Jumat, Mei 21, 2010

Rahasia yang Tak Terungkap



Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta),
Itu semua hanyalah kulit.
Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah
rahasia yang tak terungkapkan.

(Jalaluddin Rumi)

Rabu, Mei 19, 2010

Tak Boleh (Merasa) Lelah


Apa yang membuat berhenti di satu titik?
Stagnan
Begitu banyak hal yang membuatmu harus berjuang
Memberi arti bahwa hidup adalah membuat orang-orang yang kau cintai tersenyum
Karena engkau terus menebar kasih sayang

Wake up, Man!

Cinta dengan tak sekadar kata.

Senin, Mei 10, 2010

Jeruk Asem Pemberian yang Menjelma Dirinya





Malam itu, malam ke-21 pernikahanku dengan mojang Sukabumi. Dia mungil, manis, sekaligus membuatku enggan beranjak jika di dekatnya (ehm, syndrom pengantin baru kali ya, he-he-he....)

So, apa yang membuatku sampai kepikiran menulis sepanggal kisah yang masih akan membentang berjuta episode (sinetron stripping kale!) di waktu mendatang? Halah....

Pulang dari kantor, aku melihat beberapa butir jeruk yang alamak; kisut, kecil-kecil, dan sama sekali tak menggairahkan. Padahal jeruk salah satu buah favoritku, cuma liat penampilannya yang sekadarnya jadi males nyentuh. Kok My Honey tega banget beli jeruk begituan, pikirku dalam hati.

Jadi ingat pas belanja bulanan pertama di Careffour bareng dia. My Honey nanya, "Sayang, kamu kok gak ambil apa gitu, keperluanmu?"
Aku cuma menggeleng. Minyak rambut, shampoo, parfum, dll semuanya masih ada warisan jaman bujangan. Tapi, My God, kalau sendirian aku udah beli buah macam-macam biasanya. Budget buat buah biasanya lumayan sih kalo dulu. Bahkan kalau males makan aku mampir ke tokoh buah dekat kost, borong buah sebagai ganti makan malam, hohoho. Aku jadi curiga di biodata awal (hayoo, apa coba?) doi bilang suka buah, kenapa nggak inisiatif beli apel, jeruk, pir, pisang, jengkol... (eh, yang terakhir bukan buah ya?) Jadilah aku diam aja, sempat terhibur My Honey pengen es krim (aku juga kepengen he-he-he....). Tapi celingak-celinguk nggak ketemu, mana aku juga baru kali ini belanja di Careffour Depok. Es krim vanilla atau yang rasa buah Rp 2000-an kayak pelangi itu batal mampir di tenggorokan.

Nah, lanjut ke jeruk memprihatinkan tadi. Malam-malam aku liat my honey asyik ngupas jeruk yang entah ia beli di mana tadi. Aku sih udah memperkirakan jeruk itu asem dari penampilannya. Jeruk yang jaminan nggak asem itu jeruk medan, tapi kalo nggak beruntung dapat yang hambar atau manisnya nggak begitu. Jeruk yang pasti manis tapi aku biasanya nggak suka (karena jeruk impor) jeruk ponkam, kadang-kadang ada sensasi apa gitu yang "aneh". Kalo jeruk pontianak seger sih, kulitnya ijo, licin, tapi kadang asem kadang manis. Yang paling seger dan selalu manis sunkist, tapi repot makannya mesti pake pisau, sebelum pake mulut, whuakakaka.... Kulit sunkist tebal banget dan keras.

Begitu liat My Honey sibuk dengan jeruk-jeruknya, aku jadi nafsu juga. Tapi karena yakin asem nggak jadi ikut bergabung. Ngeri liat doi abis jeruk yang lumayan banyak itu.
"Itu jeruk apaan Say, manis?" Kataku sambil menelan liur, membayangkan asemnya.
"Asem...." My Honey menjawab santai, aku tambah heran. Asem ditelan juga. Kutanya kenapa diabisin, dia bilang asem-asem enak. Gubrakss....!

Penasaran, aku mengambil sesiung (benar gak sih istilahnya? dari tangannya.
"Hueksss... sumpah! Ini mah benar-benar jeruk asem." Jeruknya kubuang. Males.

My Honey cekikikan, tapi tetap asyik menikmati asemnya jeruk. Walah, belum hamil aja doyan asem-asem. Begitu hamil jangan-jangan minta rujak belimbing wuluh campur asem jawa, mangga muda, asem kandis, cuka, pake asam sitrun, hohoho.... *Piss, Honey*

Lalu, tuh jeruk masih ada sisanya beberapa keping dari butir yang sama kumakan tadi. Aku nggak minat, jadi melihat doi aja. Bengong sekaligus takjub, doi bilang udah habis lima buah jeruk tersebut. Hebat, mantapff... Dengan pedenya My Honey ngasih aku sesiung jeruk yg udah dibersihin tali-tali alias urat-urat yang kadang nempel itu.

"Ogah, asem juga. Yang tadi aja dibuang," elakku. Romantis sih boleh, suap-suapan. Tapi jangan jeruk asem, Sayang. :-(

My Honey berkeras, "nggak asem, coba deh." Tetap memaksa, tampangnya pede banget meyakinkan jeruk itu nggak asem.
"Nggak, itu sama dengan yang tadi. Pasti asemlah logikanya."
"Iya, tapi ini benar-benar manis kok! Coba ajjja dulu," katanya manis.
Dipaksa-paksa mulu, aku manut juga. Penasaran, aku udah siap-siap mo jitak doi dan nyemprot kalo asem.

AMAZING.... AJAIB SODARA-SODARI!

JERUKNYA MANIS! Baru kali ini aku ngerasain sebutir jeruk belang-belang rasanya. Ada manis, ada yang asem.

"Lho, kok manis? Ini benar-benar manis, Sayang."
My Honey tersenyum manis. Menang. "Dibilang juga apa, manis kan?"
"Ho o... Kok bisa manis? Padahal yang lain asem. Kamu apain, dikasih mantera-mantera?
"Dikasih cinta," jawabnya tangkas. Ehm, pas ngomong itu aku ngeliat doi manissss banget. Subhanallah.
Waksss! Cinta bikin jeruk asem jadi manis. Tapi aku heran juga sampai sekarang, kok bisa ya? Hohoho.... Entahlah, apa sebabnya.

Aku yang baru merasakan keajaiban dalam ketakhabisan pikir merasa takjub. Cinta emang hebat euy. Jeruk asem yang menjelma cinta. Jeruk asem yang menjelma dirinya.

Lantas, kamu percayakah? Aku sih percaya, karena aku merasakannya bukan di negeri dongeng. Ah, cinta.

Kamis, Maret 25, 2010

Membuat Diri Memiliki “Sistem Menulis”



Bagaimana tips agar bisa produktif menulis?

Rasanya cukup sering kita membaca atau mendengar tips bagaimana supaya seseorang menjadi “pabrik” tulisan dengan produk yang membanjiri banyak media massa. Setiap penulis mempunyai kiat atau tips-tips yang berbeda, meski tujuannya tetap satu: terus menghasilkan karya secara periodik dengan kuantitas terjaga (tentu tanpa mengabaikan kualitas).

Sebenarnya saya sendiri belum bisa dikatakan produktif menulis  dan agak "gimana gitu" mendapatkan menuliskan ini. Tapi tidak apa-apa, setidaknya dengan menuliskannya besok saya akan malu mengatakan yang tidak saya kerjakan dan pada akhirnya menjadi produktif menulis, he-he-he…

Nah, dari pengalaman banyak penulis yang saya himpun dari berbagai perbincangan dan bacaan, saya menyimpulkan mereka yang “produktif” sebenarnya penulis yang memiliki sistem menulis atau writing system. Secara bebas saya mendefinisikannya mereka pemilik sistem menulis ini adalah individu yang menganggap segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan terjadi mengenai diri mereka harus ditulis. Dengan demikian pikiran mereka setiap saat terhubung supaya bagaimana ide, pengetahuan, wawasan, dan gagasan yang dimiliki harus menjadi rangkaian kata-kata alias tulisan.

Tentu saja dengan pikiran seperti di atas, maka pemiliknya secara sadar pula akan segera action menulis. Lalu kapan dia bisa berhenti menulis? Tidak pernah! Karena setiap orang tidak akan pernah berhenti mendapatkan ide, pengetahuan, wawasan, dan gagasan baru yang menjadi adonan sebuah tulisan. Dirinya tinggal menjalankan doktrin di otak yang sistematis itu dan melakukannya secara riil dengan tindakan.

Dengan memiliki writing oriented pada hidup yang dijalani, akhirnya sistem menulis telah melekat dalam otak manusia. Tinggal dirinya menerjemahkan sistem menulis ini secara praktis sesuai keinginan dan kebiasaan masing-masing. Inilah yang menjadi tips-tips yang bertebaran. Apakah dengan menuliskannya di notes, meluangkan waktu tertentu menulis blog, menulis di diary, menuliskannya malam hari/subuh, menulis di ponsel/PDA, dan sebagainya. Intinya mereka konsisten meluangkan waktu kapan pun itu untuk mengaduk bahan menjadi adonan, lalu memasaknya menjadi hidangan cerpen, novel, puisi, artikel, atau tulisan lain. Ehm, mengasyikkan bukan?

Membangun Sistem Menulis?
Pada dasarnya semua orang bisa membangun sistem menulis masing-masing secara “unik” dan pas dengan karakter diri. Seperti jasad yang tidak bisa bergerak tanpa ruh, menulis pun demikian. Kita tidak akan bisa menulis (menggerakkan pena, memencet keyboard komputer) jika tidak memiliki motivasi psikis kenapa harus menulis.

Hal-hal di bawah ini mungkin bisa membantu untuk membangun sistem menulis pada diri kita masing-masing. Sehingga menulis menjadi sistem yang padu, include pada pada otak yang memerintahkan kita bergerak menulis kata demi kata, kalimat, paragraf, sampai sebuah tulisan utuh.

1. Pancangkan dan perbaharui selalu niat (berdakwah, mencerahkan orang, berbagi pikiran, etc).
2. Menulis membuat kita semakin kaya secara intuitif, wawasan, dan cerdas, dan lebih arif pada lingkungan.
3. Secara alamiah menulis akan memberikan keuntungan bagi kita. Apakah mendapatkan penghasilan, menjadi terkenal, aktualisasi diri, diakui kompetensi dan kepakarannya.
4. Jika dorongan psikis “mengapa saya harus menulis?” telah menguasai diri, maka dengan gampang pula kita akan mendapatkan cara praktis sehari-hari untuk menulis, menulis, menulis…!

Mudah-mudahan, amin. [Elzam/foto diambil dari www.worldhum.com]

* Tulisan yang menjadi bahan “Kiat Menulis Produktif” Pada Inagurasi FLP Bekasi ( 26-12-2009).

Rabu, Maret 10, 2010

Tawa Tangis Gila

Bahkan, pada setiap kepahitan kita akan tertawa.
Menertawakan penat diri yang tak lagi membuncah lelah.
Ya, tawa itu adalah puncaknya...
menjadi gila

Merongrong hidup sampai busuk kau dibuatnya
Maka sebodoh itukah kau menjadi keledai?
Mengikis ketegaran sampai patah

Lalu besok kau akan menangis
Berulang
Tawa; tangis
Tangis; tawa
Tawa
Tangis

Mati.


[Elzam Zami]