tentang

Sabtu, November 30, 2013

Kutunggu di Hagia Sophia

Dimuat di Majalah Pesona edisi Oktober 2013) 


Maria Sevim menggeliat dari tempat tidurnya. Pagi yang selalu nampak ritmis di kota itu coba ia abaikan. Di mana rumah-rumah tua sepanjang Selat Bosphorus mulai berasap memanggang roti. Tampak seperti peradaban Turki masih di masa lalu, mundur ratusan abad silam.  Angin laut menelisik ke lorong-lorong kota yang lengang, pada rumah-rumah berwarna kelabu, tapi sejatinya ramai di dalam. Menerobos dapur, bau laut bercampur dengan adonan roti yang wangi.
Tangan Maria menarik tirai coklat lembut yang menutup jendela kamar. Didapatinya wajah pualam pucat dengan kantung mata tebal pada pantulan kaca. Ia tersenyum miris. Begitu pentingnya pertemuan dengan lelaki itu sampai dirinya nyaris tak bisa tidur tadi malam.
Semua tentang Turki di sebelah Eropa seperti menarik-narik dirinya. Saat menapak di Pelabuhan Rumelli sisi timur Istambul. Maria merasa dibesarkan di sana, dalam suasana hangat yang membebaskan seperti halnya Eropa. Namun nostalgia Timur tak jua pula ingin surut. Di sebelah timur, ia telah terjebak pada cinta yang telah menggembirakan hatinya.
“Melebihi dari Boğaziçi Köprüsü menuju Asia milik Istambul, Jakarta begitu jauh, Pram…” batin Maria. Dibayangkannya melewati Jembatan Bosphorus tak butuh banyak kerumitan menjadi Asia. Berbeda dengan Indonesia yang menjejakkan kakinya di sana saja ia belum pernah.
“Sayang, kau sudah bangun rupanya? Turunlah ke bawah untuk sarapan,” kepala ibunya menyembul di pintu dengan senyum hangat.
Dipandangnya sekilas perempuan separuh abad itu. Benar. Ia tidak boleh bermalas-malasan. Ada rencana bermula dari janji tujuh bulan lalu yang harus dipenuhi. Ya, Hagia Sophia akan melukis semuanya hari ini. Mengguratkan pengharapan dan kepercayaan yang sempat ia titipkan pada Pram. Maria menyibak selimut. Bangkit sambil mengikat rambut merah bergelung miliknya. Kecantikan terbagi rata dari ibunya yang juga berambut merah dengan mata coklat keabuan.
***
Pram membenarkan letak bantalnya, mencari posisi yang nyaman. Akan ada luka yang tergores. Meski sedetik pun tak terbersit menggoreskannya di hati Maria. Sungguh di luar dugaan. Dua hari sebelum keberangkatannya ke Turki ia harus terbaring di tempat tidur. Ditatapnya tiket Istambul-Jakarta yang terselip di paspor.
            “Aku harus berangkat, demi menunaikan janji pada Maria. Tak boleh ada muram di Hagia Sophia lusa,” tekadnya sontak berusaha bangun. Membuka lemari dengan payah dan memasukkan acak beberapa potong pakaian ke dalam travel bag. Seminggu yang lalu Pram telah memastikan akan datang ke Istambul karena bertepatan dengan liburan semester di kampus tempatnya mengajar. Namun nyeri di ulu hatinya tak bisa berbohong. Ah, kenapa harus sekarang saat-saat genting dokter memvonis gangguan liver di tubuhnya?
            Nyeri semakin menusuk, membuat Pram memejamkan matanya. Sejenak menghentikan usahanya mengemasi barang. Beberapa potong jatuh ke lantai seiring tubuhnya lunglai. Tak ada yang tahu sampai ibunya masuk untuk memberikan obat. Tentu saja dengan kepanikan luar biasa melihat apa yang dilakukan Pram.
            “Pram, Pram! Kamu mau ke mana packing saat sakit begini?
            “Istambul, Hagia Sophia, Maria…”  Pram seperti ingin menangisi kondisi. Hanya itu yang mampu terucap setengah sadar.
            Selembar tiket dipungut ibu Pram dari lantai, tak jauh dari Pram yang lemas. Beliau bingung apa sebenarnya yang ada di Istambul, di Hagia Sophia, dan siapa Maria?
            “Sudahlah. Ibu akan bawa kamu kontrol ke dokter dulu. Biar Saras ikut menemani,” ujarnya cepat.
***
“Maria, Maria…! Bagaimana mungkin kau mengosongkan hati untuk Hakan dan meminjamkannya untuk lelaki entah itu. Bahkan pada kali pertama bertemu. Lalu ia hilang begitu saja, membawa semangat dan cintamu ke negerinya tanpa pernah kembali ke sini.” Terngiang-ngiang kembali Maria Sevim kesangsian ibunya. Dipertegas perempuan yang telah melahirkannya tersebut, Hakan lebih jelas dari sekadar Pram. Lelaki Turki tampan, pemilik usaha hamam Turkish, spa kuno ala Turki yang turun-temurun kesohor di kalangan wisatawan dunia.
“Dan yang terpenting, kau mengetahui keluarga Hakan seperti kau mengetahui keluargamu sendiri. Onlar hepsi buradalar…1.)” tukas ibunya.
Beliau menambahkan, “Ketika memilih seorang lelaki, berarti kau akan masuk menjadi bagian dari keluarganya. Itu yang tidak kau dapatkan dari lelaki Indonesia-mu itu.” Maria mendengar kata-kata sang ibu begitu tajam, di balik pembawaan tenang yang dimilikinya.
Perjumpaannya dengan Pram memang tak lama. Saat Pram membawa rombongan mahasiswa untuk misi kebudayaan di Sabanci University, Istambul. Tak lebih dari seminggu, lelaki itu telah memesona dirinya. Pengetahuan Pram yang luas tentang negeri seribu mesjid membuat obrolan dari sekadar sapa menjadi perbincangan menarik.
“Arus sekularisme tak mampu membendung demokrasi yang berdengung di era ini. Dampaknya luar biasa, perempuan-perempuan berkerudung semakin lumrah di sini,” ujar Pram kagum, saat obrolan kecil tercipta ketika keduanya ikut tur Bosphorus Cruise. Hari terakhir Pram di Istambul. Satu setengah jam mereka habiskan untuk memanjakan pandangan melihat keindahan bangunan tua sepanjang Bosphorus dari kapal dengan harga tiket tujuh lira. Jauh di sana, Galasa Tower menjulang dihimpit rumah-rumah penduduk yang rapat tapi tak memberi kesan kumuh.
“Tak seorang pun bisa mengekang praktik keberagaman tiap orang, termasuk soal keyakinan. Tidak juga Kemal Attaturk yang kau lihat Dolmabache place, tempat wafatnya itu,” ujar Maria menunjuk istana yang konon bangunan terbesar di Turki. Keindahannya dari kapal ini tidak terlepas dari arsitektur Eropa yang tetap berpadu dengan karakter bangunan muslim.
Maria meletakkan kedua tangan di belakang pinggang rampingnya, menuntaskan kata, “Hijab sudah bukan dominasi perempuan tua di sini. Cukup muda menemukan perempuan berhijab di Izmir atau Istambul. Dua kota yang disulap Attaturk liberal pasca Ottoman runtuh.” Menurutnya di Distrik Anatolia, bahkan setengah dari perempuannya berpenutup kepala. Sesuatu yang ia sebut romantisme Ottoman bangkit kembali, di mana syiar Islam sempat berjaya.
“Dan negeri kami sempat menerima kemurahan hati sultan kalian itu lewat medali emas bersegi tujuh untuk Sultan Thaha. Sudah lama sekali, 1928 lampau, ketika Indonesia masih berupa ragam kerajaan kecil.”
Maria tertawa membenarkan. Pram membuatnya seperti bertemu teman lama. Berbeda dengan Hakan yang temperamental dan kerap merasa superior di depan perempuan, ia merasakan lain pada Pram. Padahal Turki sudah begitu sekulernya memberangus tradisi yang dianggap patriarkhi dan kolot hingga ke sudut-sudut sosial dan birokrasi. Ada udara kesetaraan yang bisa dihirup dari Pram, tapi sekaligus ia tetap merasa dijaga sebagai perempuan terhormat.
“Sayang sekali Maria, aku harus pulang ke Indonesia besok. Tanpa sempat menengok Hagia Sophia. Keindahan lain negeri ini.”
“Oradaki koprusu goruyor musun?2.)
Bunu hos buluyorum. 3.)
“Ya, Jembatan Bosphorus sangat cantik. Tak hanya menghubungkan dua daratan Istambul, banyak orang mengatakan Jembatan Bosphorus akan memanggilmu kembali setelah melihatnya. Datanglah kapan kau mau, Pram. Istambul akan menerimu kapan saja. Seperti ia membuka diri untuk dua perabadan besar dunia. Kau bisa datang dengan kekasihmu, mungkin. Kunjungilah Hagia Sophia.” Mata Maria melirik Pram dengan jenaka, meski tak mampu menghilangkan kesan rikuh yang terpancar.
“Tidak, Maria. Ehm, maksudku,” bibir Pram mendadak kelu. Harus dikatakannya. Sebelum semua terlambat. “Ada cukup alasan yang mutlak untukku datang lagi ke sini. Maukah kau menungguku di Hagia Sophia, Maria?”
Maria terperangah. Ia tertegun, begitu cepatkah seorang Asia ini mengutarakan perasaan. “Tentu kau tidak serius, Pram?” Ia kembali tertawa kecil. Ia teringat Hakan yang mati-matian mendekatinya hampir dua tahun, lalu baru berani mengatakan perasaannya. Tapi Pram?
“Aku tidak main-main. Aku harus mengutarakannya sampai kau mengatakan ya atau tidak. Terlihat terlalu cepat?”
“Hmm, kapan aku harus menunggu di Hagia Sophia?”
Pram mengeluarkan dompetnya. Memberikan selembar kartu nama. “Adresim burda! Dengan ini, jarak Istambul dan Jakarta cukup dekat untuk kita membicarakannya lebih lanjut bukan?
Okay, lebih dari cukup, kecuali kartu nama ini palsu,” ujar Maria diselingi senyum khas. Tangan berjari-jari panjang itu sekilas membaca alamat, nomor ponsel dan email yang tertera.
Lalu mulailah mereka menjalani hubungan jarak jauh. Di saat yang sama ia telah mengakhiri hubungannya dengan Hakan. Tepatnya mempertegas supaya lelaki Turki itu rela melupakannya, karena selama ini dirinya tak pernah menyambut cinta Hakan. Meskipun lelaki itu sabar merebut hatinya dengan berbagai cara.
“Baiklah jika lelaki Asia itu telah kau pilih. Tapi bila kau tak yakin dengannya, maka palingkanlah pengharapanmu padaku, Maria. Please,” ujar Hakan.
Tapi tentang hati siapa yang peduli? Biarlah takdir yang akan membawa ke mana pada akhirnya hatinya benar-benar berlabuh. Maria yakin, hati tak pernah salah. Hanya nafsulah yang kadang mempecundanginya, membuat seseorang lupa. Ia berharap Pram tidak demikian.
“Terimakasih atas perhatianmu  yang begitu besar, Hakan. Jujur, aku belum pernah seyakin ini sebelumnya.” Dan Hakan sejak itu mundur, memudarkan dirinya dalam penglihatan Maria.
***

             Hagia Sophia ramai dengan lalu lalang pelancong. Empat menara lancipnya menusuk langit. Biru langit nan bersih di atas museum bergaya Bizantium mencoba mendamaikan hatinya.
            Sudah dua jam lewat dari waktu yang ditentukan. Maria mulai sangsi, walaupun sedapat mungkin tak memercayai Pram lupa jika ada seorang gadis menunggunya di Hagia Sophia. Jika memang benar Pram ingkar janji, maka ia hanyalah gadis bodoh yang begitu mudah terperdaya. Ibunya bahkan akan marah besar mengetahui anak gadisnya bertindak memalukan dengan berharap pada lelaki yang disebutnya berulangkali lelaki entah. Lelaki entah yang tak jelas asal usul, keluarga, dan komitmennya.
            Maria berinisiatif masuk ke dalam bangunan museum dengan atap berupa kubah bertumpuk-tumpuk. Kemegahannya mencerminkan kesempurnaan peradaban. Kekokohannya membuktikan mahakarya indah. Sebanding dengan sederet peristiwa yang pernah dilalui sesuai rezim penguasa. Hagia Sophia pernah berganti dari gereja menjadi mesjid, hingga terakhir ditetapkan sebagai museum. Maria sudah sangat hapal sejarah itu.
            “Mengapa kau lupa Pram? Aku menunggu di Hagia Sophia. Bahkan email-ku tak berbalas, ponselmu tak aktif, justru di saat pertemuan hari ini semakin dekat. Aku tahu, kau ingin memberi kejutan bukan?” dicobanya berprasangka baik. Maria tertegun di depan koleksi surat-surat Khilafah Ottoman yang memberi suaka untuk orang asing yang datang ke Istambul tempo dulu.
Seandainya ada sebentuk surat atau apalah yang mengabarkan perihal dirimu di sana…
Tapi waktu kian senja. Didera kecewa berbalut resah, Maria melangkahkan kakinya ke luar. Itu pun setelah diingatkan seorang guide yang melihatnya nyaris tak bergerak di depan koleksi surat-surat yang menghiasi koleksi museum.
Akan ada esok, sampai semua jelas, hibur Maria melangkah. Dingin Istambul di malam hari mulai menyusup. Membawa sepotong luka dalam pengharapan yang kalah.
“Lupakanlah lelaki Asia itu dan pertimbangkan Hakan!” Mungkin itu komentar ibunya jika nanti ia terpaksa bercerita. Tidak. Ia tidak mencintai Hakan.
***
Dua perempuan terengah-engah memergoki wajah Maria. Tepat saat ia hendak membuka pintu taksi. Maria ingin melajukan kesedihannya menjauh dari Hagia Sophia.
“Anda? Maaf, apa benar Anda Maria?” ujar satu wajah hampir setua ibunya menatap Maria. Bertanya dalam bahasa Inggris terbata-bata. Menebak dengan buncah yang tak terperi di raut muka coklatnya.
“Benar, saya Maria. Mencari saya?” ujarnya bingung balas menatap. Memerhatikan juga gadis belia di samping ibu yang bertanya tadi.
“Maria Sevim?” tukasnya meminta kepastian.
Bemin adim Maria Sevim 4.)
“Oh, Tuhan. Kami harusnya sampai sedari tadi, tapi kami berputar-putar tersesat hanya untuk mencari Hagia Sophia ini,” dirinya menghamburkan pelukan ke Maria yang kebingungan. Tanpa basa-basi lanjutan.
“Kau gadis cantik! Bacalah surat ini, Maria. Oerkek bir mektup yazdi.5.)” Kali ini perempuan yang datang tiba-tiba itu berbicara dalam bahasa Turki yang kaku, yang tampak sekali dihapalnya mati-matian. Serta merta ia memberi surat yang diambil tak sabar dari tasnya. Sebuah foto jatuh ke jalanan Istambul. Foto Maria.
“Saya ibu Pram dan ini adiknya Saras. Tidak cukupkah dua perempuan ini menemuimu  yang menunggu di Hagia Sophia, Maria?”
Sorry, my brother isn’t well right now so he can't come to meet you. Kami menggantikkannya sesuai permintaan Mas Pram.” Saras yang sedari diam menukas.
Maria tersadar, dia baru saja melihat Pram versi perempuan dalam wujud gadis belia di depannya. Berperawakan sedang, tubuh coklat bersih, dan mata yang legam dengan rambut lurus.
Maria Sevim tergugu. Air matanya luruh. Hatinya tak pernah salah. Ia menunggu Pram di Hagia Sophia, laki-laki itu tak datang. Tapi Pram mengirim dua orang tercintanya demi sebuah janji. Dua orang perempuan yang dicintai Pram, sama seperti yang diungkapkan pada dirinya.
“Memnun oldum,6.)ujarnya mencium tangan ibu Pram takzim. Lalu dengan haru memeluk Saras. Tak perlu banyak alasan untuk membuktikan cinta. Maria yakin, ibunya akan percaya setelah tahu apa yang terjadi.
Ditemani pandangan lembut  ibu Pram dan Saras, Maria perlahan membuka surat bersampul biru itu. Setelah sebelumnya mengusap mata yang basah.[]  

Catatan:
1.)    Mereka semua ada di sini.
2.)    Apakah kamu melihat jembatan di sana!)
3.)    Saya rasa itu cantik.
4.)    Nama saya Maria Sevim.
5.)    Dia menulis surat ini.
6.)    Senang bertemu Anda.


           
           

1 komentar:

Hayuk-hayuk, kumen di sini biar saya tahu respon Anda di sajian ala kadar KecekAmbo, ukeh, ukeh... :-D

Bonusnya, ntar saya balik silaturahim, Insya Allah... ;-)