Senin, Februari 24, 2014

Kisah ABG Amrik si Trouble Maker di Sekolah

(Dimuat di Koran Jakarta, Kamis, 21 Februari 2014, versi edit Koran Jakarta di sini)

 

Judul                : Middle School (The Worst Years of My Life)
Penulis             : James Patterson & Chris Tebbets
Penerjemah      : Gusti Nyoman Ayu Sukerti
Penyunting       : Nuraini Mastura
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : I, November 2013
Tebal               : 330 hlm
ISBN               : 978-602-7816-14-5


Masa-masa di sekolah penuh dengan peristiwa-peristiwa ajaib bagi tiap orang.  Lengkap dengan bumbu-bumbu kenakalan khas Anak Baru Gede (ABG).  Lantas, apakah kenakalan kita menyamai masalah demi masalah yang dibuat Rafe Khatchadorian di buku Middle School (The Worst Years of My Life)

Inilah buku yang menggelitik tentang sosok anak yang terobsesi menjadi trouble maker di sekolah setingkat SMP, yaitu Hills Village Middle School (HVMS) di Amerika. Bercerita misi Rafe untuk melanggar 16 bagian peraturan di sekolah yang baginya memenjarakan siswa. Ia tidak suka menjadi siswa normal yang patuh. Pelanggaran pertama yang dilakukannya membunyikan alarm pemadam kebakaran sampai seisi sekolah panik (hal. 37). Ulah pertama Rafe ini justru dilakukan di hari pertama saat peraturan HVMS sedang dibacakan di aula oleh Mrs. Stricker. Rafe tak sendiri, ada Leonardo, si tukang gambar sahabatnya yang terus menyalakan nyali Rafe supaya melanggar peraturan. Leo juga membuat gambar pelanggaran siswa di buku peraturan miliknya yang memancing inspirasi Rafe membuat ulah.

Rafe kemudian membuat misi yang harus tuntas selama di HVMS dengan akronim namanya. Rules Arent For Everyone (RAFE) atau Peraturan Bukan Untuk Semua orang (hal. 54). Tujuannya, tentu saja untuk membuktikan bahwa normal itu membosankan. Di sinilah penulis berhasil membuat kelucuan-kelucuan ala Rafe untuk pembaca. Tidak sekadar narasi, lembaran-lembarannya juga dihiasi dengan ilustrasi yang sangat komikal. Membacanya membuat pembaca tak bosan karena penasaran kenakalan apa lagi yang menjadi misi Rafe. Apakah pelanggaran itu tak berujung hukuman? Sayangnya tidak, Rafe kerap mendapat hukuman, padahal targetnya menjadikan pelanggaran sebagai sahabat terbaik tanpa dihukum. 

Diceritakan pula tokoh Miller, siswa bermasalah yang tak suka dengan Rafe. Miller sejak awal sudah menetapkan Rafe sebagai target. Sadar dengan hal itu, niat Rafe untuk berbaur dengan Miller tak dilanjutkannya. Di HVSM Rafe merasa semakin terpenjara. Para guru dengan senang hati memberi hukuman setiap pelanggaran dan memanggil orangtuanya.

Di rumah, Rafe tinggal bersama Mom, Georgia, dan Carl (ayah tirinya). Ia kesal dengan Carl karena selalu bersantai di rumah. Sementara ibunya bekerja sampai dua shift agar mereka hidup layak. Sayangnya, masalah Rafe membuat sedih sang ibu. Mom ingin anak-anaknya menjadi normal seperti yang lain. Puncaknya ketika Rafe melihat ibunya menangis karena ulahnya di HVSM. Ia berjanji berubah dan menghentikan misi sementara waktu. Hal ini membuat Leo kesal. Terlebih ibu Rafe melarang anaknya tersebut bermain dengan Leo. Berubah jadi anak yang patuh membuat Rafe disenangi Jeane Galleta, gadis yang disukainya. Mrs. Donatello yang kerap menghukumnya pun ikut senang dan menyadari Rafe mempunyai bakat gambar.

Rafe yang sudah bersikap normal ternyata tetap dianggap musuh oleh Miller. Anak itu berusaha memancing kemarahan Rafe yang tak menanggapi. Lewat buku ini pembaca disodorkan bagaimana untuk menjadi baik pun harus melewati proses yang tak mengenakkan. Rafe pun demikian, Miller yang mendapatkan buku berisi catatan misi Rafe mengharuskan anak itu menebus dengan harga yang ditentukan (203). Di akhir cerita, Rafe mampu menyelesaikan masalahnya. Ia juga berhasil membuat decak kagum seisi HVSM dengan mural goresan tangannya. Tapi ia tetap dikeluarkan dari sekolah karena nilai akademik yang tak bagus. Oleh karena itu Mrs. Donatello menyarankan pindah ke Airbrook, sekolah gabungan seni visual dan akademis (hal. 309). Dari buku ini kita diajak menyadari tidak semua anak cocok belajar di sekolah formal. Bisa saja, seseorang nyaman dan berhasil justru bersekolah di sekolah nontradisional. [Elzam] 

Senin, Februari 17, 2014

Launching TV Serba Jepang di Event WAKUWAKU JAPAN MUSIC FESTIVAL

(Gambar dari www.kaorinusantara.web.id)

Jepang atau Japan! Apa yang kamu ingat begitu mendengar negara ini?

Penjajah Indonesia (he-he-he ... iya sih. Itu masa lalu, sekarang udah baikan, kok), serial Oshin, bunga sakura, manga dan kartun, negara industri teknologi yang maju, harajuku, negara disiplin, negara kepulauan langganan gempa, atau bagi anak muda sekarang: JKT48 dan AKT48? Okey, semua benar. 

Membincang Jepang memang selalu saja ada hal yang menarik. Negara di kawasan Asia Timur ini tidak hanya digdaya kekuatan ekonominya, tapi juga memunyai budaya yang khas dan menyedot keingintahuan banyak orang di dunia. Termasuk kamu, kan?

Khusus dalam industri hiburan televisi, tayangan buatan Jepang cukup banyak mewarnai televisi Indonesia. Zaman dulu ada Oshin (tahun 1986-an). Di tahun 1990-an saya masih ingat dorama Mimpi-Mimpi Aizawa (yang tak pernah ketinggalan saya ikuti). Kemudian, siapa yang nggak tahu dengan Ksatria Baja Hitam dan teman-temannya Iron Man atau Jiban. Lantas tokoh kartun seperti Naruto, Doraemon, Kabuto, atau Sinchan. Umumnya tayangan ini disiarkan stasiun televisi Indonesia. 

Bagaimana kalo tayangan serba Jepang tayang 24 jam selama 365 hari dan berbahasa Indonesia pula? Nah, ada kabar terbaru soal ini. WAKUWAKU JAPAN, televisi Jepang akan hadir di Indonesia mulai 22 Februari 214 mendatang. WAKUWAKU JAPAN ini dapat ditonton masyarakat Indonesia di televisi berbayar Indovision dan Okevision. 
 
Jangan lupa, 22 Februari di Indovision dan Oke Vision
Sabtu malam, 15 Februari 2014 lalu, gue dapat undangan untuk berpartisipasi dalam WAKUWAKU JAPAN Acara bertajuk WAKUWAKU JAPAN MUSIC FESTIVAL yang berlangsung di Jakarta Convention Centre (JCC) ini berlangsung seru dari jam 19.00 - 21.30 WIB. Dalam perhelatan tersebut, WAKUWAKU JAPAN menghadirkan band yang mengusung pop rock sebagai genre musik mereka langsung dari Jepang, yaitu Flumpool. Band asal Osaka ini terdiri dari Ryuta Yamamura (vokal, gitar), Kazuki Sakai (gitar), Genki Amakawa (bass), dan Seiji Ogura (drum) itu. Penonton sangat menikmati pentas perdana Flumpool malam itu. Lagu-lagu mereka: Over The Rain, Hoshi ni Negai wo, Hana ni Nare, Kakusei Identity, Taisetsu na Mono ga Kimi Igai ni Miataranakute, dan Kimi ni Todoke sukses menghipnotis penonton.
Nah, ini dia penampilan musisi Jepang yang paling ditunggu (gambar dari WAKUWAKU JAPAN).

Amazing! (gambar dari WAKUWAKU JAPAN).
Musisi lain yang memeriahkan launching WAKUWAKU JAPAN di Indonesia ini adalah JKT 48. Yups, kalo yang ini grup cewek-cewek cantik Jepang-Indonesia yang cukup saya kenal lagunya River, karena rekan kerja di samping meja saya yang senang dengan JKT 48. Kalo melihat JKT48, gue juga langsung ingat iklan minuman isotonik ber-license Jepan, he-he-he... Salah satu personil JKT48, Haruka, yang asli Jepang sempat juga menjadi co-host mendampingi pembawa acara. Lucuuu dan kece nih, anak!

Perfomance maksimal ala JKT48 bikin penonton kian bergairah (gambar dari WAKUWAKU JAPAN).
Dan, nggak lengkap kalo nggak ada artis dari Indonesia. Afgan dan Bunga Citra Lestari (BCL) pun didaulat membawakan lagu-lagu andalan mereka. Beberapa lagu yang dibawa Afghan adalah Dia, Dia, Dia dan Jodoh Pasti Bertemu. Sementara BCL sempat membawakan hits Cinta Sejati yang jadi soundtrack Film Habibie Ainun.
BCL spektakuler banget penampilannya! (gambar dari WAKUWAKU JAPAN).

BCL membius penonton WakuWaku Japan Music Festival
Balik lagi ke program-program WAKUWAKU JAPAN. Nantinya penonton Indonesia akan dimanjakan dengan tayangan Jepang selama full 24 jam. Anime/tokusastu Black Mask Rider (Kstaria Baja Hitam), Chasshan, dan Iron Man Cosmos akan menghibur anak-anak. Eits, kita yang sudah gede juga bisa bernostalgia dengan super hero asal negeri sakura yang dulu mengibur masa kecil tersebut. Penggemar dorama juga tidak ketinggalan diperhatikan karena WAKUWAKU JAPAN akan menayangkan Ama Chan tiap pagi Pukul 7.00-7.15 sepanjang Senin-Sabtu. Ada pula film-film Jepang seperti Youkame no Semi (Terlahir Kembali)

Ultra Man Cosmos...!
Tak hanya hiburan, tayangan WAKUWAKU JAPAN sangat lengkap. Music, news, sport, culinary, traveling, entertainments, culture, semua ada. Tentunya dengan menampilkan semua tentang Jepang untuk dikenali penonton di Indonesia. Mau tau acara lengkapnya? Kamu tinggal cek di website WAKUWAKU JAPAN.

Nah, selamat menonton dan ber-Japan ria ya! [Elzam]  


Rabu, Februari 12, 2014

Kelas Inspirasi: Mengenalkan Profesi Penulis ke Siswa SD


Wow, Kelas Inspirasi buka pendaftaran lagi untuk Jakarta dan kota-kota lain. Pengumumannya seperti biasa ada di sini

Tiap orang bisa memberikan inspirasi dengan caranya. Apapun yang disandang seseorang dengan segala latar belakangnya. Inilah yang digagas Anis Baswedan, Rektor Universirtas Paramadina Jakarta. Beliau juga penggagas Indonesia Mengajar, yang menyebar sarjana fresh graduate untuk turun tangan menjadi guru selama setahun di daerah-daerah terpencil di sekujur Indonesia.

Gue udah dua kali ikut Kelas Inspirasi. Pertama di Depok (18 Juni 2013) dan kedua di Bogor (11 September 2013).  Awal ketertarikan sih, karena suka sekali dengan konsep bakti anak bangsa yang dilakukan lewat Indonesia Mengajar. Sumpah, gue bakal ikutan kalo saja waktu jaman gue masih muda, baru selesai kuliah, Gerakan IM a.k.a Ikhawanul Muslimin Indonesia Mengajar sudah ada . Bah, kelihatan tuanya! Gue tamat tahun 2006, ha-ha-ha....  Kapan lagi jalan-jalan? Nggak ding, pada dasarnya gue suka dengan kegiatan volunteering. Termasuk di pedesaan-pedesaan, di mana akses peningkatan hidup, termasuk pendidikan, kurang/sulit terjangkau. Padahal mereka, anak-anak tersebut tetap anak Indonesia, butuh sekolah, butuh sarana-prasarana dan GURU. Udah rahasia umum, PNS kebanyakan maunya ditempatkan di kota-kota. Di pulau terpencil, di gunung nan jauh, di hutan, mengajar mungkin tidak menyenangkan. Cost tinggal di sana juga gede selain jauh dari kemudahan-kemudahan layaknya kota. Nah, waktu tau ada KI a.k.a Kelas Inspirasi, gue pun menebus dosa. Dekat-dekat dulu, di Depok dan Bogor. Pas yang di Jakarta gue nggak dapet infonya, jadi lewattt....

Di Depok gue ngajar di SD Negeri 1 Cinere. Tepatnya bukan ngajar sih, tapi bercerita tentang profesi kita (kalo gue penulis/redaktur penerbitan) dan berbagi ke anak-anak supaya bermimpi dengan cita-cita mereka masing-masing. Syukur-syukur cerita-cerita kita bisa memberikan inspirasi bagi mereka. Ehm, gue di sini ngajar dua kelas. Anak-anaknya lucu abis. Dan saya tak bisa mengendalikan mereka, tidak bisa membuat mereka tertarik. Ha-ha-ha.... Maklum, pengalaman pertama ngajar. Padahal waktu KKN di Bengkulu dulu, anak-anak yang pasif jadi sangat aktif dan senang dihajar gue. Apa yang salah, ya? Mana ada anak yang nakalnya aktifnya di atas rata-rata, iseng, atau pemalu banget. Bahkan adanya jago nunjuk-nunjuk teman doang, giliran dia malah keok. Agak kaku ngajarnya di kelas empat ini.

Ini gerbang sekolahnya (foto by Dian Purnomo)
Lanjut kelas berikutnya adalah kelas lima. Nah, ini anaknya enak. Pinter-pinter dan nggak malu-malu. Dan lagi, akhirnyaaa.... ada yang tertarik dengan profesi gue yang tukang bohong nulis fiksi. Mereka semangat dan berebutan doorprize buku yang gue berikan. Juga takjub dengan cerita gue soal enaknya jadi penulis. Menghayal, terus dapat duit (kalo dimuat). Pertanyaan mereka sih beragam, cara jadi penulis, di mana sekolahnya, atau gimana bikin cerita yang baik. Beberapa anak di luar kelas minta tandatangan, alamat, dan foto-foto. He-he-he, senangnya. Niat gue sih emang pengen berbagi cerita, kalo penulis itu profesi yang ada di masyarakat selain dokter, polisi, pilot, polisi, guru (yang kebanyakan anak-anak kalo ditanya cita-citanya pasti menjawab ini. Iya kan?)


Si kaca mata ini maunya jadi pilot (foto by Dian Purnomo)

Seru membayangkan cita-cita (foto by Dian Purnomo)
Terbukti, Pak Bambang yang pilot Garuda memang paling banyak fans-nya. Semua berebut salam, foto bareng dan minta tandatangan, he-he-he. Bikin iri, kenapa ogut nggak jadi pilot dulu, kalo begini. Nggak cuma anak-anak sih, kami para relawan (decorator cake, wartawan, dokter, film maker, guru, agent travel) juga ikut-ikutan norak. Ikut foto-foto dengan Pak Bambang yang masih kelihatan gagah dengan seragam pilotnya, meskipun umurnya mungkin 50-an barangkali. Grup WA kelompok 18 (kelompok kami, berniat ingin main ke sana nih, tapi belum kesampaian) masih aktif juga. Anak-anak pada SMS dan mensen di twitter untuk datang berkunjung lagi. Maaf ya, adik-adik, ntar kakak-kakak cari waktu dulu. Kakak? Yups, mereka menolak manggil kami bapak/ibu guru. Apa bosan karena diajar bapak-bapak/ibu-ibu setiap hari ya? Uuups....

Jreng jreeng... ini penampakan relawan KI Kelompok 18 (foto by Dian Purnomo)
Kalo di Bogor, gue kebagian ngajar di SD kampung pinggiran Bogor. Profesi relawan kali ini, ada yang aktivis LSM (suka denga Ibu Citra yang cantik dan kalem ini, pinter juga), pegawai bank, trainner dan motivator, insinyur a.k.a sarjana teknik mesin (apa ya disebutnya sekarang?), peneliti, dan copy writer. Di sini gue ngajar dua kelas. Mati kutu. Ditanya buku cerita yang pernah dibaca, mereka nggak tahu. Ditanya apa penulis, bingung. Kalo nggak salah kelas 3 deh mereka. Kebanyakan memang orangtua mereka berlatar belakang buruh bangunan, petani, dan pedagang kecil. Agak susah mengajak mereka untuk interaktif. Jadilah gue keringetan ngoceh sendiri tanpa feedback berarti.

Kelas kedua, ngajar kelas lima duet dengan Pak Siswanto yang jadi peneliti Departemen Keuangan. Ehm, lumayan. Lumayan capek, ha-ha-ha.... Ngomong nggak didengar, banyakan bengongnya. Intinya sih memang tipikal Pak Sis yang emang 'baku', nggak santai dan komunikasinya formal banget. Ditambah gue yang udah kecapekan.  Responnya saling lempar dan ledek kalo satu anak ditanya. Tapi lumayanlah, mereka nggak kabur, kok, ha-ha-ha.... Meskipun begitu waktu serasa lama sekali dan saya udah pengen bel cepat-cepat. Nggak salah anak-anak juga, karena sebelumnya udah ada 3 relawan yang ngajar. Mungkin bosan dan capek kali.

Acara ditutup dengan pelepasan balon ke langit. Sebelumnya mereka menempelkan cita-cita mereka di kertas tempelan (untuk undangan nikah itu lho). Macem-macem cita-citanya. Sangat mengharukan, gue menemukan anak yang ingin menjadi ustadz. Diam-diam, saya mengaminkan dalam hati. Cita-cita lain standar: guru, polisi, tentara, dokter, etc.

Begitulah, saya suka kegiatan ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya buat mereka. Salam inspirasi. [Elzam]

Senin, Februari 10, 2014

[Mozaik Blog Competition 2014]: Cinta Mati Menulis Itu Sampai Mati

Event Mozaik Blog Competition sponsored by beon.co.id.

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian (Pramoedya Ananta Toer)


Kalau ada yang bertanya, "Apa yang membuat kamu begitu ingin menjadi penulis? Dengan pasti saya bakal jawab, "Karena suka!" Sederhana sekali. Begitulah. Dalam hidup yang sebentar doang, di dunia nan fana ini, sayang sekali kalau kita melakukan sesuatu karena terpaksa dan tak menikmatinya. 

Penulis adalah satu dari beberapa cita-cita masa kecil saya, selain politisi, wartawan, guru, dan pekerja sosial. Melewatkan masa kecil di kota kecil bernama Curup nun jauh di Bengkulu, Sumatera sana, saya telah memantapkan suatu saat akan menjadi pengarang alias penulis. 

Tahun 1990-an dulu saya masih siswa SD yang sangat takjub dengan dunia lain, yang terlihat lewat setiap baris huruf. Kata-kata menjelma banyak hal dalam otak seorang anak kecil. Di luar lingkungan nyata sehari-hari yang kerap ditemui. Saya membaca setiap kertas yang membenamkan tulisan: majalah, komik, buku cerita, bahkan sobekan koran pembungkus belanjaan di warung. 

Beruntung, ayah saya seorang guru yang memunyai banyak buku. Koleksinya mulai dari buku sejarah, agama, novel angkatan Balai Pustaka, sampai buku cerita pengayaan untuk siswa terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Kementerian Pendidikan Nasional). Tak puas dengan bacaan terbatas di rumah, saya menjadi pengunjung perpustakaan masjid paling rajin. Masjid Al-Jihad milik Muhammadiyah di dekat rumah. Hampir setiap hari dan sepanjang waktu perpustakaan buka, saya asyik melahap buku. Saat membaca cerita fiksi di Majalah Ananda, Bobo, Aku Anak Saleh, Ummi (dan sisipannya Permata), saya sangat menikmatinya. Hanyut terbawa kepiawaian penulis bercerita. Mulailah saya membayangkan cerita-cerita lain versi imajinasi sendiri. Saya membayangkan tulisan saya nangkring di majalah dan dibaca banyak orang. Pasti membanggakan sekaligus menyenangkan bukan? 

Sayangnya, saya belum punya keberanian untuk menulis dan mengirimkan ke media. Sebagai gantinya saya paling suka pelajaran mengarang saat Bahasa Indonesia, sejak SD sampai SMA. Di SMP saya memberanikan menulis cerpen dengan tulisan tangan dan mengirimkannya ke Anita Cemerlang (majalah remaja tersohor saat itu). Gagal. Saya mulai punya diari yang berisi puisi-puisi. Temanya macam-macam, cita-cita, cinta, Tuhan, sampai masalah sosial. Saya juga suka politik sampai berkeinginan menjadi politisi karena paling sebal kenapa PNS waktu itu harus memilih Golkar. Padahal di sekolah, pelajaran menjelaskan kemerdekaan berdemokrasi lewat Pemilu yang LUBER (Langsung, Bebas, dan Rahasia). Saya juga heran kenapa Soeharto kok bisa puluhan tahun menjadi presiden dan calonnya cuma satu? Saya sering berantem soal ini dengan ayah yang kebetulan guru PMP dan Sejarah, he-he-he.... Di SMA saya ikut ekskul teater dan mading. Ikut lomba baca puisi, dan diam-diam ikut lomba menulis (fiksi dan ilmiah). Banyakan gagal. Satu-satunya prestasi menulis saya dari SD sampai SMA adalah lomba pidato yang tentu saja materinya disusun sendiri. Itu pun cuma juara harapan pertama. 

Nah, waktu kuliah di Universitas Bengkulu, barulah aktivitas menulis saya menemukan tempatnya. Saat registrasi mahasiswa baru, saya terhenyak membaca pamflet penerimaan anggota baru Forum Lingkar Pena (FLP) di papan pengumuman fakultas. Gayung bersambut, saya bergabung. Saya telepon contact person yang tertera, Sri Rahayu, Ketua FLP Wilayah Bengkulu pertama. Sampai sekarang beliau masih aktif menulis dan tinggal di Lampung. Aktif juga menulis blog http://cerpeneddelweissnaqiyyah.blogspot.com/. Saya pantas menasbihkan Mbak Yayuk, begitu sapaannya, sebagai guru, sahabat, sekaligus kakak yang menyemangati saya menulis. Di FLP kami membuat acara seputar literasi, rutin membedah karya, lalu mengirimkannya ke media. 


Bersama teman-teman penulis FLP dalam sebuah acara

Tulisan pertama saya dimuat koran lokal "Rakyat Bengkulu" berjudul Pada Gerimis Satu-Satu, lantas di koran lokal lain seperti Koran Lintas. Prestasi terbesar yang melecutkan gairah menulis saya adalah saat cerpen saya kali pertama dimuat Majalah Annida. Hebatnya langsung merebut Juara II Lomba Menulis Cerpen Islami (LMCPI) Annida 2005. Wow, bangga dan seketika serasa menjadi selebritas di kampus. Banyak akhwat-akhwat yang berkomentar, sehingga saya merasa mereka nge-fans, he-he-he.... Kemudian ada majalah Aulia, Al-Izzah, Aulia, Pesona, Ummi, Esquire, Hai, dan majalah lain yang memajang cerpen saya. 

Selain Mbak Yayuk, yang membuat motivasi menulis saya terlecut adalah Agusmantono. Sahabat satu kost sesama anggota FLP. Bersama Agus, kami bisa dibilang dua sahabat yang disatukan oleh hobi menulis. Kami sering mengkritik tulisan masing-masing, berbarengan mengajukan naskah ke penerbit, berbagi info lomba dan sebagainya. Teman-teman di FLP Wilayah Bengkulu lain pun turut berjasa. Rata-rata mereka generasi awal FLP-ers Bengkulu, seperti Yeni Sariasih, Novianti, Fransiska Rusman, Imam Hanuji, dan Fendri Heryanto. Tidak lupa juga pembina kami di Bengkulu, penulis Agnes Majestika dan Herman Suryadi. Sangat membantu, karena Bengkulu terbilang "kurang bergema" untuk perkembangan melahirkan penulis di banding lain. FLP yang berjaringan luas juga mengenalkan saya dengan penulis lain.

Keranjingan menulis, tentu saja impian seorang penulis adalah menerbitkan buku. Jatuh bangun saya menembus penerbit. Bahkan sampai hari ini, he-he-he.... Pernah bekerja sebagai wartawan di Harian Bengkulu Ekspress, redaktur di Majalah Annida, dan sekarang redaktur di Penerbit Pustaka Lebah, bukan berarti jalan membuat buku mudah. Benar sih, saya sudah punya beberapa buku, tapi itu antologi dengan penulis lain. Kepuasannya berbeda dengan buku karya solo. Novel saya malang-melintang ditolak puluhan penerbit. Sejak tahun 2006 sampai sekarang saya mencarikan jodoh. Alhamdulillah, novel bergenre teenlit yang saya tulis waktu masih kuliah tersebut menemukan takdirnya juga. Insya Allah, pertengahan Februari ini segera beredar di toko-toko buku oleh penerbit Jogjakarta. Bayangkan, penantian saya delapan tahun untuk membuat penerbit percaya menerbitkan satu buku karya saya! Satu lagi, menulis juga membuat saya memiliki banyak kesempatan lain. Misalnya terpilih menjadi travel writer untuk jalan-jalan gratis keliling Indonesia selama 15 hari oleh portal berita Detik.Com.

Saya juga pernah sedih. Alang-kepalang. Sampai sekarang. Penyebabnya naskah novel yang telah selesai hilang. Zaman kuliah saya memang menulis novel di buku tulis. Tak punya komputer apalagi notebook. Sayang, nasibnya malang. Novel itu entah ke mana, padahal belum sempat diketik. Untuk menulisnya saya kadung malas, karena bagi saya untuk menulis novel butuh nafas panjang. Tidak seperti cerpen atau puisi. Apalagi tipikal saya yang masih bergantung mood. Meskipun demikian, saya tak patah arang. Bagi saya, menulis itu cinta mati. Menulis itu sampai mati. 

Setiap kebaikan yang menyertai tulisan, insya Allah menjadi ladang pahala. Bisa menginspirasi, menyadarkan, memberi pengetahuan, atau paling tidak menghibur. Kebahagiaan menjadi penulis itu adalah ketika naskah kita diterima untuk dimuat media atau diterbitkan. Rasanya keletihan dan pengorbanan terbayar sudah. Apalagi pastinya rekening tabungan juga bertambah, alhamdulillah.

Sampai sekarang, saya tetap menyempatkan menulis. Ehm, doakan ya, proyek novel yang sedang saya kerjakan bisa segera rampung. Kalau kamu mau jadi penulis, maka kejar sampai berhasil. Tak ada yang tak mungkin. Kuncinya? Ya, banyak membaca. Penulis favorit saya adalah Herper Lee, Khaled Hosseini, Laura Ingalls Wilder, Karl May, Sinta Yudisia, Helvi Tana Rosa, Mochtar Lubis, Sapardi Djoko Damono, dan masih banyak lagi. Kunci berikutnya  adalah meningkatkan skill (dengan workshop, diskusi, kursus, dll). Dan terakhir, menulislah! Kemudian kirim dan tunggu takdirnya. Selama menunggu, tetaplah menulis. 

Saya pun hingga sekarang terus berlatih. Sadar saya tipikal penulis tergantung mood dan kadang butuh pelecut dari orang lain, untuk proyek novel yang sedang berjalan, saya ikut kelas menulis novel dengan mentor penulis favorit saya, Sinta Yudisia. Dengan demikian target dan deadline membuat saya mau tidak mau menulis. Lagipula, kalau cinta mati menulis itu sampai mati, artinya berlatih menulis juga sampai mati bukan? 

Ha-ha-ha.... Sepertinya saya terlalu panjang menulis pengalaman ini. Terlalu bersemangat. Sudah, ah! [Elzam]

Rabu, Februari 05, 2014

Jalan Sunyi yang Tetap Hijau


Hijau. Warna yang paling saya suka.  Mendengar kata hijau, maka saya membayangkan hutan. Selalu begitu. Membayangkan hijau hutan saja membuat saya seketika segar. Apalagi trekking di dalamnya, naik gunung, atau duduk di taman kota nan terbatas di Jakarta ini.  

Lantas benak saya menjejak ke mana-mana soal hutan dengan segenap isinya. Konflik tiada habis. Hutan sebagai habitat flora dan fauna berhadapan dengan perilaku manusia memperlakukannya dengan tendensius. Berorientasi uang, uang dan uang. Maka hutan dirambah menjadi kebun sawit. Hutan digunduli untuk diambil kayunya. Hutan dibakar hingga gajah dan harimau  liar di daerah saya, Bengkulu, turun ke desa-desa. Mengancam keselamatan karena rumah mereka, hutan tak lagi menyediakan mangsa. Saya mendukung gagasan Greenpeace menggugah kesadaran kita, untuk mulai menyadari bahwa hutan penting bagi hidup manusia. Gerakan dukungan melalui aksi nyata Protect Paradise menjadi keharusan untuk semua orang ambil bagian. Mari dukung dengan klik di sini! Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Hutan pula membuat ribuan hektar sawah mengering karena debit air Bendungan Air Manjunto di Mukomuko, masih di Bengkulu, menurun drastis. Tepatnya tak bisa menyediakan sediaan air yang cukup karena Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang menjadi hulu Sungai Manjunto bertahap menuju tandas.
Lebih gila lagi, kepala desa setempat bisa mengeluarkan Surat Kepemilikan Tanah (SKT) atas hutan lindung
Saat menjadi wartawan Bengkulu Ekspress, harian lokal di Bengkulu (2007-2009), saya sempat ngepos di Mukomuko. Sebelah timur kabupaten ini berbatasan langsung dengan TNKS. Penduduknya dominan berkebun sawit. Perusahaan sawit skala besar juga tumbuh pesat mengcengkeram. Bersama wartawan ANTARA Biro Bengkulu bernama Rini, kami masuk keluar hutan dan bekas hutan yang menjadi sawit. Tidak banyak wartawan lokal yang doyan beginian (siapa yang mau capek-capek investigasi di hutan, kedinginan kala hujan, medan berat, musti bawa bekal, etc). 
Saat investigasi perambahan bersama Balai Besar TNKS dan LSM, yang cewek itu Rini.
Ditemani para aktivis lingkungan dan polisi hutan, kerap pula kami mesti bermalam di hutan atau kebun sawit warga. Sudah biasa. Petualangan ini kerap saya rindukan setelah resign, lantas hijrah ke Jakarta.
Bahkan mobil semacam ini pun harus ditarik jika musim hujan
Mereka ini (penduduk dan perusahaan sawit) ikut andil menyulap hutan menjadi hamparan sawit. Rahasia umum, pejabat penyangga pemerintahan (eksekutif, yudikatif, dan legislatif) ikut menggarap hutan dengan mempekerjakan warga. Tentu saja, bukti sahih sukar didapatkan karena yang bergerak di lapangan orang lain, kaki tangan mereka. Izin Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan besar terus diperluas dan ditenggarai menyerobot hutan lindung, termasuk TNKS. Bersama LSM setempat semacam Genesis dan Walhi kami sering mengkritisi hal demikian dengan pemberitaan-pemberitaan tak sedap. Tak sedap bagi semua stakeholder yang ditenggarai terlibat. Putus asa dibuatnya? Memang. Tidak di Kepolisian, tidak di level pemerintahan dan legislatif, semua memberi alasan normatif; tenaga kurang di lapangan, cakupan wilayah yang luas, dana kontrol terbatas, akan segera ditindak sesuai aturan, sedang diselidiki, bla-bla-bla… Tapi saya tahu persis, sekadar alibi untuk menutup borok berjamaah. Data terakhir dari Balai Besar TNKS total kawasan yang telah dirambah seluas 41.303 Ha (2012), Bengkulu menyumbang rambahan terluas kedua 3.520 Ha, setelah Kerinci/Jambi yang mencapai 28.255 Ha. Sumber klik di sini!
Melihat hutan yang siap beralih fungsi menjadi kebun sawit di tengah gerimis
Hasil penebangan liar hutan oleh masyarakat
Tulisan ini hanya sekadar curhatan seorang mantan wartawan yang sama sekali tak hebat. Persoalan tata kelola hutan dan kesadaran masyarakat masih 'payah'. Sementara birokrasi di daerah kian jumawa sewenang-wenang memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, alih-alih memiliki political will yang bersahabat untuk hutan. Seakan mereka tak butuh mewariskan oksigen untuk anak cucu karena sekarang udara masih gratis. Padahal kerusakan hutan di seluruh dunia jelas mengancam orang-orang rimba yang terkait langsung, flora fauna penyerta, dan dunia secara umum dengan pemanasan global. Seperti yang dikatakan Greenpeace di sini!

Saya kerap diserang migrain tiap kali berita-berita investigasi saya seperti tak berbalas. Tak ditindaklanjuti. Belum lagi ancaman dan konflik dengan pihak yang terganggu terhadap temuan dugaan pelanggaran.  Pada akhirnya saya memilih jalan sunyi. Ya, sejujurnya penulisan hard news bukan passion saya. Dari awal lebih menyukai produk sastra, novel, cerpen, dan puisi. Saya tak punya banyak amunisi dan mental baja untuk bertahan.

Meski demikian, saya masih menyukai hijau. Novel lawas Mochtar Lubis, Berkelana di Rimba yang dibaca ketika SD, tetap favorit saya. Mengambarkan keindahan dan kegunaan hutan. Inilah sebabnya, saya suka menulis yang terinspirasi awal kehidupan bumi, hutan. Cerpen tentang kearifan manusia pada hutan, rimbawan yang jatuh cinta pada hutan, dunia petani seperti orangtua saya, cinta petualang-pendaki, tempat indah di sudut Indonesia bernama hutan. Bahkan saya sedang menulis novel dengan tokoh utama bernama Rimba. 

Nah, ini cover novel yang sampai sekarang masih saya suka.

Setidaknya saya ingin tetap mewarisi karya-karya yang membuka mata kita. Bahwa kita butuh benar hutan untuk melanjutkan hidup. [Elzam]