Senin, Februari 10, 2014

[Mozaik Blog Competition 2014]: Cinta Mati Menulis Itu Sampai Mati

Event Mozaik Blog Competition sponsored by beon.co.id.

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian (Pramoedya Ananta Toer)


Kalau ada yang bertanya, "Apa yang membuat kamu begitu ingin menjadi penulis? Dengan pasti saya bakal jawab, "Karena suka!" Sederhana sekali. Begitulah. Dalam hidup yang sebentar doang, di dunia nan fana ini, sayang sekali kalau kita melakukan sesuatu karena terpaksa dan tak menikmatinya. 

Penulis adalah satu dari beberapa cita-cita masa kecil saya, selain politisi, wartawan, guru, dan pekerja sosial. Melewatkan masa kecil di kota kecil bernama Curup nun jauh di Bengkulu, Sumatera sana, saya telah memantapkan suatu saat akan menjadi pengarang alias penulis. 

Tahun 1990-an dulu saya masih siswa SD yang sangat takjub dengan dunia lain, yang terlihat lewat setiap baris huruf. Kata-kata menjelma banyak hal dalam otak seorang anak kecil. Di luar lingkungan nyata sehari-hari yang kerap ditemui. Saya membaca setiap kertas yang membenamkan tulisan: majalah, komik, buku cerita, bahkan sobekan koran pembungkus belanjaan di warung. 

Beruntung, ayah saya seorang guru yang memunyai banyak buku. Koleksinya mulai dari buku sejarah, agama, novel angkatan Balai Pustaka, sampai buku cerita pengayaan untuk siswa terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Kementerian Pendidikan Nasional). Tak puas dengan bacaan terbatas di rumah, saya menjadi pengunjung perpustakaan masjid paling rajin. Masjid Al-Jihad milik Muhammadiyah di dekat rumah. Hampir setiap hari dan sepanjang waktu perpustakaan buka, saya asyik melahap buku. Saat membaca cerita fiksi di Majalah Ananda, Bobo, Aku Anak Saleh, Ummi (dan sisipannya Permata), saya sangat menikmatinya. Hanyut terbawa kepiawaian penulis bercerita. Mulailah saya membayangkan cerita-cerita lain versi imajinasi sendiri. Saya membayangkan tulisan saya nangkring di majalah dan dibaca banyak orang. Pasti membanggakan sekaligus menyenangkan bukan? 

Sayangnya, saya belum punya keberanian untuk menulis dan mengirimkan ke media. Sebagai gantinya saya paling suka pelajaran mengarang saat Bahasa Indonesia, sejak SD sampai SMA. Di SMP saya memberanikan menulis cerpen dengan tulisan tangan dan mengirimkannya ke Anita Cemerlang (majalah remaja tersohor saat itu). Gagal. Saya mulai punya diari yang berisi puisi-puisi. Temanya macam-macam, cita-cita, cinta, Tuhan, sampai masalah sosial. Saya juga suka politik sampai berkeinginan menjadi politisi karena paling sebal kenapa PNS waktu itu harus memilih Golkar. Padahal di sekolah, pelajaran menjelaskan kemerdekaan berdemokrasi lewat Pemilu yang LUBER (Langsung, Bebas, dan Rahasia). Saya juga heran kenapa Soeharto kok bisa puluhan tahun menjadi presiden dan calonnya cuma satu? Saya sering berantem soal ini dengan ayah yang kebetulan guru PMP dan Sejarah, he-he-he.... Di SMA saya ikut ekskul teater dan mading. Ikut lomba baca puisi, dan diam-diam ikut lomba menulis (fiksi dan ilmiah). Banyakan gagal. Satu-satunya prestasi menulis saya dari SD sampai SMA adalah lomba pidato yang tentu saja materinya disusun sendiri. Itu pun cuma juara harapan pertama. 

Nah, waktu kuliah di Universitas Bengkulu, barulah aktivitas menulis saya menemukan tempatnya. Saat registrasi mahasiswa baru, saya terhenyak membaca pamflet penerimaan anggota baru Forum Lingkar Pena (FLP) di papan pengumuman fakultas. Gayung bersambut, saya bergabung. Saya telepon contact person yang tertera, Sri Rahayu, Ketua FLP Wilayah Bengkulu pertama. Sampai sekarang beliau masih aktif menulis dan tinggal di Lampung. Aktif juga menulis blog http://cerpeneddelweissnaqiyyah.blogspot.com/. Saya pantas menasbihkan Mbak Yayuk, begitu sapaannya, sebagai guru, sahabat, sekaligus kakak yang menyemangati saya menulis. Di FLP kami membuat acara seputar literasi, rutin membedah karya, lalu mengirimkannya ke media. 


Bersama teman-teman penulis FLP dalam sebuah acara

Tulisan pertama saya dimuat koran lokal "Rakyat Bengkulu" berjudul Pada Gerimis Satu-Satu, lantas di koran lokal lain seperti Koran Lintas. Prestasi terbesar yang melecutkan gairah menulis saya adalah saat cerpen saya kali pertama dimuat Majalah Annida. Hebatnya langsung merebut Juara II Lomba Menulis Cerpen Islami (LMCPI) Annida 2005. Wow, bangga dan seketika serasa menjadi selebritas di kampus. Banyak akhwat-akhwat yang berkomentar, sehingga saya merasa mereka nge-fans, he-he-he.... Kemudian ada majalah Aulia, Al-Izzah, Aulia, Pesona, Ummi, Esquire, Hai, dan majalah lain yang memajang cerpen saya. 

Selain Mbak Yayuk, yang membuat motivasi menulis saya terlecut adalah Agusmantono. Sahabat satu kost sesama anggota FLP. Bersama Agus, kami bisa dibilang dua sahabat yang disatukan oleh hobi menulis. Kami sering mengkritik tulisan masing-masing, berbarengan mengajukan naskah ke penerbit, berbagi info lomba dan sebagainya. Teman-teman di FLP Wilayah Bengkulu lain pun turut berjasa. Rata-rata mereka generasi awal FLP-ers Bengkulu, seperti Yeni Sariasih, Novianti, Fransiska Rusman, Imam Hanuji, dan Fendri Heryanto. Tidak lupa juga pembina kami di Bengkulu, penulis Agnes Majestika dan Herman Suryadi. Sangat membantu, karena Bengkulu terbilang "kurang bergema" untuk perkembangan melahirkan penulis di banding lain. FLP yang berjaringan luas juga mengenalkan saya dengan penulis lain.

Keranjingan menulis, tentu saja impian seorang penulis adalah menerbitkan buku. Jatuh bangun saya menembus penerbit. Bahkan sampai hari ini, he-he-he.... Pernah bekerja sebagai wartawan di Harian Bengkulu Ekspress, redaktur di Majalah Annida, dan sekarang redaktur di Penerbit Pustaka Lebah, bukan berarti jalan membuat buku mudah. Benar sih, saya sudah punya beberapa buku, tapi itu antologi dengan penulis lain. Kepuasannya berbeda dengan buku karya solo. Novel saya malang-melintang ditolak puluhan penerbit. Sejak tahun 2006 sampai sekarang saya mencarikan jodoh. Alhamdulillah, novel bergenre teenlit yang saya tulis waktu masih kuliah tersebut menemukan takdirnya juga. Insya Allah, pertengahan Februari ini segera beredar di toko-toko buku oleh penerbit Jogjakarta. Bayangkan, penantian saya delapan tahun untuk membuat penerbit percaya menerbitkan satu buku karya saya! Satu lagi, menulis juga membuat saya memiliki banyak kesempatan lain. Misalnya terpilih menjadi travel writer untuk jalan-jalan gratis keliling Indonesia selama 15 hari oleh portal berita Detik.Com.

Saya juga pernah sedih. Alang-kepalang. Sampai sekarang. Penyebabnya naskah novel yang telah selesai hilang. Zaman kuliah saya memang menulis novel di buku tulis. Tak punya komputer apalagi notebook. Sayang, nasibnya malang. Novel itu entah ke mana, padahal belum sempat diketik. Untuk menulisnya saya kadung malas, karena bagi saya untuk menulis novel butuh nafas panjang. Tidak seperti cerpen atau puisi. Apalagi tipikal saya yang masih bergantung mood. Meskipun demikian, saya tak patah arang. Bagi saya, menulis itu cinta mati. Menulis itu sampai mati. 

Setiap kebaikan yang menyertai tulisan, insya Allah menjadi ladang pahala. Bisa menginspirasi, menyadarkan, memberi pengetahuan, atau paling tidak menghibur. Kebahagiaan menjadi penulis itu adalah ketika naskah kita diterima untuk dimuat media atau diterbitkan. Rasanya keletihan dan pengorbanan terbayar sudah. Apalagi pastinya rekening tabungan juga bertambah, alhamdulillah.

Sampai sekarang, saya tetap menyempatkan menulis. Ehm, doakan ya, proyek novel yang sedang saya kerjakan bisa segera rampung. Kalau kamu mau jadi penulis, maka kejar sampai berhasil. Tak ada yang tak mungkin. Kuncinya? Ya, banyak membaca. Penulis favorit saya adalah Herper Lee, Khaled Hosseini, Laura Ingalls Wilder, Karl May, Sinta Yudisia, Helvi Tana Rosa, Mochtar Lubis, Sapardi Djoko Damono, dan masih banyak lagi. Kunci berikutnya  adalah meningkatkan skill (dengan workshop, diskusi, kursus, dll). Dan terakhir, menulislah! Kemudian kirim dan tunggu takdirnya. Selama menunggu, tetaplah menulis. 

Saya pun hingga sekarang terus berlatih. Sadar saya tipikal penulis tergantung mood dan kadang butuh pelecut dari orang lain, untuk proyek novel yang sedang berjalan, saya ikut kelas menulis novel dengan mentor penulis favorit saya, Sinta Yudisia. Dengan demikian target dan deadline membuat saya mau tidak mau menulis. Lagipula, kalau cinta mati menulis itu sampai mati, artinya berlatih menulis juga sampai mati bukan? 

Ha-ha-ha.... Sepertinya saya terlalu panjang menulis pengalaman ini. Terlalu bersemangat. Sudah, ah! [Elzam]

Rabu, Februari 05, 2014

Jalan Sunyi yang Tetap Hijau


Hijau. Warna yang paling saya suka.  Mendengar kata hijau, maka saya membayangkan hutan. Selalu begitu. Membayangkan hijau hutan saja membuat saya seketika segar. Apalagi trekking di dalamnya, naik gunung, atau duduk di taman kota nan terbatas di Jakarta ini.  

Lantas benak saya menjejak ke mana-mana soal hutan dengan segenap isinya. Konflik tiada habis. Hutan sebagai habitat flora dan fauna berhadapan dengan perilaku manusia memperlakukannya dengan tendensius. Berorientasi uang, uang dan uang. Maka hutan dirambah menjadi kebun sawit. Hutan digunduli untuk diambil kayunya. Hutan dibakar hingga gajah dan harimau  liar di daerah saya, Bengkulu, turun ke desa-desa. Mengancam keselamatan karena rumah mereka, hutan tak lagi menyediakan mangsa. Saya mendukung gagasan Greenpeace menggugah kesadaran kita, untuk mulai menyadari bahwa hutan penting bagi hidup manusia. Gerakan dukungan melalui aksi nyata Protect Paradise menjadi keharusan untuk semua orang ambil bagian. Mari dukung dengan klik di sini! Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Hutan pula membuat ribuan hektar sawah mengering karena debit air Bendungan Air Manjunto di Mukomuko, masih di Bengkulu, menurun drastis. Tepatnya tak bisa menyediakan sediaan air yang cukup karena Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang menjadi hulu Sungai Manjunto bertahap menuju tandas.
Lebih gila lagi, kepala desa setempat bisa mengeluarkan Surat Kepemilikan Tanah (SKT) atas hutan lindung
Saat menjadi wartawan Bengkulu Ekspress, harian lokal di Bengkulu (2007-2009), saya sempat ngepos di Mukomuko. Sebelah timur kabupaten ini berbatasan langsung dengan TNKS. Penduduknya dominan berkebun sawit. Perusahaan sawit skala besar juga tumbuh pesat mengcengkeram. Bersama wartawan ANTARA Biro Bengkulu bernama Rini, kami masuk keluar hutan dan bekas hutan yang menjadi sawit. Tidak banyak wartawan lokal yang doyan beginian (siapa yang mau capek-capek investigasi di hutan, kedinginan kala hujan, medan berat, musti bawa bekal, etc). 
Saat investigasi perambahan bersama Balai Besar TNKS dan LSM, yang cewek itu Rini.
Ditemani para aktivis lingkungan dan polisi hutan, kerap pula kami mesti bermalam di hutan atau kebun sawit warga. Sudah biasa. Petualangan ini kerap saya rindukan setelah resign, lantas hijrah ke Jakarta.
Bahkan mobil semacam ini pun harus ditarik jika musim hujan
Mereka ini (penduduk dan perusahaan sawit) ikut andil menyulap hutan menjadi hamparan sawit. Rahasia umum, pejabat penyangga pemerintahan (eksekutif, yudikatif, dan legislatif) ikut menggarap hutan dengan mempekerjakan warga. Tentu saja, bukti sahih sukar didapatkan karena yang bergerak di lapangan orang lain, kaki tangan mereka. Izin Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan besar terus diperluas dan ditenggarai menyerobot hutan lindung, termasuk TNKS. Bersama LSM setempat semacam Genesis dan Walhi kami sering mengkritisi hal demikian dengan pemberitaan-pemberitaan tak sedap. Tak sedap bagi semua stakeholder yang ditenggarai terlibat. Putus asa dibuatnya? Memang. Tidak di Kepolisian, tidak di level pemerintahan dan legislatif, semua memberi alasan normatif; tenaga kurang di lapangan, cakupan wilayah yang luas, dana kontrol terbatas, akan segera ditindak sesuai aturan, sedang diselidiki, bla-bla-bla… Tapi saya tahu persis, sekadar alibi untuk menutup borok berjamaah. Data terakhir dari Balai Besar TNKS total kawasan yang telah dirambah seluas 41.303 Ha (2012), Bengkulu menyumbang rambahan terluas kedua 3.520 Ha, setelah Kerinci/Jambi yang mencapai 28.255 Ha. Sumber klik di sini!
Melihat hutan yang siap beralih fungsi menjadi kebun sawit di tengah gerimis
Hasil penebangan liar hutan oleh masyarakat
Tulisan ini hanya sekadar curhatan seorang mantan wartawan yang sama sekali tak hebat. Persoalan tata kelola hutan dan kesadaran masyarakat masih 'payah'. Sementara birokrasi di daerah kian jumawa sewenang-wenang memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, alih-alih memiliki political will yang bersahabat untuk hutan. Seakan mereka tak butuh mewariskan oksigen untuk anak cucu karena sekarang udara masih gratis. Padahal kerusakan hutan di seluruh dunia jelas mengancam orang-orang rimba yang terkait langsung, flora fauna penyerta, dan dunia secara umum dengan pemanasan global. Seperti yang dikatakan Greenpeace di sini!

Saya kerap diserang migrain tiap kali berita-berita investigasi saya seperti tak berbalas. Tak ditindaklanjuti. Belum lagi ancaman dan konflik dengan pihak yang terganggu terhadap temuan dugaan pelanggaran.  Pada akhirnya saya memilih jalan sunyi. Ya, sejujurnya penulisan hard news bukan passion saya. Dari awal lebih menyukai produk sastra, novel, cerpen, dan puisi. Saya tak punya banyak amunisi dan mental baja untuk bertahan.

Meski demikian, saya masih menyukai hijau. Novel lawas Mochtar Lubis, Berkelana di Rimba yang dibaca ketika SD, tetap favorit saya. Mengambarkan keindahan dan kegunaan hutan. Inilah sebabnya, saya suka menulis yang terinspirasi awal kehidupan bumi, hutan. Cerpen tentang kearifan manusia pada hutan, rimbawan yang jatuh cinta pada hutan, dunia petani seperti orangtua saya, cinta petualang-pendaki, tempat indah di sudut Indonesia bernama hutan. Bahkan saya sedang menulis novel dengan tokoh utama bernama Rimba. 

Nah, ini cover novel yang sampai sekarang masih saya suka.

Setidaknya saya ingin tetap mewarisi karya-karya yang membuka mata kita. Bahwa kita butuh benar hutan untuk melanjutkan hidup. [Elzam]

Pertautan Orang-orang yang Terperangkap Sunyi


Judul                    : SUNYI, Sebuah perjalanan hidup
Jenis                    : Novel
Pengarang          : Eni Martini dan Ifa Avianty
Penerbit              : Panser Pustaka, Jogjakarta (Cetakan pertama, Oktober 2013)
Halaman              : 240
ISBN                    : 602-7798-73-4




Tak banyak novel yang menuangkan isu rumah tangga yang sarat pro-kontra, lalu mengemasnya dalam cerita popular renyah.  Satu dari yang tak banyak ini adalah Novel Sunyi,  karya duet Eni Martini dan Ifa Avianty yang cukup berhasil. Tema poligami dalam Sunyi dekat dengan realitas di masyarakat kita. Banyak terjadi, berikut dengan sub-tema penyerta yang tak ada habis-habisnya. Dicerca banyak orang, tapi banyak juga dibela, bahkan menjadi pelaku suami beristri dua atau lebih tersebut. 

Novel sunyi menciptakan tiga perempuan dengan masalah masing-masing yang pelik. Menciptakan kesunyian yang dipendam dalam-dalam. Melati, pemilik daycare bersuamikan Radit  yang work-holic sebagai akademisi, sehingga menciptakan depresi sang istri yang nyaris tak pernah diperhatikan. Malaya, teman SMA Melati, pemilik coffee shop yang sunyi karena jodoh yang tak kunjung tiba di usia 35 tahun. Lantas Soraya, karyawan Melati yang bersuamikan Reza dan tak bisa hamil karena mandul. Itu pula yang membuatnya bekerja sebagai pengasuh anak-anak. Di sisi lain, kerinduan akan anak membuat Reza ingin menikahi Malaya, owner coffee shop tempat ia biasa ngopi. Sementara Soraya, sejatinya tak sanggup berbagi suami, tapi ketegasan tak terlisankan membuat Reza berkesimpulan Soraya bersedia dipoligami (hal. 148).

Awalnya Melati tak tahu, jika pangeran yang melamar sahabatnya  adalah suami Soraya. Begitu rahasia itu terkuak, ia tak kuasa memihak pada siapa. Baik Malaya atau Soraya adalah dua sahabat yang dicintainya. Soraya bersedih di tengah kegembiraan Malaya. Wanita yang mencintai Reza sepenuh hati itu tak jujur  pada suaminya. Sementara rumah tangga Melati dengan Radit di ujung prahara karena miskin komunikasi. Padahal di mata Soraya dan Malaya, Radit-Melati yang dikarunia bayi Zea adalah gambaran keluarga bahagia. Terbersit kekaguman (bercampur sedikit iri) di hati keduanya. 

Di Bab 16 (hal. 178), Melati tumbang, jatuh sakit karena memikirkan Radit yang sibuk sendiri. Di bagian berikutnya terkuak, autis asperger-lah yang membuat ia demikian, salah satu penyebab lelaki itu hanya tertarik pada diri sendiri (hal. 193). Kondisi Melati yang drop juga diperparah curhat Soraya tentang nasibnya yang akan segera mendapat madu. Sementara sebelumnya Malaya bingung, ketika tiba-tiba Melati memberikan pesan via ponsel yang penuh tanya, “Dear Mala. Aku hanya ingin tanyam apakah boleh andainya kita meraih bahagia dengan membuat seorang lain patah hati?” (hal. 176).  Pada akhirnya kejernihan hati dan kejujuran jua lah yang bisa menyelesaikan persoalan-persoalan wanita-wanita tersebut.

Eni Martini dan Ifa Avianty tak mencoba membuat isu sensitif ini menjadi begitu kejam, membuat kita bertikai. Toh, soal wanita yang bersedia dipoligami atau tidak, dikembalikan pada pilihan wanita itu sendiri. Bisa menolak, bisa menerima. Para lelaki harus menghormati dan menerima sikap tiap wanita. Meski jelas, Islam membolehkan. Kalau boleh ditangkap, bisa jadi lewat novel ini, pembaca bisa menyimpulkan silakan berpoligami, tapi jika dengan praktik tersebut pelakunya tak bahagia (yang juga wujud keikhlasan), jangan lakukan!

Sebagai bacaan menghibur sekaligus membuat cara pandang kita kaya terkait poligami, novel ini tepat sekali. Tak hanya terpusat pada isu poligami, masalah tokoh Melati pun sarat inspirasi. Komunikasi, perhatian, dan saling memahami pasangan dengan jujur haruslah selalu dipupuk. Tak hanya cukup bertahan dalam diam tak bicara. Ujungnya, tentu saja, semua indah pada waktunya. [Elzam]

Selasa, Februari 04, 2014

Disatukan Sang Maha Cinta dalam Kasih Sayang

Tulisan ini dibuat dalam rangka berpartisipasi dalam B Blog




Semua menjelma dia
Tentang kasih sayang tak bertepi; menguar tanpa jeda
Pada ruang cinta yang dibangun empat tahun silam
Lalu kadang suka tersalip duka meremuk redam

Aku ingin mencintaimu
Seperti tiap tarikan nafas menghalau naik menuju udara tak hingga
Terindah adalah engkau, terlilit pemberian tak sempurna dariku
Inginnya selalu suka, tetap menjelma
Manda dan Kekey bermain di Kota Tua
Sehari sebelum Valentine, 13 Februari 2010 kami bertemu dalam momen sederhana. Di rumah kecil sudut Depok, tempat tinggal rekan kerja yang memperkenalkan kami. Gadis itu, berperawakan kecil, berkata tegas, dan manis senyumnya bagiku. 

Ah, tak bisa kulupakan gelegar tubuh yang gemetar menuju sang calon kekasih. Berusaha tampil sebaik mungkin, menyisir rapi rambut, dan menyemprotkan parfum yang masih kuingat wanginya.

Kali pertama kutatap dalam sekelebatan malu mata ini, ia begitu sederhana terbalut seragam kerja. Ya, ia hanya guru TK. Lantas, di sore hari mengajar anak-anak mengaji tanpa minta dibayar. Di mana salah satu bocah yang mengaji adalah anak rekan kerjaku. Tapi demikianlah aku mulai mempertimbangkan untuk mengenalinya. Kubayangkan anakku tumbuh baik dalam naungan kasih sayang lembut perempuan penyayang. Cerdas terdidik dan berperangai mulia ditempa pengalamannya mengajar bocah-bocah yang gegas berlari kian kemari dalam riang. Gadis itu, kupikir memunyai bertangkup-tangkup keajaiban tangan halus seorang ibu. Sepatutnya pula, semakin mumpuni setelah menyelesaikan kuliah di Pendidikan Anak Usia Dini. Tentulah ia memunyai ilmunya, ilmu mendidik anak. Masa bodoh jika ia tak berada, masa bodoh tubuhnya tak begitu tinggi dibanding aku yang menjulang, masa bodoh ia ….
Toh, tak kan engkau temui yang sempurna di luar sana, karena siapalah engkau. Seorang lelaki yang tak juga sempurna.

Visi misi hidup menggema. Harapan tentang sebuah keluarga terlantunkan. Dan ia tersenyum melihatku sejenak (Yang belakangan, diakuinya tertegun melihat jemariku yang gemetar memegang post man bag milikku. Jemari yang menurutnya indah dan membuat ia jatuh cinta, ha-ha-ha... )

Dua minggu kemudian aku meminta ia pada ayahnya. Keluarga nun jauh di Sumatera tak bisa menemani. Untunglah, didampingi ustadz dan rekan kerja beserta istrinya, kuutarakan niat suci yang terpatri di hati. Wajah terbungkus jilbab putih itu makin memesona. Aku tak salah pilih. Insya Allah.

17 April 2010 hati kami telah disatukan Sang Maha Cinta. Merenda kehidupan yang terbentang dalam karunia bernama pernikahan, alhamdulillah. Tak terbilang kesyukuran. Makin bertambah-tambah ketika gadis mungil menggenapkan pernikahan. Kaulah anugerah terindah setelah Manda, Nak! Kayyisah Faqihah Adonia. 21 April 2011 tangis nyaringmu menghiasi dunia cinta Panda dan Manda. 



Kekey di Daycare Buah Hati. Menunggu Manda ngajar di TK, Kekey biasanya main di daycare yang letaknya di samping
Lantas kita sapa anak yang engkau lahirkan dengan panggilan Kekey. Ia begitu lucu menggemaskan. Tumbuh sempurna. Semakin hari bertambah-tambah kebiasaannya. Dan sekarang ia begitu ramai dengan celoteh dan tanya di usia belum lagi 3 tahun, bernyanyi berbait-bait (Balonku Ada Lima, Naik Kereta Api, Twinkle-Twinkle Little Star, Pelangi-Pelangi, Rain-Rain Go A Way, dan masih banyak lagi), pintar berdoa kala makan dan tidur, mengajak main temannya di daycare yang pemalu, tak lagi menggunakan diapers sejak 2 tahun lebih, meninggalkan dot begitu ia sudah bisa menghisap sedotan di usia kurang dari setahun, dan, dan.... Engkau ibu terhebat, Sayang. Bersama Kekey, aku ingin setiap hari adalah hari penuh kasih sayang karena adanya engkau di sisi kami, Manda Yeni Nuraeni.

Duhai, aku tak sempurna mendampingi engkau, Sayang
Ragam kesalahan mengiringiku
Maukah kau tetap bersamaku, karena kubutuh benar engkau
Bernafas bersamamu, aku tak pernah lelah
Mengarungi hidup ini [Elzam]

Ini pas Kekey belom lahir, he-he-he....