Jumat, Juli 13, 2012

Betsy

Dimuat di Majalah Esquire, edisi Juli 2012

Betsy telah menjadi satu anggota keluarga yang menyenangkan bagi Mrs. Dawson. Setidaknya ia mempunyai teman ngobrol sekarang setelah Mr. Dawson meninggal dua tahun yang lalu. Persis bersamaan dengan putranya memutuskan untuk menerima tawaran bekerja sebagai bankir di perusahaan perbankan bonafide di New York. Jarak bermil-mil antara negara bagian yang menjadi tempat tinggal keluarga mereka, Nevada dengan New York tentu saja membuat Josh memilih tinggal di New York. Di apartemen dua kamar yang nyaman, tepat di pusat kota, di antara jajaran pencakar langit.
      Rumah cantik yang berdiri kokoh itu bergetar, ketika seorang perempuan berteriak menggelegar. Betsy terlalu sering menghilang beberapa waktu jika luput dari perhatiannya.
        “Betsy…Where are you? Honey…!” teriaknya lantang sambil tergopoh-gopoh. Dasar makhluk nakal! Betsy selalu membuat ulah dengan merepotkan wanita tua sepertinya untuk selalu mencari di setiap sudut ruangan. Mengobok-obok setiap lemari, tempat tidur, keranjang, atau sofa. Kadang-kadang ia akan muncul  tiba-tiba tanpa merasa bersalah. Mrs. Dawson akan tersenyum serta memukul lembut Betsy dengan sayangnya.
      “Ke mana saja kau meninggalkang Grandma, Betsy? Apa tidak ada waktu untukku sekadar memelukmu dengan hangat,” ujarnya dengan penuh perasaan.
            “Guk…guk…guk…!”
           Mrs. Dawson riang tersaput respon Betsy, “Nah, begitu kau harus belajar untuk memahami grandma yang rapuh ini”
***
            Selalu saja ada kerinduan pada Josh bagi Mrs. Dawson ketika melihat Betsy. Mereka sosok yang berbeda namun mampu mengisi dua ruang yang ia tempatkan di hatinya. Satu untuk Josh dan satu untuk Betsy.
           “Mom, don’t worry! Saya akan selalu mengunjungimu sewaktu-waktu, janji Josh ketika selesai pemakaman daddy. Saat-saat di mana pemuda berambut pirang kemerahan itu mengetahui galau hati sang ibu. Tentu saja mom akan disergap rasa sepi dalam menjalani hari-hari tuanya, pikir Josh waktu itu.
           “Adakah sosok yang mampu menggantikan orang-orang tercinta untuk beberapa saat ketika mom sendiri, Josh…” keluh wanita tua itu lebih kepada pengharapan. Sesuatu berupa keajaiban yang membantu membuat lengkap hari-harinya. Sejak kematian suaminya ia selalu merasa akan mengalami kesendirian. Tanpa siapa pun lagi.
Josh tersedu! Ia tidak tahu harus memberikan apa untuk ibunya. Pemuda itu tak mempunyai alternatif lain untuk ditempuh, membatalkan kontrak kerja sebagai bankir misalnya. Ia telah bertekad untuk menjadi seorang profesional yang handal dalam perbankan. Kontrak kerja itu menjawab keinginannya dan menuntut ia berkorban.
Terkadang terpikir juga oleh Josh ibunya mungkin terlalu kolokan. Ditepisnya pikiran itu jauh-jauh. Bagaimana pun ia masih menghargai keinginan mom. Tidak semua kemandirian harus dibuktikan dengan tinggal sendiri di apartemen seperti kebanyakan anak-anak Amerika, padahal mereka berada di kota yang sama. Josh menilai kemandiriannya lebih kepada bukti cinta yang selalu hadir bersama orang tuanya. Buktinya sekarang cinta ibunyalah yang membuat ia mampu menyelesaikan college, terhindar dari narkoba maupun alkohol. Ia harus berbuat sesuatu ketika ia telah tinggal di apartemen sendiri nantinya. “Ah, Mom…” desisnya dalam hati.
      Sore yang bersahabat mengantarkan mom pada kebahagian yang membuncah. Apalagi Josh memberikan satu anggota keluarga baru yang cantik. Satu hal yang sangat Josh perhatikan, ternyata Betsy tidak hanya cantik dan  lucu. Anjing mungil itu termasuk cerdas, kalau boleh Josh ingin menyebutnya terpelajar, he-he-he…
Ia bersusah payah mencari Betsy karena ingin mom selalu ingat dirinya. Setidaknya Betsy berprilaku baik karena tidak membuang kotoran sembarangan, tidak suka merusak perabot, dan mudah untuk diajak berkomunikasi menuruti kehendak empunya. Pilihannya pernah jatuh pada Bruno, anjing itu memang gagah dengan kulit hitam mengkilat. Tapi ia mengurungkan niatnya agar menemani Mrs. Dawson. Mom sepertinya lebih cocok jika memiliki teman yang lembut namun lincah karena pandai menyenangkan majikan. Toh, ia memberikan ibunya binatang kesayangan bukan untuk menjaga keamanan.
          “Guk…guk…guk…!” ketika Betsy pertama kali melihat Mrs. Dawson. Salam perkenalan yang manis. Telinganya yang panjang bergerak-gerak lucu. Paduan warna hitam sebagai bercak di bulu putihnya persis Dalmatians, tokoh kartun yang memesona jutaan pecandu animasi.
       Betsy melompat dari dekapan Josh. Berlari-lari mengitari Mrs. Dawson. Kemudian ia mulai menggonggong lembut mengajak bercanda dan bermain.
“Sepertinya taman mawar dan rumput di depan rumah cocok untuk kita anjing kecil.” Ajak Mrs. Dawson.
It’s name Betsy! Mom…!” teriak Josh. Josh terlihat senang dengan awal perkenalan yang berkesan dan membahagiakan ibunya.
Mom, Betsy sebelumnya milik Eve. Teman kuliah yang sering kuceritakan memiliki banyak pets. Betsy adalah anjing terbaiknya dan ia beri khusus untuk mengusir sepi Mom. That’s dog verry beautiful and smart. Mom pasti menyukainya…”
Mata Mrs. Dawson berkaca-kaca, “Sesempurna apapun Betsy, kamu lebih menarik hati Mom, Josh,” ungkap Mom tulus. Ia memandang mata di wajah tampan Josh dengan lembut. Ada haru yang menjalari jiwa lelaki muda tersebut. Kedua ibu dan anak itu berpelukan hangat. Josh meraskan getaran-getaran itu.  Cinta Josh semakin menguat, penuh berlimpah pada ibunya.
***
            Mrs. Dawson kali ini benar-benar resah. Didekapnya Betsy benar-benar erat sambil bersandar malas di sofa. Betsy menatap sendu grandma, begitu Mrs. Dawson sering menyebut dirinya jika sedang berbicara dengan Betsy.
            “Apakah kau tahu kabarnya, Betsy? Sudah beberapa pekan ini dia tak pernah menghubungi kita. Ah, ada apa sebenarnya…?” curhat Mrs. Dawson. “Sayang kau hanya anjing mungil yang tidak terlalu melibatkan perasaan, pikir wanita tua yang kian beruban itu. 
            Ia mengulang lagi keluhannya melihat Betsy menggeleng-geleng. Entah gelengan mengerti atau gerak biasa. Mrs. Dawson senang dengan responnya.
 “Josh. Terlalu sibukkah kau hingga tak sempat melihat email mom yang bertumpuk-tumpuk untukmu,” ujarnya pasrah. Hanya keluhan pada Betsy yang mampu ia ucapkan. Entah beberapa lama sudah komunikasi mereka terputus sama sekali. Tidak ada dering telepon di sudut kamar, ponsel Josh pun tidak aktif.
           Sedetik kemudian ia beranjak bangkit, “Baiklah, Honey, kau saja yang kupenuhi cinta kini. Sepertinya kita harus segera membeli makananmu yang habis.” Mrs. Dawson berencana berjalan-jalan mengelilingi kompleks sembari membeli makanan Betsy.
            Dengan tertatih-tatih ia berjalan. Tujuannya toko di seberang sana yang menjual fooder untuk Betsy. Anjing manis yang kian dekat dengan perempuan renta itu. Pikiran Mrs. Dawson masih mengembara pada langit biru musim semi ini. Di antara bayang-bayang nasibnya yang terhempas. Sosok perempuan tua bersama anak yang mapan dan entah sedang berpikir apa mengenai ibunya saat-saat seperti ini.  Tepat di depan pintu masuk toko ia terperanjat.
            “Brukh…!” tubrukan yang tak terduga. Betsy terjatuh, Mrs. Dawson berusaha meraihnya. Namun sekali lagi ia terlambat. Barang bawaan lelaki muda itu jatuh tepat mengenai Betsy.
            Mrs. Dawson terpekik, “Oh, My Good…! Betsy!”
           Lelaki yang menjatuhkan barangnya di tubuh Betsy tak kalah terkejut. “Sorry,  Mrs. Kita akan segera membawanya pada ayahku. My father is a docter.” Lelaki muda itu segera meminjam keranjang kepada pelayan toko, meletakkan Betsy yang sepertinya mengalami patah tulang akibat benda yang cukup keras itu.
            Mrs. Dawson bingung. Tapi diturutinya juga langkah tergesa-gesa penubruk Betsy tadi.
           “Di mana rumah Anda, Nyonya? Saya akan mengantar anjing kecil ini jika ia telah sembuh nanti. Sepertinya mesti beberapa hari ia dalam perawatan. Maaf, saya  sangat teledor tadi.” Ia berkata beruntun sambil menyetir mobil dengan cepat.
           Mrs. Dawson cemas, “Tidak apa-apa. Apakah harus begitu? Saya sangat memerlukan kehadiran Betsy di rumah. Oh ya, rumahku di blok tengah kompeks ini, dekat.”
         “Kebetulan sekali! Ternyata kita bertetangga karena saya berada di ujung jalan itu. My name is Reinhard, Reinhard Priyanto.” Jawab pemuda itu terdengar senang.
            Mereka sampai di rumah anak muda yang bernama Reinhard itu. Beruntung sekali, ayah Reinhard sedang ada di rumah. Beliau mengobati Betsy dengan sigap dan sabar. Ramah ia berujar, “Maafkan putra saya Mrs….”
           “Mrs. Dawson!” sambung pemilik anjing mungil itu. “Tidak apa-apa. Saya juga terlalu larut dalam lamunan tadi, sehingga tidak melihat Reinhard. Anak baik ini tidak sepenuhnya salah.” Ia mengatakan hal itu sembari melirik anak sang dokter hewan.
           “Begitulah putra saya. Ia sering terburu-buru jika melakukan sesuatu. Anda tidak perlu khawatir Nyonya, anjing manis ini akan segera pulih. Hanya perlu menggantikan perbannya setiap pagi. Tentu saja jangan lupa obat yang bisa Anda campurkan di dalam makanannya.”
            Mrs. Dawson lega, “Thanks, padahal saya sempat cemas ketika Reinhard mengatakan Betsy harus menginap beberapa hari.”
          “Saya melihat benda yang menubruknya cukup keras, Dad…makanya saya juga sangat khawatir. Tetapi Dad lebih tahu ternyata,” elak Reinhard.
            “Tidak apa-apa…seperti yang saya katakan tadi. Bagaimana jika Anda menghirup teh sejenak menghilangkan kecemasan Anda?”
            “Oh, terimakasih, Anda sungguh baik, Dokter!”
          Ayah Reinhard segera menyuruh anaknya untuk memberitahukan agar sang ibu membuat teh untuk tamu mereka. Reinhard segera beranjak menuju dapur.
            “Anda seorang dokter hewan, tapi saya tidak melihat seekor pun anjing di dalam rumah ini?” tanya Mrs. Dawson bingung.
            “Oh, itu karena keluarga kami moslem, jadi kurang baik bagi kami memiliki binatang kesayangan anjing.
           “Hmm, betul. Saya lupa. Nama belakang Priyanto saja menunjukkan demikian. Apakah Anda imigran dari Indonesia yang berpenduduk muslim banyak seperti sering saya baca? Mengapa anjing tidak boleh ada dirumah? Kalau boleh saya tahu” Mrs. Dawson bertanya sopan. Semua orang menyukai anjing dengan karakter lucu, manis, dan jinak mereka.
          Dokter itu menjelaskan bagaimana pandangan agamanya. Tidak ada larangan untuk memelihara anjing. Namun jika sampai menjadi seekor pet, tentu saja mereka tidak bisa menghindari najis. Mrs. Dawson mengangguk paham.
       Reinhard menghampiri ayahnya dan tamu mereka, “Mrs. Dawson, saya juga punya binatang kesayangan. Ia cantik bukan? Namanya Dora. This is angora cat”.  Reinhard memperlihatkan kucing belangnya pada Mrs. Dawson.
            “Ya, ya…Ia benar-benar memukau. Mungkin suatu saat saya akan memelihara kucing juga.” Mrs. Dawson tersenyum gemas melihat kucing itu. Ia menyentuhnya lembut. Kucing Reinhard ternyata sangat cantik. Bermata tajam dengan warna bak pualam.
            “Mungkin dua bulan lagi Dora akan memiliki anak, karena ia akan segera melahirkan. Anda dapat memilikinya jika mau, datang saja ke sini nanti.” Tawar Reinhard melihat antusiasnya Mrs. Dawson.
            “Thanks, Reinhard. Saya pasti datang jika menginginkannya. Bagi saya Betsy adalah pengganti Josh. Ya, walaupun tidak lucu kedengarannya seekor anjing mampu mengobati kerinduan seorang ibu pada anaknya.” Mrs. Dawson menerawang.
 “Josh menggantikan kesepian saya ketika ia tinggal di kota lain  dengan seekor anjing. Saya senang, meski lama-lama seperti ironi bukan? Tapi saya paham sebenarnya ia mencintai his mom.”
            “Maafkan saya membuka kesedihan anda. Tetapi anda bisa berbincang dengan istri saya jika ingin sekadar ngobrol. Kebetulan sekali ia adalah ibu rumah tangga yang banyak memiliki waktu senggang.”
            “Tentu saya akan menyukai hal itu nanti. By the way mana istri anda? Saya tak melihatnya dari tadi.”
            Dari dapur nampak seorang perempuan membawa nampan berisi teh dan setoples makanan ringan. “Ya, saya sangat senang jika kita bisa berbincang banyak hal Mrs. Dawson” Rupanya ia mendengar pembicaraan terakhir suaminya tadi. Lagipula Reinhard telah memberitahu nama tamu mereka.
            Mereka berbincang banyak hal. Mrs. Dawson merasa senang mengenal keluarga Amerika yang merupakan imigran Indonesia tersebut. Mereka sangat tulus dan bersahabat. Melihat Reinhard, ia teringat Josh ketika masih kuliah dulu. Anak muda yang penuh semangat dan enerjik. Tiba-tiba ia menginginkan Josh pulang dan memeluknya.
            Dengan diantar Reinhard Mrs. Dawson pulang membawa Betsy. Ia berharap Betsy segera sembuh dan kembali membawa keriangan. Rasanya tak mungkin membawa Betsy berjalan-jalan mengitari kompleks dalam keadaan sakit. Kadangkala ia juga menemui teman-teman sesama pemilik anjing di sebuah klub pecinta anjing. Betsy senang sekali bertemu dan bermain dengan anjing-anjing lainnya.
          Perlahan-lahan kesehatan Betsy kian membaik. Mrs. Dawson merawat dan mengobati lukanya dengan cermat.
  Namun, Josh… anak itu keterlaluan sekali. Baru sekali itu Mrs. Dawson memaki anaknya, meskipun dari jarak yang berjauhan. Sewaktu ia menelpon ibunya setelah berbulan-bulan tak memberi kabar ia hanya menanyakan Betsy. Dirinya membatin, “Mungkin ketuaan telah membuat perempuan ini terlalu sentimentil?”
 “Apakah mom tidak terlalu penting Josh? Hingga tak perlu kau cemaskan. Bahkan kau hanya berpesan agar menjaga Betsy dengan baik,” gerutunya. Ia tidak ingin menyatakan hal itu langsung kepada Josh. Tapi ia ingat persis pembicaraannya dengan Josh beberapa minggu lalu.
            Josh bertanya, “Mom, bagaimana keadaan Betsy? Apakah ia baik-baik saja? Kenapa Mom tidak memberitahukanku cepat-cepat.”
          “Tak perlu cemas Josh, Mom telah merawat Betsy dengan baik hampir setahun.” Jawab ibunya seperti sebuah  sindiran tajam. Ia berharap Josh bertanya kabar dirinya dan sedikit bercerita banyak hal tentang pekerjaan dan kehidupan barunya.
         Josh malah menutup pembicaraan, “Okey, Mom. Aku sedang sibuk! Beberapa temanku sedang bertamu. Aku akan menghubungi Mom lagi nanti.”
            Mrs. Dawson kecewa. Ditatapnya Betsy yang sedang tertidur lelap dipangkuannya. Josh tak pernah menghubunginya lagi hingga detik ini.
***
            Betsy hilang. Mrs. Dawson benar-benar kelimpungan. Sudah dua hari anjing putih berbercak hitam itu tidak diketahui keberadaannya. Mrs. Dawson tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya. Meski pun Betsy seekor anjing, tidak mudah ia menggantikannya dengan anjing lain. Cukup Josh yang hilang, walau pada kenyataannya anak lelakinya itu masih ada.
          Ia berjalan mengitari setiap rumah yang terlewati. Pendengarannya coba dipertajam. Terakhir ia melihat Betsy ada di halaman rumah keluarga Wilson yang selalu sepi. Waktu itu Betsy masih sempat memanjat pagar kayu rendah yang berwarna putih di rumah tetangganya tersebut.
             Ia ingin bertanya kepada keluarga di seberang rumahnya, rumah Mr. Wilson. Tapi ia terkejut karena tiba-tiba Betsy berlari diikuti seorang gadis kecil.
            “Stop, stop…!Dalmatians, tunggu saya!”
            Betsy melompat kearah Mrs. Dawson yang membentangkan tangannya.
          “Kenapa gadis kecil, kau memanggilnya Dalmatians?” tanya pemilik Betsy yang asli itu bingung. Ia mengelus sayang Betsy yang bergelayut manja di pelukannya.
            “Ia telah menemaniku, aku membutuhkannya Nyonya. Berikan ia padaku! Dal sangat lucu.” Tampak sekali ia memelas dengan dibuat-buat. Mungkin gadis kecil itu berpikir dapat membuat iba wanita tua di depannya. 
             Mrs. Dawson tersenyum, “Mengapa kau sangat menginginkannya, anak manis?”
     "Aku tidak memiliki teman. Mom and dad terlalu sibuk untuk menemaniku di rumah,” ia mengungkapkannya dengan polos. Penuh harap menatap Betsy dan Mrs. Dawson bergantian.
            “Kau memberi namanya Dalmatians?” tanya Mrs. Dawson. Gadis kecil itu mengangguk.
“Nama yang bagus, bagaimana jika Betsy Dals saja? Dan anjing ini menjadi milikmu,” tawarnya
         “Benarkah? Anda sungguh baik hati,” ia menjawab girang. “Guk, guk, guk…” Betsy menyalak. Sepertinya Betsy riang disambut gadis kecil itu.
          Mrs. Dawson melihat potret dirinya di mata gadis kecil pirang itu. Sudah saatnya ia memberikan kebahagiaan untuk orang yang bernasib sama sepertinya. Dan Mrs. Dawson cukup bahagia dengan perbuatannya menyerahkan Betsy.
 Besok mungkin akan dipeliharanya kucing untuk menumpahkan perhatiannya. Harapan yang acapkali tak memiliki tempat berlabuh. Tawaran Reinhard kemarin patut dipertimbangkan. Dalam pengamatannya, Reinhard begitu menyukai pertemanan dengan kucing. Mungkin juga dirinya nanti seperti itu.[]

3 komentar:

  1. keren cerpennya kak....

    BalasHapus
  2. I feel like i read a translation short story :)

    it's good since you wrote it with US setting

    congratulation ^_^

    BalasHapus
  3. Thanks Aini, salam :-)

    Lingga: Masih berasa settingnya kurang sebenarnya, mau yang lebih detail.

    Bagaimana mulai dengan membuat setting di Arizona ya? ;-)

    BalasHapus

Hayuk-hayuk, kumen di sini biar saya tahu respon Anda di sajian ala kadar KecekAmbo, ukeh, ukeh... :-D

Bonusnya, ntar saya balik silaturahim, Insya Allah... ;-)