tentang

Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 24, 2014

Mak, Ipang Juga Mau Sekolah

(Dimuat di Lampung Post, Minggu/16 Februari 2014)  

Versi koran, difotoin temen dari Lampung. 



Ini versi e-paper yang ditemukan di internet
Asih berjalan lesu usai pulang sekolah. Bukan karena terik matahari, tapi ingat permintaan adiknya tadi pagi. Sewaktu ia mau berangkat. 
“Mak, Ipang juga mau sekolah.”
“Ehm... kamu pasti sekolah, Pang. Kalo tidak tahun ini, mudah-mudahan tahun depan,” ujar emak. Asih melihat emak menenangkan adiknya, tapi murid kelas 4 SD itu tahu emak tidak yakin Ipang bisa sekolah. Entah sampai kapan...
Ipang sudah 8 tahun sekarang, telat setahun masuk sekolah. Emak cuma tukang cuci dan setrika. Hidup mereka seadanya karena sang ayah telah lama meninggal. Rumah mengontrak, harga kebutuhan yang tak terjangkau membuat mereka hidup pas-pasan.
“Ipang malu kalo tahun depan sekolah, badan Ipang kan lebih gede dari anak lain,” jawabnya ngambek.
Emak tak memedulikan keluhan Ipang. Beliau tetap membereskan cucian yang sudah bersih, melipat, dan memasukkannya ke keranjang untuk disetrika. Setelah itu baru emak mendekati Ipang, merangkul pundaknya.
“Tapi Ipang kan pintar, sudah bisa membaca, perkalian, menghitung...”
Ipang memotong omongan emak, “pintar tapi tak punya rapor, huh...”
Emak tertawa kecil melihat Ipan kali ini manyun. “Ipang sabar ya! Sekarang baru satu anak emak, mampu emak sekolahin. Kalau Ipang sekolah, artinya Kak Asih berhenti. Ipang mau begitu?”
Ipang menggeleng mendengarnya.
Asih yang mengintip dari balik gorden pintu hanya bisa bersedih. Itulah yang membuat Asih berpikir seharian tadi di sekolah. Bagaimana caranya Ipang bisa sekolah?
***
Hari ini sebelum ke sekolah, emak meminta Asih memberikan cucian ke rumah Bu Ridwan.
“Ini cuciannya, kamu jangan lupa ya, Nak. Jangan lupa ucapkan juga terimakasih nanti,” pesan emak sambil menyerahkan kantong berisi pakaian yang sudah rapi.
“Iya, Mak. Nanti Asih sampaikan,” ujar Asih.
Emak menerima uluran tangan Asih yang menyalaminya, “sekarang berangkatlah, hati-hati!”
“Mak... bagaimanana kalau Asih berhenti sekolah? Biar Ipang saja sekolah. Asih kan perempuan,” jelas Asih tiba-tiba.
 “Jangan Asih. Sayang kalau kamu berhenti.”
“Tapi Ipang...”
“Sudahlah, jangan kamu pikirkan. Tugas utama kamu adalah belajar, yang lain biar emak yang pikirkan, mengerti?” tanya emak lembut.
Asih pun mengangguk pelan. Terbersit sedikit rasa kecewa di hatinya.
Di kelas Asih masih memikirkan Ipang. Gadis kecil itu terus berpikir bagaimana mendapatkan uang untuk sekolah Ipang. “Mengamen sepulang sekolah?” otaknya berputar. Tentu saja emak akan bertanya jika ia pulang terlambat.
“Hayooo... lagi ngelamunin apa?” Tiba-tiba Fitri, teman sekelas menepuk pundaknya.
“Eh... tidak. Aku lagi tak mikirin apa-apa kok,” Asih berusaha menutupi masalahnya.
“Jangan bohong deh, aku tahu kamu akhir-akhir ini seperti ada masalah. Siapa tahu aku bisa membantu lho,” ujar Fitri. Rupanya dia tidak percaya begitu saja.
Asih terdiam cukup lama. Bimbang antara bercerita atau tidak. Akhirnya ia putuskan bercerita. Tidak ada salahnya mencoba. Siapa tahu Fitri memang bisa membantu. Asih pun menceritakan soal Ipang yang ingin sekolah dan kendalanya. Fitri mendengar dengan penuh perhatian.
“Oh jadi begitu...” jelas Fitri begitu selesai mendengar cerita Asih.
“Iya. Jadi bagaimana, kamu ada ide buat aku bekerja?”
“Hehehe... sayangnya, nggak,” jawab Fitri sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Pura-pura.
Asih pun makin tidak bersemangat.
“Jangan manyun, Non. Begini nih, aku baca di majalah ada yayasan yang programnya membiayai sekolah anak tidak mampu. Orangtua asuh begitu. Bagaimana kalau kita datangi yayasan itu sepulang sekolah nanti?”
“Beneran? Aku mau.” Wajah Asih berbinar-binar bahagia. Dia meraih kedua tangan Fitri, “Terimakasih ya, mau membantuku.”
“Sama-sama. Tenang saja, Fitri...” jawab Fitri pura-pura seperti merasa hebat.                 
Sepulang sekolah mereka naik bus kota ke tempat tersebut, Yayasan Orangtua Asuh Anak Bangsa. Di sana mereka bertemu perempuan yang sudah cukup berumur, yang  biasa dipanggil Oma Martha. Rupanya beliau sehari-hari mengurus yayasan tersebut bersama beberapa relawan lain.
“Jadi setiap anak mendapat biaya dari orangtua asuh masing-masing. Yayasan inilah yang menjadi perantara,” sahut Oma Martha memberi penjelasan. Asih dan Fitri mengangguk tanda mengerti.
“Oma akan mengusahakan donatur untuk adikmu, Ipang. Tahun ini dia sudah harus kita sekolahkan,” tambahnya lagi.
“Benar Oma?” Asih seperti tidak percaya.
“Iya. Oma dan teman-teman di yayasan akan berusaha, dan biasanya berhasil,” katanya penuh semangat. Beliau mengambil selembar kertas. Lalu menanyakan beberapa hal tentang Ipang dan keluarganya, kemudian menuliskannya.  Setelah itu, beliau menyarankan Asih dan Fitri untuk pulang. Oma Martha akan memberi kabar secepatnya.
***
Tiga hari kemudian Asih terkejut begitu tiba di sekolah. Hampir semua teman sekelas menghampirinya. Beberapa memberikan selamat. Tentu saja Asih bingung.
“Ada apa sebenarnya?” tanya Asih pada Rafael, sang ketua kelas.
“Lho, memangnya kamu belum diberitahu ibu koperasi?”
Asih bengong. “Soal apa?”
“Kamu dipilih jadi pengurus kantin koperasi sekolah. Kata ibu koperasi, sebagian keuntungan akan diberikan untukmu, sebagai upah karena menjaganya setiap istirahat. Lumayan untuk bantu biaya sekolah,” jelas Rafael.
“Kok bisa?”
“Kami yang mengusulkan, atas ide dari Fitri, hehehe...” ujar Rafael sambil tertawa.
Asih terharu sekali atas kebaikan teman-temannya. “Terimakasih ya, sudah banyak membantuku,” ujarnya pada teman-teman yang menggelilinginya. Dalam hati ia berkata, “uh, Fitri nyebelin. Kenapa tidak bilang-bilang, sampai aku seperti mau pingsan  kegirangan begini.”  Asih benar-benar gembira.
Saat pulang ke rumah kejutan kedua membuat Asih tak kalah gembira. Emak mendapat surat dari Yayasan Orangtua Asuh Anak Bangsa. Isinya menjelaskan Ipang mendapatkan orangtua asuh yang bersedia membiayai sekolahnya.
“Sih, kita harus bersyukur pada Tuhan. Ipang dapat orangtua asuh. Masih banyak orang baik yang membagikan rezekinya untuk orang seperti kita. Kalian berdua akhirnya sama-sama sekolah, Nak,” ujar emak.
Asih mengangguk sambil memeluk emak. Dia sudah tidak sabar membayangkan perasaan Ipang mendengar berita gembira itu. Sayangnya, Ipang sedang bermain bersama temannya.
“Coba kamu cari adikmu. Biar dia cepat mengetahui kabar yang diimpikannya selama ini,” pinta emak.
Asih pun berlari riang ke luar rumah. “Ipang pulaang! Ada berita gembira, kamu bisa sekolah...” Asih berteriak penuh semangat. [Elzam]

Rabu, November 27, 2013

Cintaku Se-Gede Pangrango (2)

Dimuat di Majalah Hai edisi 29 November-4Oktober 2012


Kami pun melakukan verifikasi peserta pendakian di pintu masuk. Pintu Cibodas salah satu akses menuju puncak Gunung Gede. Selain pintu Gunung Putri di Cianjur dan Selabintana di Sukabumi.

Perjalanan penuh tanjakan dimulai ketika sudah melewati resort TNGGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango). Awalnya semua anggota ekspedisi masih bersemangat. Apalagi begitu menemukan Telaga Biru. Telaga kecil hari itu menjelang siang berwarna hijau. Konon, sesekali airnya akan menjadi biru. Semua menyempatkan mengambil foto dengan kamera digital.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan. Tim terpisah menjadi dua kelompok kecil. Di depan ada aku, Meida, Bram, dan Hero. Sementara Fahri yang punya pengalaman mendaki menemani Tungku dan Rifda di belakang kami. Kemungkinan tersesat kecil sekali karena track relatif bagus, bersih, meski kadang pohon besar melintang di tengah jalan.

Aku jadi bersemangat sekali karena ada Meida. Ini saat yang tepat untuk mengungkapkan isi hatiku. Ia pun tampak menikmati perjalanan. Fisiknya tidak bisa dianggap enteng. Membuatku salut.

“Gue perkirakan menjelang magrib kita akan sampai di Kandang Badak. Tidak mungkin meneruskan perjalanan ke Gede,” jelasku pada Meida. Ia berada di depanku, mencari celah-celah batu yang pas menjadi pijakan.

“Kenapa? Gue sering dengar pendakian malam hal yang biasa.”

Aku menjelaskan pertimbanganku. Kondisi kami sudah cukup lelah. Sementara beban berat di carier masing-masing harus tetap dibawa. Dengan suhu di bawah 00 C semua pasti kedinginan, susah untuk mendirikan tenda di puncak gede. Dalam keadaan lapar dan lelah pula. Itu pun kalau sampai.

“Di Kandang Badak kita bisa mendirikan tenda. Masak, istirahat dan tidur. Pukul tiga menjelang subuh kita lanjutkan perjalanan tanpa membawa beban. Kita bisa menitipkan tenda dan barang-barang pada pendaki lain. Mudah-mudahan sempat melihat sunrise.”

“Wah, aku setuju saja. Nanti bicarakan dengan teman-teman.” Meida mengerti penjelasanku.

Perjalanan terus berlanjut. Kami baru bertemu kembali dengan kelompok Fahri di kawasan Air Panas. Di sisi kiri air panas jatuh membentuk air terjun melewati batu cadas yang beruap. Kepulan asap seperti air yang baru saja mendidih. Di sisi kanan jurang terjal membangun kengerian. Di antara kedua sisi itulah pendaki melewati track. Aku sempat ingin membantu Meida, tapi urung. Berpegangan pada tali yang disediakan pengelola TNGGP, dia sukses melewatinya.

Begitu tiba di Kandang Badak, jam menunjukkan pukul lima sore. Semua sepakat dengan usulku. Kami mendirikan tenda di areal hutan mendatar yang luas. Beberapa tenda pendaki lain terlihat rapi, yang lain sedang sibuk mendirikan tenda. Aku menyalakan nasting sementara yang lain mendirikan tenda. Meida ikut membantuku. Menu apa adanya, internet alias indomie, telur, dan kornet tetap menjadi andalan. Kuberikan segelas susu hangat untuk Meida.

Dia menerimanya, “Makasih, Din.” Setelah tenda selesai, semua bergabung. Menikmati makan malam di tengah hutan dalam cuaca yang gelap ini. Hanya headlamp dan senter yang menjadi penerang.

“Sebaiknya kita istirahat. Tidurlah senyaman mungkin. Pukul tiga semua sudah sudah harus siap, karena target kita mencapai Puncak Gede sebelum sunrise,” kataku memberi intruksi. Teman-teman mengangguk. Semua masuk ke tenda. Aku dan Bram masih di luar ketika kulihat Meida menapakkan tangannya ke tanah. Meniupnya sebentar, lalu mengusapkannya ke muka. Kutanya Bram “Kenapa dia?”

“Tayyamum, sholat. Sana lo nyusul sholat biar perjalanan kita berkah.” Bram menggoda.
Aku melongo. Oh...!
***
Derap langkah pelan tapi mantap menyusuri jalan setapak menanjak. Tanjakan setan! Medan yang paling berbahaya telah sukses kami lewati. Kemiringannya nyaris mencapai 20 derajat. Namun dengan bantuan tambang, semua bisa melewatinya. Malam masih gelap. Kulihat Meida masih bersemangat, meski terlihat sedikit lelah.

Dan tibalah waktu itu. Tujuan pendakian Ekspedisi Tujuh.

Dan tibalah waktuku jua. Mudah-mudahan. Tempat aku mengungkapkan cinta...

Rifda, cewek kedua selain Meida berteriak, “Wow, ini benar-benar keren. Menakjubkan...”

Teman yang lain berteriak tak kalah girangnya. Kulihat Tungku sujud. Mungkin itu yang disebut sujud syukur, hahaha... Puncak Gunung Gede telah kami taklukkan. Di sebelah kiri terlihat Gunung Pangrango menyaingi kemegahan gunung tempat kami berdiri sekarang. Kawah berasap pekat mengepul membumbung ke atas. Kokoh sekaligus magis. Gede dan Pangrango selalu berdampingan, terpisahkan hutan belukar.

Langit merona mega menyemburatkan keindahan. Lukisan alam maha daya yang benar-benar membumi. Matahari bersinar lembut, kuning emas dengan semburat merah mengintip di garis horison. Perlahan nanti akan membesar, menjadi bola pijar raksasa. Sunrise selalu terjadi pada matahari yang sama. Setiap hari. Tapi kekaguman terus membatin setiap kali menikmatinya.

Aku memutar pandangan. Di mana gadis itu? Mataku kemudian menangkap sosoknya. Duduk di batu besar menatap dinding-dinding terjal puncak Gede yang menganga lebar. Seakan-akan akan menelan bayangan menyendiri itu.

“Boleh aku duduk di sini?” Meida membuka sedikit tangannya, isyarat mempersilakan.

“Bagaimana, indah?”

“Sangat. Ini membuat kita semakin dekat...”

Aku terhenyak. Semakin dekat...? Apa maksudnya?

“Pada Tuhan...” ujarnya meneruskan.

Oh... Aku menelan ludah.

Aku mencoba mengangkat kata, “Gue pikir juga bisa mendekatkan kita sebagai sepasang kekasih.” Aku mengucapkan kata itu tanpa tedeng aling-aling.

Meida menoleh padaku. Aku memandangnya penuh keseriusan.

“Hahaha... Dasar lo playboy.” Dia meninju bahuku pelan. “Baru saja gue bilang cinta Tuhan lo langsung ngungkap ke gue. Lo cinta gue, benar-benar mengharap cinta gue?”

Meida berdiri. Pun aku.

“Iya. Aku jatuh cinta sejak pertama kali melihatmu. Cintaku Se-Gede Pangrango ini yang menjadi saksinya.”
“Dino, Dinoo... ! Lo boleh mencintai gue. Tapi gue minta beberapa hal sebelum itu.”

“Apa?”

“Lo cintai dulu Tuhan. Gue nggak pernah liat lo sholat sepanjang pendakian. Lo cintai dulu orangtua lo. Gue sedikit banyak tau sikap lo ke orangtua lo dari Tika. Adik lo itu sahabat gue. Lo bisa mempraktikkan cinta untuk dua hal itu, baru gue yakin lo cinta gue.”

Aku diam mematung. Tiba-tiba dingin puncak gede tak bisa membendung keringatku.

“Tuhan? Orangtua?”

“Iya. Tuhan di atas sana dan orang tuamu. Sanggup?” Meida berlalu meninggalkanku yang masih berdiri bengong.

Aku merutuk diri sendiri. Aduuh...! Ini pasti gara-gara si Tika si comel, kenapa aku tidak tahu Meida adalah sahabatnya.

Kepalaku berdenyut-denyut. Cinta Tuhan. Cinta orang tua. Cinta Meida...

Sekarang aku benar-benar mencintai Meida. Benar-benar cinta! Tapi bagaimana mengungkapkan cinta yang ia pinta, sebagai syarat sebelum mencintainya tadi.


Aku ingin turun gunung. Cepat-cepat aku mencari sahabatku yang alimnya tak luntur-luntur. Tungku! 

Selasa, Desember 11, 2012

Cintaku Se-Gede Pangrango

Dimuat di Majalah Hai edisi 29 November - 4 Oktober 2012


“Dengarkan dulu, mama belum selesai bicara. Kamu  ternyata nggak hanya suka bohongin mama, tapi juga cewek-cewek!” ujar mama keras.
“Apalagi sih, Ma? Dino harus berangkat. Nggak penting banget,” tukasku kesal. Bukan ini kali saja mama menginterogasi. Bertanya ini itu. Aku menyambar tas dan kunci motor. Meninggalkan mama di meja makan. Gemas melihatku.
Ini pasti gara-gara Tika. Adikku yang sekampus itu comel sekali menceritakan apapun. Aku Dino, kakaknya selalu menjadi laporan ke mama. Bulan lalu aku habis dimarah mama karena ketahuan minta uang keperluan kuliah fiktif. Aku ingin backpacking ke Jogja bareng teman-teman, tapi tidak punya uang. Dengan alasan ada praktikum kultur jaringan tambahan, aku sukses mengelabui mama. Tapi kecolongan Tika. Runyam jadinya. Dia mencari-cariku di laboratorium, tepat saat aku have fun di kota gudeg. Terbongkarlah kebohonganku. Sialan....
Tadi mama menasehatiku untuk tidak suka gonta-ganti pacaran. Whuohoo... hari gini ortu masih ngelarang anaknya pilih-pilih pacar! Memang aku gonti-ganti pacar, tapi itu murni karena tidak ada kecocokan. Fitri misalnya, memang cantik sih, tapi cowok mana yang tahan kalau setiap ketemu, ngobrol sambil ngupil. Ya sudah, aku putusin.
Begitu juga Vania, aku baru pacaran sebulan ketika mengetahui dia ternyata lemot kalau diajak bicara banyak, lola alias loading lama. Lalu ada Gita yang aku putusin karena tidak mau sering-sering ngedate. Mentang-mentang kuliah di kedokteran yang super sibuk dengan berbagai tugas dan praktik. Kupikir-pikir buat apa punya pacar untuk status doang, nggak bisa diajak ke mana-mana. Terpaksa hubunganku dengan Gita hanya bertahan tiga minggu.
Terakhir dengan Nisa. Sebenarnya tidak ada masalah yang membuatku tidak berkenan dengan cewek berjilbab itu. Aku waktu itu cuma mau tahu sesuatu.
“Nis, gue mau lihat dong rambut lo...” ujarku pura-pura malu tapi antusias.
“What’s? Emang lo siapa? Gue nggak mau,” jawab Nisa tegas.
“Lho, aku kan pacarmu. Ayooo, dong. Soalnya gue nggak suka rambut keriting.”
Plaaakk...!
Tamparan Nisa mendarat tanpa kuduga. Tanpa memberi kesempatan buat aku mengelak. Meninggalkan tato keriting nan merah di pipiku.
“Gue bilangin, gue nggak bakal buka jilbab sembarang setelah menutupnya. Lo mau tau rambut gue? Rambut gue emang keriting. Nah sekarang jelas kan? kita putus.”
Aku ternganga. Oh my God... Kelihatannya sepele. Tapi penting menurutku, jadi sah-sah aja akhirnya hubungan cinta ini tak bertahan lama. Gara-gara hal-hal tadi mau bilang aku salah? Playboy? Nggak kan.
***
Kuliah hari bikin lelah bin capek. Tiga mata kuliah sejak jam delapan tadi, disusul dua mata kuliah lagi sampai jam empat sore. Bah, kuliah apa kuli ah... Bahkan lagu-lagu Muse dari headshet Blackberry ini tak membuat gairahku mencuat. Aku malas pulang. Takut mama masih punya stok omelan.
Kulajukan motor ke arah belakang kampus. Tempat kost-an mahasiswa berjejer diselingi warteg, warnet, rental playstation, laundry, dan warung makan. Lebih baik istirahat di kost Tungku, anak Aceh teman kuliahku yang sampai saat ini belum pernah ngulang matakuliah, hehehe... Berbanding terbalik dengan aku. Namanya aslinya Teungku Raihan, tapi kupelesetkan jadi Tungku.
Dia baru saja sholat ketika aku mendorong pintu kamarnya. “Gue capek, numpang tidur coy,” ujarku nyungsep di kasur busa.
“Tampang lo kusut kayak gitu. Salat sono, baru tidur!” Tungku melayangkan sajadah yang baru digunakannya ke mukaku.
“Nanti ah, gue ngantuk banget,” jawabku sembari menerbangkan kembali sajadah itu ke sudut kamar. Nih mahasiswa sejak jaman semester satu dulu alimnya nggak luntur-luntur ketelan Jakarta. Untungnya dia tetap nyaman berteman denganku. Padahal tidak jarang, Tungku mendapat komplain cewek-cewekku. Apalagi kalau bukan soal penyebab putus yang dibilang egois.
“Nanti nunggu magrib? Tampang lo boleh ganteng, dapat dispensasi ditaksir banyak cewek. Tapi bukan berarti lo juga dapet dispensasi boleh nggak salat dari Tuhan.”
Busyeet... sepertinya hari ini aku diserang dari segala penjuru. Aku membenamkan kepala ke kasur, menutupnya dengan bantal.
Ketika bangun, tepat seperti yang dikatakan Tungku. Sudah magrib! Cowok itu sedang khusyu’ mengaji. Aku malas-malasan ke kamar mandi mengambil wudhu. Mencoba sholat setelah mata Tungku mendelik ke arahku.
Aku memerhatikan Tungku sampai dia selesai. Alunan suaranya enak didengar, mengudara di kamar dengan bening. Salut buat temanku yang satu ini.
“Ngaji lo bagus banget, Tung...” Kataku begitu dia usai menunaikan bait-bait suci tersebut.
Dia tertawa kecil. “Biasa aja.” Padahal bagiku Tungku ini luar biasa. Pintar, alim, dan ganteng juga. Beda banget denganku. Kesamaan kami hanya satu, sama-sama ganteng, hehehe...
“Btw, gue mau naik ke Gede Pangrango nih, minggu depan dengan teman-teman. Lo jadi guide ya?”
What’s!? Aku kaget dengan permintaannya. Mendaki gunung memang salah satu hobiku selain pacaran. Tawaran yang asyik buat nge-guide Tungku dan teman-temannya. Terakhir aku naik ke Gunung Cikuray enam bulan lalu. Gunung Gede juga pernah kutaklukkan.
“Jangan khawatir beberapa punya pengalaman mendaki, cuma bukan Gunung Gede. Lo kan udah pernah ke Gede.”
“Oke, bisa aja. Ada yang cakep nggak ceweknya?”
Tungku meninju pelan lenganku sambil tertawa, “Dasar, playboy lo! Banyak yang cakep, tapi kayaknya nggak bakal bertekuk lutut ama lo.”
Aku menjawab tangkas. “Ah, ntar lo kaget lho, hehehe...”
***
Aku berjalan tergesa-gesa membawa makalah yang baru saja dijilid di fotokopi seberang kampus. Gawat. Hari ini ada mi­d semester mata kuliah Pak Handiman. Gara-gara menyelesaikan makalah tugas beliau juga, aku jadi kesiangan. Bener-bener Pak Handiman, tugas dan ujian pun dibuat berbarengan. Bikin mahasiswa kelabakan.
Baru saja aku mau menstarter motor, ada yang berteriak, “Hei, hei... Mas, ongkosnya mana?” Aku kaget. Kelupaan membayar fotokopi dan ongkos jilid. Terpaksa aku berbalik. Kurogoh kantongku, tidak ada uang sepeser pun. Aku beralih membuka tas. Sama saja. Nihil! Busyet banget, aku lupa membawa uang sama sekali karena buru-buru dari rumah tadi.
Aku meringis, mas penjaga fotokopi keheranan. “Kenapa?”
“Uang saya ketinggalan, Mas, tadi buru-buru,” jawabku memelas.
“Ya, gimana dong?” ujarnya.
“Besok atau siang ini habis kuliah ya, Mas?” tawarku.
“Beneran? Mahasiswa banyak yang begini nih akal bulusnya,” penjaga fotokopi itu sewot. Aku malu setengah mati. Gile ajee... Dia pikir aku pura-pura kelupaan bawa uang.
“Memang berapa semuanya, Bang?” Kudengar suara seorang cewek.
“Sepuluh rebu...”
“Ini, saya yang bayarin.” Kuperhatikan cewek yang memakai t-shirt biru dengan jeans hitam itu mengeluarkan dompetnya. Mulutku hanya bisa melongo. Tengsin!  Takjub juga ada makhluk bernama manusia ngebaikin aku yang tak dikenalnya.
“Mbak, nggak usah. Saya, saya bisa...”
“Udah. Udah kubayar. Nggak apa-apa kok,” ujarnya santai.
“Maaf, saya duluan ya...” Dan dia pun pergi.
Aku sampai lupa, pelan kuucapkan, “terimakasih...” Abang fotokopi tersenyum tipis padaku sambil mengangkat kedua bahunya.
Buru-buru aku menghampiri motor. Benar saja aku terlambat hampir limabelas menit. Jawaban ujian tidak satu pun yang kukuasai dengan baik. Pikiranku terpengaruh cewek berambut sebahu nan manis yang membantuku tadi. Seandainya bisa kenalan. Tiba-tiba muncul ide cemerlangku. Kenapa nggak keliling kampus aja dengan motorku?
Sepertinya aku mulai jatuh cinta deh. “Lagipula kenapa dia sampai mau merelakan uangnya. Kalau bukan tertarik atau memancing aku untuk mendekatinya,” pikirku. Pede pastinya. Ehm, sebuah kesialan yang menguntungkan. Lumayan, predikat jomblo yang kusandang selama dua bulan ini bisa kubuang. Aku tersenyum girang.
Dengan revo kesayangan, kususuri jalanan kampus. Gedung-gedung kuliah dan fakultas saling berseberangan. Tidak begitu lama. “Oh Tuhanku Yang Maha Baik, Kau pertemukanlah lagi hamba dengannya.”  
Aku membunyikan klakson dengan pelan. Gadis itu berjalan dengan kedua temannya. Dia baru tersenyum ketika menyadari siapa yang mengklasonnya tadi. Aku menepikan motorku.
“Hai, aku lupa bilang terimakasih untuk bantuanmu tadi. Aku akan menggantikannya.” Kataku tiba-tiba. Tapi dia tak kaget sama sekali.
“Ah, lupakan saja soal mengganti itu,” jawabnya tenang. Kedua temannya melambaikan tangan, pamit untuk duluan. Meninggalkan kami berdua.
“Aku Dino, anak Biologi. Kamu?”
“Meida. Sastra Indonesia.”
“Wah, jago puitis-puitisan doang,” kataku tertawa. Meida ikut tertawa kecil. Dia benar-benar menarik. Barisan gigi putih membuat senyumnya enak dipandang. Rambut yang lurus, kutaksir pasti bukan karena rebonding.
Akhirnya aku dan Meida ngobrol panjang lebar. Doi selain cantik ternyata anak yang asyik. Baru bertemu beberapa saat kami sudah terlibat pembicaraan yang seru. Dia juga penyuka band lawas Kahitna seperti diriku. Hari ini aku merasa beruntung sekali.
***
Meida melewati hari-hariku saat ini. Jika tidak ada jam kuliah, aku tak segan-segan nyamperin dia di Gedung Sastra. Sekadar menikmati mie goreng di kantin sastra yang ternyata cukup bergelimang cewek-cewek bening. Salah satunya Meida yang sedang kudekati ini.
“Lo nggak punya pacar kan, Mei?” tanyaku suatu ketika.
“Nggak. Kenapa?”
“Nggak juga. Khawatir aja nanti ada yang marah.”
“Gue nggak punya pacar kok. Kalau teman sih banyak.”
Aku menjerit senang dalam hati.
“Emang nggak tertarik pacaran? Mustahil cewek cantik kayak lo nggak ada yang mau,” pancingku.
Meida tertawa. “Mau apa dulu? Kalau yang cinta ke gue sih banyak. Urusan cinta memang bikin hidup lebih hidup... ”
“Hehehe... lo bisa aja. Gue yakin deh...” kataku.
“Udah Ashar nih. Gue salat dulu ya. Lo mau ikut? Salat juga kan?”
Aku tersenyum malu. “Kamu aja deh, aku balik lagi ke fakultas.”
“Ya udah. Aku pergi dulu.”
Aku memandang Meida dengan takjub. Gadis yang sempurna.
Tiba-tiba ponselku berdering. Terdengar suara Tungku, “Oi, lo ke mana aja? Gue cari-cari. Besok kita naik ke Gede lho, lupa? Payah lo...!”
Ohlala... Meida benar-benar mengalihkan duniaku.
***
Aku meletakkan tas carier di pinggir jalan. Penat setelah hampir dua jam duduk di bus. Ada tujuh orang yang bergabung di Expedisi Tujuh in, sesuai nama. Hanya Bram dan Tungku yang baru kukenal, karena aku tadi buru-buru. Di bus aku malah tertidur dari Jakarta sampai ke Cibodas.
Satu-satu teman Tungku mengulurkan tangan padaku. Rifda, Hero, Fahri, satu orang lagi.
“Kamu? Ikut juga....”
“Hahaha...” tawaku pecah. Gadis itu ikut tertawa kecil. Manis sekali.
“Jadi kalian sudah saling kenal?” Suara Tungku.
“Iya, Meida ini orangnya baik sekali, selain cantik. Jadi wajar kan kalau aku kenal,” ujarku mengedipkan mata ke arah Tungku.
“Ah, lo kok bisa berteman dengan orang kayak gini, Han?” sambar Meida. Rupanya mereka memanggil Raihan pada Tungku.
“Gue peringatkan, lo jangan termakan gombalnya Dino,” Tungku menimpali. Lagi-lagi Meida hanya tertawa.
(Bersambung)