tentang

Kamis, September 16, 2010

Akhirnya


Bahagia sekali rasanya hari ini. Mengapa? Karena saya bisa mendonorkan darah. Sebegitu bahagianya saya, hehehe... Begitulah.

Sudah lama saya ingin mendonorkan darah. Setiap kali ada teman kuliah, teman kantor, atau saudara yang meminta tolong darah untuk seseorang, keinginan saya menjadi pendonor seringkali dipatahkan.

"Kasian banget, kayak kamu mau donor darah? Ntar abis lho," canda teman-teman. Ada juga yang prihatin dan bilang lebih baik aku gemukin badan dulu. Yups, persoalannya dengan tubuh menjulang tinggi dan kurus banyak yang bilang aku nggak pantas jadi pendonor. Dan aku cukup tahu diri, meski kepengennya masih tetap. Berharap suatu saat gemuk dan dianggap layak.

Kayaknya bahagia banget kalo kita bisa memberikan darah untuk orang yang membutuhkan. Apalagi dulu aku pernah opname di rumah sakit dan ditransfusi. Terbayang aku udah ko'it kalau dulu nggak ditolong. Tapi ya itu, berhubung tubuh kurus, banyak nggak tega nyedot darahku :-(

Nah, tadi pagi ada teman kantor, Pak Sukma nyamperin ruang redaksi. Anaknya butuh darah karena anemia akut. Dulu pernah kecelakaan, banyak keluar darah tapi nggak diapa-apain katanya. Sekarang anaknya Pak Sukma di RSCM menunggu darah golongan B. Dengan rasa pesimis aku ikut bergabung. Kupikir paling nggak diperiksa dulu. Kalau nggak bisa, kan digantikan teman yang lain. Ada juga teman redaksi yang nyeletuk, "Elzam, liat dong orangnya, hehehe..." Pada takut, ngeliat aku yang tampangnya nggak mendukung kali ya? Tapi nyatanya dengan senangnya aku nunjukin plester bekas tusukan sepulang dari mendonorkan tadi. Akhirnyaaa!

"Waduh, beratnya 51," celetuk petugas PMI Jakarta di Senen saat meriksa darahku. Namun dia bilang bisa aja kok, nggak masalah. Dokter pada pemeriksaan kedua juga bilang nggak apa-apa. Minimal berat badan pendonor itu 45. Huh, alhamdulillah. Aku lega. Apalagi HB-nya bagus, 14,7 (normalnya laki-laki antara 13-14). Terus tekanan darahnya 120/80. Nggak ada penyakit menular atau keturunan juga, hohoho...

Deg-degan juga sebelum disedot. Soale seingatku ini pengalaman pertama disuntik sejak kelas 3 SD dulu, ketika sakit itu. Setelah itu aku nyaris nggak pernah sakit, paling hanya demam, batuk, masuk angin. Ke dokter pun biasanya cuma diberi obat oral, bukan suntik. Untungnya si Mbak petugasnya baik, dan bilang malah lebih sakit pasien yg ditransfusi darah daripada saat pendonor diambil darahnya. Memang benar. Tusukan jarumnya hanya seperti digigit sedikit. Sekitar 15 menit darah mengalir. Sesekali doang aku liat. Soalnya takut juga. Apalagi aku agak-agak trauma dengan rumah sakit atau darah akibat suatu hal.

Abis donor, kita diberi kartu pendonor (karena saya baru sekali) dan pil penambah darah. Kemudian diberi sekotak susu dan sepotong roti. Setelah itu kita berlima (Pak Sidik, Pak Abdul, Mas Novnov, Pak satu lagi aku lupa namanya coz beda divisi, hihi...maaf-maaf), plus Fajar yang tidak jadi karena darahnya udah cukup untuk anak Pak Sukma menuju RSCM. Menjenguk anaknya Pak Sukma, Fernando. Abis itu diajak lunch di Mister Baso Kalibata Mal. Hehehe... moga-moga berkah traktirannya plus darah-darah kita.

Oh ya, sempat ngbrol juga dengan seorang ibu yang menemani suaminya mendonorkan darah. Suami sang ibu rutin mendonorkan darah dan sudah lebih dari 70 kali. Ckk, hebat ya? [Elzam]

Gambar dari www.edoaprianto.blog.friendster.com

**Memberi pada orang lain pada hakikatnya memberi untuk kebaikan diri sendiri. Bukankah kita akan DIBERI kebahagian di hati saat MEMBERI?**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hayuk-hayuk, kumen di sini biar saya tahu respon Anda di sajian ala kadar KecekAmbo, ukeh, ukeh... :-D

Bonusnya, ntar saya balik silaturahim, Insya Allah... ;-)