Senin, Februari 06, 2012

Membahasakan Koruptor



Masyarakat mempertontonkan bahasa "menakjubkan" untuk menyebut koruptor, beserta kata-kata ikutan lain. Saya pikir ini pantas, karena setiap hari dari receh di kelurahan, ratusan ribu di dinas/suku dinas, hingga milyaran dan jutaan di kementrian masuk ke kantong koruptor dengan cara yang tidak bertanggungjawab. Bukan rahasia umum lagi, bahkan terang-benderang semua mengetahui. Birokrat, pengusaha, DPRD/DPR, menjadi tripartit biang koruptor, yang masih juga diamini oleh lembaga hukum (pemberantas korupsi itu sendiri). Capek kan hidup di Indonesia?

Oke, sekarang saya cuma mau ngeluarin unek-unek yang ngeganjal setelah mengikuti Angelina Sondakh alias Angie yang menjadi tersangka atas kasus wisma atlet. Semua orang, rakyat bilang maling, gantung, hukum mati, penjarah harta rakyat, lintah rakyat, dll... Untuk mengungkapkan (atau memaki?) siapapun yang terbelit kasus korupsi. Bagaimana dengan Angie? Saya kaget aja bagaimana infotainment membahasakan seorang tersangka koruptor (lepas dari dia belum terdakwa dan asas praduga tak bersalah) sangat kalem, sopan, penuh tepo seliro. Sementara selama ini kita berkoar-koar menghujat habis-habisan koruptor. Saking gemasnya, pelaku kriminal lain minta "dimaklumi" dan meminta aparat mengurus kasus yang lebih penting, lebih merusak, dan menyengsarakan rakyat. Luna Maya pernah menyatakan kira-kira,"Daripada menghukum Ariel, kenapa tidak menghukum koruptor yang berkeliaran bebas?" Pernyataan senada juga sering disampaikan beberapa pihak yang terjerat kasus yang dianggapnya tidak ada apa-apanya.

Di salah satu infotainmen teve swsta, soal si Angie ini, tidak ada redaksional kata-kata yang menghujat Angie, okelah, memang tidak pantas dihujat. Tidak ada juga kata-kata "menyesalkan", "disayangkan", "memprihatinkan", atau apapun sejenisnya yang mengambarkan bahwa dugaan prilaku korupsi yang dilakukan Angie benar-benar tidak pantas, melukai rakyat, merusak citra Puteri Indonesia dan yayasan, memalukan bangsa Indonesia yang bangga dan percaya Angie dibawah naungan demoktar jujur, sejujur iklan ANTI KORUPSI yang dibintanginya bersama Partai Demokrat. Alih-alih, infotainment hanya melempar kalimat-kalimat bersayap seakan-akan Angie mustahil alias tidak pernah korupsi. Penetapan tersangka hanyalah "cobaan", "ujian", "perjalanan hidup" yang harus dilewati dengan tabah, menuntut ketegaran, dan pasti ada penyelesaiannya. Apalagi dikait-kaitkan dengan kematian suaminya. Bertambah miris dia ditetapkan menjadi tersangka saat hendak umroh bersama putrinya. Lha, ini apa-apaan? Apa dengan semua ini, dia tidak pantas ditetapkan tersangka, meski bukti dan fakta dari KPK cukup buat menyeretnya? Dan saya mulai mual... Ini sudah bahasa yang tidak menempatkan pada konteksnya.

Satu yang ingin saya gariskan buat tersangka dan terpidana koruptor. Bukan cuma buat Angie, tapi juga buat sosialita tua, Nunun Nurbaeti, atau siapa pun... Menjadi pelaku kriminal dan ditetapkan statusnya bersalah oleh aparat itu bukan ujian dari Tuhan. Jangan berlindung di balik nama Tuhan untuk menyatakan "hasil" dari ulah Anda adalah ujian, cobaan, dan kata-kata lain yang bagi saya tidak lebih dari ngeles dan munafiknya si pelaku. Jika benar kita melakukan korupsi, Tuhan saja benci dan akan mengutuknya (terlepas dari pintu tobat yang selalu tersedia). Jawaban-jawaban semacam ini lah yang tidak saya temukan ketika infotainment menanyakan komentar selebritas lain seperti Maya Estianti mengomentari Angie yang menjadi tersangka di kali kedua keanggotaannya di DPR tersebut. Intinya, balik lagi ke ujian, bisa melewatinya dengan baik, semoga tegar,...

Oh, iya iya... Mereka artis. Dan saya pagi tadi itu menonton infotainment!

**Bahasa cermin seseorang menilai suatu hal. Bahasa juga alat untuk memengaruhi orang yang diajak berbahasa memberi nilai**

Rabu, Januari 04, 2012

Jejak 2009-2012


Blog gue...

Ahahaha... lo masih ada ya tahun 2012 ini. Sebenarnya gue suka ama lo. Gue ingat, Juli 2009 gue udah janji akan tetap setia ama lo. Apapun yang terjadi, meski penyedia blog lain bermunculan dan bikin fitur yang menarik. Gue cuma pengen nulis, nulis, nulis... Tentang apa yang ada di benak gue, apa yang gue lakuin, pencapaian gue, karya-karya gue.

Gue review kinerja blog ini, ehm..
2009: Gue cuma nulis dua bulan Juli dan September. Setelah itu bablas. Okelah, mungkin tahun pertama.
2010: Gue nulis 9 bulan. Keren. Peningkatan signifikan.
2011: Gue nulis 6 bulan. What's? Dari Januari ampe Juni gue masih nyempetin posting satu dua tulisan. Juni ampe Desember kosong! Padahal tahun ini pula udah janji paling tidak menulis satu postingan tiap bulan. Padahal banyak cerita menarik gue di tahun ini. Gue juga ikut Aku Cinta Indonesia (ACI) 2011 dari detik.com. Perjalanan yang tak bisa saya lupakan. Tapi abai saya tulis di blog tercintahh ini.
2012: Gue nggak mau bikin target gede untuk aktivitas perblogan gue tahun ini. Kembali ke tahun sebelumnya. Gue mesti posting MINIMAL SETIAP SATU BULAN SATU POSTINGAN. Titik. [Elzam/gambar dari http://blograkata.blogspot.com]

**Paling sedih saat dengan dada bergemuruh saya melongokmu, penuh segan dan malu (karena tak pernah mengudapte). Melihatmu dengan baris-baris yang tetap seperti itu. Dan itu tahun lalu terjadi selama 6 bulan. Lalu pelan-pelan saya mengklik icon X di sudut kiri itu, dengan gemuruh yang tak juga reda. Gue kesal sama diri gue. Bangs*t, eitss... tak boleh ya! Innalillahi wa innalillahi raji'un**

Cinta Semesta


Kemasi anganmu di sini
Pilah sampai kau lupa
Lalu pinta Tuhan menghapusnya

Sebenar-benar cinta
tetap yang apa adanya
Menabur benih, menuai harga

Begitulah yang mesti kau percaya
Cinta Semesta
[Elzam/gambar dari http://galuhsekarini.blogspot.com]

**Ehm, kangen pada blog ini. Kutulis ia sebuah sekejap puisi untuk menuntaskannya**

Senin, Juni 13, 2011

Mencari Sebuah Masjid


Aku diberitahu tentang sebuah masjid
yang tiang-tiangnya pepohonan di hutan
fondasinya batu karang dan pualam pilihan
atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan
dan kubahnya tembus pandang, berkilauan
digosok topan kutub utara dan selatan

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan
dihiasi dengan ukiran kaligrafi Quran
dengan warna platina dan keemasan
berbentuk daun-daunan sangat beraturan
serta sarang lebah demikian geometriknya
ranting dan tunas jalin berjalin
bergaris-garis gambar putaran angin

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang masjid yang menara-menaranya
menyentuh lapisan ozon
dan menyeru azan tak habis-habisnya
membuat lingkaran mengikat pinggang dunia
kemudian nadanya yang lepas-lepas
disulam malaikat menjadi renda-renda benang emas
yang memperindah ratusan juta sajadah
di setiap rumah tempatnya singgah

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang letaknya di mana
bila waktu azan lohor engkau masuk ke dalamnya
engkau berjalan sampai waktu asar
tak bisa kau capai saf pertama
sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu
bershalatlah di mana saja
di lantai masjid ini, yang luas luar biasa

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang ruangan di sisi mihrabnya
yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya
dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya
di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian
yang menyimpan cahaya matahari
kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan
ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu yang berguna
di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta
terletak di sebelah menyebelah mihrab masjid kita

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang masjid yang beranda dan ruang dalamnya
tempat orang-orang bersila bersama
dan bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka
dan pendapat bisa berlainan namun tanpa pertikaian
dan kalau pun ada pertikaian bisalah itu diuraikan
dalam simpul persaudaraan yang sejati
dalam hangat sajadah yang itu juga
terbentang di sebuah masjid yang mana

Tumpas aku dalam rindu
Mengembara mencarinya
Di manakah dia gerangan letaknya ?

Pada suatu hari aku mengikuti matahari
ketika di puncak tergelincir dia sempat
lewat seperempat kuadran turun ke barat
dan terdengar merdunya azan di pegunungan
dan aku pun melayangkan pandangan
mencari masjid itu ke kiri dan ke kanan
ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan
dia berkata :

“Inilah dia masjid yang dalam pencarian tuan”

dia menunjuk ke tanah ladang itu
dan di atas lahan pertanian dia bentangkan
secarik tikar pandan
kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran
airnya bening dan dingin mengalir beraturan
tanpa kata dia berwudhu duluan
aku pun di bawah air itu menampungkan tangan
ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan
hangat air terasa, bukan dingin kiranya
demikianlah air pancuran
bercampur dengan air mataku
yang bercucuran.

Jeddah, 30 Januari 1988
Taufiq Ismail
(Ilustrasi diambil dari http://ns1.indonesia.travel/en/destination/467/padang/tips)

**Selalu ada tempat pulang. Tempat di maka kita menyakini, itulah sebenarnya rumah bagi kita**

Kamis, Mei 19, 2011

Merengkuh Puncak Gunung Gede Pangrango

Weekend lalu, 14-15 Mei 2011
Ini kali pertama aku naik puncak gunung. Biasanya keluar masuk hutan atau ke kebun di Bengkulu yang medannya sedikit menanjak. Perjalanan yang menakjubkan, karena capek bercampur semangat membuahkan hasil memuaskan. Merengkuh Puncak Gunung Gede! Puncak berkawah setinggi 2.958 meter (9.705 kaki)akhirnya berhasil kami daki.

Gunung Gede sendiri termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Jawa Barat, yang konon merupakan taman nasional tertua di Indonesia. Pintu masuk menuju puncak Gede adalah Selabintana (Sukabumi) yang sudah ditutup karena medan yang berbahaya, pintu Gunung Putri (Cianjur atau Bogor?), dan Cibodas yang paling umum digunakan pendaki. Nah, Gunung Gede ini berdampingan dengan Gunung Pangrango yang sedikit lebih tinggi, yakni 3,019 meter.

TIM EMPAT BELAS

Empatbelas orang bergabung dalam tim. Sembilan lelaki (Mas Sigit, Mas Amin, Yudha, Tiko, Asep, Udin ke-11, Deden,Iwan, dan aku) serta lima perempuan (Mbak Aini, Mbak Esthi, Indah, Lasmi, dan Megawati yang sendirian dari Bandung). Tim ini keberangkatannya dikoordinir oleh Mbak Aini, istrinya Mas Sigit. Namun praktiknya di lapangan kita dipimpin Asep yang lebih menguasai lapangan. Hehehe, uniknya, tim ini ndak saling mengenal seluruhnya toh... Ada temannya teman... Malah ada yang nggak punya teman, ahahaha. Kayak Indah yang mengajak adiknya Tiko. Sebenarnya Indah berteman dengan Nur Rofi yang sedianya ikut tim, tapi nggak jadi karena saudaranya mendadak masuk rumah sakit. Jadilah di Tim 14 ini dia nggak punya teman, tapi akhirnya berteman semua, makin lama makin rame euy...

KEBERANGKATAN

Kami sepakat bertemu di terminal Kampung Rambutan, Jum'at (13/05/11) ba'da magrib. Ujung-ujungnya baru bisa berangkat sekitar Pukul 22-an malem. Beberapa teman telat, sehingga harus menunggu berkumpul. Cuaca hujan membuat terminal bau pesing (hahaha....) itu sedikit dingin. Tengah malam lewat, baru nyampe Cibodas. Atas rekomendasi Lasmi yang anak IPALA (Ikatan Pecinta Alam Islam Indonesia) kita istirahat di Warung Mang Idi. Besok pagi rencananya baru naik, karena masih harus verifikasi Simaksi alias surat izin pendakian, karena baru mendaftar secara online saja.

Paginya, semua bersiap. Aku sebenarnya nggak nafsu makan, tapi karena butuh fisik yang fit, dipaksa-paksain juga. Hehe, bener tebakanku, sambelnya aja manis :-(. Nggak terbiasa dengan makanan yang serba manis, apalagi sambel (kan harusnya pedes). Abis itu aku minum segelas susu. Ehm, alhamdulillah... Semoga cukup untuk energi awal naik. Setelah semua siap, kita berangkat ke kantor TNGP buat ngurus Simaksi tadi. Agak lamban, karena ada fotokopi yang tertinggal, nonton film dulu tentang TNGP plus presentasi Ardi Andono, orang TNGP. Alhasil, berangkatnya kalo nggak salah sekitar pukul 10.30 WIB.

Sampai di pintu masuk TNGGP, kita melewati pos pemeriksaan. Rupanya nggak boleh bawa senjata tajam alias golok. Kalau pisau masih boleh. Cukup banyak hari ini yang antri naik. Maklum long day weekend karena hari Selasa Waisak, lalu PNS dan beberapa perusahaan libur bersama hari Seninnya.

Berangkat dari sinilah, jalanan mulai menanjak. Di resort TNGGP tak jauh dari pos penjagaan kita sempatkan berdoa. Bagi yang ingin ke toilet masih tersedia di sini. Kata Asep, "Sekarang boleh nanya toiletnya di mana? Setelah ini, toiletnya ada di mana-mana." Hehehe... benar saja. Aku aja dua kali bikin toilet buat BAB di kawasan TNGGP memiliki luas 22.851,03 hektar itu, ahahaha...

Awalnya tim berjalan berombongan, berdekatan. Lama-lama berkelompok-kelompok kecil. Ada yang cepet ada yang lama jalannya. Ini baru bener-bener track-nya. Aku bertiga dengan Asep dan Indah. Jalan beberapa ratus meter, istirahat, jalan, istirahat... begitulah. Benar-benar bikin kaki pegal dan tenggorokan cepat haus. Sementara di depan telah meluncur jauh Lasmi, Tiko, dan Iwan. Di belakang ada rombongan Mbak Aini dan teman-teman yang lain. Lalu di belakangnya lagi, Mas Amin yang berangkat bareng Mega yang ditinggal karena telat. Piss ya, Mega.

Lama berjalan dengan tanjakan yang jalannya lumayan luas, bisa buar berjejer tiga orang mungkin. Kami menemukan Telaga Biru. Ehm... hiburan pertama ini. Sampai di Telaga Biru cuaca sedikit mendung dan gerimis. Dingin mulai menyengat, aku sudah memakai baju hangat, dan kaos tangan. Lumayan membantu, karena tangan mulai mengeriput dan pucat. Telaga Biru, awalnya aku mikir ini danau airnya biru, dalem, dan luasss. Tapi ternyata tidak begitu, airnya hijau bening (kadang-kadang memang berubah biru sesuai namanya). Luasnya pun terbilang kecil, kayak kolam aja, hehe... Mungkin sekitar seratus meter persegi lebih. Cuma karena letaknya di belantara hutan, membuatnya menjadi istimewa. Keren lah.



Lalu perjalanan terus berlanjut, tanjakan menyempit hingga cukup untuk satu orang saja. Di tengah jalan kerapkali bertemu pendaki lain yang turun dan naik. Bahkan ada rombongan Pramuka penegak yang berjalan santai sambil nyanyi-nyanyi. Kompak banget. Mereka juga membawa plastik besar untuk mengumpulkan sampah yang berserakan. Good job's. Aku jadi teringat pengalaman Pramuka sepuluh tahun-an lalu di SMA, hehehe... Di Telaga Biru kami mememutuskan istirahat sejenak sambil menunggu rombongan Mbak Aini, Mbak Esthi, Mas Sigit, dan teman lain. Lasmi cs yang di depan tetap melaju, nggak sempat ketemu. Kalau nggak salah, di sini waktu sudah menunjukkan Zuhur.

Perjalanan terus lanjut. Berturut-turut kami melewati berbagai objek wisata alam yang menarik. Subhanallah. Setelah Telaga Biru, lantas bertemu kawasan Air Panas yang mengalir deras dan menuju tebing curam. Track ini lumayan menantang. Bayangkan, pendaki mesti melewati aliran air panas yang deras dengan melompati batu-batu kecil. Uap panas bergumpal-gumpal membumbung. Di sebelah kiri adalah jurang curam yang kalo terjatuh kayaknya wajib wafat. Serem juga! Untungnya oleh pengelola diberi pegangan yang memudahkan pendaki melewatinya. Di sini kami sholat Ashar plus Zuhur yang tadi belum ditunaikan. Agak kesal aku di sini, karena lokasi Air Panas sangat kotor, sampah di mana-mana dan bau. Jadi menganggu indahnya keajaiban Allah di TNGGP tersebut. Sekitar sejam kemudian, rombongan Mbak Aini menyusul sampai. Mas Amin dan Mega juga sudah sampai, alhamdulillah. Rombongan Lasmi? Teteuup, udah melenceng jauh ke depan, xixixi...

Abis sholat, perjalanan kembali digeber. Perut udah mulai laper. Aku, Indah, dan Asep sempat makan buah pear tadi di jalan. Sempat juga makan nasi uduk (nan dingin dan keras)yang dijual penduduk setempat yang melintas. Track makin parah, tanjakannya lebih tajam, licin, dan tetap berbatu-batu. Beberapa pohon besar melintang, membuat energi lebih cepat habis. Menjelang gelap kami bertemu Air Terjun/Curug Ciebeureum. Airnya mengalir deras dan jernih. Kutaksir tingginya sekitar 10 meter. Tidak terlalu tinggi memang. Titik-titik air aliran deras itu mengembang di udara, membuat tim semakin merapatkan jas hujan, karena bercampur dengan gerimis. Berrrr.... dingin euy.

Melihat kondisi medan yang mulai gelap, atas rekomendasi Asep kami berencana untuk menginap di Kandang Badak. Tempat yang memiliki area datar cukup luas yang biasa digunakan pendaki mendirikan tenda. Melenceng dari rencana semula yang berharap sampai di Puncak Gede maagrib dan mendirikan tenda di sana. Sesampainya di sana, syukurlah Lasmi, Tiko, dan Deden mengambil inisiatif berhenti di sana juga. Jadi semua tim berkumpul. Kondisi hujan deras dan semua kami KELAPARAN. Deden terlihat memasak beratapkan ponco. Lumayan, abis minum kopi anget tim mulai bergerak. Membangun tenda, membentang flysheet. Sementara Deden yang jago masak ternyata tetap bertindak sebagai koki. Lasmi dan Tiko kabarnya tinggal di pos TNGGP yang berbentuk bangunan, nyaman. Hehe...aku nggak tau bagaimana bentuknya.

Selesai tenda di bangun, semua beres-beres di tengah hujan. Tenda pun basah. Aku memasang matras di tenda laki-laki, dan meletakkan sleeping bag. Siap-siap buat tidur nanti. Menyenangkan sekali. Kami makan sambil menceritakan pengalaman masing-masing. Menunya? mie plus telor. Setelah sholat, aku pun beranjak memasukkan tubuh di sleeping bag. Menyusul Mas Amin, Mas Sigit, Yudha... O lala, paginya cewek-cewek pada komplain nggak bisa tidur karena dari tenda cowok ada suara dengkuran super keras. Hahaha, aku mah sama sekali nggak ngeh siapa yang ngorok. Yang jelas, aku nggak punya kebiasaan itu, sumpah! Jadi lah malam itu aku tidur lumayan nyenyak, meskipun lantai tenda sedikit miring dan ada batu yang mengganjal. Intinya tidak basah dan (begitu) kedinginan karena terbungkus sleeping bag. Cuma merasa ada basah-basah dikit di kaki, bukan karena ompol lho, hehe... sumpah lagi!

Malam itu, sebelum tidur kami sudah sepakat akan mendaki ke puncak sebelum subuh. Cuma membawa bekal secukupnya, sementara Deden sudah bersedia menjaga tenda. Harapannya bisa melihat sunrise. Pukul tiga-an aku udah denger ribut-ribut. Deden (lagi-lagi) memasak air dan nasi. Mas Udin ke-11, Mas Sigit, Asep, sudah bangun. Ada juga Mbak Aini, Mbak Esthi, Mega. Kayaknya mereka siap-siap. Aku pun bangun. Gawat euy kalo ketinggalan. Menyesal mewek di Kandang Badak nantinya.

Perbekalan siap. Kali ini yang naik jadi berkurang. Tanpa Deden, Mbak Esthi yang nggak pede karena takut kolaps dan ngerepotin tim katanya, plus Indah. Di belakang kami nantinya, menyusul Lasmi, Iwan, dan Tiko. Perjalanan menuju puncak cukup menantang. Malam-malam menyusuri jajaran pohon-pohon besar yang rapat, batu terjal yang mendaki, plus bunyi binatang malam yang mistis, lebayyy! Perutku mules, biasa, kalo makan mie seadanya suka begini. Untung bisa berhenti ketika teman-teman sholat Subuh. Setelah tertunaikan panggilan alam, baru lega dan semangat lagi jalannya.

TANJAKAN SETAN
Menuju puncak Gunung Gede kami menemukan tanjakan yang gila abis. Terjal, berbatu cadas. Pantas disebut tanjakan setan, yang belakangan aku tau dari teman kantor namanya. Salah-salah bisa jatuh dan tergelincir. Untungnya hari mulai terang. Yups, kelewatan tuh liat sunrise dari puncak Gede. Sebagai gantinya kami berfoto-foto di tengah tanjakan setan yang punya celah cukup luas dan datar. View-nya? Ehm... bikin ngiler. Gunung Pangrango nampak di seberang sana dengan gagahnya. Puas jeprat-jepret perjalanan dilanjutkan. Capek banget. Karena track yang cadas dan tebing curam bikin cepat lelah. Berkali-kali istirahat dan berharap puncak itu sedikit lagi, sedikit lagi, dan sampe. Teh anget dari termos Asep sampe ludes diminum bergantian. Aku penasaran banget, seperti apa puncak Gunung Gede itu? Menakjubkan kah? Indah?


DAN, AKHIRNYA...
Setelah capek banget, (sedikit) mengeluh, kami pun sampai. Waktu menunjukkan sekitar Pukul 06. 30 WIB.
Subhanallah. Begitu sampai, seperti ada pintu kecil yang kami lewati dan tiba-tiba bertemu alam yang amazing. PUNCAK GUNUNG GEDE...! Berdiri kokoh. Langit membumbung biru bersih. Bau belerang tercium menyengat menyapa indera penciuman.
Puncak Gede terlihat begitu anggun sekaligus menyimpan kengerian karena terpampang kawah yang begitu dalam di depan mata. Asap mengepul bergumpal-gumpal.

Inilah saat-saat yang kutunggu. Melihat ketinggian salah satu bentuk permukaan bumi Allah, melihat ketinggian kehebatan Allah menciptakan bumi untuk manusia. Subhallah, Alhamdulillah. Tidak puas-puasnya aku menggumamkan takbir atas kebesaran Allah. Tunai sudah kelelahan mendaki puncak yang butuh perjuangan luar biasa.

Kami pun berfoto-foto, hehe... Narsis-narsisan. Di sini terlihat siapa yang sebenarnya narsis abis dan paling banyak gaya. Hayooo, ngaku? Puncak Gede terus kami susuri dengan jalan di pinggiran kawah yang cukup membuat saya ngeri membayangkan seandainya jatuh. Tujuan selanjutnya adalah Alun-alun Surya Kencana, tempat edelweis tumbuh membentuk taman di ketinggian Gede.





Alun-alun Surya Kencana merupakan padang rumput luas yang menjadi bumi perkemahan. Letaknya sekitar setengah jam dari puncak Gunung Gede dengan posisi menurun. Dari Puncak Gede terlihat jauh dan rasanya butuh perjuangan lagi menjejakkan kaki di sana. Puluhan tenda pendaki berdiri mungil dan rapi menambah indah di lihat dari atas. Kami sampai di Alun-alun Surya Kencana sekitar pukul 08-an. Indah, hijau, berpagarkan Gunung Gede, Gunung Putri, dan gunung lain yang tidak kuketahui. Di pinggirnya menyemak edelweis yang indah, rimbun. Sungai kecil membelah padang rumput luas ini. Airnya dingin, jernih dan langsung bisa diminum. Sempat aku cicip langsung, segar dan manis!

Sembari duduk menikmati alun-alun, kami share cerita horor yang kerap menyambangi pendaki. Dari mulai bertemu mayat, mau dinikahkan dengan putri nenek-nenek gaib, pasar setan, dan sebagainya. Konon, alun-alun ini juga menjadi tempat persinggahan Prabu Siliwangi. Tidak beberapa lama kemudian, muncul Lasmi, Tiko, dan Iwan, yang kayaknya telah menjadi tiga sekawan, wakakaka. Mereka membawa nasting, dan makanan mentah. Jadi masak-masak deh, bisa bikin teh hangat juga, karena kami cuma membawa biskuit dan air putih. Puas sudah menelusuri Alun-alun Surya Kencana. Sempat juga aku, Mega, Asep, dan Tiko menyita camdig Mas Sigit untuk foto-foto di rimbunan edelweis. Kapan lagi kalo nggak sekarang?

TURUN GUNUNG
Kami pulang dari puncak Gede. Rombongan tetapku pulang adalah Mbak Aini,Yudha, dan Mas Sigit, karena yang lain sudah ngacir duluan. Di tanjakan setan kami sempat khawatir, apakah lewat jalan lain atau turun dengan tali di tanjakan mengerikan tersebut. Akhirnya diputuskan menerima tantangan tanjakan setan. Takut di jalan jalan malah tersesat. Mbak Aini sempat beberapa kali mau terpeleset. Untung ada tim lain yang membantu, aku dan Yudha di bawahnya juga ikut berjaga-jaga. Hebat euy, Mbak Aini pantas saja gampang lelah. Ketahuan, besoknya di Jakarta dia ternyata sudah mengandung beberapa minggu. Alhamdulillah, sang jabang bayi nggak apa-apa.

Sampai di base camp, masakan sudah tersedia. Wow, kali ini menunya komplit. Mulai dari sop bakso, ayam goreng, oseng-oseng tempe, kering tempe, spagheti (ini buat bekal pulang). Akhirnya makanlah dengan lahap. Mas Amin dan Udin ke-11 udah nyampe sedari tadi. Ketika lagi makan, sampai juga tiga sekawan yang bergabung ikut makan. Usai makan kami pun prepare buat turun, kemasin barang pribadi, dan bongkar tenda. Ada masalah, Deden mau buang nasi karena kebanyakan. Untunglah, dicegah. Kami memberikan nasi, ayam siap goreng, kering tempe, plus bahan sayur asem kepada tetangga yang masih bertahan di sana. Mereka berterimakasih sekali :-D

CIBODAS, JAKARTA....
Kami berangkat sekitar Pukul 14 siang dari Kandang Badak. Sampai di Cibodas Pukul 20-an, malam. Langsung menuju Mang Idi dan bersih-bersih, lalu memesan angkot untuk balik ke Jakarta. Berhenti di Kampung Rambutan Pukul 00 lebih. Tim berpencar ke arah rumah masing-masing. Perjalanan usai sudah! Jam menunjukkan Pukul 01-an ketika aku sampai di rumah, Kampung Gedong, Pasar Rebo. Alhamdulillah. [Elzam]

**Manusia, di mana-mana ayat-ayat Allah akan menunjukkan cinta padamu. Pun demikian gunung yang menjulang, menancap tegar tertanam bumi**