tentang

Rabu, November 27, 2013

Cintaku Se-Gede Pangrango (2)

Dimuat di Majalah Hai edisi 29 November-4Oktober 2012


Kami pun melakukan verifikasi peserta pendakian di pintu masuk. Pintu Cibodas salah satu akses menuju puncak Gunung Gede. Selain pintu Gunung Putri di Cianjur dan Selabintana di Sukabumi.

Perjalanan penuh tanjakan dimulai ketika sudah melewati resort TNGGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango). Awalnya semua anggota ekspedisi masih bersemangat. Apalagi begitu menemukan Telaga Biru. Telaga kecil hari itu menjelang siang berwarna hijau. Konon, sesekali airnya akan menjadi biru. Semua menyempatkan mengambil foto dengan kamera digital.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan. Tim terpisah menjadi dua kelompok kecil. Di depan ada aku, Meida, Bram, dan Hero. Sementara Fahri yang punya pengalaman mendaki menemani Tungku dan Rifda di belakang kami. Kemungkinan tersesat kecil sekali karena track relatif bagus, bersih, meski kadang pohon besar melintang di tengah jalan.

Aku jadi bersemangat sekali karena ada Meida. Ini saat yang tepat untuk mengungkapkan isi hatiku. Ia pun tampak menikmati perjalanan. Fisiknya tidak bisa dianggap enteng. Membuatku salut.

“Gue perkirakan menjelang magrib kita akan sampai di Kandang Badak. Tidak mungkin meneruskan perjalanan ke Gede,” jelasku pada Meida. Ia berada di depanku, mencari celah-celah batu yang pas menjadi pijakan.

“Kenapa? Gue sering dengar pendakian malam hal yang biasa.”

Aku menjelaskan pertimbanganku. Kondisi kami sudah cukup lelah. Sementara beban berat di carier masing-masing harus tetap dibawa. Dengan suhu di bawah 00 C semua pasti kedinginan, susah untuk mendirikan tenda di puncak gede. Dalam keadaan lapar dan lelah pula. Itu pun kalau sampai.

“Di Kandang Badak kita bisa mendirikan tenda. Masak, istirahat dan tidur. Pukul tiga menjelang subuh kita lanjutkan perjalanan tanpa membawa beban. Kita bisa menitipkan tenda dan barang-barang pada pendaki lain. Mudah-mudahan sempat melihat sunrise.”

“Wah, aku setuju saja. Nanti bicarakan dengan teman-teman.” Meida mengerti penjelasanku.

Perjalanan terus berlanjut. Kami baru bertemu kembali dengan kelompok Fahri di kawasan Air Panas. Di sisi kiri air panas jatuh membentuk air terjun melewati batu cadas yang beruap. Kepulan asap seperti air yang baru saja mendidih. Di sisi kanan jurang terjal membangun kengerian. Di antara kedua sisi itulah pendaki melewati track. Aku sempat ingin membantu Meida, tapi urung. Berpegangan pada tali yang disediakan pengelola TNGGP, dia sukses melewatinya.

Begitu tiba di Kandang Badak, jam menunjukkan pukul lima sore. Semua sepakat dengan usulku. Kami mendirikan tenda di areal hutan mendatar yang luas. Beberapa tenda pendaki lain terlihat rapi, yang lain sedang sibuk mendirikan tenda. Aku menyalakan nasting sementara yang lain mendirikan tenda. Meida ikut membantuku. Menu apa adanya, internet alias indomie, telur, dan kornet tetap menjadi andalan. Kuberikan segelas susu hangat untuk Meida.

Dia menerimanya, “Makasih, Din.” Setelah tenda selesai, semua bergabung. Menikmati makan malam di tengah hutan dalam cuaca yang gelap ini. Hanya headlamp dan senter yang menjadi penerang.

“Sebaiknya kita istirahat. Tidurlah senyaman mungkin. Pukul tiga semua sudah sudah harus siap, karena target kita mencapai Puncak Gede sebelum sunrise,” kataku memberi intruksi. Teman-teman mengangguk. Semua masuk ke tenda. Aku dan Bram masih di luar ketika kulihat Meida menapakkan tangannya ke tanah. Meniupnya sebentar, lalu mengusapkannya ke muka. Kutanya Bram “Kenapa dia?”

“Tayyamum, sholat. Sana lo nyusul sholat biar perjalanan kita berkah.” Bram menggoda.
Aku melongo. Oh...!
***
Derap langkah pelan tapi mantap menyusuri jalan setapak menanjak. Tanjakan setan! Medan yang paling berbahaya telah sukses kami lewati. Kemiringannya nyaris mencapai 20 derajat. Namun dengan bantuan tambang, semua bisa melewatinya. Malam masih gelap. Kulihat Meida masih bersemangat, meski terlihat sedikit lelah.

Dan tibalah waktu itu. Tujuan pendakian Ekspedisi Tujuh.

Dan tibalah waktuku jua. Mudah-mudahan. Tempat aku mengungkapkan cinta...

Rifda, cewek kedua selain Meida berteriak, “Wow, ini benar-benar keren. Menakjubkan...”

Teman yang lain berteriak tak kalah girangnya. Kulihat Tungku sujud. Mungkin itu yang disebut sujud syukur, hahaha... Puncak Gunung Gede telah kami taklukkan. Di sebelah kiri terlihat Gunung Pangrango menyaingi kemegahan gunung tempat kami berdiri sekarang. Kawah berasap pekat mengepul membumbung ke atas. Kokoh sekaligus magis. Gede dan Pangrango selalu berdampingan, terpisahkan hutan belukar.

Langit merona mega menyemburatkan keindahan. Lukisan alam maha daya yang benar-benar membumi. Matahari bersinar lembut, kuning emas dengan semburat merah mengintip di garis horison. Perlahan nanti akan membesar, menjadi bola pijar raksasa. Sunrise selalu terjadi pada matahari yang sama. Setiap hari. Tapi kekaguman terus membatin setiap kali menikmatinya.

Aku memutar pandangan. Di mana gadis itu? Mataku kemudian menangkap sosoknya. Duduk di batu besar menatap dinding-dinding terjal puncak Gede yang menganga lebar. Seakan-akan akan menelan bayangan menyendiri itu.

“Boleh aku duduk di sini?” Meida membuka sedikit tangannya, isyarat mempersilakan.

“Bagaimana, indah?”

“Sangat. Ini membuat kita semakin dekat...”

Aku terhenyak. Semakin dekat...? Apa maksudnya?

“Pada Tuhan...” ujarnya meneruskan.

Oh... Aku menelan ludah.

Aku mencoba mengangkat kata, “Gue pikir juga bisa mendekatkan kita sebagai sepasang kekasih.” Aku mengucapkan kata itu tanpa tedeng aling-aling.

Meida menoleh padaku. Aku memandangnya penuh keseriusan.

“Hahaha... Dasar lo playboy.” Dia meninju bahuku pelan. “Baru saja gue bilang cinta Tuhan lo langsung ngungkap ke gue. Lo cinta gue, benar-benar mengharap cinta gue?”

Meida berdiri. Pun aku.

“Iya. Aku jatuh cinta sejak pertama kali melihatmu. Cintaku Se-Gede Pangrango ini yang menjadi saksinya.”
“Dino, Dinoo... ! Lo boleh mencintai gue. Tapi gue minta beberapa hal sebelum itu.”

“Apa?”

“Lo cintai dulu Tuhan. Gue nggak pernah liat lo sholat sepanjang pendakian. Lo cintai dulu orangtua lo. Gue sedikit banyak tau sikap lo ke orangtua lo dari Tika. Adik lo itu sahabat gue. Lo bisa mempraktikkan cinta untuk dua hal itu, baru gue yakin lo cinta gue.”

Aku diam mematung. Tiba-tiba dingin puncak gede tak bisa membendung keringatku.

“Tuhan? Orangtua?”

“Iya. Tuhan di atas sana dan orang tuamu. Sanggup?” Meida berlalu meninggalkanku yang masih berdiri bengong.

Aku merutuk diri sendiri. Aduuh...! Ini pasti gara-gara si Tika si comel, kenapa aku tidak tahu Meida adalah sahabatnya.

Kepalaku berdenyut-denyut. Cinta Tuhan. Cinta orang tua. Cinta Meida...

Sekarang aku benar-benar mencintai Meida. Benar-benar cinta! Tapi bagaimana mengungkapkan cinta yang ia pinta, sebagai syarat sebelum mencintainya tadi.


Aku ingin turun gunung. Cepat-cepat aku mencari sahabatku yang alimnya tak luntur-luntur. Tungku! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hayuk-hayuk, kumen di sini biar saya tahu respon Anda di sajian ala kadar KecekAmbo, ukeh, ukeh... :-D

Bonusnya, ntar saya balik silaturahim, Insya Allah... ;-)