tentang

Jumat, Juli 13, 2012

Bukan Super Robot

Dimuat di Majalah Ummi, edisi Juli 2012 

Zaidan mengucek matanya sambil keluar dari kamar, ketika Bunda mengetuk pintu. “Waktunya les matematika lho, tidak lupa kan?”
Zaidan menggeleng, lalu menguap sambil menahan kantuk, “hoaamm….”
“Bunda,  Zaidan malas les hari ini. Zaidan mau tidur lagi,” katanya lemas. Tak biasanya Zaidan mengeluh. Padahal Om Akbar, guru lesnya sudah di ruang tamu.
“Kasian Om Akbar, dong. Dia sudah menunggu dari tadi.”
“Hah? Jadi Om Akbar sudah datang? Zaidan tidak jadi malas, Zaidan wudhu’ saja biar tak mengantuk,” ujarnya terkejut. Buru-buru ia ke kamar mandi. Bunda tersenyum saja.
Zaidan sekarang kelas 4 SD. Usai sekolah, dia mengikuti banyak kegiatan. Hari Senin, Rabu, dan Jum’at les Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Hari Selasa latihan karate, belum lagi les renang Minggu pagi. Kamis dan Sabtu pun  Zaidan masih harus les musik, karena dia ingin sekali bisa bernyanyi dan memainkan biola. Les-les itu sebenarnya kemauan Zaidan sendiri. Bunda hanya memberikan pilihan dan mendaftarkan.
“Huh, kapan aku bersantai kalau begini?” keluh Zaidan begitu Om Akbar pulang. Dia ingin sekali bermain pIay station, tapi karena selepas Magrib harus belajar mengaji dengan Bunda, Zaidan mengurungkan niatnya. Lebih baik mandi, karena sejak tadi belum Shalat Ashar. “Keburu habis waktunya,” pikir Zaidan. Nasehat Ayah, shalat menandakan seseorang masih beragama Islam. Hihh, seram sekali kalau dirinya dijuluki bukan orang Islam.
Sekarang Zaidan sudah selesai shalat, tapi kantuk yang menyerang membuatnya tak bisa bertahan melek. Alhasil, dia pun tertidur di atas sajadah.
***
Zaidan baru saja keluar dari sekolah. Dia merasa capek dan haus sekali. Bukannya mengambil botol minuman di tas, Zaidan memencet tombol di jam tangannya. Seketika dia tak merasa haus dan capek. Kakinya segera meluncur seperti ada roda yang menempel. Tidak begitu lama dia sudah berada di rumah.
Zaidan tak melihat Bunda di rumah. Dia pun menyetel televisi yang menampilkan musik dengan suara keras. Anak lelaki itu berjingkrak-jingkrak senang. Tak terasa, waktu menunjukkan jam 16.00 WIB. Zaidan belum makan sama sekali, tapi tak merasa lapar. Kok? Dia telah menekan tombol ‘charge energy’ di jam tangan, kekuatannya pulih.
Saat mengaji usai Magrib, Bunda dibuat heran. Zaidan lancar sekali mengaji, bahkan seperti sudah hapal semua surat pendek. “Lho, kok Zaidan hari ini pintar mangaji? Subhanallah,” puji Bunda. Dia pun tertawa dalam hati, dia telah membuka memori ‘mengaji” di jam tangan andalan.
Besoknya Zaidan latihan renang. Apa yang terjadi? Lagi-lagi Zaidan berenang gaya kodok dengan mahir. Bahkan dia mengalahkan Faisal, Ridho, dan Fadlan yang mengikuti les renang jauh lebih dulu.
 “Kamu kok sekarang kuat sekali? Pasti latihan renang di luar juga ya, Zaidan?” tanya Ridho. Zaidan hanya tertawa. “Nggak kok, aku memang hebat dan calon perenang handal. Hehehe… Zaidan dilawan,” jawabnya bangga. Lagi-lagi hatinya berseru, “tentu saja aku hebat di segala bidang. Aku kan si super robot.”
Teman-temannya melotot kagum tidak percaya. Tepat saat itulah adzan Magrib berkumandang. Zaidan tiba-tiba terbangun. Oaalah… ternyata Zaidan hanya bermimpi. Bukan super robot seperti di film.
***
Pagi itu Zaidan menikmati sarapan roti lapis selai strowberry . Segelas susu dihabiskannya. Sementara Ayah sudah berangkat duluan karena ada persiapan kunjungan kantor pusat. “Jangan lupa, hari ini les Bahasa Inggris ya. Ulangan Zaidan minggu lalu kan belum bagus. Jadi Tante Nisa akan membantu kesulitan Zaidan,” ujar Bunda.
Zaidan panik. Pulang sekolah nanti dia ingin ke rumah Afif, teman les musiknya. Afif berjanji akan memperlihatkan biola barunya. Ingin sekali Zaidan melihatnya, karena kata Afif biola itu dipesan dari teman papanya di luar negeri. “Tapi Bunda, Zaidan sudah janji ke rumah Afif.” Dia pun menceritakan rencananya.
 “Yah, bagaimana dong? Kan Zaidan sendiri yang mau jago Bahasa Inggris, jadi diplomat. Lagi pula, hari ini memang jadwal les Bahasa Inggris lho.” Mendengar kata Bunda, Zaidan jadi teringat mimpinya.
“Zaidan bukan super robot, Bunda! Capek les ini itu. Zaidan mau main musik saja.”
Bunda pun tertawa kecil, berdiri, dan duduk di samping Zaidan. “Yang bilang Zaidan robot siapa? Ya sudah, kalau sedang bosan, nanti Bunda telpon Tante Nisa supaya lesnya ditunda.”
“Horeee… Bunda baik banget. Terimakasih, Bunda!” seru Zaidan. Terbayang hari ini akan menyenangkan main ke rumah Afif.
***
Sesuai rencana, Zaidan ke rumah Afif. Ternyata biola dari Italia itu indah sekali. Suaranya pun halus ketika Afif mempersilakan dia mencobanya. Zaidan benar-benar terpesona. “Wah, seandainya Ayah bisa membelikanku juga. Kamu beruntung sekali, Fif,” sahut Zaidan.
Afif tersenyum masam. Sebenarnya dia tak begitu mengharapkan biola itu, karena koleksi biolanya lebih dari cukup. Dia hanya ingin punya mama yang ada di rumah, seperti Bunda Afif. “Aku jarang sekali ketemu Mama. Apalagi papa yang super sibuk. Jadi ya terpaksa, supaya tidak kesepian aku disuruh les setiap hari. Bosan, aku kan bukan super robot,” jelas Afif kesal.
Hah? Zaidan terkejut. Afif mengeluhkan hal yang sama, bukan super robot. Bedanya ia mengikuti banyak les karena pilihan sendiri. Dia ingin jadi diplomat, piawai bermain musik, menjadi juara, dan sehat dengan olahraga. Bunda pun perhatian dan senantiasa mengingatkan jadwal hariannya. “Hehm… Jadi aku lebih beruntung dari Afif. Kasian sekali dia,” ujar Zaidan dalam hati.
Ketika pulang ke rumah, Zaidan pun langsung menemui Bunda. Dia memeluk Bunda. “Terimakasih ya, Bunda perhatian banget dengan kegiatanku,” ucapnya tulus. Bunda pun bingung, tapi segera mengerti setelah Zaidan bercerita.
“Oh, jadi begitu? Doakan saja biar Afif bisa sabar. Lalu orangtuanya bisa sadar untuk menyediakan waktu buat Afif.”
“Iya, Bunda. Afif sebenarnya anak yang baik.”
“Nah, sekarang bagaimana dengan setumpuk jadwal les Zaidan? Anak Bunda bukan super robot, kan?”
Zaidan pun tertawa. Lalu tertunduk malu. “Iya sih Bun, kadang-kadang capek. Tapi Zaidan sehat karena ada les karate dan renang, jadi capeknya hilang.”
Bunda tersenyum senang. Beliau berkata bijaksana, “Benar nih? Bunda sudah memikirkan, Zaidan boleh kok menghilangkan beberapa jadwal les. Zaidan pasti lebih tahu mana yang harus didahulukan. Jadi bisa tetap bermain atau bersantai.”
Zaidan jadi bingung dengan tawaran Bunda. Dia benar-benar tak ingin melepaskan satu pun jadwal lesnya. Hanya saja, dia mengingat betapa enaknya bisa bermain play station atau kelereng bersama Doni, tetangga sebelah.
“Nanti deh, tunggu Ayah pulang untuk minta pendapat. Ayah pasti tahu, Zaidan bukan super robot Bunda,” jawab Zaidan mantap.
Bunda dan Zaidan pun tertawa bersama. Hari itu benar-benar menyenangkan.[]

2 komentar:

  1. Suko baco novel anak, cerita anak, pengen nulis sesimpel2 ini...tapi tak sesimpel yang dibayangkan ternyata.

    BalasHapus
  2. Simpel kok Ling, makin banyak baco makin tau lah kito, semua diangkat dari keseharian. Tinggal ambil, membahasakannya dengan runtun dan baik, taraaa...jadilah cerita.

    Ini jugo cerpen pertama. Hayuu, belajar.

    BalasHapus

Hayuk-hayuk, kumen di sini biar saya tahu respon Anda di sajian ala kadar KecekAmbo, ukeh, ukeh... :-D

Bonusnya, ntar saya balik silaturahim, Insya Allah... ;-)