tentang

Senin, Februari 06, 2012

Membahasakan Koruptor



Masyarakat mempertontonkan bahasa "menakjubkan" untuk menyebut koruptor, beserta kata-kata ikutan lain. Saya pikir ini pantas, karena setiap hari dari receh di kelurahan, ratusan ribu di dinas/suku dinas, hingga milyaran dan jutaan di kementrian masuk ke kantong koruptor dengan cara yang tidak bertanggungjawab. Bukan rahasia umum lagi, bahkan terang-benderang semua mengetahui. Birokrat, pengusaha, DPRD/DPR, menjadi tripartit biang koruptor, yang masih juga diamini oleh lembaga hukum (pemberantas korupsi itu sendiri). Capek kan hidup di Indonesia?

Oke, sekarang saya cuma mau ngeluarin unek-unek yang ngeganjal setelah mengikuti Angelina Sondakh alias Angie yang menjadi tersangka atas kasus wisma atlet. Semua orang, rakyat bilang maling, gantung, hukum mati, penjarah harta rakyat, lintah rakyat, dll... Untuk mengungkapkan (atau memaki?) siapapun yang terbelit kasus korupsi. Bagaimana dengan Angie? Saya kaget aja bagaimana infotainment membahasakan seorang tersangka koruptor (lepas dari dia belum terdakwa dan asas praduga tak bersalah) sangat kalem, sopan, penuh tepo seliro. Sementara selama ini kita berkoar-koar menghujat habis-habisan koruptor. Saking gemasnya, pelaku kriminal lain minta "dimaklumi" dan meminta aparat mengurus kasus yang lebih penting, lebih merusak, dan menyengsarakan rakyat. Luna Maya pernah menyatakan kira-kira,"Daripada menghukum Ariel, kenapa tidak menghukum koruptor yang berkeliaran bebas?" Pernyataan senada juga sering disampaikan beberapa pihak yang terjerat kasus yang dianggapnya tidak ada apa-apanya.

Di salah satu infotainmen teve swsta, soal si Angie ini, tidak ada redaksional kata-kata yang menghujat Angie, okelah, memang tidak pantas dihujat. Tidak ada juga kata-kata "menyesalkan", "disayangkan", "memprihatinkan", atau apapun sejenisnya yang mengambarkan bahwa dugaan prilaku korupsi yang dilakukan Angie benar-benar tidak pantas, melukai rakyat, merusak citra Puteri Indonesia dan yayasan, memalukan bangsa Indonesia yang bangga dan percaya Angie dibawah naungan demoktar jujur, sejujur iklan ANTI KORUPSI yang dibintanginya bersama Partai Demokrat. Alih-alih, infotainment hanya melempar kalimat-kalimat bersayap seakan-akan Angie mustahil alias tidak pernah korupsi. Penetapan tersangka hanyalah "cobaan", "ujian", "perjalanan hidup" yang harus dilewati dengan tabah, menuntut ketegaran, dan pasti ada penyelesaiannya. Apalagi dikait-kaitkan dengan kematian suaminya. Bertambah miris dia ditetapkan menjadi tersangka saat hendak umroh bersama putrinya. Lha, ini apa-apaan? Apa dengan semua ini, dia tidak pantas ditetapkan tersangka, meski bukti dan fakta dari KPK cukup buat menyeretnya? Dan saya mulai mual... Ini sudah bahasa yang tidak menempatkan pada konteksnya.

Satu yang ingin saya gariskan buat tersangka dan terpidana koruptor. Bukan cuma buat Angie, tapi juga buat sosialita tua, Nunun Nurbaeti, atau siapa pun... Menjadi pelaku kriminal dan ditetapkan statusnya bersalah oleh aparat itu bukan ujian dari Tuhan. Jangan berlindung di balik nama Tuhan untuk menyatakan "hasil" dari ulah Anda adalah ujian, cobaan, dan kata-kata lain yang bagi saya tidak lebih dari ngeles dan munafiknya si pelaku. Jika benar kita melakukan korupsi, Tuhan saja benci dan akan mengutuknya (terlepas dari pintu tobat yang selalu tersedia). Jawaban-jawaban semacam ini lah yang tidak saya temukan ketika infotainment menanyakan komentar selebritas lain seperti Maya Estianti mengomentari Angie yang menjadi tersangka di kali kedua keanggotaannya di DPR tersebut. Intinya, balik lagi ke ujian, bisa melewatinya dengan baik, semoga tegar,...

Oh, iya iya... Mereka artis. Dan saya pagi tadi itu menonton infotainment!

**Bahasa cermin seseorang menilai suatu hal. Bahasa juga alat untuk memengaruhi orang yang diajak berbahasa memberi nilai**

2 komentar:

  1. Masalahnya cuma pda persepsi dan kebingungan hati untuk melihat sesuatu hal. Kadang2 kita mencoba untuk menghargai diri sendiri lebih dari pada harga sesungguhnya menurut penilaian Tuhan. Ketika seorang "calon" koruptor menganggap dirinya berhasil alias sukses pada suatu pekerjaan, yang menurutnya nilainya adalah ratusan milyar atau mungkin trilyunan, dengan mengambil bbrp milyar toh wajar sebagai bonus. Dari titik inilah si "calon" tadi sudah menuju ke lubang "ex calon" memasuki lubang korupsi. Bingung dengan komen ini?

    BalasHapus
  2. Bingung banget Bro/Sis...

    Tolong disederhanakan, ahahaha

    BalasHapus

Hayuk-hayuk, kumen di sini biar saya tahu respon Anda di sajian ala kadar KecekAmbo, ukeh, ukeh... :-D

Bonusnya, ntar saya balik silaturahim, Insya Allah... ;-)