Senin, Mei 10, 2010

Jeruk Asem Pemberian yang Menjelma Dirinya





Malam itu, malam ke-21 pernikahanku dengan mojang Sukabumi. Dia mungil, manis, sekaligus membuatku enggan beranjak jika di dekatnya (ehm, syndrom pengantin baru kali ya, he-he-he....)

So, apa yang membuatku sampai kepikiran menulis sepanggal kisah yang masih akan membentang berjuta episode (sinetron stripping kale!) di waktu mendatang? Halah....

Pulang dari kantor, aku melihat beberapa butir jeruk yang alamak; kisut, kecil-kecil, dan sama sekali tak menggairahkan. Padahal jeruk salah satu buah favoritku, cuma liat penampilannya yang sekadarnya jadi males nyentuh. Kok My Honey tega banget beli jeruk begituan, pikirku dalam hati.

Jadi ingat pas belanja bulanan pertama di Careffour bareng dia. My Honey nanya, "Sayang, kamu kok gak ambil apa gitu, keperluanmu?"
Aku cuma menggeleng. Minyak rambut, shampoo, parfum, dll semuanya masih ada warisan jaman bujangan. Tapi, My God, kalau sendirian aku udah beli buah macam-macam biasanya. Budget buat buah biasanya lumayan sih kalo dulu. Bahkan kalau males makan aku mampir ke tokoh buah dekat kost, borong buah sebagai ganti makan malam, hohoho. Aku jadi curiga di biodata awal (hayoo, apa coba?) doi bilang suka buah, kenapa nggak inisiatif beli apel, jeruk, pir, pisang, jengkol... (eh, yang terakhir bukan buah ya?) Jadilah aku diam aja, sempat terhibur My Honey pengen es krim (aku juga kepengen he-he-he....). Tapi celingak-celinguk nggak ketemu, mana aku juga baru kali ini belanja di Careffour Depok. Es krim vanilla atau yang rasa buah Rp 2000-an kayak pelangi itu batal mampir di tenggorokan.

Nah, lanjut ke jeruk memprihatinkan tadi. Malam-malam aku liat my honey asyik ngupas jeruk yang entah ia beli di mana tadi. Aku sih udah memperkirakan jeruk itu asem dari penampilannya. Jeruk yang jaminan nggak asem itu jeruk medan, tapi kalo nggak beruntung dapat yang hambar atau manisnya nggak begitu. Jeruk yang pasti manis tapi aku biasanya nggak suka (karena jeruk impor) jeruk ponkam, kadang-kadang ada sensasi apa gitu yang "aneh". Kalo jeruk pontianak seger sih, kulitnya ijo, licin, tapi kadang asem kadang manis. Yang paling seger dan selalu manis sunkist, tapi repot makannya mesti pake pisau, sebelum pake mulut, whuakakaka.... Kulit sunkist tebal banget dan keras.

Begitu liat My Honey sibuk dengan jeruk-jeruknya, aku jadi nafsu juga. Tapi karena yakin asem nggak jadi ikut bergabung. Ngeri liat doi abis jeruk yang lumayan banyak itu.
"Itu jeruk apaan Say, manis?" Kataku sambil menelan liur, membayangkan asemnya.
"Asem...." My Honey menjawab santai, aku tambah heran. Asem ditelan juga. Kutanya kenapa diabisin, dia bilang asem-asem enak. Gubrakss....!

Penasaran, aku mengambil sesiung (benar gak sih istilahnya? dari tangannya.
"Hueksss... sumpah! Ini mah benar-benar jeruk asem." Jeruknya kubuang. Males.

My Honey cekikikan, tapi tetap asyik menikmati asemnya jeruk. Walah, belum hamil aja doyan asem-asem. Begitu hamil jangan-jangan minta rujak belimbing wuluh campur asem jawa, mangga muda, asem kandis, cuka, pake asam sitrun, hohoho.... *Piss, Honey*

Lalu, tuh jeruk masih ada sisanya beberapa keping dari butir yang sama kumakan tadi. Aku nggak minat, jadi melihat doi aja. Bengong sekaligus takjub, doi bilang udah habis lima buah jeruk tersebut. Hebat, mantapff... Dengan pedenya My Honey ngasih aku sesiung jeruk yg udah dibersihin tali-tali alias urat-urat yang kadang nempel itu.

"Ogah, asem juga. Yang tadi aja dibuang," elakku. Romantis sih boleh, suap-suapan. Tapi jangan jeruk asem, Sayang. :-(

My Honey berkeras, "nggak asem, coba deh." Tetap memaksa, tampangnya pede banget meyakinkan jeruk itu nggak asem.
"Nggak, itu sama dengan yang tadi. Pasti asemlah logikanya."
"Iya, tapi ini benar-benar manis kok! Coba ajjja dulu," katanya manis.
Dipaksa-paksa mulu, aku manut juga. Penasaran, aku udah siap-siap mo jitak doi dan nyemprot kalo asem.

AMAZING.... AJAIB SODARA-SODARI!

JERUKNYA MANIS! Baru kali ini aku ngerasain sebutir jeruk belang-belang rasanya. Ada manis, ada yang asem.

"Lho, kok manis? Ini benar-benar manis, Sayang."
My Honey tersenyum manis. Menang. "Dibilang juga apa, manis kan?"
"Ho o... Kok bisa manis? Padahal yang lain asem. Kamu apain, dikasih mantera-mantera?
"Dikasih cinta," jawabnya tangkas. Ehm, pas ngomong itu aku ngeliat doi manissss banget. Subhanallah.
Waksss! Cinta bikin jeruk asem jadi manis. Tapi aku heran juga sampai sekarang, kok bisa ya? Hohoho.... Entahlah, apa sebabnya.

Aku yang baru merasakan keajaiban dalam ketakhabisan pikir merasa takjub. Cinta emang hebat euy. Jeruk asem yang menjelma cinta. Jeruk asem yang menjelma dirinya.

Lantas, kamu percayakah? Aku sih percaya, karena aku merasakannya bukan di negeri dongeng. Ah, cinta.

Kamis, Maret 25, 2010

Membuat Diri Memiliki “Sistem Menulis”



Bagaimana tips agar bisa produktif menulis?

Rasanya cukup sering kita membaca atau mendengar tips bagaimana supaya seseorang menjadi “pabrik” tulisan dengan produk yang membanjiri banyak media massa. Setiap penulis mempunyai kiat atau tips-tips yang berbeda, meski tujuannya tetap satu: terus menghasilkan karya secara periodik dengan kuantitas terjaga (tentu tanpa mengabaikan kualitas).

Sebenarnya saya sendiri belum bisa dikatakan produktif menulis  dan agak "gimana gitu" mendapatkan menuliskan ini. Tapi tidak apa-apa, setidaknya dengan menuliskannya besok saya akan malu mengatakan yang tidak saya kerjakan dan pada akhirnya menjadi produktif menulis, he-he-he…

Nah, dari pengalaman banyak penulis yang saya himpun dari berbagai perbincangan dan bacaan, saya menyimpulkan mereka yang “produktif” sebenarnya penulis yang memiliki sistem menulis atau writing system. Secara bebas saya mendefinisikannya mereka pemilik sistem menulis ini adalah individu yang menganggap segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan terjadi mengenai diri mereka harus ditulis. Dengan demikian pikiran mereka setiap saat terhubung supaya bagaimana ide, pengetahuan, wawasan, dan gagasan yang dimiliki harus menjadi rangkaian kata-kata alias tulisan.

Tentu saja dengan pikiran seperti di atas, maka pemiliknya secara sadar pula akan segera action menulis. Lalu kapan dia bisa berhenti menulis? Tidak pernah! Karena setiap orang tidak akan pernah berhenti mendapatkan ide, pengetahuan, wawasan, dan gagasan baru yang menjadi adonan sebuah tulisan. Dirinya tinggal menjalankan doktrin di otak yang sistematis itu dan melakukannya secara riil dengan tindakan.

Dengan memiliki writing oriented pada hidup yang dijalani, akhirnya sistem menulis telah melekat dalam otak manusia. Tinggal dirinya menerjemahkan sistem menulis ini secara praktis sesuai keinginan dan kebiasaan masing-masing. Inilah yang menjadi tips-tips yang bertebaran. Apakah dengan menuliskannya di notes, meluangkan waktu tertentu menulis blog, menulis di diary, menuliskannya malam hari/subuh, menulis di ponsel/PDA, dan sebagainya. Intinya mereka konsisten meluangkan waktu kapan pun itu untuk mengaduk bahan menjadi adonan, lalu memasaknya menjadi hidangan cerpen, novel, puisi, artikel, atau tulisan lain. Ehm, mengasyikkan bukan?

Membangun Sistem Menulis?
Pada dasarnya semua orang bisa membangun sistem menulis masing-masing secara “unik” dan pas dengan karakter diri. Seperti jasad yang tidak bisa bergerak tanpa ruh, menulis pun demikian. Kita tidak akan bisa menulis (menggerakkan pena, memencet keyboard komputer) jika tidak memiliki motivasi psikis kenapa harus menulis.

Hal-hal di bawah ini mungkin bisa membantu untuk membangun sistem menulis pada diri kita masing-masing. Sehingga menulis menjadi sistem yang padu, include pada pada otak yang memerintahkan kita bergerak menulis kata demi kata, kalimat, paragraf, sampai sebuah tulisan utuh.

1. Pancangkan dan perbaharui selalu niat (berdakwah, mencerahkan orang, berbagi pikiran, etc).
2. Menulis membuat kita semakin kaya secara intuitif, wawasan, dan cerdas, dan lebih arif pada lingkungan.
3. Secara alamiah menulis akan memberikan keuntungan bagi kita. Apakah mendapatkan penghasilan, menjadi terkenal, aktualisasi diri, diakui kompetensi dan kepakarannya.
4. Jika dorongan psikis “mengapa saya harus menulis?” telah menguasai diri, maka dengan gampang pula kita akan mendapatkan cara praktis sehari-hari untuk menulis, menulis, menulis…!

Mudah-mudahan, amin. [Elzam/foto diambil dari www.worldhum.com]

* Tulisan yang menjadi bahan “Kiat Menulis Produktif” Pada Inagurasi FLP Bekasi ( 26-12-2009).

Rabu, Maret 10, 2010

Tawa Tangis Gila

Bahkan, pada setiap kepahitan kita akan tertawa.
Menertawakan penat diri yang tak lagi membuncah lelah.
Ya, tawa itu adalah puncaknya...
menjadi gila

Merongrong hidup sampai busuk kau dibuatnya
Maka sebodoh itukah kau menjadi keledai?
Mengikis ketegaran sampai patah

Lalu besok kau akan menangis
Berulang
Tawa; tangis
Tangis; tawa
Tawa
Tangis

Mati.


[Elzam Zami]

Minggu, Februari 21, 2010

Kusampaikan kata berbaris rapi menghadapmu.

Kusampaikan kata berbaris rapi menghadapmu.
Sepertinya diam, tapi gegas di hati.
Menghamparkan semua harap
aku percaya padamu saja

dan bila dihantamkan aku pada pilu pahit
kuambil penawarnya darimu
Lalu luka menguap suka
Padamu, bersama adalah belajar
menghapal bahwa hidup adalah tentang bertahan.

jadilah bara yang membakarku
gelegakkan buncah cahaya
sampai terang jiwa

padamu, aku lakukan juga.

Utan Kayu, 00:43/21.02.2010

[Elzam Zami]

Jumat, Februari 12, 2010

Tentang Emak: Inspirasi Hidup Sang Anak, Cinta, dan Pengorbanan


Emak melewati malam-malam sendiri di sebuah pondok kecil di pedalaman Bengkulu, tanah Sumatera. Sendiri saja. Wangi kelopak putih bunga kopi menemaninya. Menjelang senja, apalagi ketika hujan usai turun kelopak-kelopak kecil menyerupai bunga melati yang berbongkah-bongkah merekah dan memenuhi hamparan kebun kami hingga esok pagi ketika waktu dhuha sampai. Sungguh semerbak memenuhi udara segar pegunungan. Lalu bunyi serangga yang biasa kami sebut wirwir akan mendominasi suara malam beserta desir angin yang menggoyangkan rimbunan bambu, pohon durian, pohon puput, petai cina, atau hamparan batang kopi berdaun hijau dan tebal. Beliau tidur dengan kasur dan selimut seadanya. Kasur kapuk yang diisi sendiri oleh tangan beliau yang pohonnya juga tumbuh di sekitar kebun.

Sebelum tidur Emak acapkali harus memperbaiki kertas bekas semen Padang yang direkatkan (menggunakan lem sagu) ke dinding untuk menghalau dingin. Dinding pondok tempat Emak melepas lelah adalah pelopoah. Terbuat dari bambu yang dibelah memanjang, lalu dimemarkan menyerupai kepingan papan di mana sebelumnya direndam supaya lembut. Dinding ini menyisakan celah-celah yang harus ditutup agar udara dingin dan angin pegunungan tak masuk ketika malam.

Emak akan tertidur lelap setelah seharian bekerja menjadi petani, yang berkarir dengan beronang,* sengkuit,** sepatu plastik hitam, dan topi bundar berpinggir lebar dari daun rumbia yang biasa dinamai serindak. Emak membersihkan rumput liar, membuang ranting-ranting mati, menumbangkan tunas, dan cabang tanaman kopi yang tak perlu, serta menyemprot hama. Semua pekerjaaan yang membutuhkan kekuatan otot itu dilakukannya sendiri. Padahal, bila melihat postur tubuh Emak, banyak orang seperti tidak akan memercayai kalau memang Emak melakukan pekerjaan-pekerjaan fisik itu. Jika musim panen tiba maka Emak akan memetik kopi, memikulnya sampai ke halaman pondok yang dipenuhi gundukan kopi hasil petikan. Kopi merah harus dijemur layaknya menjemur padi hingga kering. Setelah itu baru bisa dibawa ke heller, tempat menggiling kopi dengan mesin untuk memisahkan kulit dan biji kopi.

Menjelang subuh Emak telah bangun, berwudhu dengan air dari gerigen yang telah disiapkan di belakang pondok sebagai persediaan sewaktu-waktu dibutuhkan. Sumber air cukup jauh, yakni sebuah aliran telaga berjarak sekitar 300 meter dari pondok, menujunya harus menuruni cadas yang berkelok-kelok. Lagipula terang yang belum sempurna membuat babi hutan, beruang, dan binatang lain semacam kalajengking masih punya alasan untuk berkeliaran. Jika menemani Emak di kebun saat-saat sekolah diliburkan, seringkali aku melihat Emak sholat dengan duduk saja. Kecapaian yang amat sangat menuntut demikian. Subhanallah. Duduk terpekur dengan mukenah putih tipis dan lusuh, membuat hatiku ngilu. Emak tetap menjalankan ibadah, melepaskan semua pengharapan pada Allah semata setelah segenap ikhtiar ditunaikan.

Begitulah... bertahun-tahun sosok ibu yang kupanggil Emak berkiprah. Sampai kini ia tetap melakoninya. Menjadi petani sekaligus ibu bagi anak-anaknya yang sekarang telah beranjak dewasa semua.

Lalu ke manakah suaminya, anak-anaknya? Bapak hanya seorang guru. Dengan sembilan orang anak, maka mengandalkan gaji semata jelas tak mencukupi. Jadilah Emak mengurus kebun kopi. Sebelumnya kakak laki-laki keduaku yang mengurusnya. Emak hanya membantu. Tiga orang adikku –yang ketika itu belum bersekolah-- melewati masa kecilnya di kebun. Aku selalu tertawa mengingat Nina, adikku bungsuku kaget melihat ikan kok bisa ada di dalam kaleng? Maklum, sejak masih beberapa bulan dia dibawa ke kebun. Dan hampir-hampir tidak pernah melihat ikan sarden kalengan yang biasa dikonsumsi masyarakat. Sesekali saja ke Emak ke Curup, kota kabupaten tempatku tinggal. Bahkan ketiga adikku sering berlari berlindung di bawah rerimbunan kopi bila pesawat terbang lewat di atas sana. Mereka takut jika pesawat itu adalah pesawat Amerika yang membombardir Irak ketika Perang Teluk berkecamuk di tahun 1990-an lalu. Mereka hanya tahu pesawat untuk perang dan bisa saja mencelakai mereka yang sedang asyik bermain di sekitar pondok. Tentu saja informasi sepotong-sepotong itu hasil dari mendengar pembicaraan orang-orang dewasa kala itu. Namun ketika kakak keduaku memutuskan berhenti bertani dan ingin kuliah, Emak mengambil alih kebun. Hanya sesekali jika waktu libur sekolah dan saudara laki-lakiku yang lainnya ikut membantu. Menemani Emak di kebun yang hasilnya telah berjasa membiayai sekolah kami.
Aku masih ingat, lekat dalam benakku sampai sekarang peristiwa-peristiwa yang berulang-ulang terjadi. Seringkali aku disuruh pergi ke kebun untuk mengabarkan perihal kakak ketigaku yang kuliah di Jogjakarta membutuhkan uang. Waktu itu aku masih SMP dan harus naik angkutan umum menuju desa asal kami, diteruskan berjalan kaki untuk mencapai kebun.

Emak akan menjadi tumpuan harapan, dengan harapan kopi telah kering dan bisa segera dijual. Belum selesai kopi dipanen semua, belum kering keringat Emak. Sang anak telah meminta hasil, sedangkan aku tahu Emak di kebun makan sangat seadanya. Ketegaran macam apalagi yang bisa menandingi Emak? Sering aku menatapnya lamat-lamat ketika istirahat duduk beralaskan tanah. Berteduh di bawah pohon sekadar melepaskan sejenak rasa lelah. Matahari menyala-nyala membuat kerja gampang haus dan letih. Aku memperhatikannya takjub sekaligus perih. Emak petarung sejati.

Kukatakan sekali lagi, jika melihat Emakku, pasti tidak akan mengira beliau bisa sekuat itu mengurus kebun kopi sendirian. Tubuh Emak kecil, kurus, tingginya mungkin sekitar 155 cm dan bobot kurang dari 40 kg. Tapi dia benar-benar kuat. Mampu berjalan kaki dari desa ke kebun yang berjarak sepuluh kilometer lebih, ditambah dengan mengangkut beronang berisi kayu bakar di pundaknya.
Bapak memang cukup berpendidikan, lulus diploma sampai akhirnya bisa menjadi guru. Tapi tidak dengan Emak, beliau tak lulus SD dan hanya hanya bisa membaca seadanya. Meski demikian Emak tipe yang berpandangan jauh ke depan. Pendidikan bagi anak-anaknya adalah mutlak. Kondisi keuangan keluarga yang jauh dari mencukupi, bahkan sering kekurangan membuat dirinya menjadi orang pertama di keluarga yang turun membantu. Dan dialah sebenar-benarnya pahlawan bagiku dan saudara-saudaraku. Emak berjuang mati-matian mengurus kebun warisan satu-satunya kakekku untuk membantu pendidikan anak-anaknya.

Emak membesarkan kami dengan kasih sayang tanpa pernah mengeluh. Caranya membesarkan kami tidak dengan memberikan semua apa yang anak-anaknya inginkan atau menemani kami belajar setiap waktu. Bahkan karena lebih sering di kebun, banyak waktu kami untuk tidak bisa bersama Emak. Tapi kami memahami, pilihan itu diambil karena sesungguhnya bagi Emak kasih sayang harus dikonkritkan. Dan pilihannya saat itu adalah beliau harus bekerja membantu perekonomian keluarga.

Hasilnya meski sering ditinggal Emak ke kebun, kami anak-anaknya terbiasa mengerjakan segala sesuatu secara mandiri. Kami terbiasa mencuci pakaian sendiri-sendiri, bergantian memasak, atau membersihkan rumah. Tidak ada pekerjaan rumah tangga yang tidak bisa kami selesaikan. Baik laki-laki ataupun perempuan, pekerjaan semacam itu tidak menjadi masalah lagi karena sudah biasa dilakukan. Berbeda dengan teman-teman kebanyakan yang semuanya serba tersedia karena ibu mereka mempunyai waktu yang banyak untuk mengurus keluarga sehari-hari.

Bila pekerjaan di kebun selesai dan bisa ditinggalkan cukup lama, maka Emak akan pulang ke rumah. Hal yang paling sulit kuungkapkan adalah beliau sebenarnya mengidap penyakit tubercolosis (TBC). Penyakit yang kemungkinan besar diakibatkan ketika tahun-tahun sebelumnya Emak pernah menjadi buruh harian pemilih biji kopi. Waktu itu bersama ratusan wanita lain Emak bekerja memisahkan biji kopi sesuai dengan tingkat kualitas masing-masing sebelum diolah lebih lanjut. Pekerjaan itu mengharuskan beliau bergumul seharian dengan kotoran kopi dan debu di gudang. Namun riwayat penyakit demikian tak membuat ia berhenti berbuat, Sembari kontrol rutin di Puskesmas, Emak tetap berjuang untuk kami anak-anaknya.
Emak tidak akan bersantai-santai di rumah karena dia tidak bisa tinggal diam. Maka beragam kegiatan tambahan dilakukan Emak, bekerja menjadi pembuat kue, membantu toko kelontong, menanam kangkung di belakang rumah, dan pekerjaan lain yang tak bisa kuingat semua. Uang yang beliau dapatkan habis untuk membayar biaya sekolah kami, kuliah kakakku, dan membantu kebutuhan rumah.

Berbicara tentang Emak adalah mengurai berjuta keteladanan. Bahwa kami harus giat belajar, harus mempunyai harapan, dan bangkit melebihi beliau beberapa langkah ke depan. Sebisa mungkin melesat lebih jauh beratus kali daripada kehidupan orangtua kami. Emak pernah berujar, “Cukuplah Emak yang tidak berpendidikan, tapi kalian tetap harus sekolah, kalau bisa sampai kuliah. Pendidikan tinggi bukan hanya untuk mencari pekerjaan, tapi agar bisa memanfaatkan hidup lebih baik. Orang yang bersekolah itu becaro,*** beda dengan yang tidak mengenyam pendidikan. Menyelesaikan pendidikan jangan sekali-kali hanya bertujuan supaya mendapatkan pekerjaan yang hebat.”

Nasihat Emak, ditambah melihat semangat kerasnya menjadi penopang keluarga bersama Bapak membuat aku berusaha sekolah sebaik mungkin. Dengan susah payah perjuangan Emak aku bisa menyelesaikan kuliah. Sama seperti kakakku yang kuliah di Jogjakarta -meski harus berhenti- Emak menjadi tumpuan membiayai kuliahku. Sampai sekarang Emak masih tetap bertahan menjalankan hidup yang penuh dengan kerja keras dengan menjadi petani kopi. Saran kami agar kebun itu dikerjakan orang lain dan keluarga kami mendapatkan bagi hasil tidak digubris. Menurut Emak hasilnya menjadi lebih sedikit karena harus berbagi, sedangkan kebutuhan sangat banyak. Lagipula bila diurus orang lain, Emak khawatir tidak dilakukan sebaik pemiliknya sendiri.

Emak sejak menikah dengan Bapak tak pernah berhenti berjuang. Terlebih ketika anak-anaknya mulai lahir satu-persatu. Masih kami kenang setiap fase-fase pekerjaan yang dilakukannya. Ketika merasa sedikit berbeda dengan teman-teman yang lain. Misalnya waktu aku masih SD antara kelas 2 atau 3, terasa sekali seakan tidak mempunyai ibu, karena ketika pulang Emak tidak menyambut kami. Beliau sibuk bekerja dan baru pulang menjelang magrib sebagai buruh harian pemilah biji kopi. Adikku masih dua kala itu dan si bungsu mendapatkan ASI setelah Emak pulang.
Aku kerapkali terenyuh sekaligus kagum dengan kerasnya jalan hidup yang mesti dilalui Emak. Emak memang tidak berpendidikan, tapi demi bisa menjalankan ibadah lebih baik, dia terbata-bata membaca buku do’a dan panduan sholat. Emak masih menyempatkan mengikuti majlis taklim jika tidak sedang di kebun.

Sekarang di usianya yang lebih dari 50 tahun, Emak masih bekerja mengurusi kebun kopi milik kami. Tiga orang adikku semuanya masih kuliah. Satu sedang menggarap skripsi, sedangkan adik yang tengah menginjak semester lima. Terakhir si bungsu yang baru saja masuk tahun pertama di sebuah perguruan tinggi negeri Bengkulu. Ditambah salah seorang kakakku yang berinisiatif mengambil pendidikan guru Taman Kanak-Kanak sambil nyantri di Pesantren Daurut Tauhid, Bandung. Alasan-alasan ini pula yang membuat orangtua kami masih bekerja. Di usia yang tak lagi muda Emak masih mengurus kebun. Terkadang adik yang laki-laki ikut membantu di sela-sela kuliah. Kakak lelakiku yang kebetulan belum menikah juga sesekali ikut membantu. Bapak yang telah pensiun pun masih mengajar di salah satu sekolah swasta.

Aku malu sebenarnya. Sedih belum bisa membantu Emak dengan maksimal. Bekerja di Jakarta (dan hidup kost) membuatku tak bisa menyisihkan uang lebih banyak. Hanya sesekali aku membantu mengirim uang untuk adik-adikku. Selebihnya semua masih menjadi tanggungan orangtuaku dan dibantu saudara-saudara yang telah menikah. Sepanjang usianya Emak selalu memberikan apa yang terbaik bagi anak-anaknya. Seluruh tenaga dan waktu dicurahkan tanpa berpikir balas jasa apa yang akan kami berikan.
Tentang Emak, aku akan merangkumnya menjadi satu kalimat. Emak selalu dan akan tetap ada untuk eksistensi keluarga kami. Beliau sangat-sangat bermakna bagi kami menyusuri lorong-lorong kehidupan di dunia. Emak akan menjadi sosok ibu yang selalu menjadi inspirasi ketika kami mulai malas dan enggan untuk bangkit dalam rintangan hidup. Belajar tentang cinta dan pengorbanan maka senyata-nyatanya guru adalah bagaimana Emak membesarkan kami. Menjadi beralasan ketika Rasulullah Saw menyampaikan bahwa orang yang pertama harus kita hormati adalah ibu. Rasulullah Saw menjawab sampai tiga kali dengan jawabannya yang sama ketika sahabat menanyakan siapa lagi yang harus dihormati setelah ibu. “Ibumu, ibumu, ibumu, lalu ayahmu,” itulah jawaban Rasul yang mulia.

Terkhusus untuk Emak, aku mencintainya sepenuh jiwaku yang tak pernah lupa akan tetes keringat yang beliau kucurkan. Dan biarlah jejak-jejak kakinya yang terekam menyusuri bumi Allah ketika menjemput rezeki bagi anak-anaknya menjadi saksi. Satu hal yang ingin sekali kupersembahkan adalah menghajikan Emak, tentunya dengan Bapak. Apakah ini bisa terwujud, hanya Allah yang Maha Mengetahui. Aku akan tetap berupaya. Ya Allah, berkahilah umur yang panjang untuk kedua orangtuaku dan jadikan aku hamba yang bisa menunaikan bakti pada keduanya. Amiin. [Elzam]