun di ladang dibanding Dang Badar”
“Tun leyen ipo teu12). Tahunya suamimu, Badar yang mencari nafkah dan ia termasuk berhasil. Pokoknya jangan sampai kau bercerai! Apa kata orang jika kau janda? Sekarang saja mereka melihat sebelah mata!” gerutu wanita tua itu.
“Mak…mengapa Mak selalu mendengar kata orang? Aku juga yang merasakannya, melakukannya, cobalah Mak mendengar kataku pula.”
“Jadi kau mau menjanda?”
“Apa aku bilang begitu?” Mut balik membalas pertanyaan Emaknya.
Ibu Mut berdiri, beranjak dari hadapan Mut, “Keras kepala! Terserah kau! Tapi ingat jangan kau buat malu emak dan almarhum bapakmu.”
Semua orang memang selalu tak pernah jujur bagi Mut. Tidak juga keluarganya. Apa mereka sangsi jika lengannya jauh lebih kokoh dibanding lengan berotot milik Badar. Tidak di rumah, tidak di ladang ia tak pernah menghentikan lengannya untuk sekadar mengusap kehalusan kulitnya. Jauh sekali kemubaziran itu ia buang.
Mut sama sekali tak mengharapkan Badar berbuat banyak untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Tak berharap lelaki itu membelikannya baju yang layak misalnya. Ia bisa sendiri melakukannya. Ia percaya sedikit tenaga yang ia kumpulkan untuk bekerja seperti laki-laki menjadi bukit juga. Bukan tenaga besar Badar yang nyaris tak pernah digunakan.
Namun sekarang lelaki bernama Badar itu seperti pemimpin zalim saja. Padahal dengan apa ia memimpin? Dengan perangai kasarnya itu! Mau menikah lagi…
Mut terpekur. Tak sekalipun ia menyalahkan perempuan pilihan kedua suaminya. Rohana adalah perempuan juga, sama dengan dirinya. Namun adakah watak ingin merebut di pikiran gadis semacam Rohana?
Kepahitan hidup juga yang membuat ia menerima lamaran Badar. Dengan ekonomi yang sangat memprihatinkan sepertinya Rohana tak punya pilihan. Bukankah dengan menikah ia dapat mencukupkan kewajiban ayahnya untuk menafkahi. Menolak pun sama dengan ia dianggap durhaka oleh orangtuanya. Perkara cocok tak menjadi soal utama.
Senja telah cukup lama menunggu jatahnya dari siang. Seperti biasanya Mut masih menikmati karirnya di ladang. Sejak dua hari yang lalu ia menghujani ilalang yang tumbuh dengan racun semprot. Ilalang tak bisa dibasmi dengan merumput saja. Kokoh sekali ia meletakkan tanki penyemprot berisi berliter-liter air itu pada jiwa yang ringkih.
Gontai dengan sisa tenaga Mut pulang. Pikirannya masih berkelebat dengan keputusan suaminya yang ingin menikahi Rohana. Entah apa juga yang membawa ia pada pertemuan dengan Rohana di jalan menuju dusun.
Perempuan selalu kikuk untuk saling bertegur sapa jika terlibat pada jalinan nasib yang berkaitan. Nasib tertindas karena keberadaan mereka masing-masing sebagai perempuan berhadapan.
Kebekuan tak ingin lama hadir. Rohana membuka tuturnya, “Mut, kau sudah tahu rencana suamimu?” pancingnya lirih. Antara rasa bersalah dan takut ia ucapkan sebaris kalimat itu.
“Lantas?”
“menurut ko awei ipo?13)”
“Aku perempuan yang tak membutuhkan lelaki sebenarnya! Suami bagiku tak lebih sebagai pemberian orang lain diluar hidupku, pemberian orang tua.” Mut menjawab perih. “Mungkin jawaban itu kasar bagimu…tak apalah anggapan itu.”
“Maafkan aku…, Aku tak bermaksud merebut suamimu.” Rohana menderaikan kepiluannya.
Rohana menarik satu nafasnya dengan berat. Wajahnya pun pias. Jika bukan tuntutan keadaan ia memang ingin berucap, bukan diam seperti selama ini. Rohana ingin menjadi dirinya sendiri walaupun anggapan itu tak pernah ada di benak orang lain. Ia memang mau dinikahi Badar, untuk semua itu ia memiliki satu alasan. Hanya ia sendiri yang tahu kegamangan kian merona dalam setiap pilihan. Perempuan seperti ia memang hadir untuk bertemu perih, pikir Rohana.
“Hei…hei…! Mengapa kau menangis? Tak patut perempuan seperti kita menangis. Jangan tunjukkan kekalahanmu!” Mud menatap wajah kuyup Rohana.
Bergegas Rohana berjalan. Ia tak sanggup menanggapi ketegaran perempuan semacam Mut.
“Aku akan memaksa orang tuaku untuk membatalkan lamaran suamimu.” serunya berbalik menatap Mut. Perih…
Mut memandang perempuan itu dengan galau. Kesan yang ditampilkan Rohana sangat aneh bagi Mut. Perempuan itu bingung mengapa ucapan yang ia lontarkan ditanggapi lain oleh Rohana. Bukan Rohana juga yang merasa perih. Ia tidak pernah sendirian dicekam rasa itu. Rasa yang sama, saat ia juga dilamar Badar beberapa tahun yang lalu. Ia berteriak lepas memberi ruang untuk sesama perempuan di depannya. Agar angkasa dapat mereka terbangi berdua.
“Kalau aku bisa menerimamu sebagai madu, mengapa engkau tidak…! Yang kita butuhkan hanyalah status sebagai isteri. Tidak lebih…aku tak menolak kenyataan.” Kalimat itu meluncur tegas menghalau Rohana, lebih kepada pengharapan. Mut sadar ia juga perempuan yang dibentuk nasib…
Tak tahu Mut apa yang selanjutnya diperbuat oleh Rohana setelah pertemuan itu. Terlalu lelah ia berpikir untuk sebuah ketegaran karang yang ia miliki. Entah kekuatan apa pula yang ia miliki sampai sanggup berbagi untuk seorang perempuan lain, di rumah yang selama ini hanya ada sepasang ikatan perkawinan. Hanya saja Mut yakin bukan karena ia menghormati Badar, apalagi ingin memiliki lelaki itu selamanya.
“Perempuan sialan! Apa yang kau lakukan pada Rohana sampai orang tuanya harus membujuk lagi? Masih untung kau aku madu. Bukan aku ceraikan!.” Memerah muka Badar melihat wajah Mut.
Angin memang selalu berhembus menyampaikan pertemuan dan pembicaraan yang tak kasat mata bagi Badar. Pertemuan tak sengaja di senja ketika Mut pulang dari ladang berhembus juga. Udara panas selalu hadir untuk dihembuskan pada kedamaian angin. Buah bibir yang memanas dari mulut orang sedusun yang jeli mengintai setiap episode perisitiwa.
Kali ini Mut ingin bersuara keras. Ia benci juga akhirnya ketegaran yang dipertahankannya. Bertahun-tahun perempuan itu membungkus ketertindasan dengan sekeping hidup sabar.
Mut menatap mata suaminya dengan tak kalah garang. Bisa yang ia simpan di lidah keluar juga. Meradang penuh …
“Kau pikir aku mencacinya?!” Ia mendongak tegak.
Harga diri Badar terinjak-injak melihat kelakuan isterinya yang selama ini tak berkutik. “Sudah berani kau rupanya…!” tersinggung sekali Badar mendengar Mut berkau-kau saja terhadap dirinya.
“Aku katakan padanya agar ia menerima saja ajakan nafsumu itu! Kami perempuan memang harus selalu begitu… mengalah untuk lelaki busuk macam Dang!” tajam sekali kata-kata Mut.
“Lalu mengapa ia menolak setelah kau temui, perempuan jalang?!”
Plak…! Sebuah tamparan membekas untuk Mut hamparkan di peta hatinya. Ia tidak akan menangis. Kalah, jika ia menderaikan bening emosi cengeng.
“Tak ada gunanya kau ada di sini lagi. Percuma kau kujadikan isteri tua nantinya. Pergi kau…!” Badar murka. Ia keluarkan semua taring yang ia miliki untuk menggigit magsanya itu.
@@@
Mut telah meninggalkan sarang tempat ia melabuhkan dirinya. Peduli apa ia dengan sebutan orang sedusun tentang kondisinya. Ia punya dua sayap untuk dapat terbang mengangkasa. Ia punya paruh untuk mematuk sehelai demi sehelai rumput kering untuk membuat sarang baru. Tampa pejantan sekalipun
Sebelum Badar menceraikannya ia telah lebih dulu mengangkat diri untuk sebuah kekalahan. Untuk sebuah hidup dengan jiwa yang bebas ia telah menggugat cerai suaminya. Orangtuanya boleh bicara ia perempuan tak tahu malu, perempuan pelawan kodrat sekalipun. Masyarakat boleh mengunjing segunung aib bagi janda seperti Mut.
Mut kembali terlahir menjadi dirinya sendiri dengan membawa anak-anaknya serta. Ia juga mendengar jika Rohana akhirnya berhasil menolak lamaran Badar. Meskipun Rohana harus pergi merantau keluar dari dusun, menghindari paksaan orang tuanya.
Mut tersenyum untuk sebuah kemenangan yang dimiliki dua orang perempuan. []
Untuk sesosok perempuan kokoh…
Catatan kaki:
1) menikah saja
2) lamban
3) kakak
4) bakul dari anyaman bambu yang digunakan dengan di sandang
5) kau suka suamimu tidak pulang, heh
6) orang Rejang, sebutan untuk salah satu suku di Bengkulu
7) lelaki itu
8) bungsu
9) arit, alat pemotong rumput
10) tidak bisa mengurus keluarga rupanya Mut itu
11) kotor, belepotan
12) orang lain tidak tahu
13) menurutmu bagaimana?


(Foto/ilustrasi diambil dari www.kasmaji81.wordpress.com)

**Menistakan perempuan berarti mengabaikan Sang Maha Rahim**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hayuk-hayuk, kumen di sini biar saya tahu respon Anda di sajian ala kadar KecekAmbo, ukeh, ukeh... :-D

Bonusnya, ntar saya balik silaturahim, Insya Allah... ;-)