<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491</id><updated>2012-02-16T17:30:51.985+07:00</updated><category term='INSPIRING'/><category term='RAGAM'/><category term='REVIEW'/><category term='TENTANG CINTA'/><category term='CERPEN'/><category term='PUISI'/><category term='Dari Luar'/><category term='CERPEN KARYAKU'/><category term='Buku Karyaku'/><category term='LITERASIdanSASTRA'/><title type='text'>Mari Mengangkasa</title><subtitle type='html'>Menjelajah semua ruang.
pada kesempitan makna yang kadang tak pernah kupahami.
Lalu meluas, mencampakkanku pada kekerdilan diri.
Dan aku tetap si sini, dalam takjub keinginan.
Tetap ada bukan? 
Sesuatu, yang bernama "kesejatian diri".</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>37</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-5269116551095091059</id><published>2012-02-06T18:22:00.000+07:00</published><updated>2012-02-06T18:22:10.298+07:00</updated><title type='text'>Membahasakan Koruptor</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-SJftKQ7lMrc/Ty-3Vs_cR_I/AAAAAAAAAO4/bcLYdLaFMW4/s1600/tidak.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="234" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-SJftKQ7lMrc/Ty-3Vs_cR_I/AAAAAAAAAO4/bcLYdLaFMW4/s320/tidak.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat mempertontonkan bahasa "menakjubkan" untuk menyebut koruptor, beserta kata-kata ikutan lain. Saya pikir ini pantas, karena setiap hari dari receh di kelurahan, ratusan ribu di dinas/suku dinas, hingga milyaran dan jutaan di kementrian masuk ke kantong koruptor dengan cara yang tidak bertanggungjawab. Bukan rahasia umum lagi, bahkan terang-benderang semua mengetahui. Birokrat, pengusaha, DPRD/DPR, menjadi tripartit biang koruptor, yang masih juga diamini oleh lembaga hukum (pemberantas korupsi itu sendiri). Capek kan hidup di Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, sekarang saya cuma mau ngeluarin unek-unek yang ngeganjal setelah mengikuti Angelina Sondakh alias Angie yang menjadi tersangka atas kasus wisma atlet. Semua orang, rakyat bilang maling, gantung, hukum mati, penjarah harta rakyat, lintah rakyat, dll... Untuk mengungkapkan (atau memaki?) siapapun yang terbelit kasus korupsi. Bagaimana dengan Angie? Saya kaget aja bagaimana infotainment membahasakan seorang tersangka koruptor (lepas dari dia belum terdakwa dan asas praduga tak bersalah) sangat kalem, sopan, penuh tepo seliro. Sementara selama ini kita berkoar-koar menghujat habis-habisan koruptor. Saking gemasnya, pelaku kriminal lain minta "dimaklumi" dan meminta aparat mengurus kasus yang lebih penting, lebih merusak, dan menyengsarakan rakyat. Luna Maya pernah menyatakan kira-kira,"Daripada menghukum Ariel, kenapa tidak menghukum koruptor yang berkeliaran bebas?" Pernyataan senada juga sering disampaikan beberapa pihak yang terjerat kasus yang dianggapnya tidak ada apa-apanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu infotainmen teve swsta, soal si Angie ini, tidak ada redaksional kata-kata yang menghujat Angie, okelah, memang tidak pantas dihujat. Tidak ada juga kata-kata "menyesalkan", "disayangkan", "memprihatinkan", atau apapun sejenisnya yang mengambarkan bahwa dugaan prilaku korupsi yang dilakukan Angie benar-benar tidak pantas, melukai rakyat, merusak citra Puteri Indonesia dan yayasan, memalukan bangsa Indonesia yang bangga dan percaya Angie dibawah naungan demoktar jujur, sejujur iklan ANTI KORUPSI yang dibintanginya bersama Partai Demokrat. Alih-alih, infotainment hanya melempar kalimat-kalimat bersayap seakan-akan Angie mustahil alias tidak pernah korupsi. Penetapan tersangka hanyalah "cobaan", "ujian", "perjalanan hidup" yang harus dilewati dengan tabah, menuntut ketegaran, dan pasti ada penyelesaiannya. Apalagi dikait-kaitkan dengan kematian suaminya. Bertambah miris dia ditetapkan menjadi tersangka saat hendak umroh bersama putrinya. Lha, ini apa-apaan? Apa dengan semua ini, dia tidak pantas ditetapkan tersangka, meski bukti dan fakta dari KPK cukup buat menyeretnya?  Dan saya mulai mual... Ini sudah bahasa yang tidak menempatkan pada konteksnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu yang ingin saya gariskan buat tersangka dan terpidana koruptor. Bukan cuma buat Angie, tapi juga buat sosialita tua, Nunun Nurbaeti, atau siapa pun... Menjadi pelaku kriminal dan ditetapkan statusnya bersalah oleh aparat itu bukan ujian dari Tuhan. Jangan berlindung di balik nama Tuhan untuk menyatakan "hasil" dari ulah Anda adalah ujian, cobaan, dan kata-kata lain yang bagi saya tidak lebih dari ngeles dan munafiknya si pelaku. Jika benar kita melakukan korupsi, Tuhan saja benci dan akan mengutuknya (terlepas dari pintu tobat yang selalu tersedia). Jawaban-jawaban semacam ini lah yang tidak saya temukan ketika infotainment menanyakan komentar selebritas lain seperti Maya Estianti mengomentari Angie yang menjadi tersangka di kali kedua keanggotaannya di DPR tersebut. Intinya, balik lagi ke ujian, bisa melewatinya dengan baik, semoga tegar,...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, iya iya... Mereka artis. Dan saya pagi tadi itu menonton infotainment!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Bahasa cermin seseorang menilai suatu hal. Bahasa juga alat untuk memengaruhi orang yang diajak berbahasa memberi nilai**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-5269116551095091059?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/5269116551095091059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=5269116551095091059' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/5269116551095091059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/5269116551095091059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2012/02/membahasakan-koruptor.html' title='Membahasakan Koruptor'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-SJftKQ7lMrc/Ty-3Vs_cR_I/AAAAAAAAAO4/bcLYdLaFMW4/s72-c/tidak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-4073232709096786255</id><published>2012-01-04T15:12:00.000+07:00</published><updated>2012-01-04T15:12:49.524+07:00</updated><title type='text'>Jejak 2009-2012</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ntTe3HICaWU/TwQJ0wnYoAI/AAAAAAAAAOo/kMIxvwI4eTk/s1600/ilustrasi-cara-promosi-blog.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="209" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-ntTe3HICaWU/TwQJ0wnYoAI/AAAAAAAAAOo/kMIxvwI4eTk/s320/ilustrasi-cara-promosi-blog.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Blog gue...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahahaha... lo masih ada ya tahun 2012 ini. Sebenarnya gue suka ama lo. Gue ingat, Juli 2009 gue udah janji akan tetap setia ama lo. Apapun yang terjadi, meski penyedia blog lain bermunculan dan bikin fitur yang menarik. Gue cuma pengen nulis, nulis, nulis... Tentang apa yang ada di benak gue, apa yang gue lakuin, pencapaian gue, karya-karya gue. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue review kinerja blog ini, ehm.. &lt;br /&gt;2009: Gue cuma nulis dua bulan Juli dan September. Setelah itu bablas. Okelah, mungkin tahun pertama.&lt;br /&gt;2010: Gue nulis 9 bulan. Keren. Peningkatan signifikan. &lt;br /&gt;2011: Gue nulis 6 bulan. What's? Dari Januari ampe Juni gue masih nyempetin posting satu dua tulisan. Juni ampe Desember kosong! Padahal tahun ini pula udah janji paling tidak menulis satu postingan tiap bulan. Padahal banyak cerita menarik gue di tahun ini. Gue juga ikut Aku Cinta Indonesia (ACI) 2011 dari detik.com. Perjalanan yang tak bisa saya lupakan. Tapi abai saya tulis di blog tercintahh ini. &lt;br /&gt;2012: Gue nggak mau bikin target gede untuk aktivitas perblogan gue tahun ini. Kembali ke tahun sebelumnya. Gue mesti posting MINIMAL SETIAP SATU BULAN SATU POSTINGAN. &lt;b&gt;Titik. [Elzam/gambar dari http://blograkata.blogspot.com]&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Paling sedih saat dengan dada bergemuruh saya melongokmu, penuh segan dan malu (karena tak pernah mengudapte). Melihatmu dengan baris-baris yang tetap seperti itu. Dan itu tahun lalu terjadi selama 6 bulan. Lalu pelan-pelan saya mengklik icon X di sudut kiri itu, dengan gemuruh yang tak juga reda. Gue kesal sama diri gue. Bangs*t, eitss... tak boleh ya! Innalillahi wa innalillahi raji'un**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-4073232709096786255?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/4073232709096786255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=4073232709096786255' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/4073232709096786255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/4073232709096786255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2012/01/jejak-2009-2012.html' title='Jejak 2009-2012'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ntTe3HICaWU/TwQJ0wnYoAI/AAAAAAAAAOo/kMIxvwI4eTk/s72-c/ilustrasi-cara-promosi-blog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-7475287715349177312</id><published>2012-01-04T14:50:00.003+07:00</published><updated>2012-01-04T14:55:47.151+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Cinta Semesta</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-484Aj2CDSEc/TwQEtW-dTgI/AAAAAAAAAOc/LkXI6dX4BNA/s1600/374895215_facab19e0a.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="213" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-484Aj2CDSEc/TwQEtW-dTgI/AAAAAAAAAOc/LkXI6dX4BNA/s320/374895215_facab19e0a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kemasi anganmu di sini&lt;br /&gt;Pilah sampai kau lupa &lt;br /&gt;Lalu pinta Tuhan menghapusnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenar-benar cinta &lt;br /&gt;tetap yang apa adanya&lt;br /&gt;Menabur benih, menuai harga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah yang mesti kau percaya&lt;br /&gt;Cinta Semesta&lt;br /&gt;&lt;b&gt;[Elzam/gambar dari http://galuhsekarini.blogspot.com]&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Ehm, kangen pada blog ini. Kutulis ia sebuah sekejap puisi untuk menuntaskannya**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-7475287715349177312?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/7475287715349177312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=7475287715349177312' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/7475287715349177312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/7475287715349177312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2012/01/cinta-semesta.html' title='Cinta Semesta'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-484Aj2CDSEc/TwQEtW-dTgI/AAAAAAAAAOc/LkXI6dX4BNA/s72-c/374895215_facab19e0a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-3110420250425745486</id><published>2011-06-13T14:51:00.001+07:00</published><updated>2011-06-13T15:32:46.910+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Luar'/><title type='text'>Mencari Sebuah Masjid</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-zFwQN7wK6vY/TfXKs6tCkpI/AAAAAAAAAL4/Of1ppMk71KU/s1600/MESJID-DITENGAH-SAWAH.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="214" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-zFwQN7wK6vY/TfXKs6tCkpI/AAAAAAAAAL4/Of1ppMk71KU/s320/MESJID-DITENGAH-SAWAH.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Aku diberitahu tentang sebuah masjid&lt;br /&gt;yang tiang-tiangnya pepohonan di hutan&lt;br /&gt;fondasinya batu karang dan pualam pilihan&lt;br /&gt;atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan&lt;br /&gt;dan kubahnya tembus pandang, berkilauan&lt;br /&gt;digosok topan kutub utara dan selatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rindu dan mengembara mencarinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan&lt;br /&gt;dihiasi dengan ukiran kaligrafi Quran&lt;br /&gt;dengan warna platina dan keemasan&lt;br /&gt;berbentuk daun-daunan sangat beraturan&lt;br /&gt;serta sarang lebah demikian geometriknya&lt;br /&gt;ranting dan tunas jalin berjalin&lt;br /&gt;bergaris-garis gambar putaran angin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rindu dan mengembara mencarinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diberitahu tentang masjid yang menara-menaranya&lt;br /&gt;menyentuh lapisan ozon&lt;br /&gt;dan menyeru azan tak habis-habisnya&lt;br /&gt;membuat lingkaran mengikat pinggang dunia&lt;br /&gt;kemudian nadanya yang lepas-lepas&lt;br /&gt;disulam malaikat menjadi renda-renda benang emas&lt;br /&gt;yang memperindah ratusan juta sajadah&lt;br /&gt;di setiap rumah tempatnya singgah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rindu dan mengembara mencarinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang letaknya di mana&lt;br /&gt;bila waktu azan lohor engkau masuk ke dalamnya&lt;br /&gt;engkau berjalan sampai waktu asar&lt;br /&gt;tak bisa kau capai saf pertama&lt;br /&gt;sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu&lt;br /&gt;bershalatlah di mana saja&lt;br /&gt;di lantai masjid ini, yang luas luar biasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rindu dan mengembara mencarinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diberitahu tentang ruangan di sisi mihrabnya&lt;br /&gt;yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya&lt;br /&gt;dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya&lt;br /&gt;di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian&lt;br /&gt;yang menyimpan cahaya matahari&lt;br /&gt;kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan&lt;br /&gt;ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu yang berguna&lt;br /&gt;di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta&lt;br /&gt;terletak di sebelah menyebelah mihrab masjid kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rindu dan mengembara mencarinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diberitahu tentang masjid yang beranda dan ruang dalamnya&lt;br /&gt;tempat orang-orang bersila bersama&lt;br /&gt;dan bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka&lt;br /&gt;dan pendapat bisa berlainan namun tanpa pertikaian&lt;br /&gt;dan kalau pun ada pertikaian bisalah itu diuraikan&lt;br /&gt;dalam simpul persaudaraan yang sejati&lt;br /&gt;dalam hangat sajadah yang itu juga&lt;br /&gt;terbentang di sebuah masjid yang mana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumpas aku dalam rindu&lt;br /&gt;Mengembara mencarinya&lt;br /&gt;Di manakah dia gerangan letaknya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari aku mengikuti matahari&lt;br /&gt;ketika di puncak tergelincir dia sempat&lt;br /&gt;lewat seperempat kuadran turun ke barat&lt;br /&gt;dan terdengar merdunya azan di pegunungan&lt;br /&gt;dan aku pun melayangkan pandangan&lt;br /&gt;mencari masjid itu ke kiri dan ke kanan&lt;br /&gt;ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan&lt;br /&gt;dia berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inilah dia masjid yang dalam pencarian tuan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dia menunjuk ke tanah ladang itu&lt;br /&gt;dan di atas lahan pertanian dia bentangkan&lt;br /&gt;secarik tikar pandan&lt;br /&gt;kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran&lt;br /&gt;airnya bening dan dingin mengalir beraturan&lt;br /&gt;tanpa kata dia berwudhu duluan&lt;br /&gt;aku pun di bawah air itu menampungkan tangan&lt;br /&gt;ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan&lt;br /&gt;hangat air terasa, bukan dingin kiranya&lt;br /&gt;demikianlah air pancuran&lt;br /&gt;bercampur dengan air mataku&lt;br /&gt;yang bercucuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeddah, 30 Januari 1988&lt;br /&gt;Taufiq Ismail&lt;br /&gt;(Ilustrasi diambil dari http://ns1.indonesia.travel/en/destination/467/padang/tips)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Selalu ada tempat pulang. Tempat di maka kita menyakini, itulah sebenarnya rumah bagi kita**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-3110420250425745486?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/3110420250425745486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=3110420250425745486' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/3110420250425745486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/3110420250425745486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2011/06/mencari-sebuah-masjid.html' title='Mencari Sebuah Masjid'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-zFwQN7wK6vY/TfXKs6tCkpI/AAAAAAAAAL4/Of1ppMk71KU/s72-c/MESJID-DITENGAH-SAWAH.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-2915469219059402445</id><published>2011-05-19T19:22:00.006+07:00</published><updated>2011-05-20T17:41:34.881+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RAGAM'/><title type='text'>Merengkuh Puncak Gunung Gede Pangrango</title><content type='html'>&lt;b&gt;Weekend lalu, 14-15 Mei 2011&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ini kali pertama aku naik puncak gunung. Biasanya keluar masuk hutan atau ke kebun di Bengkulu yang medannya sedikit menanjak. Perjalanan yang menakjubkan, karena capek bercampur semangat membuahkan hasil memuaskan. Merengkuh Puncak Gunung Gede! Puncak berkawah setinggi 2.958 meter (9.705 kaki)akhirnya berhasil kami daki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Gede sendiri termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Jawa Barat, yang konon merupakan taman nasional tertua di Indonesia. Pintu masuk menuju puncak Gede adalah Selabintana (Sukabumi) yang sudah ditutup karena medan yang berbahaya, pintu Gunung Putri (Cianjur atau Bogor?), dan Cibodas yang paling umum digunakan pendaki. Nah, Gunung Gede ini berdampingan dengan Gunung Pangrango yang sedikit lebih tinggi, yakni 3,019 meter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;TIM EMPAT BELAS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-wanO9DST5c4/TdUJUOR_hAI/AAAAAAAAAKk/eP_PL1Dbxdw/s1600/220876_1991486700184_1033889288_2399415_4749842_o.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-wanO9DST5c4/TdUJUOR_hAI/AAAAAAAAAKk/eP_PL1Dbxdw/s320/220876_1991486700184_1033889288_2399415_4749842_o.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Empatbelas orang bergabung dalam tim. Sembilan lelaki (Mas Sigit, Mas Amin, Yudha, Tiko, Asep, Udin ke-11, Deden,Iwan, dan aku) serta lima perempuan (Mbak Aini, Mbak Esthi, Indah, Lasmi, dan Megawati yang sendirian dari Bandung). Tim ini keberangkatannya dikoordinir oleh Mbak Aini, istrinya Mas Sigit. Namun praktiknya di lapangan kita dipimpin Asep yang lebih menguasai lapangan. Hehehe, uniknya, tim ini &lt;i&gt;ndak&lt;/i&gt; saling mengenal seluruhnya toh... Ada temannya teman... Malah ada yang nggak punya teman, ahahaha. Kayak Indah yang mengajak adiknya Tiko. Sebenarnya Indah berteman dengan Nur Rofi yang sedianya ikut tim, tapi nggak jadi karena saudaranya mendadak masuk rumah sakit. Jadilah di Tim 14 ini dia nggak punya teman, tapi akhirnya berteman semua, makin lama makin rame &lt;i&gt;euy&lt;/i&gt;...&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;KEBERANGKATAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-G3rlVp5-SKw/TdUIsERRzZI/AAAAAAAAAKc/Y-10UNcJ_ms/s1600/218536_1991504020617_1033889288_2399443_1119747_o%25281%2529.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-G3rlVp5-SKw/TdUIsERRzZI/AAAAAAAAAKc/Y-10UNcJ_ms/s320/218536_1991504020617_1033889288_2399443_1119747_o%25281%2529.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kami sepakat bertemu di terminal Kampung Rambutan, Jum'at (13/05/11) &lt;i&gt;ba'da&lt;/i&gt; magrib. Ujung-ujungnya baru bisa berangkat sekitar Pukul 22-an malem. Beberapa teman telat, sehingga harus menunggu berkumpul. Cuaca hujan membuat terminal bau pesing (hahaha....) itu sedikit dingin. Tengah malam lewat, baru nyampe Cibodas. Atas rekomendasi Lasmi yang anak IPALA (Ikatan Pecinta Alam Islam Indonesia) kita istirahat di Warung Mang Idi. Besok pagi rencananya baru naik, karena masih harus verifikasi Simaksi alias surat izin pendakian, karena baru mendaftar secara online saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya, semua bersiap. Aku sebenarnya nggak nafsu makan, tapi karena butuh fisik yang fit, dipaksa-paksain juga. Hehe, bener tebakanku, sambelnya aja manis :-(. Nggak terbiasa dengan makanan yang serba manis, apalagi sambel (kan harusnya pedes). Abis itu aku minum segelas susu. Ehm, alhamdulillah... Semoga cukup untuk energi awal naik. Setelah semua siap, kita berangkat ke kantor TNGP buat ngurus Simaksi tadi. Agak lamban, karena ada fotokopi yang tertinggal, nonton film dulu tentang TNGP plus presentasi Ardi Andono, orang TNGP. Alhasil, berangkatnya kalo nggak salah sekitar pukul 10.30 WIB. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di pintu masuk TNGGP, kita melewati pos pemeriksaan. Rupanya nggak boleh bawa senjata tajam alias golok. Kalau pisau masih boleh. Cukup banyak hari ini yang antri naik. Maklum long day weekend karena hari Selasa Waisak, lalu PNS dan beberapa perusahaan libur bersama hari Seninnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari sinilah, jalanan mulai menanjak. Di resort TNGGP tak jauh dari pos penjagaan kita sempatkan berdoa. Bagi yang ingin ke toilet masih tersedia di sini. Kata Asep, "Sekarang boleh nanya toiletnya di mana? Setelah ini, toiletnya ada di mana-mana." Hehehe... benar saja. Aku aja dua kali bikin toilet buat BAB di kawasan TNGGP memiliki luas 22.851,03 hektar itu, ahahaha... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya tim berjalan berombongan, berdekatan. Lama-lama berkelompok-kelompok kecil. Ada yang cepet ada yang lama jalannya. Ini baru bener-bener track-nya. Aku bertiga dengan Asep dan Indah. Jalan beberapa ratus meter, istirahat, jalan, istirahat... begitulah. Benar-benar bikin kaki pegal dan tenggorokan cepat haus. Sementara di depan telah meluncur jauh Lasmi, Tiko, dan Iwan. Di belakang ada rombongan Mbak Aini dan teman-teman yang lain. Lalu di belakangnya lagi, Mas Amin yang berangkat bareng Mega yang ditinggal karena telat. Piss ya, Mega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama berjalan dengan tanjakan yang jalan&lt;i&gt;&lt;/i&gt;nya lumayan luas, bisa buar berjejer tiga orang mungkin. Kami menemukan Telaga Biru. Ehm... hiburan pertama ini. Sampai di Telaga Biru cuaca sedikit mendung dan gerimis. Dingin mulai menyengat, aku sudah memakai baju hangat, dan kaos tangan. Lumayan membantu, karena tangan mulai mengeriput dan pucat. Telaga Biru, awalnya aku mikir ini danau airnya biru, dalem, dan luasss. Tapi ternyata tidak begitu, airnya hijau bening (kadang-kadang memang berubah biru sesuai namanya). Luasnya pun terbilang kecil, kayak kolam aja, hehe... Mungkin sekitar seratus meter persegi lebih. Cuma karena letaknya di belantara hutan, membuatnya menjadi istimewa. Keren lah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ngqi8tXj_FA/TdUJxoQ978I/AAAAAAAAAK0/-uno_bQBdPg/s1600/240259_1991511020792_1033889288_2399457_1794623_o.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-ngqi8tXj_FA/TdUJxoQ978I/AAAAAAAAAK0/-uno_bQBdPg/s320/240259_1991511020792_1033889288_2399457_1794623_o.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-fpx7PDygxVo/TdUJxQfpaBI/AAAAAAAAAKs/8stDJ0rVhL0/s1600/220876_1991486780186_1033889288_2399417_5960488_o.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-fpx7PDygxVo/TdUJxQfpaBI/AAAAAAAAAKs/8stDJ0rVhL0/s320/220876_1991486780186_1033889288_2399417_5960488_o.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Lalu perjalanan terus berlanjut, tanjakan menyempit hingga cukup untuk satu orang saja. Di tengah jalan kerapkali bertemu pendaki lain yang turun dan naik. Bahkan ada rombongan Pramuka penegak yang berjalan santai sambil nyanyi-nyanyi. Kompak banget. Mereka juga membawa plastik besar untuk mengumpulkan sampah yang berserakan. &lt;i&gt;Good job's&lt;/i&gt;. Aku jadi teringat pengalaman Pramuka sepuluh tahun-an lalu di SMA, hehehe... Di Telaga Biru kami mememutuskan istirahat sejenak sambil menunggu rombongan Mbak Aini, Mbak Esthi, Mas Sigit, dan teman lain. Lasmi cs yang di depan tetap melaju, nggak sempat ketemu. Kalau nggak salah, di sini waktu sudah menunjukkan Zuhur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan terus lanjut. Berturut-turut kami melewati berbagai objek wisata alam yang menarik. Subhanallah. Setelah Telaga Biru, lantas bertemu kawasan Air Panas yang mengalir deras dan menuju tebing curam. Track ini lumayan menantang. Bayangkan, pendaki mesti melewati aliran air panas yang deras dengan melompati batu-batu kecil. Uap panas bergumpal-gumpal membumbung. Di sebelah kiri adalah jurang curam yang kalo terjatuh kayaknya wajib wafat. Serem juga! Untungnya oleh pengelola diberi pegangan yang memudahkan pendaki melewatinya. Di sini kami sholat Ashar plus Zuhur yang tadi belum ditunaikan. Agak kesal aku di sini, karena lokasi Air Panas sangat kotor, sampah di mana-mana dan bau. Jadi menganggu indahnya keajaiban Allah di TNGGP tersebut. Sekitar sejam kemudian, rombongan Mbak Aini menyusul sampai. Mas Amin dan Mega juga sudah sampai, alhamdulillah. Rombongan Lasmi? Teteuup, udah melenceng jauh ke depan, xixixi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abis sholat, perjalanan kembali digeber. Perut udah mulai laper. Aku, Indah, dan Asep sempat makan buah pear tadi di jalan. Sempat juga makan nasi uduk (nan dingin dan keras)yang dijual penduduk setempat yang melintas. Track makin parah, tanjakannya lebih tajam, licin, dan tetap berbatu-batu. Beberapa pohon besar melintang, membuat energi lebih cepat habis. Menjelang gelap kami bertemu Air Terjun/Curug Ciebeureum. Airnya mengalir deras dan jernih. Kutaksir tingginya sekitar 10 meter. Tidak terlalu tinggi memang. Titik-titik air aliran deras itu mengembang di udara, membuat tim semakin merapatkan jas hujan, karena bercampur dengan gerimis. Berrrr.... dingin euy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kondisi medan yang mulai gelap, atas rekomendasi Asep kami berencana untuk menginap di Kandang Badak. Tempat yang memiliki area datar cukup luas yang biasa digunakan pendaki mendirikan tenda. Melenceng dari rencana semula yang berharap sampai di Puncak Gede maagrib dan mendirikan tenda di sana. Sesampainya di sana, syukurlah Lasmi, Tiko, dan Deden mengambil inisiatif berhenti di sana juga. Jadi semua tim berkumpul. Kondisi hujan deras dan semua kami KELAPARAN. Deden terlihat memasak beratapkan ponco. Lumayan, abis minum kopi anget tim mulai bergerak. Membangun tenda, membentang flysheet. Sementara Deden yang jago masak ternyata tetap bertindak sebagai koki. Lasmi dan Tiko kabarnya tinggal di pos TNGGP yang berbentuk bangunan, nyaman. Hehe...aku nggak tau bagaimana bentuknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai tenda di bangun, semua beres-beres di tengah hujan. Tenda pun basah. Aku memasang matras di tenda laki-laki, dan meletakkan sleeping bag. Siap-siap buat tidur nanti. Menyenangkan sekali. Kami makan sambil menceritakan pengalaman masing-masing. Menunya? mie &lt;i&gt;plus&lt;/i&gt; telor. Setelah sholat, aku pun beranjak memasukkan tubuh di sleeping bag. Menyusul Mas Amin, Mas Sigit, Yudha... O lala, paginya cewek-cewek pada komplain nggak bisa tidur karena dari tenda cowok ada suara dengkuran super keras. Hahaha, aku mah sama sekali nggak ngeh siapa yang ngorok. Yang jelas, aku nggak punya kebiasaan itu, sumpah! Jadi lah malam itu aku tidur lumayan nyenyak, meskipun lantai tenda sedikit miring dan ada batu yang mengganjal. Intinya tidak basah dan (begitu) kedinginan karena terbungkus sleeping bag. Cuma merasa ada basah-basah dikit di kaki, bukan karena ompol lho, hehe... sumpah lagi! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, sebelum tidur kami sudah sepakat akan mendaki ke puncak sebelum subuh. Cuma membawa bekal secukupnya, sementara Deden sudah bersedia menjaga tenda. Harapannya bisa melihat sunrise. Pukul tiga-an aku udah denger ribut-ribut. Deden (lagi-lagi) memasak air dan nasi. Mas Udin ke-11, Mas Sigit, Asep, sudah bangun. Ada juga Mbak Aini, Mbak Esthi, Mega. Kayaknya mereka siap-siap. Aku pun bangun. Gawat euy kalo ketinggalan. Menyesal mewek di Kandang Badak nantinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbekalan siap. Kali ini yang naik jadi berkurang. Tanpa Deden, Mbak Esthi yang nggak pede karena takut kolaps dan ngerepotin tim katanya, plus Indah. Di belakang kami nantinya, menyusul Lasmi, Iwan, dan Tiko. Perjalanan menuju puncak cukup menantang. Malam-malam menyusuri jajaran pohon-pohon besar yang rapat, batu terjal yang mendaki, plus bunyi binatang malam yang mistis, lebayyy! Perutku mules, biasa, kalo makan mie seadanya suka begini. Untung bisa berhenti ketika teman-teman sholat Subuh. Setelah tertunaikan panggilan alam, baru lega dan semangat lagi jalannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;TANJAKAN SETAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Menuju puncak Gunung Gede kami menemukan tanjakan yang gila abis. Terjal, berbatu cadas. Pantas disebut tanjakan setan, yang belakangan aku tau dari teman kantor namanya. Salah-salah bisa jatuh dan tergelincir. Untungnya hari mulai terang. Yups, kelewatan tuh liat &lt;i&gt;sunrise&lt;/i&gt; dari puncak Gede. Sebagai gantinya kami berfoto-foto di tengah tanjakan setan yang punya celah cukup luas dan datar. View-nya? Ehm... bikin ngiler. Gunung Pangrango nampak di seberang sana dengan gagahnya. Puas jeprat-jepret perjalanan dilanjutkan. Capek banget. Karena track yang cadas dan tebing curam bikin cepat lelah. Berkali-kali istirahat dan berharap puncak itu sedikit lagi, sedikit lagi, dan sampe. Teh anget dari termos Asep sampe ludes diminum bergantian. Aku penasaran banget, seperti apa puncak Gunung Gede itu? Menakjubkan kah? Indah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-2PJo6m2FKXw/TdUKhgJRHsI/AAAAAAAAALE/XAvRfZCB5T0/s1600/220235_1991535341400_1033889288_2399475_3711543_o.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="214" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-2PJo6m2FKXw/TdUKhgJRHsI/AAAAAAAAALE/XAvRfZCB5T0/s320/220235_1991535341400_1033889288_2399475_3711543_o.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;DAN, AKHIRNYA...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Setelah capek banget, (sedikit) mengeluh, kami pun sampai. Waktu menunjukkan sekitar Pukul 06. 30 WIB.&lt;br /&gt;Subhanallah. Begitu sampai, seperti ada pintu kecil yang kami lewati dan tiba-tiba bertemu alam yang amazing. PUNCAK GUNUNG GEDE...! Berdiri kokoh. Langit membumbung biru bersih. Bau belerang tercium menyengat menyapa indera penciuman. &lt;br /&gt;Puncak Gede terlihat begitu anggun sekaligus menyimpan kengerian karena terpampang kawah yang begitu dalam di depan mata. Asap mengepul bergumpal-gumpal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah saat-saat yang kutunggu. Melihat ketinggian salah satu bentuk permukaan bumi Allah, melihat ketinggian kehebatan Allah menciptakan bumi untuk manusia. Subhallah, Alhamdulillah. Tidak puas-puasnya aku menggumamkan takbir atas kebesaran Allah. Tunai sudah kelelahan mendaki puncak yang butuh perjuangan luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun berfoto-foto, hehe... Narsis-narsisan. Di sini terlihat siapa yang sebenarnya narsis abis dan paling banyak gaya. Hayooo, ngaku? Puncak Gede terus kami susuri dengan jalan di pinggiran kawah yang cukup membuat saya ngeri membayangkan seandainya jatuh. Tujuan selanjutnya adalah Alun-alun Surya Kencana, tempat edelweis tumbuh membentuk taman di ketinggian Gede. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-8-bKvVJZ59k/TdULBtBFSyI/AAAAAAAAALM/pWV7WpeOx5A/s1600/219259_1991496180421_1033889288_2399427_2262867_o.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="214" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-8-bKvVJZ59k/TdULBtBFSyI/AAAAAAAAALM/pWV7WpeOx5A/s320/219259_1991496180421_1033889288_2399427_2262867_o.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-POKJncfqD0U/TdULB5BmBYI/AAAAAAAAALU/7c3LQE7jmeA/s1600/219259_1991496220422_1033889288_2399428_1973558_o.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="214" width="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-POKJncfqD0U/TdULB5BmBYI/AAAAAAAAALU/7c3LQE7jmeA/s320/219259_1991496220422_1033889288_2399428_1973558_o.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-kUbPSqIWqkw/TdULB9CwjXI/AAAAAAAAALc/TdBgfK14FU0/s1600/219259_1991496260423_1033889288_2399429_3504144_o.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="214" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-kUbPSqIWqkw/TdULB9CwjXI/AAAAAAAAALc/TdBgfK14FU0/s320/219259_1991496260423_1033889288_2399429_3504144_o.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-KqiPYygxL-Y/TdULCArPjLI/AAAAAAAAALk/K94ehnrLpF8/s1600/219259_1991496300424_1033889288_2399430_6058049_o.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="214" width="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-KqiPYygxL-Y/TdULCArPjLI/AAAAAAAAALk/K94ehnrLpF8/s320/219259_1991496300424_1033889288_2399430_6058049_o.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Alun-alun Surya Kencana merupakan padang rumput luas yang menjadi bumi perkemahan. Letaknya sekitar setengah jam dari puncak Gunung Gede dengan posisi menurun. Dari Puncak Gede terlihat jauh dan rasanya butuh perjuangan lagi menjejakkan kaki di sana. Puluhan tenda pendaki berdiri mungil dan rapi menambah indah di lihat dari atas. Kami sampai di Alun-alun Surya Kencana sekitar pukul 08-an.  Indah, hijau, berpagarkan Gunung Gede, Gunung Putri, dan gunung lain yang tidak kuketahui. Di pinggirnya menyemak edelweis yang indah, rimbun. Sungai kecil membelah padang rumput luas ini. Airnya dingin, jernih dan langsung bisa diminum. Sempat aku cicip langsung, segar dan manis! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari duduk menikmati alun-alun, kami share cerita horor yang kerap menyambangi pendaki. Dari mulai bertemu mayat, mau dinikahkan dengan putri nenek-nenek gaib, pasar setan, dan sebagainya. Konon, alun-alun ini juga menjadi tempat persinggahan Prabu Siliwangi. Tidak beberapa lama kemudian, muncul Lasmi, Tiko, dan Iwan, yang kayaknya telah menjadi tiga sekawan, wakakaka. Mereka membawa nasting, dan makanan mentah. Jadi masak-masak deh, bisa bikin teh hangat juga, karena kami cuma membawa biskuit dan air putih. Puas sudah menelusuri Alun-alun Surya Kencana. Sempat juga aku, Mega, Asep, dan Tiko menyita camdig Mas Sigit untuk foto-foto di rimbunan edelweis. Kapan lagi kalo nggak sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TURUN GUNUNG&lt;br /&gt;Kami pulang dari puncak Gede. Rombongan tetapku pulang adalah Mbak Aini,Yudha, dan Mas Sigit, karena yang lain sudah ngacir duluan. Di tanjakan setan kami sempat khawatir, apakah lewat jalan lain atau turun dengan tali di tanjakan mengerikan tersebut. Akhirnya diputuskan menerima tantangan tanjakan setan. Takut di jalan jalan malah tersesat. Mbak Aini sempat beberapa kali mau terpeleset. Untung ada tim lain yang membantu, aku dan Yudha di bawahnya juga ikut berjaga-jaga. Hebat euy, Mbak Aini pantas saja gampang lelah. Ketahuan, besoknya di Jakarta dia ternyata sudah mengandung beberapa minggu. Alhamdulillah, sang jabang bayi nggak apa-apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di base camp, masakan sudah tersedia. Wow, kali ini menunya komplit. Mulai dari sop bakso, ayam goreng, oseng-oseng tempe, kering tempe, spagheti (ini buat bekal pulang). Akhirnya makanlah dengan lahap. Mas Amin dan Udin ke-11 udah nyampe sedari tadi. Ketika lagi makan, sampai juga tiga sekawan yang bergabung ikut makan. Usai makan kami pun prepare buat turun, kemasin barang pribadi, dan bongkar tenda. Ada masalah, Deden mau buang nasi karena kebanyakan. Untunglah, dicegah. Kami memberikan nasi, ayam siap goreng, kering tempe, plus bahan sayur asem kepada tetangga yang masih bertahan di sana. Mereka berterimakasih sekali :-D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;CIBODAS, JAKARTA....&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kami berangkat sekitar Pukul 14 siang dari Kandang Badak. Sampai di Cibodas Pukul 20-an, malam. Langsung menuju Mang Idi dan bersih-bersih, lalu memesan angkot untuk balik ke Jakarta. Berhenti di Kampung Rambutan Pukul 00 lebih. Tim berpencar ke arah rumah masing-masing. Perjalanan usai sudah! Jam menunjukkan Pukul 01-an ketika aku sampai di rumah, Kampung Gedong, Pasar Rebo. Alhamdulillah. [Elzam]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Manusia, di mana-mana ayat-ayat Allah akan menunjukkan cinta padamu. Pun demikian gunung yang menjulang, menancap tegar tertanam bumi**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-2915469219059402445?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/2915469219059402445/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=2915469219059402445' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/2915469219059402445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/2915469219059402445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2011/05/merengkuh-puncak-gede-pangrango.html' title='Merengkuh Puncak Gunung Gede Pangrango'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-wanO9DST5c4/TdUJUOR_hAI/AAAAAAAAAKk/eP_PL1Dbxdw/s72-c/220876_1991486700184_1033889288_2399415_4749842_o.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-978411641559966383</id><published>2011-04-05T11:46:00.001+07:00</published><updated>2011-04-05T11:51:41.518+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TENTANG CINTA'/><title type='text'>April, My Fam's Day</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-nMLzNfl17MQ/TZqdeMm3A6I/AAAAAAAAAKU/yKwmBZi4MqM/s1600/area_april_1600x1200.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="240" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-nMLzNfl17MQ/TZqdeMm3A6I/AAAAAAAAAKU/yKwmBZi4MqM/s320/area_april_1600x1200.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan yang bertabur harapan dan menuang banyak ragam. Jejak waktu yang merekam pertama perjalanan keluargaku. 17 April 2010 aku menikah. Menggenapkan separuh agama bersama istri tercinta, Yeni Nuraeni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang aku berpikir, betapa hebatnya Allah. Hanya dalam waktu tidak lebih dari seminggu aku menuntaskan keputusan, siap menikah dengannya. Dan dalam waktu lebih sedikit dari dua bulan, kami menetapkan tanggal pernikahan. Lebih dari itu, semua yang ada pada dirinya dan aku cepat sekali menemukan penyesuaiannya, atau apa ya istilah yang penting? Maksudku, tidak ada rasa asing, canggung, atau perasaan-perasaan aneh ketika diharuskan hidup satu rumah, karena mengingat perkenalan kami sangat terbatas waktunya. 13 April 2010 dipertemukan teman kantor. Bisa dibayangkan, apa yang didapat dari interaksi selama itu. Lagian kami tidak jalan bareng, makan bareng, atau kegiatan lain yang dilakukan bersama. Saya meyakini, inilah anugerah yang Allah berikan, memberikan pasangan jiwa sama halnya seperti rezeki. Kita tidak tahu kapan datangnya, siapa, dan kapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih istriku, atas cinta yang telah menyematkan jiwa kita pada tempat yang terhormat; rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan yang bertabur harapan dan menuang banyak kegembiraan, &lt;i&gt;Insya Allah&lt;/i&gt;. Bulan ini, diprediksi, bayi kami akan lahir. Sekarang kandungan Yeni udah masuk minggu ke-37. Benar-benar mendebarkan menunggu kelahiran anak pertama kami, yang menurut hasil USG perempuan. Lucunya, kalau ke mana-mana, aku sering memerhatikan anak perempuan (sebelumnya suka melihat anak laki-laki yang lucu, apalagi aku terbiasa akrab dengan keponakanku yang kebetulan laki-laki). Kadang kepikiran, gimana rupanya ketika berjalan, sudah bisa tertawa, bermain bersama teman, jalan-jalan, dan ragam aktivitas lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Nak, dalam setiap shalat Panda berdoa. Semoga kelahiran Ananda lancar, dimudahkan Allah, dan selamat bersama Manda. Semoga Allah menyempurnakan fisik dan rupamu, menyempurnakan akhlak dan agamamu, menyempurnakan kesehatanmu, dan menjadi sosok yang berguna bagi banyak orang nanti, aamin ya Rabbil alamin.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;April&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabb, jadikan ia waktu yang membuat aku membingkai kaca dan memantulkannya dalam nyata. Memaknai kecintaan-Mu pada hamba dengan penuh kesyukuran dan qona'ah yang sempurna, aamin.&lt;b&gt;[Elzam/gambar dari http://areamalta.wordpress.com]&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Apa yang kita miliki sekarang, maka itulah yang pantas kita hargai. Apa yang kita angankan, pada nyatanya kita tidak tahu apa memang berharga**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-978411641559966383?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/978411641559966383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=978411641559966383' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/978411641559966383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/978411641559966383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2011/04/april-my-fams-day.html' title='April, My Fam&apos;s Day'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-nMLzNfl17MQ/TZqdeMm3A6I/AAAAAAAAAKU/yKwmBZi4MqM/s72-c/area_april_1600x1200.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-4884745395837825443</id><published>2011-03-24T18:23:00.001+07:00</published><updated>2011-03-24T18:24:59.897+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RAGAM'/><title type='text'>Pelatihan Skenario ala BSP</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-XWBtmJmGQnU/TYsqBpqlbUI/AAAAAAAAAKM/QIkfqitAjGY/s1600/5rj34zyc.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="238" src="http://1.bp.blogspot.com/-XWBtmJmGQnU/TYsqBpqlbUI/AAAAAAAAAKM/QIkfqitAjGY/s320/5rj34zyc.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamua'alaikum....&lt;br /&gt;Udah lama nggak posting di blog. Ehm, dari dua hari lalu udah niat buat nulis, tapi males banget ngetiknya. Penyakitku ya ini, selalu menunda-nunda untuk berkreativitas. Ada saran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengen cerita, jadi begini sodara-sodara, kemarin, Minggu (20 Maret 2011)aku ikut "Pelatihan Menulis Skenario Paling Gila" di Bengkel Sastra Pamulang (BSP). Jauh amat dan aku niat amat yak! Dari dulu memang aku udah lama ingin mempelajari bagaimana membuat skenario itu. Kelihatannya asyik ya, membuat karakter lalu merekayasa para tokoh itu untuk berbuat semau kita penulis skenario, hehe... Dan konon, honor bikin skenario juga lebih gede daripada biin cerpen atau novel, xixixi... Ini juga bikin semangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berangkat pagi-pagi dari rumah, Pasar Rebo. Lumayan susah buat nyari BSP yg ada di Pamulang sono... Apalagi aku belum pernah ke sana. Thanks buat teman kantorku, Caca yang kutelpon pagi-pagi buat nanya rute angkutan menuju sana. Secara dia orang Tangerang,tetangganya Pamulang :-D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BSP sendiri didirikan oleh Zaenal Radar T, ini penulis fiksi favoritku yg dulu suka nulis di Anita, Kawanku, Aneka Yess. Senang banget, dia juga ngasih materi selain Mas Imam Salimy (orang BSP juga). Mas Zaenal dan Imam ini sudah malang melintang bikin schript untuk teve. Antara lain Si Entong, Si Kriwil, Wara-Wiri, beberapa FTV, sampe acara masak Foodvaganza. Asyiknya, aku terharu dan senang banget nonton FTV Rahasia Cemara dan serial pertama Si Kriwil. Keren euy, Si Kriwil ceria, sementara Rahasia Cemara bikin haru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal materi? Mantap. Mas Imam langsung tanpa ba-bi-bu ngasih tips dan trik bikin skenario. Mulai dari format, aturan-aturan, bikin karakter, sampai durasi. Mudah sekali dipahami, apalagi kita langsung disuruh praktik nulis scene lanjutan dari skenario Rahasia Cemara. Aku kayaknya nggak nemuin kesulitan, ahahaha... (Sombong yee!) Masih ada tugas, ke depan kita para alumni disuruh bikin skenario film pendek berdurasi 5-8 menit. Ehm, sebenarnya aku juga pengen bikin skenario FTV. Udah kebayang ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduh, senangnya kalo bisa dijadiin sinetron. (Mulai ngebayangin nih, mengkhayal)&lt;br /&gt;Okey, chayoo! Jangan males, zam. &lt;i&gt;Go action...!&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-4884745395837825443?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/4884745395837825443/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=4884745395837825443' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/4884745395837825443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/4884745395837825443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2011/03/pelatihan-skenario-ala-bsp.html' title='Pelatihan Skenario ala BSP'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-XWBtmJmGQnU/TYsqBpqlbUI/AAAAAAAAAKM/QIkfqitAjGY/s72-c/5rj34zyc.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-2308796445255095713</id><published>2011-03-01T16:20:00.003+07:00</published><updated>2011-03-01T16:53:06.243+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku Karyaku'/><title type='text'>Sebuah Kata Rahasia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-EAsJqSNU9I4/TWy-013QgFI/AAAAAAAAAJ8/eKCjqCTfEb8/s1600/184785_10150155971844289_207436144288_7997258_7828146_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 222px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-EAsJqSNU9I4/TWy-013QgFI/AAAAAAAAAJ8/eKCjqCTfEb8/s320/184785_10150155971844289_207436144288_7997258_7828146_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5579043853426524242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Judul: Antologi 12 Cerpen Pilihan Annida Online “Sebuah Kata Rahasia”&lt;br /&gt;Penulis:Tetsuko Eika, Gusrianto, Lukman Mahbubi, Eka Retnosari, Andi Asrizal, Adi Zam zam, Syamsa Hawa, Irhayati Harun, Sam Edy, Ganda Pekasih, Zahriyah Inayati, Elzam Zami&lt;br /&gt;Editor: Tim Annida Online&lt;br /&gt;Penerbit: SMG Publishing&lt;br /&gt;Tahun Terbit: 2010, Juni&lt;br /&gt;Ukuran: 20x13 cm; 150 gr&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paket Komplet yang Menggigit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Novel masih merajai pasar fiksi saat ini, dan kumpulan cerpen (kumcer) sudah melewati masa keemasannya, akan tetapi kehadiran 12 cerpen dalam Antologi ini tampaknya bisa menjadi penyulut kerinduan terhadap kumpulan cerpen berkualitas. Bagaimana pun, tidak semua orang bisa dengan cepat melahap dan mencerna pesan dalam sebuah novel yang terdiri dari ratusan halaman, sementara itu, hanya dibutuhkan waktu beberapa menit saja untuk menangis, tersenyum, atau terpingkal ketika membaca sebuah cerpen, begitu pun dalam meresapi pesan yang dikandungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang membuat Antologi Sebuah Kata Rahasia ini lahir menentang arus membanjirnya novel di pasaran? Apakah ada sesuatu yang cukup spesial yang ditawarkan di dalamnya sehingga yakin dapat eksis di tengah gempuran teenlit, chicklit, dan novel-novel pembangun jiwa-raga yang saat ini digemari masyarakat? Jawabannya, tentu saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika buku diumpamakan seperti Pizza, meminjam pengandaian  Hernowo yang menulis Andai Buku Sepotong Pizza, maka antologi Sebuah Kata Rahasia merupakan seloyang besar pizza yang tiap potongnya memiliki rasa dan topping yang berbeda-beda. Inilah yang menjadikannya pantas membikin penasaran siapa pun pecinta pizza—ups, pecinta buku maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pecinta cerpen-cerpen ”kelas berat” (yang layak disematkan gelar “karya sastra”), mungkin cerpen ”Sepenggal Kejujuran Iblis” yang ditulis oleh seorang santri dari Madura ini bisa menjadi cerpen unik dan menarik yang asyik untuk ditelisik. Pertama, cerpen ini menggunakan sudut pandang yang tak lazim, yaitu sudut pandang orang kedua. Sepanjang umur Annida-Online, baru dua cerpen saja yang penulisannya memakai sudut pandang ini. Selain aneh, karena menjadikan pembacanya seolah berperan sebagai tokoh utama, sudut pandang ini juga tidak mudah dituliskan. Dalam cerpen ini, pembaca seolah-olah menjadi tokoh bernama Nuh, yang oleh iblis selalu disebut ”kau”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, cerpen ini mengisahkan sesuatu yang tak lazim pula. Terinspirasi oleh kisah Odipus, tokoh Nuh rupanya menemukan sosok bayi di pantai Lombang, yang tidak lain adalah anak sekaligus cucunya sendiri. Bayi hasil perzinahan istri dan anak lelakinya yang berhasil diperdaya iblis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, selain cerpen karya Lukman Mahbubi tersebut, karya Andi Asrizal yang berjudul “Ranah Pilu Lelaki Senja” juga bisa disebut nyastra. Akan tetapi, dominan warna lokal alias kedaerahan pada cerpen ini sangat kuat. Jadi bagi para pecinta karya sastra yang berlatar daerah, jangan lewatkan cerpen yang sarat kritik sosial ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara tentang kritik sosial, cerpen “Balada Pengemis” yang ditulis Irhayati Harun juga mengemas kritikan pedas menjadi nikmat, mungkin judul aslinya “Balado Pengemis”. Ditulis dengan alur mengalir, kegeraman penulisnya akan fenomena “anak pengemis”, yaitu anak yang ngiler dan sangat tergantung pada harta plus warisan dari orangtua, sungguh bisa menjadi cerminan bagi tiap kita. Jangan-jangan kita juga pengemis bergamis, atau pengemis berkumis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih untuk para pecinta “sastra serius”, ilustrasi roda kehidupan di kalangan orang-orang menengah ke bawah bisa ditemukan dalam potret 3 tokoh: “Tukang Es Doger, Tukang Payung, dan Seorang Ibu”, karya Eka Retnosari ini cukup apik, menggabungkan 3 tokoh yang sama sekali tidak mengenal, tidak bertautan, bahkan nyaris tidak berdialog, tapi terhubung dalam satu garis merah bernama uang seribu rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penggemar cerpen puitis, ada cerpen “Melukis Senja Jogja” karya Elzam Zami yang menutup seluruh cerpen dengan manis. Meski lebih mirip sebuah catatan perjalanan dan sepenggalan potret kehidupan, namun cerpen ini ditulis dengan kata-kata puitis berbaris-baris, membangun suasana syahdu, menggunakan berbagai majas yang kaya, sehingga membuat pembaca serasa bernostalgia di Jogja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kebetulan pembaca buku ini mencari cerpen yang romantis, tersedia pula! Bukalah cerpen rajutan Zahriyah Inayati yang berjudul “Sang Perantara Cinta”, rasakan kejujuran bertuturnya di cerpen tersebut, yang diakui terinspirasi dari True Story. Belakangan, penulis yang berprofesi apoteker ini semakin giat memproduksi cerpen, luar biasanya… kesemuanya terinspirasi dari kisah pribadinya juga. Wow!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para pecinta karya motivasi. Belakangan ini, pasca meledaknya tetralogi Laskar Pelangi, memang banyak orang yang terinspirasi untuk membuat impian, bercita-cita tinggi. Nah, buat para pemimpi… cerpen Mutiara Pesisir milik Ganda Pekasih dalam buku ini bisa menawarkan sesuatu yang berbeda. Sama-sama tentang impian, tetapi penulisnya tidak terjebak karya klise mengenai perjuangan-kerja keras-kemudian berhasil! Ia justru menyandingkan impian tersebut dengan dongeng Nenek Srintil. Nenek siapakah itu? Apa hubungannya impian dengan Nenek Srintil? Penasaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pecinta cerpen “kelas ringan” alias cerpen populer, yang tidak sampai membuat kening mengernyit, alis mata bertaut, dahi mengerut, bahkan bisa jadi sebaliknya, membuat suasana ceria, bibir tertawa, dan disudahi dengan nafas lega, ada cerpen “Kakek-Kakek Duniawi” karya Gusrianto yang meskipun ringan tapi berbobot, dan mampu berkali-kali membuat pembaca tergelak sekaligus merenung (sambil nyengir). Jangan sampai terlewatkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula “10 Hari Tanpa Pulsa” milik Adi Zam zam, juga cerpen “Gara-gara Macan” Syamsa Hawa yang sama-sama menyindir manusia masa kini tapi dengan gaya bertutur meremaja. Bukankah banyak manusia zaman sekarang yang merasa tidak bisa hidup tanpa HP, tanpa pulsa, tanpa online? Dan juga sangat percaya pada zodiak, ramalan, meski tidak sampai ke dukun? Yang berjiwa remaja musti baca kedua cerpen ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, cerpen “Tahlilan vs Rokok” buah pena Sam Edy, sungguh cerpen yang amat cerdas memukul telak para pecinta rokok, pemerintah, juga para pemuka agama yang tidak tegas menetapkan hukum merokok. Perlu dibaca oleh siapapun yang sering berada dalam dilema kronis: menegur para perokok atau sekedar menghindarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, para pecinta karya humanis, cerpen yang menjadi Lead judul buku ini wajib dibaca oleh setiap anak di seluruh dunia, baik yang sudah berumur, maupun yang di bawah umur (?), ini adalah sebuah cerpen yang menembus perbedaan agama, warna kulit, jenis rambut, bentuk hidung, atau perbedaan suku, “Sebuah Kata Rahasia”, karya Tetsuko Eika (yang meski kedengeran Jepang banget, tapi ternyata asli Bandung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen ini sungguh pandai menyembunyikan kata rahasia yang dinantikan oleh setiap ibu dari anak-anaknya. Baru di akhir cerita kita dapat mengetahui apa sebenarnya kata rahasia itu. Dan di detik itu pulalah kita bisa merasa sangat terharu dan—bagi yang melankolis dan punya pengalaman empiris—pasti menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, paket komplit yang tersedia untuk semua kalangan inilah yang menjadi penguat karakter Antologi cerpen pilihan Annida Online ini. Setelah semua potongan pizza itu habis dilumat, tidak hanya membuat para penikmat berkata “Hmmm… lezaaat!” tapi juga membangun tekad untuk menjadi insan yang lebih baik lagi dari sebelumnya, insya Allah.&lt;br /&gt;Tertarik mencicipi paket komplit yang “menggigit” ini? Jangan minta apalagi pinjam, beli doong! &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Annida-Online]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Ini buku cerpen yang terbit ketika aku masih kru Annida. Cerpenku masuk bukan karena KKN lho, tapi emang proses seleksinya melibatkan semua redaksi dan respon pembaca, hehehe. Masih tersedia, kalo mau beli, klik aja www.annida-online.com ya :-D **&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-2308796445255095713?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/2308796445255095713/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=2308796445255095713' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/2308796445255095713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/2308796445255095713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2011/03/sebuah-kata-rahasia.html' title='Sebuah Kata Rahasia'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-EAsJqSNU9I4/TWy-013QgFI/AAAAAAAAAJ8/eKCjqCTfEb8/s72-c/184785_10150155971844289_207436144288_7997258_7828146_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-5724242516144904600</id><published>2011-02-26T11:59:00.004+07:00</published><updated>2011-02-26T12:15:36.940+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku Karyaku'/><title type='text'>Ketika Nyamuk Bicara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-Wqf38aAeTc0/TWiMO717MHI/AAAAAAAAAJ0/6WfJyvhPg_E/s1600/2967736.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 244px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Wqf38aAeTc0/TWiMO717MHI/AAAAAAAAAJ0/6WfJyvhPg_E/s320/2967736.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5577862326708285554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hehehe... &lt;br /&gt;Malu euy, sebenarnya mau posting buku-buku yang pernah kuterbitkan (hohoho...) Secara ini buku antologi, di mana bukan karyaku seutuhnya. Tapi buku bareng-bareng penulis lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi nggak apa-apalah. Biar semangat. Nah ini karya pertamaku yang jadi buku. Nyempil sebuah cerpenku "Teror sang Monster". Dan ternyata masih dijual online di www.kutukutubuku.com. Hayoo, yang mau beli, cek TKP ya! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul nih buku "Ketika Nyamuk Bicara", terbitan Zikrul Hakim, 2005. Isinya memuat 12 cerpen penulis-penulis FLP (Forum Lingkar Pena) se-Sumbagsel.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-5724242516144904600?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/5724242516144904600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=5724242516144904600' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/5724242516144904600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/5724242516144904600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2011/02/ketika-nyamuk-bicara.html' title='Ketika Nyamuk Bicara'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Wqf38aAeTc0/TWiMO717MHI/AAAAAAAAAJ0/6WfJyvhPg_E/s72-c/2967736.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-6331443835769167092</id><published>2011-02-25T17:57:00.002+07:00</published><updated>2011-02-25T18:34:47.146+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Nanti, Suatu Saat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-hOyoKCHnNbU/TWeTx8Hk5JI/AAAAAAAAAJs/LDkbehfQ6ng/s1600/sukses.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 228px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-hOyoKCHnNbU/TWeTx8Hk5JI/AAAAAAAAAJs/LDkbehfQ6ng/s320/sukses.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5577589149682427026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Janji pada angin&lt;br /&gt;kau juga bisa melayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi adalah terbang melihat kau di bumi&lt;br /&gt;mengaca; kau tak putus berjuang&lt;br /&gt;dan kecilmu membesar sudah&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;[Elzam]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gambar dari http://gubuk-biru.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Minimal kita berkata-kata dalam hati, menancapkan tekad di hati, meski belum melakukannya**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-6331443835769167092?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/6331443835769167092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=6331443835769167092' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/6331443835769167092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/6331443835769167092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2011/02/nanti-suatu-saat.html' title='Nanti, Suatu Saat'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-hOyoKCHnNbU/TWeTx8Hk5JI/AAAAAAAAAJs/LDkbehfQ6ng/s72-c/sukses.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-6397604151343110455</id><published>2011-01-13T11:31:00.002+07:00</published><updated>2011-01-13T11:38:35.078+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RAGAM'/><title type='text'>Iseng di Kantor</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TS6BmUXylZI/AAAAAAAAAJY/5lKv2i8z0Y0/s1600/hahahaah.bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 262px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TS6BmUXylZI/AAAAAAAAAJY/5lKv2i8z0Y0/s320/hahahaah.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5561525085152646546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TS6BmN2gVLI/AAAAAAAAAJQ/t02rh9wL4To/s1600/malam%2B2.bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 262px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TS6BmN2gVLI/AAAAAAAAAJQ/t02rh9wL4To/s320/malam%2B2.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5561525083402425522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TS6BmGFRcEI/AAAAAAAAAJI/t1JDHJ3TaEM/s1600/Malam.bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 262px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TS6BmGFRcEI/AAAAAAAAAJI/t1JDHJ3TaEM/s320/Malam.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5561525081316880450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TS6BlaefVAI/AAAAAAAAAJA/aGTc4AkqFbE/s1600/kusut.bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 262px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TS6BlaefVAI/AAAAAAAAAJA/aGTc4AkqFbE/s320/kusut.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5561525069611488258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ini gambar-gambar yang kubuat di program paint. Hahaha, program yang paling dipake anak TK atau SD. Tapi nggak apa-apalah. Mau gimana lagi, nggak jago bikin yang lebih canggih. Dibuatnya iseng aja, saat lagi bingung hilang mood di kantor, internet offline, dan referensi jeblok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Lumayan, ada juga yang kubikin wallpaper kompieku. Mengapresiasi karya sendiri euy!&lt;br /&gt;:-))**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-6397604151343110455?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/6397604151343110455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=6397604151343110455' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/6397604151343110455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/6397604151343110455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2011/01/iseng-di-kantor.html' title='Iseng di Kantor'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TS6BmUXylZI/AAAAAAAAAJY/5lKv2i8z0Y0/s72-c/hahahaah.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-7510753069679658626</id><published>2011-01-13T11:15:00.004+07:00</published><updated>2011-01-13T11:43:46.128+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Tak Pantas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TS6C8NCzxEI/AAAAAAAAAJg/25sKXqcqqVs/s1600/Copy%2Bof%2Bkuthing%2Blutu.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 227px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TS6C8NCzxEI/AAAAAAAAAJg/25sKXqcqqVs/s320/Copy%2Bof%2Bkuthing%2Blutu.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5561526560654345282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tentang cinta di bumi ini&lt;br /&gt;Ketika mata terlelap, ia menatapmu &lt;br /&gt;Ketika terbuka, ia menyapamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantaskah mewujud harap kosong&lt;br /&gt;pada siapasiapa yang tak membuat hidupmu nyata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang cinta, bukankah kau yang menegaskan&lt;br /&gt;Ketika sumpah di depan Rabb merajah bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang&lt;br /&gt;Cinta tentang siapapun yang membuat hidupmu berwarna terang&lt;br /&gt;Ikhlaskan, harap lalu yang tak pantas mendapat tempat&lt;br /&gt;Karena cinta butuh jalan lurus&lt;br /&gt;[Elzam] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Untuk menyemangati teman yang bercerita di akun FB-nya**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-7510753069679658626?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/7510753069679658626/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=7510753069679658626' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/7510753069679658626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/7510753069679658626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2011/01/tak-pantas.html' title='Tak Pantas'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TS6C8NCzxEI/AAAAAAAAAJg/25sKXqcqqVs/s72-c/Copy%2Bof%2Bkuthing%2Blutu.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-4806258069037336206</id><published>2010-11-20T10:45:00.006+07:00</published><updated>2011-01-13T11:45:17.778+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RAGAM'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TOdKXJ3SgdI/AAAAAAAAAIk/NsiZ0Iks0XU/s1600/angkot.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 162px; height: 103px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TOdKXJ3SgdI/AAAAAAAAAIk/NsiZ0Iks0XU/s320/angkot.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5541479628147950034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TOdKOiCcu-I/AAAAAAAAAIc/YoMgWocRKLk/s1600/kopaja.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 280px; height: 180px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TOdKOiCcu-I/AAAAAAAAAIc/YoMgWocRKLk/s320/kopaja.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5541479480018385890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TOdKEPhJlmI/AAAAAAAAAIU/qonxVrjOALM/s1600/metromini.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 310px; height: 163px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TOdKEPhJlmI/AAAAAAAAAIU/qonxVrjOALM/s320/metromini.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5541479303248189026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nih ada info, buat teman-teman yang mau naik angkutan umum di Jakarta. Jangan sampe tersesat, kepanasan, lalu kecopetan gara-gara nggak tau mesti naik apa mau ke mana...:-D &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;METROMINI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MetroMini 001 rute Senen – RS Islam Cempaka Putih – Taman Solo&lt;br /&gt;MetroMini 003 rute Senen – Cempaka Putih – Rawamangun&lt;br /&gt;MetroMini 005 rute Senen – Johar Baru – Mardani&lt;br /&gt;MetroMini 007 rute Senen – Cempaka Mas – Semper&lt;br /&gt;MetroMini 010 rute Senen – Kemayoran – Sunter&lt;br /&gt;MetroMini 011 rute Senen – Kemayoran – Bendungan Jago&lt;br /&gt;MetroMini 015 rute Senen – Sabang – Setiabudi&lt;br /&gt;MetroMini 017 rute Senen – Cikini – Manggarai&lt;br /&gt;MetroMini 023 rute Tanjung Priok – Cilincing&lt;br /&gt;MetroMini 024 rute Tanjung Priok – Sunter – Senen&lt;br /&gt;MetroMini 030 rute Kota – Pluit – Muara Angke&lt;br /&gt;MetroMini 041 rute Pulo Gadung – Tugu – Tanjung Priok&lt;br /&gt;MetroMini 042 rute Pulo Gadung – Penggilingan – Perumnas Klender&lt;br /&gt;MetroMini 043 rute Pulo Gadung – Pondok Ungu – Seroja&lt;br /&gt;MetroMini 044 rute Pulo Gadung – Penggilingan – Pulo Gebang&lt;br /&gt;MetroMini 045 rute Pulo Gadung – Jatiwaringin – Pondok Gede&lt;br /&gt;MetroMini 046 rute Pulo Gadung – Utan Kayu – Kampung Melayu&lt;br /&gt;MetroMini 047 rute Senen – Cempaka Putih – Pondok Kopi&lt;br /&gt;MetroMini 049 rute Pulo Gadung – Utan Kayu – Manggarai&lt;br /&gt;MetroMini 050 rute Kampung Melayu – Duren Sawit – Perumnas Klender&lt;br /&gt;MetroMini 052 rute Kampung Melayu – Buaran – Stasiun Cakung&lt;br /&gt;MetroMini 053 rute Kampung Melayu – Condet – Kampung Rambutan&lt;br /&gt;MetroMini 054 rute Kampung Melayu – Kalimalang – Pondok Kelapa&lt;br /&gt;MetroMini 058 rute Cililitan – Pondok Bambu – Perumnas Klender&lt;br /&gt;MetroMini 060 rute Manggarai – Tebet – Kampung Melayu&lt;br /&gt;MetroMini 061 rute Manggarai – Bukit Duri – Kampung Melayu&lt;br /&gt;MetroMini 062 rute Manggarai – Pancoran – Pasar Minggu&lt;br /&gt;MetroMini 064 rute Pasar Minggu – Kalibata – Cililitan&lt;br /&gt;MetroMini 069 rute Blok M – Pasar Mayestik – Velbak – Kebayoran Lama – Kreo – Ciledug&lt;br /&gt;MetroMini 070 rute Blok M – Pasar Mayestik – Arteri Pondok Indah – Permata Hijau – Pos Pengumben – Joglo&lt;br /&gt;MetroMini 071 rute Blok M – Pasar Mayestik - Arteri Pondok Indah – Tanah Kusir – Kodam Bintaro&lt;br /&gt;MetroMini 072 rute Blok M – Ahmad Dahlan – Radio Dalam – Pondok Indah Mall – Arteri Pondok Indah – Lebak Bulus&lt;br /&gt;MetroMini 074 rute Blok M – Pasar Mayestik – Velbak – Arteri Pondok Indah – Tanah Kusir – Rempoa&lt;br /&gt;MetroMini 075 rute Blok M – Mampang – Warung Buncit – Pasar Minggu&lt;br /&gt;MetroMini 076 rute Blok M – Cilandak – Kampung Rambutan&lt;br /&gt;MetroMini 077 rute Blok M – Mampang – Ragunan&lt;br /&gt;MetroMini 078 rute Blok M – Pasar Mayestik – Kebayoran Lama – Cidodol&lt;br /&gt;MetroMini 079 rute Blok M – Fatmawati – Terogong – Pondok Indah – Lebak Bulus&lt;br /&gt;MetroMini 082 rute Kalideres – Kamal – Kapuk – Grogol&lt;br /&gt;MetroMini 084 rute Kalideres – Pluit – Kota&lt;br /&gt;MetroMini 085 rute Kalideres – Kebon Jeruk – Permata Hijau – Pondok Indah – Lebak Bulus&lt;br /&gt;MetroMini 091 rute Batusari – Tanjung Duren – Citraland – Grogol – Roxy Mas – Tanah Abang&lt;br /&gt;MetroMini 092 rute Joglo – Kedoya – Jalan Panjang – Daan Mogot – Grogol&lt;br /&gt;MetroMini 506 rute Kampung Melayu – Klender – Pondok Kopi&lt;br /&gt;MetroMini 610 rute Blok M – Cipete – RS Fatmawati – Pondok Labu&lt;br /&gt;MetroMini 611 rute Blok M – Pasar Mayestik – Arteri Pondok Indah – Pondok Pinang – Pasar Jum’at – Lebak Bulus&lt;br /&gt;MetroMini 619 rute Blok M – Pangeran Antasari – Pondok Labu – Cinere&lt;br /&gt;MetroMini 640 rute Pasar Minggu – Pancoran – Gatot Subroto – Sudirman – Thamrin – Kebon Sirih – Tanah Abang&lt;br /&gt;MetroMini 719 rute Lebak Bulus – Pondok Gede – Jatiasih&lt;br /&gt;MetroMini 733 rute Blok M – Bintara – Kranji&lt;br /&gt;MetroMini 783 rute Kampung Melayu – Kalimalang – Cibubur – Cileungsi&lt;br /&gt;MetroMini 789 rute Perumnas Klender – Pulo Gadung – Harapan Indah&lt;br /&gt;MetroMini 792 rute Perumnas Klender – Pondok Kelapa – Bekasi&lt;br /&gt;MetroMini 811 rute Blok M – Lebak Bulus – Rempoa – Bintaro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOPAJA&lt;br /&gt;Kopaja P 19 : Pasar Minggu – Blok M – Tanah Abang&lt;br /&gt;Kopaja P20 : Lebak Bulus – Rasuna Said – Senen&lt;br /&gt;Kopaja U 27 : Senen – Kelapa Gading&lt;br /&gt;Kopaja T 57 : Blok M – Kampung Rambutan&lt;br /&gt;Kopaja T 502 : Kampung Melayu – Tanah Abang&lt;br /&gt;Kopaja 63 : Blok M – Depok&lt;br /&gt;Kopaja S 66 : Blok M – Sudirman – Manggarai&lt;br /&gt;Kopaja S 602 : Tanah Abang – Ragunan&lt;br /&gt;Kopaja 605A : Blok M-Cilandak&lt;br /&gt;Kopaja S 608 : Blok M -Tanah Abang&lt;br /&gt;Kopaja 609 : Blok M – Meruya&lt;br /&gt;Kopaja 612 : Kp.Melayu – Ragunan&lt;br /&gt;Kopaja 613 : Blok M – Kebayoran Lama – Ulujami – Bintaro&lt;br /&gt;Kopaja 614 : Pasar Minggu – Blok M – Kebayoran Lama – Cipulir&lt;br /&gt;Kopaja 615 : Lebak Bulus – Blok M – Tanah Abang&lt;br /&gt;Kopaja 616 : Blok M – Cipedak&lt;br /&gt;Kopaja 620 : Blok M – Rasuna Said – Pasar Rumput&lt;br /&gt;Kopaja 86 : Lebak Bulus – Arteri Pondok Indah – Kota&lt;br /&gt;Kopaja 88 : Slipi – Grogol – Kalideres&lt;br /&gt;Kopaja 93 : Tanah Abang – Kalideres&lt;br /&gt;Kopaja 95 : Grogol – Rawa Bokor&lt;br /&gt;Kopaja T.624 (Bekasi): Bekasi – Delta Mas&lt;br /&gt;Kopaja S.140 (Bekasi): Bekasi – Jatiasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANGKOT&lt;br /&gt;Angkot B01 : Grogol – Mr Angke&lt;br /&gt;Angkot B03 :Joglo – Citraland, lewat Meruya, Kedoya, Tanjung Duren.&lt;br /&gt;Angkot B09 : Garden – Kreo&lt;br /&gt;Angkot B14 : Puri Indah – Citraland, lewat Pasar Puri, Kedoya, Terusan Arjuna, Tanjung Duren.&lt;br /&gt;Angkot C01 : Kebayoran Lama – Ciledug&lt;br /&gt;Angkot C02 : Ciledug – Jombang&lt;br /&gt;Angkot C05 : Kebayoran Lama – Ceger&lt;br /&gt;Angkot C09 : Lebak Bulus – Bintaro – Ceger – Pondok Aren&lt;br /&gt;Angkot C14 : Lebak Bulus – Ciledug&lt;br /&gt;Angkot C15 : Semanan – Ciledug&lt;br /&gt;Angkot D01 : Kebayoran Lama – Tanah Kusir – Pondok Pinang – Lebak Bulus – Ciputat&lt;br /&gt;Angkot D02 : Pondok Labu – Lebak Bulus – Ciputat&lt;br /&gt;Angkot D07 : Ciputat – Pamulang – Muncul/Serpong&lt;br /&gt;Angkot D08 : Ciputat – Jombang&lt;br /&gt;Angkot D09 : Pd Jagung – Graha Bintaro – Parigi – Bintaro Plaza – Rempoa – Situ Gintung&lt;br /&gt;Angkot D10 : Ciputat – Bintaro – Pondok Aren&lt;br /&gt;Angkot D15 : Lebak Bulus – Pondok Cabe – Pamulang&lt;br /&gt;Angkot D18 : Ciputat – Bintaro – Ciledug&lt;br /&gt;Angkot D26 : Ciputat – Pamulang&lt;br /&gt;Angkot S01 : Blok M – Pondok Labu&lt;br /&gt;Angkot S02 : Pondok Labu – Ragunan – Jagakarsa – Lenteng Agung&lt;br /&gt;Angkot S03 : Kebayoran Lama – Tanah Kusir – Pondok Pinang – Lebak Bulus – Pondok Labu&lt;br /&gt;Angkot S06 : Mayestik/Tmn. Puring – Kebayoran Lama – Ceger&lt;br /&gt;Angkot S07 : Kebayoran Lama – Pondok Aren&lt;br /&gt;Angkot S08 : Lebak Bulus – Ciputat – Rempoa – Bintaro&lt;br /&gt;Angkot S10 : Kebayoran Lama – Velbak – Seskoal – Peninggaran – Tanah Kusir&lt;br /&gt;Angkot S10 : Ciputat – Bintaro *kok ada 2 ya??*&lt;br /&gt;Angkot S11 : Lebak Bulus – Fatmawati – Pasar Minggu&lt;br /&gt;Angkot S12 : Lebak Bulus – Bona Indah – Ragunan&lt;br /&gt;Angkot S14 : Lebak Bulus – Pondok Pinang – Deplu – Bintaro – Petukangan&lt;br /&gt;Angkot S15 : Pasar Minggu – Cijantung&lt;br /&gt;Angkot T19 : Taman Mini – Kp. Rambutan – Depok&lt;br /&gt;Angkot T27 : Rawamangun – Kalimalang&lt;br /&gt;Angkot U10 : Sunter – Mangga Dua – Kota&lt;br /&gt;Angkot M01 : Kampung Melayu – Pasar Senen&lt;br /&gt;Angkot M06 : Kampung Melayu – Gandaria&lt;br /&gt;Angkot M09 : Tanah Abang – Kebayoran Lama&lt;br /&gt;Angkot M10 : Tanah Abang – Jembatan Lima&lt;br /&gt;Angkot M11 : Tanah Abang – Meruya&lt;br /&gt;Angkot M12 : Kota – Gunung Sahari – Senen&lt;br /&gt;Angkot M15A : Kota – Mangga Dua – Ancol – Tanjung Priok&lt;br /&gt;Angkot M16 : Kampung Melayu – Pasar Minggu&lt;br /&gt;Angkot M18 : Kampung Melayu – Kali Malang – Pondok Gede&lt;br /&gt;Angkot M19 : Cililitan – Klender Bekasi&lt;br /&gt;Angkot M20 : Pasar Minggu – Ragunan – Ciganjur&lt;br /&gt;Angkot M27 : Kampung Melayu – Pulo Gadung&lt;br /&gt;Angkot M28 : Kampung Melayu – Cawang – Pondok Gede&lt;br /&gt;Angkot M29 : Cililitan – Kranji&lt;br /&gt;Angkot M38 : Grogol – Bendungan Hilir&lt;br /&gt;Angkot M39 : Kota – Mangga Dua – Pademangan&lt;br /&gt;Angkot M44 : Kampung Melayu, Ambassador Mall, Karet Kuningan&lt;br /&gt;Angkot 461 : UKI cawang – Pondok Gede&lt;br /&gt;Angkot JP03A (APB) : Karet – Tanah Abang – Roxy&lt;br /&gt;Angkot JS01 (APB) : Mayestik – Kostrad – Kemandoran&lt;br /&gt;Angkot JS01A : Blok A – Tarogong – Kecamatan Cilandak&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-4806258069037336206?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/4806258069037336206/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=4806258069037336206' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/4806258069037336206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/4806258069037336206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/11/nih-ada-info-buat-teman-teman-yang-mau.html' title=''/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TOdKXJ3SgdI/AAAAAAAAAIk/NsiZ0Iks0XU/s72-c/angkot.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-652163310987800168</id><published>2010-10-19T17:47:00.005+07:00</published><updated>2010-10-27T15:38:32.668+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>ENGKAU, KEKASIH YANG ALLAH KARUNIAKAN UNTUKKU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TL14S_0miuI/AAAAAAAAAH8/cOGbdhVZpgE/s1600/totochan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 203px; height: 308px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TL14S_0miuI/AAAAAAAAAH8/cOGbdhVZpgE/s320/totochan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5529708185245879010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakata hati membumi tentangmu &lt;br /&gt;meski pernah atau seringkali senyap di lisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubenamkan semua untuk merengkuhmu saja&lt;br /&gt;Tentang rumah cinta kita&lt;br /&gt;;Harapan, kegembiraan, dan kasih sayang&lt;br /&gt;Meski lelah, aku akan tetap bangkit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan maklumi caraku menuangkan katakata&lt;br /&gt;Juga melukis engkau dalam detikdetik bertahun (hingga nanti)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk aku, engkau, dan anak-anak yang kita lahirkan&lt;br /&gt;Di dalam suasana terindah&lt;br /&gt;Di dalam suasana terburuk&lt;br /&gt;Kubangun jejakjejak menerjemahkan cinta kepadamu&lt;br /&gt;Engkau, kekasih yang Allah karuniakan untukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Elzam, Jakarta 15 Oktober 2010]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** :-) My Honey, istriku :-)&lt;br /&gt;Di hari lahirmu, kupanjatkan doa semoga Allah memberkahi umurmu yang telah berlalu, menjadikannya amal, menyiapkan kebahagian, dan kekuatan untuk membuatmu berarti selama hidup di dunia, aamin.**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-652163310987800168?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/652163310987800168/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=652163310987800168' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/652163310987800168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/652163310987800168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/10/engkau-kekasih-yang-allah-karuniakan.html' title='ENGKAU, KEKASIH YANG ALLAH KARUNIAKAN UNTUKKU'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TL14S_0miuI/AAAAAAAAAH8/cOGbdhVZpgE/s72-c/totochan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-7165470243076282414</id><published>2010-09-30T16:34:00.005+07:00</published><updated>2010-09-30T16:41:40.147+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Harap</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TKRarAyX_lI/AAAAAAAAAH0/_WIYt4o1UTE/s1600/hujan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 262px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TKRarAyX_lI/AAAAAAAAAH0/_WIYt4o1UTE/s320/hujan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522638738055233106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;dan musim terus berganti, hujan menitik.&lt;br /&gt;kau, masihkah melewatinya &lt;br /&gt;tanpa beda...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Gambar diambil dari http://rumaishaali.blogspot.com]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**di antara mata yang perih menatap monitor kompie ini**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-7165470243076282414?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/7165470243076282414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=7165470243076282414' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/7165470243076282414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/7165470243076282414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/09/harap.html' title='Harap'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TKRarAyX_lI/AAAAAAAAAH0/_WIYt4o1UTE/s72-c/hujan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-6999395533405959905</id><published>2010-09-29T09:17:00.004+07:00</published><updated>2010-09-30T16:43:33.440+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>detak-detak kata</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TKKiVPAc1oI/AAAAAAAAAHs/diXtDv8VPdI/s1600/Photo0168.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TKKiVPAc1oI/AAAAAAAAAHs/diXtDv8VPdI/s320/Photo0168.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522154578799023746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;aku tebarkan detakdetak berwujud kata-kata&lt;br /&gt;hingga kau genggam atau kau hempas&lt;br /&gt;tak pernah ada batas&lt;br /&gt;siapa dan apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Gambar: "Sawah dan Pondok @Sukabumi" koleksi pribadi]&lt;br /&gt;**kau membuatku berpikir, berpikir, tentang, ah....**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-6999395533405959905?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/6999395533405959905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=6999395533405959905' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/6999395533405959905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/6999395533405959905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/09/detak-detak-kata.html' title='detak-detak kata'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TKKiVPAc1oI/AAAAAAAAAHs/diXtDv8VPdI/s72-c/Photo0168.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-3228301516039936611</id><published>2010-09-21T11:44:00.004+07:00</published><updated>2011-01-13T11:45:58.269+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>LUPAKANLAH! (Sakti Wibowo)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TJg6l9GWkuI/AAAAAAAAAHk/9-VQcYsa4TY/s1600/present.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TJg6l9GWkuI/AAAAAAAAAHk/9-VQcYsa4TY/s320/present.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5519225767073321698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... tak ada yang lebih pasti dari ketidakpastian, kata pagi yang setia datang sebelum sarapan.&lt;br /&gt;Jadi tak perlu membingkai masa lalu atau memindai masa depan.&lt;br /&gt;Jika bukan kenangan, maka itu hanyalah angan-angan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ... jalani saja, apa adanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepotong pagi yang tersaji di gelas kopimu, biarkan seperti itu.&lt;br /&gt;Taburkan gula jika kau punya, tambahkan cream jika kau mau.&lt;br /&gt;Tak perlu memuji apa pun, tak usah memaki siapa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... nikmati saja, apa adanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak usah diingat part-part yang sudah lewat.&lt;br /&gt;Jika ada "buruk" yang terlanjur tercatat, maafkanlah.&lt;br /&gt;Jika ada "indah" yang sempat terlibat, lupakanlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... arifi saja! Jangan bilang tak mudah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya butuh sesaat untuk lewat,&lt;br /&gt;sejenak ingat,&lt;br /&gt;kemudian kembali semula:&lt;br /&gt;"Kita bukan siapa-siapa!"﻿&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Sebenarnya saya berniat menghindari postingan blog yang bukan tulisan saya alias "meng-copy paste" begitu. Baik dengan menyebut nama penulisnya, apalagi tidak sama sekali alias memplagiat. Tapi saya suka banget puisi Sakti yang saya temukan di FB-nya ini. Thanks juga untuk Lingga yg membuat saya menemukan puisi ini**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-3228301516039936611?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/3228301516039936611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=3228301516039936611' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/3228301516039936611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/3228301516039936611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/09/lupakanlah-sakti-wibowo.html' title='LUPAKANLAH! (Sakti Wibowo)'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TJg6l9GWkuI/AAAAAAAAAHk/9-VQcYsa4TY/s72-c/present.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-3631965728125748565</id><published>2010-09-16T18:20:00.005+07:00</published><updated>2010-09-16T18:58:13.692+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RAGAM'/><title type='text'>Akhirnya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TJIE1R9uEnI/AAAAAAAAAHc/A-VzEbKCenc/s1600/darah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 255px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TJIE1R9uEnI/AAAAAAAAAHc/A-VzEbKCenc/s320/darah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5517477806884131442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagia sekali rasanya hari ini. Mengapa? Karena saya bisa mendonorkan darah. Sebegitu bahagianya saya, hehehe... Begitulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama saya ingin mendonorkan darah. Setiap kali ada teman kuliah, teman kantor, atau saudara yang meminta tolong darah untuk seseorang, keinginan saya menjadi pendonor seringkali dipatahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kasian banget, kayak kamu mau donor darah? Ntar abis lho," canda teman-teman. Ada juga yang prihatin dan bilang lebih baik aku gemukin badan dulu. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Yups,&lt;/span&gt; persoalannya dengan tubuh menjulang tinggi dan kurus banyak yang bilang aku nggak pantas jadi pendonor. Dan aku cukup tahu diri, meski kepengennya masih tetap. Berharap suatu saat gemuk dan dianggap layak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayaknya bahagia banget kalo kita bisa memberikan darah untuk orang yang membutuhkan. Apalagi dulu aku pernah opname di rumah sakit dan ditransfusi. Terbayang aku udah ko'it kalau dulu nggak ditolong. Tapi ya itu, berhubung tubuh kurus, banyak nggak tega nyedot darahku :-(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tadi pagi ada teman kantor, Pak Sukma nyamperin ruang redaksi. Anaknya butuh darah karena anemia akut. Dulu pernah kecelakaan, banyak keluar darah tapi nggak diapa-apain katanya. Sekarang anaknya Pak Sukma di RSCM menunggu darah golongan B. Dengan rasa pesimis aku ikut bergabung. Kupikir paling nggak diperiksa dulu. Kalau nggak bisa, kan digantikan teman yang lain. Ada juga teman redaksi yang nyeletuk, "Elzam, liat dong orangnya, hehehe..." Pada takut, ngeliat aku yang tampangnya nggak mendukung kali ya? Tapi nyatanya dengan senangnya aku nunjukin plester bekas tusukan sepulang dari mendonorkan tadi. Akhirnyaaa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waduh, beratnya 51," celetuk petugas PMI Jakarta di Senen saat meriksa darahku. Namun dia bilang bisa aja kok, nggak masalah. Dokter pada pemeriksaan kedua juga bilang nggak apa-apa. Minimal berat badan pendonor itu 45. Huh, alhamdulillah. Aku lega. Apalagi HB-nya bagus, 14,7 (normalnya laki-laki antara 13-14). Terus tekanan darahnya 120/80. Nggak ada penyakit menular atau keturunan juga, hohoho...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deg-degan juga sebelum disedot. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Soale&lt;/span&gt; seingatku ini pengalaman pertama disuntik sejak kelas 3 SD dulu, ketika sakit itu. Setelah itu aku nyaris nggak pernah sakit, paling hanya demam, batuk, masuk angin. Ke dokter pun biasanya cuma diberi obat oral, bukan suntik. Untungnya si Mbak petugasnya baik, dan bilang malah lebih sakit pasien yg ditransfusi darah daripada saat pendonor diambil darahnya. Memang benar. Tusukan jarumnya hanya seperti digigit sedikit. Sekitar 15 menit darah mengalir. Sesekali &lt;span style="font-style:italic;"&gt;doang&lt;/span&gt; aku liat. Soalnya takut juga. Apalagi aku agak-agak trauma dengan rumah sakit atau darah akibat suatu hal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abis donor, kita diberi kartu pendonor (karena saya baru sekali) dan pil penambah darah. Kemudian diberi sekotak susu dan sepotong roti. Setelah itu kita berlima (Pak Sidik, Pak Abdul, Mas Novnov, Pak satu lagi aku lupa namanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;coz&lt;/span&gt; beda divisi, hihi...maaf-maaf), plus Fajar yang tidak jadi karena darahnya udah cukup untuk anak Pak Sukma menuju RSCM. Menjenguk anaknya Pak Sukma, Fernando. Abis itu diajak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lunch&lt;/span&gt; di Mister Baso Kalibata Mal. Hehehe... moga-moga berkah traktirannya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;plus&lt;/span&gt; darah-darah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, sempat ngbrol juga dengan seorang ibu yang menemani suaminya mendonorkan darah. Suami sang ibu rutin mendonorkan darah dan sudah lebih dari 70 kali. Ckk, hebat ya? &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Elzam]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar dari www.edoaprianto.blog.friendster.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Memberi pada orang lain pada hakikatnya memberi untuk kebaikan diri sendiri. Bukankah kita akan DIBERI kebahagian di hati saat MEMBERI?**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-3631965728125748565?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/3631965728125748565/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=3631965728125748565' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/3631965728125748565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/3631965728125748565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/09/akhirnya.html' title='Akhirnya'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TJIE1R9uEnI/AAAAAAAAAHc/A-VzEbKCenc/s72-c/darah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-8643319452752236496</id><published>2010-08-31T10:30:00.006+07:00</published><updated>2010-09-04T11:52:06.111+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='REVIEW'/><title type='text'>TO KILL A MOCKING BIRD</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/THx3sF8SnTI/AAAAAAAAAHM/lR24wbec7cY/s1600/mockingbird.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 203px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/THx3sF8SnTI/AAAAAAAAAHM/lR24wbec7cY/s320/mockingbird.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511411643387649330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca novel &lt;span style="font-style:italic;"&gt;To Kill A Mocking Bird&lt;/span&gt; karya Harper Lee adalah membaca dunia kita sendiri yang sangat mungkin masih kacau dengan persoalan rasis. Ketika warna kulit seharusnya menjadi begitu sederhana. Tuhan menciptakannya begitu saja, sekehendak-Nya saja. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jadilah kamu kulit putih, kulit kuning, atau kuli hitam (dan tetap manusia).&lt;/span&gt; Lalu manusia pula yang menjadikannya sama sekali tidak menyenangkan bagi orang berkulit tertentu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;–yang dalam novel ini nigger atau kulit hitam-&lt;/span&gt; karena seperti membawa cacat turunan dari alam lahir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kecil Jean Louis Finch alias Scout bersama kakaknya diwarnai dengan banyak tindakan untuk memuaskan mereka mengetahui banyak hal. Ditemani Dill yang selalu datang setiap musim panas ke kota mereka, Maycomb City di Alabama, Amerika. Misteri terbesar bagi mereka adalah keberadaan Boo Radley, tetangga mereka yang tak pernah keluar rumah lebih dari 15 tahun. Boo Radley yang memakan tikus dan musang, anggapan mereka pasti menyeramkan. Ketiga bocah itu, Scout yang berusia 8 tahun, Jeremy Finch alias Jim sang kakak 12 tahun, dan Dill alias Charles Baker Harris yang bertaut beberapa tahun di atas Scout selalu memancing Boo Radley keluar. Diselingi JUGA kenakalan-kenalan kecil mereka terhadap para tetangga yang tak menyukai Mr.Finch yang membela seorang nigger dalam sebuah tuduhan pemerkosaan. Cara menulis penulisnya menyenangkan, disertai kelucuan segar khas anak kecil yang membuat kita tertawa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Scout menjadi tidak mengerti mengapa ayah mereka yang berprofesi sebagai pengacara ikut menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nista&lt;/span&gt; karena membela Tom Robinson, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nigger&lt;/span&gt; itu. Begitu juga dengan Jim yang mulai beranjak ke masa remaja dan meletup-letup keinginannya untuk memberontak pada ketidakadilan, yang diciptakan kulit putih di Maycomb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya senang membaca novel ini karena begitu sederhana menerjemahkan persoalan pelik masa itu (ketika rasis masih begitu dominan di Amerika)ke dalam bahasa, dialog, dan deskripsi yang mudah pembaca kunyah. Seperti juga novel-novel luar, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;To Kill A Mocking Bird&lt;/span&gt; penuh dengan emosi-emosi yang tampak hidup dan pembaca bisa hanyut di dalamnya. Meski pada tokoh-tokoh anak sekali pun, karakter utama yang dibuat Lee. Harper Lee detail menceritakan apa yang membuat pembaca suka dan akhirnya membentuk kesan utama pada suatu konsep cerita di benak pembacanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atticus, begitu Scout dan Jim memanggil ayahnya membesarkan kakak beradik itu sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;single parent&lt;/span&gt; yang bijak. Siapa pun bagi Mr.Finch, sepanjang ia manusia, patut dihormati. Sepanjang ia benar, harus dibela. Sepanjang ia tidak menganggu keberadaan orang lain, hormati pilihan hidupnya. Tidak peduli ia berkulit putih seperti Boo Radley (yang belakangan menampakkan dirinya, berwajah seputih kapas) atau hitam, sehitam malam tanpa cahaya. Faktanya Tom Robinson tidak bersalah, Mayela Ewell yang sebenarnya memaksa karena gadis miskin, tak berpendidikan, dan dijauhi warga Maycobm tersebut ingin melampiaskan hasratnya. Meski proses persidangan benderang menjelaskan hal itu karena kepiawaian Mr.Finch membela Tom. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Toh,&lt;/span&gt; akhirnya Pengadilan memutuskan Tom Robinson bersalah dan pantas dihukum mati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cemoohan warga Maycomb pada keluarga Finch yang membela&lt;span style="font-style:italic;"&gt; nigger&lt;/span&gt; dirasakan oleh Scout dan Jim. Mereka tegar, Karena begitulah Atticus mengajari. “Satu hal yang tidak tunduk pada mayoritas adalah nurani seseorang," kata Mr Finch pada Scout ketika menanyakan kenapa ayahnya berbeda. Tapi mereka, hanya anak-anak, yang mengerti di antara orang-orang dewasa yang menciptakan kebenaran atas prasangka turun-menurun. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nigge&lt;/span&gt;r identik dengan berandalan, pembohong, kelas rendah, dan penjahat. Tidak penting lagi fakta berbicara sebaliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mencabik-cabik anak-anak itu ketika melihat langsung persidangan tolol. Bahkan Dill menangis dan perutnya mual. Mereka kalah, ayah mereka kalah. Tapi tak surut untuk naik banding. Sayang, Tom ditembak mati ketika mencoba melarikan diri atas hukuman untuk kesalahan yang tidak pernah dilakukannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum usai. Keluarga Finch mendapat terror dari ayah ayah Mayella, Mr.Ewell. Sampai ingin membunuh Jim dan Scout. Dendam dipermalukan di pengadilan membuat ia kalap, walaupun kemenangan di pihaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir novel ini mendebarkan. Sama ketika Harper Lee membuat pembaca berdebar atas apa yang terjadi pada keluarga Boo Radley yang mengasingkan diri selama belasan tahun dari peradaban, rumah mereka menyeramkan, kusam, dan tak terurus. Jim terancam diproses pengadilan karena diduga terlibat pembunuhan Mr.Ewell ketika membela diri saat lelaki pemabuk itu menyarang Jim dan adiknya. Waktu itu mereka baru pulang pada malam yang gulita setelah mementaskan teater di sekolah. Atticus bersihkeras memproses anaknya ke Pengadilan karena begitulah dia membesarkan Scout dan Jim. Bagi Mr.Finch, adalah kebenaran menempatkan siapa pun dan apa pun pada persamaan perlakuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulit putih yang menganggu hidup orang kulit hitam yang tak bersalah hanya karena terlahir &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nigger&lt;/span&gt;, maka dia adalah sampah. Pernyataan Mr.Finch ini juga menghujam saya ketika membaca, betapa kuatnya pendirian pengacara Finch. Novel &lt;span style="font-style:italic;"&gt;To Kill A Mocking Bird &lt;/span&gt;tetap relevan untuk dinikmati, meski Obama telah menjadi presiden kulit hitam pertama di Amerika. Dan kita, bukankah streotif tertentu masih kita lekatkan pada tiap identitas bawaan seseorang. Bacalah buku ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;To Kill A Mocking Bird&lt;/span&gt; adalah satu-satunya novel Harper Lee. Dia menulisnya terinspirasi dari masa-masa ketika berusia 10 tahun di kampung halamannya pada tahun 1936. Realitas tetangga-tetangganya dan kehidupan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nigger&lt;/span&gt; di Monroeville, Alabama menciptakan novel humanis itu.  Pertama terbit tahun 1960, lalu diangkat menjadi film berjudul sama oleh sutradara Robert Mulligan, yang sekaligus meraih Piala Oscar. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Elzam]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Catatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, sedikit gambaran kenapa novel ini berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;To Kill A Mocking Bird&lt;/span&gt;. Mungkin sekali berkaitan dengan pertanyaan Scout pada ayahnya, mengapa mereka dilarang menembak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mocking bird &lt;/span&gt;(sejenis Burung Murai) ketika dihadiahi senapan angin pada saat Natal. Mocking bird adalah sebaik-baiknya burung di Maycomb. Mereka terbang sambil bernyanyi merdu, tidak memakan hasil pertanian, tidak menganggu manusia. Mereka hanya bernyanyi, bernyanyi, yang membuat hidup di Maycomb begitu musikal. Jadi membunuh mocking bird yang sama sekali tak bersalah adalah dosa menurut Mr.Finch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Kamu akan menjadi "hidup" hanya dengan menghargai kehidupan setiap orang**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-8643319452752236496?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/8643319452752236496/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=8643319452752236496' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/8643319452752236496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/8643319452752236496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/08/to-kill-mocking-bird.html' title='TO KILL A MOCKING BIRD'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/THx3sF8SnTI/AAAAAAAAAHM/lR24wbec7cY/s72-c/mockingbird.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-1277861933827809034</id><published>2010-08-28T09:51:00.005+07:00</published><updated>2011-03-01T16:54:15.981+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN KARYAKU'/><title type='text'>Perempuan Di Pertigaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/THh8cR2hRRI/AAAAAAAAAHE/JEng_g14Tzo/s1600/perempuan+di+sawah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 212px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/THh8cR2hRRI/AAAAAAAAAHE/JEng_g14Tzo/s320/perempuan+di+sawah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510290969358058770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(Juara II LMCPI, Dimuat di Annida, Oktober 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahaga sekali Mut sepulang dari merumput dan suaminya menyambut dengan tawaran air pahit. “Aku mau menikah dengan Rohana, terserah kau mau dimadu atau ingin sendiri! Aku tak peduli.”&lt;br /&gt;Apa yang membuat Badar mau menikah lagi? Harta! Apa yang ia punya selain dari sehektar-dua hektar tanah itu! Siapa pula yang tekun menggarapnya?&lt;br /&gt;“nikeak bae1)…” Kata Mut. Dengan Rohana lagi, lekat sekali keadaan perempuan itu di benak Mut. Juga keadaan keluarganya. Tak cantik-cantik amat perempuan itu.&lt;br /&gt;Wajah Mut sedikit menjadi sendu. Tak perlu berlebihan melarutkan rasa. Berlebih-lebihan memang selalu tak berujung baik. Ketika ada riak berdentum di benak cukup ia bentuk segaris mimik mewakili riang, benci, iba atau sesak. Tipis saja!&lt;br /&gt;Kini paras sendu Mut berubah garis lengkung ke atas. Tersenyum. Tak apalah persahabatannya dengan matahari menjadikan ia hitam. Pun panasnya api tungku dapur dan asap yang mengaroma ditubuhnya. Tubuh yang semasa Mut gadis sering dibicarakan keindahannya. Kulit halus, wajah menarik, bentuk tubuh sintal…&lt;br /&gt;Tapi aku perempuan. Tak seharusnya begini. Kewajarannya adalah tampil cantik dan wangi.&lt;br /&gt;Itu dulu, ketika kau masih gadis, kata hatinya.&lt;br /&gt;Hhmm…benar juga. Itu yang membuat ia tersenyum. Sekarang Mut adalah isteri Badar dan ibu dari tiga anak. Adakah waktu luang untuk memanja diri?&lt;br /&gt;“Nak, yang namanya wanita itu dicipta dari tulang rusuk lelaki! Pengabdian pada suami menjadi garis hidup…” Sebuah kalimat yang sering Mut dengar dari Ibunya semasa gadis.&lt;br /&gt;Pernyataan yang sangat jelek, klaim Mut. Ceramah Ustadz Jaelani waktu Sri, anak tetangga sebelahnya menikah dulu pernah menjelaskan. Katanya tidak ada apa itu...? nash shahih alias kebenaran yang menerangkan hal itu. Dan ia makin jengah.&lt;br /&gt;@@@&lt;br /&gt;Sore tadi enak saja suaminya menanti ia di depan rumah. Segudang serapah keluar dari mulutnya. Sebanding lurus dengan seringai sinisnya melihat Mut, sang isteri. Katanya, “Perempuan lelet2)…apa saja kerja kau, heh? Di rumah tak ada apa-apa! Apa kau kira aku makan beras mentah…!” Marah besar Badar rupanya.&lt;br /&gt;Nasi… nasi saja pikirannya kalau pulang. Coba sesekali berpikir bagaimana nasi bisa selalu ada di rumah ini. Mut menggeram. “Aku juga bisa marah” batinnya.&lt;br /&gt;Ia tidak kalah berteriak, “Apa tidak salah pertanyaan dang3)? Kerja? Aku dari pagi memetik kopi sampai matahari merah. Pantas saja sudah habis dimakan anak-anak.” Ia berkata tidak kalah garang.&lt;br /&gt;“Setahun aku menunggu kopi berbuah. Merumput, menyemprot, meranting berbulan-bulan, Dang di mana?&lt;br /&gt;Seketika bunang4) yang ia sandang di bahu terhempas kasar. Ia yang lebih berhak marah. Bukan lelaki pengecut yang bisanya hanya keluyuran, judi, main perempuan…Berhamburan biji kopi merah memenuhi lantai.&lt;br /&gt;Mut hanya memberi murka di dialog hati. Selebihnya, apalah yang dapat ia muntahkan mengenai kata sampah yang ingin sekali dilisankan ke telinga suaminya itu.&lt;br /&gt;“Maaf Dang… kesorean, aku pikir Dang tidak pulang. Sebelum ke kebun aku masak untuk anak-anak, sedikit” ujarnya lirih sambil meletakkan bunang di lantai.&lt;br /&gt;Badar memegang dagu Mut. Bukan untuk menggagumi wajah itu.&lt;br /&gt;“Ko as aduknu coa belek, heh?5) Cepat kau masak! Aku mau pergi lagi nanti!”&lt;br /&gt;Oh, Mut tak habis pikir. Kenapa perempuan selalu berada di bawah. Selalu saja terhempas lepas. Bahkan untuk berani berkata Ia adalah Muthmainah. Dengan tenang mendefinisikan kebebasan pada jiwa. Jiwa seorang Mut juga yang mempunyai badani. Bukan Badar, ayahnya dulu—ketika belum berijab kabul pada Badar—atau masyarakat.&lt;br /&gt;Masyarakat terlalu turut campur! Apalagi bagi tun jang6), sepertinya setiap orang harus tunduk pada anggapan yang dibentuk orang lain.&lt;br /&gt;“Kebun kopi Badar itu berhasil terus. Berton-ton ia dapat hasil panen. Giat sekali sebong o7) berkebun…” Pembicaraan sehari-hari orang sedusun.&lt;br /&gt;Apa mereka pikir Mut buruh yang dipekerja Badar. Harusnya ia mempertontonkan jadwal rutinnya. Setiap hari, subuh-subuh ia bangun dengan tubuh tanpa tenaga. Badar masih saja lelap setelah menumpahkan nafsunya yang sangat jelek. Baginya Mud adalah pelayan. Tak patut diperlakukan perempuan yang tidak mau melayani nafsunya dengan kasih.&lt;br /&gt;Ia akan segera mennyalakan api. Menjerang air dan menanak nasi. Memandikan si bungsu dan menyiapkan Syamsudin dan syifa untuk berangkat ke sekolah. Setiap pagi anaknya selalu menjadi pangeran dan puteri yang harus dilayani.&lt;br /&gt;Suami bangun! Tentu saja rumah telah lengang, kecuali piset8) dua tahun mereka. Badar akan segera berangkat ke kebun setelah makan. Mut akan segera menyusul setelah membereskan rumah. Orang sedusun akan melihat Badar sebagai tipe pekerja keras.&lt;br /&gt;Mut sangat benci anggapan itu. Ketika sampai di kebun tugasnya menjadi nyata. Suaminya malah menampakkan kenyataan miris. Ia masih asyik melanjutkan dengkur setelah jeda makan pagi. Malas-malasan beranjak melihat Mut telah sibuk dengan wangi rerumputan liar. Kebun harus dirumput dengan sekuit9).&lt;br /&gt;Tangannya memang terasa lebih bertenaga sekarang ini. Bertahun-tahun ia melepas bedak untuk sebuah hidup. Bukan hidupnya saja, tapi juga hidup keluarganya.&lt;br /&gt;Cras…cras…tangan sigapnya menebas rumput liar, kadang juga membersihkan ranting kopi yang kering. Saat-saat inilah ia menjelma menjadi sang penantang.&lt;br /&gt;Ia tantang si Badar itu! Memang suaminya selalu saja kalah di adu berperang di medan yang mempertaruhkan hidup keluarga mereka. Seenaknya saja ia akan pulang setelah matahari lari dari putaran zhuhur.&lt;br /&gt;“Aku masih banyak urusan! Kau kerjakanlah dulu kebun ini. Tak pantas aku melalaikan urusan di luar sana!”&lt;br /&gt;Mut hanya diam. Toh ia butuh pekerjaan untuk menghidupi anak-anaknya, benteng yang membuat ia bertahan dari musuhnya. Bukan mengharapkan uang dari setumpuk urusan Badar.&lt;br /&gt;Sesiang ini mulut perempuan-perempuan sedusun ia pastikan sedang bercuap-cuap menggunjing. Tak tahu mereka perempuan macam apa yang mereka gunjingkan itu.&lt;br /&gt;“Coa nam murus keluargo rupone Mut o10). Sampai-sampai Badar harus beristeri seorang lagi. Lihat saja badannya. Tak pernah memperhatikan kemauan suaminya. Percuma ia cantik dulu. Kini tak lagi merawat badan untuk suaminya. Gumak11) sekali Mut kini…”&lt;br /&gt;Hapsah yang dulu sangat membenci Mut menyambung, “Tentu saja, puas ia dinikahi laki-laki macam Badar yang digilai setiap perempuan waktu masih bujang. Untuk apa pula ia berdandan. Telah menang Mut dengan status isteri Badar”&lt;br /&gt;“Meradanglah ia sekarang karena mau di madu dengan Rohana!” ujar Mar, tetangga sebelah-menyebelah Mut.&lt;br /&gt;“Pantas sekali ia menerimanya. Perempuan yang sebenarnya tak perempuan. Hidupnya sebenarnya tergolong berkecukupan meskipun tidak kaya…”&lt;br /&gt;Kalimat seperti itu sampai juga di telinganya. Malam ketika ia bertandang ke rumah ibunya. Marah besar ibunya kepada Mud.&lt;br /&gt;“Mud, apa yang kau lakukan sampai suamimu mau menikah lagi. Tak cukup keadaan hidup kalian yang semakin baik itu?” kata Ibunya.&lt;br /&gt;“Apa yang saya lakukan, Mak? Siapa pula yang berperan menciptakan keadaan baik itu? Banyaklah aku berkebun di ladang dibanding Dang Badar”&lt;br /&gt;“Tun leyen ipo teu12). Tahunya suamimu, Badar yang mencari nafkah dan ia termasuk berhasil. Pokoknya jangan sampai kau bercerai! Apa kata orang jika kau janda? Sekarang saja mereka melihat sebelah mata!” gerutu wanita tua itu.&lt;br /&gt;“Mak…mengapa Mak selalu mendengar kata orang? Aku juga yang merasakannya, melakukannya, cobalah Mak mendengar kataku pula.”&lt;br /&gt;“Jadi kau mau menjanda?”&lt;br /&gt;“Apa aku bilang begitu?” Mut balik membalas pertanyaan Emaknya.&lt;br /&gt;Ibu Mut berdiri, beranjak dari hadapan Mut, “Keras kepala! Terserah kau! Tapi ingat jangan kau buat malu emak dan almarhum bapakmu.”&lt;br /&gt;Semua orang memang selalu tak pernah jujur bagi Mut. Tidak juga keluarganya. Apa mereka sangsi jika lengannya jauh lebih kokoh dibanding lengan berotot milik Badar. Tidak di rumah, tidak di ladang ia tak pernah menghentikan lengannya untuk sekadar mengusap kehalusan kulitnya. Jauh sekali kemubaziran itu ia buang.&lt;br /&gt;Mut sama sekali tak mengharapkan Badar berbuat banyak untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Tak berharap lelaki itu membelikannya baju yang layak misalnya. Ia bisa sendiri melakukannya. Ia percaya sedikit tenaga yang ia kumpulkan untuk bekerja seperti laki-laki menjadi bukit juga. Bukan tenaga besar Badar yang nyaris tak pernah digunakan.&lt;br /&gt;Namun sekarang lelaki bernama Badar itu seperti pemimpin zalim saja. Padahal dengan apa ia memimpin? Dengan perangai kasarnya itu! Mau menikah lagi…&lt;br /&gt;Mut terpekur. Tak sekalipun ia menyalahkan perempuan pilihan kedua suaminya. Rohana adalah perempuan juga, sama dengan dirinya. Namun adakah watak ingin merebut di pikiran gadis semacam Rohana?&lt;br /&gt;Kepahitan hidup juga yang membuat ia menerima lamaran Badar. Dengan ekonomi yang sangat memprihatinkan sepertinya Rohana tak punya pilihan. Bukankah dengan menikah ia dapat mencukupkan kewajiban ayahnya untuk menafkahi. Menolak pun sama dengan ia dianggap durhaka oleh orangtuanya. Perkara cocok tak menjadi soal utama.&lt;br /&gt;Senja telah cukup lama menunggu jatahnya dari siang. Seperti biasanya Mut masih menikmati karirnya di ladang. Sejak dua hari yang lalu ia menghujani ilalang yang tumbuh dengan racun semprot. Ilalang tak bisa dibasmi dengan merumput saja. Kokoh sekali ia meletakkan tanki penyemprot berisi berliter-liter air itu pada jiwa yang ringkih.&lt;br /&gt;Gontai dengan sisa tenaga Mut pulang. Pikirannya masih berkelebat dengan keputusan suaminya yang ingin menikahi Rohana. Entah apa juga yang membawa ia pada pertemuan dengan Rohana di jalan menuju dusun.&lt;br /&gt;Perempuan selalu kikuk untuk saling bertegur sapa jika terlibat pada jalinan nasib yang berkaitan. Nasib tertindas karena keberadaan mereka masing-masing sebagai perempuan berhadapan.&lt;br /&gt;Kebekuan tak ingin lama hadir. Rohana membuka tuturnya, “Mut, kau sudah tahu rencana suamimu?” pancingnya lirih. Antara rasa bersalah dan takut ia ucapkan sebaris kalimat itu.&lt;br /&gt;“Lantas?”&lt;br /&gt;“menurut ko awei ipo?13)”&lt;br /&gt;“Aku perempuan yang tak membutuhkan lelaki sebenarnya! Suami bagiku tak lebih sebagai pemberian orang lain diluar hidupku, pemberian orang tua.” Mut menjawab perih. “Mungkin jawaban itu kasar bagimu…tak apalah anggapan itu.”&lt;br /&gt;“Maafkan aku…, Aku tak bermaksud merebut suamimu.” Rohana menderaikan kepiluannya.&lt;br /&gt;Rohana menarik satu nafasnya dengan berat. Wajahnya pun pias. Jika bukan tuntutan keadaan ia memang ingin berucap, bukan diam seperti selama ini. Rohana ingin menjadi dirinya sendiri walaupun anggapan itu tak pernah ada di benak orang lain. Ia memang mau dinikahi Badar, untuk semua itu ia memiliki satu alasan. Hanya ia sendiri yang tahu kegamangan kian merona dalam setiap pilihan. Perempuan seperti ia memang hadir untuk bertemu perih, pikir Rohana.&lt;br /&gt;“Hei…hei…! Mengapa kau menangis? Tak patut perempuan seperti kita menangis. Jangan tunjukkan kekalahanmu!” Mud menatap wajah kuyup Rohana.&lt;br /&gt;Bergegas Rohana berjalan. Ia tak sanggup menanggapi ketegaran perempuan semacam Mut.&lt;br /&gt;“Aku akan memaksa orang tuaku untuk membatalkan lamaran suamimu.” serunya berbalik menatap Mut. Perih…&lt;br /&gt;Mut memandang perempuan itu dengan galau. Kesan yang ditampilkan Rohana sangat aneh bagi Mut. Perempuan itu bingung mengapa ucapan yang ia lontarkan ditanggapi lain oleh Rohana. Bukan Rohana juga yang merasa perih. Ia tidak pernah sendirian dicekam rasa itu. Rasa yang sama, saat ia juga dilamar Badar beberapa tahun yang lalu. Ia berteriak lepas memberi ruang untuk sesama perempuan di depannya. Agar angkasa dapat mereka terbangi berdua.&lt;br /&gt;“Kalau aku bisa menerimamu sebagai madu, mengapa engkau tidak…! Yang kita butuhkan hanyalah status sebagai isteri. Tidak lebih…aku tak menolak kenyataan.” Kalimat itu meluncur tegas menghalau Rohana, lebih kepada pengharapan. Mut sadar ia juga perempuan yang dibentuk nasib…&lt;br /&gt;Tak tahu Mut apa yang selanjutnya diperbuat oleh Rohana setelah pertemuan itu. Terlalu lelah ia berpikir untuk sebuah ketegaran karang yang ia miliki. Entah kekuatan apa pula yang ia miliki sampai sanggup berbagi untuk seorang perempuan lain, di rumah yang selama ini hanya ada sepasang ikatan perkawinan. Hanya saja Mut yakin bukan karena ia menghormati Badar, apalagi ingin memiliki lelaki itu selamanya.&lt;br /&gt;“Perempuan sialan! Apa yang kau lakukan pada Rohana sampai orang tuanya harus membujuk lagi? Masih untung kau aku madu. Bukan aku ceraikan!.” Memerah muka Badar melihat wajah Mut.&lt;br /&gt;Angin memang selalu berhembus menyampaikan pertemuan dan pembicaraan yang tak kasat mata bagi Badar. Pertemuan tak sengaja di senja ketika Mut pulang dari ladang berhembus juga. Udara panas selalu hadir untuk dihembuskan pada kedamaian angin. Buah bibir yang memanas dari mulut orang sedusun yang jeli mengintai setiap episode perisitiwa.&lt;br /&gt;Kali ini Mut ingin bersuara keras. Ia benci juga akhirnya ketegaran yang dipertahankannya. Bertahun-tahun perempuan itu membungkus ketertindasan dengan sekeping hidup sabar.&lt;br /&gt;Mut menatap mata suaminya dengan tak kalah garang. Bisa yang ia simpan di lidah keluar juga. Meradang penuh …&lt;br /&gt;“Kau pikir aku mencacinya?!” Ia mendongak tegak.&lt;br /&gt;Harga diri Badar terinjak-injak melihat kelakuan isterinya yang selama ini tak berkutik. “Sudah berani kau rupanya…!” tersinggung sekali Badar mendengar Mut berkau-kau saja terhadap dirinya.&lt;br /&gt;“Aku katakan padanya agar ia menerima saja ajakan nafsumu itu! Kami perempuan memang harus selalu begitu… mengalah untuk lelaki busuk macam Dang!” tajam sekali kata-kata Mut.&lt;br /&gt;“Lalu mengapa ia menolak setelah kau temui, perempuan jalang?!”&lt;br /&gt;Plak…! Sebuah tamparan membekas untuk Mut hamparkan di peta hatinya. Ia tidak akan menangis. Kalah, jika ia menderaikan bening emosi cengeng.&lt;br /&gt;“Tak ada gunanya kau ada di sini lagi. Percuma kau kujadikan isteri tua nantinya. Pergi kau…!” Badar murka. Ia keluarkan semua taring yang ia miliki untuk menggigit magsanya itu.&lt;br /&gt;@@@&lt;br /&gt;Mut telah meninggalkan sarang tempat ia melabuhkan dirinya. Peduli apa ia dengan sebutan orang sedusun tentang kondisinya. Ia punya dua sayap untuk dapat terbang mengangkasa. Ia punya paruh untuk mematuk sehelai demi sehelai rumput kering untuk membuat sarang baru. Tampa pejantan sekalipun&lt;br /&gt;Sebelum Badar menceraikannya ia telah lebih dulu mengangkat diri untuk sebuah kekalahan. Untuk sebuah hidup dengan jiwa yang bebas ia telah menggugat cerai suaminya. Orangtuanya boleh bicara ia perempuan tak tahu malu, perempuan pelawan kodrat sekalipun. Masyarakat boleh mengunjing segunung aib bagi janda seperti Mut.&lt;br /&gt;Mut kembali terlahir menjadi dirinya sendiri dengan membawa anak-anaknya serta. Ia juga mendengar jika Rohana akhirnya berhasil menolak lamaran Badar. Meskipun Rohana harus pergi merantau keluar dari dusun, menghindari paksaan orang tuanya.&lt;br /&gt;Mut tersenyum untuk sebuah kemenangan yang dimiliki dua orang perempuan. []&lt;br /&gt;Untuk sesosok perempuan kokoh…&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Catatan kaki:&lt;br /&gt;1) menikah saja&lt;br /&gt;2) lamban&lt;br /&gt;3) kakak&lt;br /&gt;4) bakul dari anyaman bambu yang digunakan dengan di sandang&lt;br /&gt;5) kau suka suamimu tidak pulang, heh&lt;br /&gt;6) orang Rejang, sebutan untuk salah satu suku di Bengkulu&lt;br /&gt;7) lelaki itu&lt;br /&gt;8) bungsu&lt;br /&gt;9) arit, alat pemotong rumput&lt;br /&gt;10) tidak bisa mengurus keluarga rupanya Mut itu&lt;br /&gt;11) kotor, belepotan&lt;br /&gt;12) orang lain tidak tahu&lt;br /&gt;13) menurutmu bagaimana?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Foto/ilustrasi diambil dari www.kasmaji81.wordpress.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Menistakan perempuan berarti mengabaikan Sang Maha Rahim**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-1277861933827809034?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/1277861933827809034/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=1277861933827809034' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/1277861933827809034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/1277861933827809034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/08/perempuan-di-pertigaan.html' title='Perempuan Di Pertigaan'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/THh8cR2hRRI/AAAAAAAAAHE/JEng_g14Tzo/s72-c/perempuan+di+sawah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-6255922404812999564</id><published>2010-08-28T09:42:00.003+07:00</published><updated>2010-08-28T09:49:44.674+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Perempuan Kereta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/THh5K8F8YiI/AAAAAAAAAG8/CRRoGVWxb-E/s1600/kereta.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/THh5K8F8YiI/AAAAAAAAAG8/CRRoGVWxb-E/s320/kereta.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510287372924510754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(Dimuat di Majalah Alia Edisi Maret 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sini ada seorang pengamen khas yang mampu menarik perhatian semua penumpang. Ia bisa membuat penumpang tersenyum geli, tertawa dan menggodanya. Ya…hitung-hitung refreshing dalam bentuk lain.”&lt;br /&gt;Hah... Tanpa sadar aku terkejut. Inilah kelemahan kita yang tidak bisa menaruh empati kepada orang lain. Kalau pun ada biasanya dilatar belakangi oleh maksud tertentu, cari perhatian, biar dianggap dewa penyelamat, atau penjilat. Point terakhir ada di mana-mana dan membudaya. Tentu saja untuk kelas pengamen empati orang lain sulit didapatkan. Orang akan berfikir apa yang didapat jika berbaik-baik kepada kelas kumuh.&lt;br /&gt;Terus terang aku tidak suka! Aku berharap tidak akan menemukan pengamen itu dalam perjalanan nanti. Apalagi menikmatinya sebagai bahan tertawaan.&lt;br /&gt;Di antara beragam penumpang yang memenuhi tempat duduk aku mencoba menahan nafas. Kereta api belum berangkat. Ukh…aromanya sedemikian beragam juga. Dalam perjalanan nanti pastilah semakin kuat menghempaskan penumpang dalam keletihan yang amat sangat. Apalah dayaku kantong mahasiswa lebih mengizinkan untuk naik kelas ekonomi.&lt;br /&gt;Berfikirlah positif, anggap saja wangi kesturi, hiburku memotivasi diri. Nikmatilah hal ini dengan perspektif yang lebih menyenangkan. Ya, semoga ada hal yang menyenangkan dalam perjalanan ini ketimbang melamun memikirkan susahnya mengakses data skripsi mengenai prosedural penunjukkan proyek yang di berikan Pemerintah Daerah. Mungkin mereka takut terbongkar bagaimana mereka bermain cantik dalam memenangkan tender proyek pembangunan seorang pengusaha. Masalah klasik di zaman yang katanya reformasi. Permasalahan penelitian di Indonesia selalu saja terhambat pada data yang sering ditutup-tutupi.&lt;br /&gt;Aku mendapatkan tempat duduk sesuai tiket. Nomor 14 A. Lumayan dipinggir jendela. Di samping tempatku duduk adalah seorang bapak berkaca mata, berperawakan cukup tinggi namun gemuk.&lt;br /&gt;Aku mengingat pertemuan pertama tadi ketika aku sibuk mencari tempat dudukku. Tas kerja kulit dan sepatu mengkilap silau telah cukup menunjukkan kelas sosial pada tingkat yang mapan dan berpendidikan. Aku tersenyum dan memberikan isyarat permisi untuk duduk di sampingnya. Heran…! Kok mau-maunya orang ini naik kelas buntut.&lt;br /&gt;Waktu berangkat tinggal lima belas menit lagi. Aku mulai menikmati perjalanan dari perspektif yang kucoba buat menyenangkan tadi. Setidaknya sekarang ada fasilitas musik gratis yang berulang-ulang. Permasalahan membayar tidak menjadi masalah karena ada banyak orang lain yang bersedia melepas recehannya selain aku. Sebuah lagu dari beberapa remaja terdengar cukup apik. Lagu wakil rakyat dari Iwan Fals seperti ini kupikir lebih cocok untuk pesta kebun dirumah pejabat atau malah jeda istirahat saat sidang anggota dewan di parlemen. Untuk suasana gerbong ini lebih menghibur lagu dangdut atau mungkin nasyid Raihan yang disukai anak-anak kerohanian Islam di kampus. Aku tersenyum geli.&lt;br /&gt;“Mahasiswa ya?” tanya Bapak di sampingku membuka kembali perbincangan.&lt;br /&gt;“Hmm…Iya Pak” jawabku sopan. “Bapak sendirian saja?” Aku balik bertanya.&lt;br /&gt;“Oh, saya bekerja di perusahaan farmasi memenej pemasaran. Saya ingin pulang mengunjungi isteri kedua saya. Inilah resikonya jika berlainan kota.”&lt;br /&gt;Aku tersenyum kepada bapak itu. Cepat sekali ia menceritakan dirinya kepada orang lain yang belum sempat ia kenal.&lt;br /&gt;“Bapak sering…?”&lt;br /&gt;Pembicaraan kami terpotong dengan sodoran bekas kantong permen. Bapak itu (sebut saja begitu karena aku tidak mengetahui namanya) memberikan beberapa keping uang logam yang Ia punya. Ketika giliranku aku menggeleng sambil tersenyum.&lt;br /&gt;“Gimana?” lanjutnya.&lt;br /&gt;“Bapak sering naik kereta api ini?&lt;br /&gt;“Mengapa? Pangling? Bapak tidak suka naik kereta api kelas lain. Ha…ha…ha….kalau kereta api ini ada nuansa tersendiri yang membuat kita jadi lebih segar. Ketegangan yang menjadi pemicu stress selama kerja menjadi berkurang.”&lt;br /&gt;“Maksudnya gimana, pak ?” Aku bertanya kebingungan. Tak mampu menebak arah pembicaraannya.&lt;br /&gt;“Penumpang kereta ini rata-rata penumpang tetap, karena mereka rutin pulang dan pergi pada waktu-waktu tertentu seperti saya misalnya. Kita menjadi terbiasa menikmati perjalanan. Pasti kamu jarang naik kereta ekonomi?” Beliau menebak.&lt;br /&gt;Aku mengangguk. Terpaksa kali ini aku naik kereta ekonomi karena dana yang tersedia benar-benar cekak alias tipis. Biasanya minimal aku memilih kelas bisnis.&lt;br /&gt;“Ya, itu tadi ada pengamen khas yang tadi Bapak bilang!” ujarnya tersenyum-senyum. Bodoh, pikirku. Mengapa harus melayani orang tua yang sama sekali tidak menyenangkan ini bagiku.&lt;br /&gt;Entah berapa lama aku terlelap. Laju kereta terasa terhenti. Perlahan kubuka mata. Kereta api berhenti sesaat menurunkan penumpang di stasiun ini.&lt;br /&gt;“Nasi… nasi…nasi…”&lt;br /&gt;“Aqua dingin…aqua dingin…aqua dingin…”&lt;br /&gt;“Kipas…kipas…kipas…”&lt;br /&gt;Suasana pasar pun tercipta. Berhamburan pedagang asongan mengisi gerbong demi gerbong. Mereka berlomba-lomba menawari dagangan dari nasi sampai tahu isi, dari pistol mainan anak-anak sampai tisu. Dan pengamen meningkahi suasana tersebut.&lt;br /&gt;“Assalamuallaikum, oke Ibu-ibu, Bapak-bapak, Mbak-mbak, Mas-mas semuanya semoga perjalanannya selamat sampai di tujuan dan terimalah lagu dari kami…” Ujar seorang pemuda mewakili grup pengamen yang berjumlah empat orang. Satu orang dari mereka memegang gitar, galon kosong dan keduanya temannya sebagai vokal. Mereka menyanyikan lagu kisah sedih di hari minggu. Memang lagu lama ini kembali melejit didongkrak dengan di ambilnya sebagai soundtrack sebuah sinetron berjudul sama.&lt;br /&gt;Seorang gadis di sudut sana kulihat ikut bersenandung. Penumpang laim diam menikmati bahkan ada yang tertidur. Tiba-tiba dari arah berlawanan dengan pengamen seorang laki-laki buta berjalan tersaruk-tersaruk. Aku melihat jelas retina matanya yang tidak sempurna. Warna hitam yang tidak bisa dikatakan hitam. Bagian putihnya pun lebih didominasi kemerahan. Bapak ini pengemis betulan, belakangan ini banyak sekali orang-orang yang berpura-pura buta mengemis.&lt;br /&gt;Lho kok aku seperti pengamat perkeretaapian saja. Aku membatin. Dari tadi selalu saja tingkah laku pengamen, penumpang, dan pengemis yang diperhatikan.&lt;br /&gt;“Assamuallaikum, minta sedekah…” berulang-ulang pengemis tua itu mendekati setiap penumpang. Tak seorangpun yang memberi, apalagi sekedar menjawab salam saja mereka enggan.&lt;br /&gt;“Wallaikumsalam” Aku meletakkan uang seribu di tas yang ia sodorkan. Ucapan terimakasih terdengar takzim ia ucapkan.&lt;br /&gt;Pengamen terus bergantian menghibur penumpang. Apa mereka tidak berfikir kalau recehan penumpang habis untuk memberi sekian bayak antrian pengamen dan pengemis.&lt;br /&gt;“Permisi Om, Tante, Anak-anak…” Suara cempreng terdengar jelas dari sudut pintu gerbong.&lt;br /&gt;“Selamat malam duhai kekasih…bawalah daku diriku didalam mimpi…sebutlah…” Suaranya jelas tidak bisa dikatakan bagus, mendekati lumayan pun sangat susah diakui. Anehnya semua orang tampak menyukai suara perempuan itu.&lt;br /&gt;Garis-garis wajah membentuk sudut ketuaan tampak di wajahnya. Wajah yang kotor penuh debu, namun terang, atau lebih tepat dikatakan tegar. Penampilannya sangat kontras dengan mimik yang ia hadirkan.&lt;br /&gt;Perempuan yang kutaksir berumur empatpuluhan lebih itu menggunakan rok kembang selutut, bewarna biru terang dan sangat lusuh. Baju hijaunya pun semakin mencolok dengan motif kembang merah dan kuning yang berserakan besar-besar.&lt;br /&gt;Aku melihatnya sambil berpikir tak mungkin ibu tersebut memperkirakan jika padanan itu kurang tepat. Mana ada orang seperti itu memikirkan warna dan model dalam berpenampilan. Hal terpenting adalah baju itu menutupi tubuh, titik.&lt;br /&gt;Lagu selamat malam telah berakhir, “Gimana, nak?” Ujarnya manja pada seorang pemuda. Sang cowok tersenyum.&lt;br /&gt;“Aku dapat senyum cowok ganteng.” Kedua tangannya mengapit didepan dada. Semua orang tertawa, termasuk pemuda yang di maksud.&lt;br /&gt;“Ha...ha...haaaahaaa” tawa penumpang&lt;br /&gt;“Lucu banget.”&lt;br /&gt;“Ada-ada saja.”&lt;br /&gt;“Wah, pengamen kayak sinden.”&lt;br /&gt;Masih banyak komentar yang lain. Rata-rata mentertawakan kenorakannya.&lt;br /&gt;“Lagi dong lagu dangdutnya.” Ujar seorang ibu muda disamping seorang gadis.&lt;br /&gt;“Goyang dombret, sekalian goyangnya..” Bapak di sampingku nyeletuk.&lt;br /&gt;“Nggak bisa goyang. Udah tua…!” jawab pengamen itu bercanda sambil memainkan alat musiknya. Alat musik berbentuk kotak papan, di depannya berjejer karet ban sebagai senar gitar yang biasa dipetik. Sisi papan yang ditindih karet itu menunjukkan berapa lama eksistensi ibu tersebut mengamen. Bagaimana tidak, bagian itu telah melengkung ke dalam seiring seringnya karet dipetik melahirkan bunyi.&lt;br /&gt;“Ah, coba dulu” sambar penumpang yang lain.&lt;br /&gt;“Selang-seling aja deh, lagu pop dulu “ujarnya menolak halus.&lt;br /&gt;“Iya dong, kan banyak anak muda . Lagu yang romantis ya!” pinta seorang remaja cewek. Semua penumpang setuju, Ini pasti lucu, pikir mereka. Semua berkonsentrasi, termasuk sang panyanyi.&lt;br /&gt;Bak pop singer beken ia menghadirkan intro musik dari gitar nan uniknya. Tangannya melambai-lambai.&lt;br /&gt;Ada cinta yang kurasakan…&lt;br /&gt;saat bertatap dalam canda&lt;br /&gt;Dalam tawa…&lt;br /&gt;Semua orang bersorak riang. Lagu andalan kelompok Bening mengalir dari pita suaranya.&lt;br /&gt;“Suit ...suit...”&lt;br /&gt;“Wah boleh juga seleranya” ujar gadis remaja yang meminta lagu tadi.&lt;br /&gt;Suara yang sangat sumbang, andaikan Bening melihat ibu itu menyanyikan lagu mereka tentu saja marah. Lagu mereka telah dirusak oleh cara menyanyi yang sama sekali tidak mengikuti penyanyi asli. Tapi penumpang suka, karena gayanya sangat konyol. Lihat saja, semua orang di situ tersenyum senang melihat sang pengamen. Aku melihat ibu itu tidak bermaksud bergenit-genit ria. Ada ketulusan yang ia pancarkan untuk menghibur orang lain dengan caranya sendiri. Ia pun menyadari kekerdilan dirinya sebagai bulan-bulanan penumpang.&lt;br /&gt;Pernah kuragu...kuragu...&lt;br /&gt;Tapi mengapa kini&lt;br /&gt;Seolah ...&lt;br /&gt;cinta telah kugenggam&lt;br /&gt;Ia berjalan pelan mengajak seorang bapak berduet. Bapak itu mengelak malu-malu. Kini ia beralih ke seorang anak muda berkulit putih, sambil terus bernyanyi. Sang cowok pun menanggapinya layaknya seorang model yang menjadi pacar sang penyanyi. Kontan saja semua orang tertawa…tersenyum ….Melihat tingkah pasangan ‘dua generasi’ tersebut.&lt;br /&gt;“Ih kok senyum dengar lagu ini. Wah ini cowoknya ya yang di samping. Jangan marah dong...! Cuma bercanda” tegurnya pada seorang remaja yang duduk berdampingan.&lt;br /&gt;“Terus...terus, dangdut...”&lt;br /&gt;Begitulah lagu demi lagu dibawakan pengamen perempuan itu. Sesekali ia berputar-putar dan sedikit bergoyang menyenangkan penumpang.&lt;br /&gt;“Tau nggak sejak jaman aku SMP dia udah ngamen seperti itu. Sudah lama banget ya!” Seorang pemuda yang kebetulan duduk di depanku memberitahukan.&lt;br /&gt;“Wah yang bener? Pantesan dia pinter nyenengin orang” komentar temannya.&lt;br /&gt;“Gimana stressnya hilangkan?” ujar Bapak di sampingku.&lt;br /&gt;“Biasa aja kok pak” jawabku sekenanya.&lt;br /&gt;“Orang-orang pada suka kok kamu nggak?”&lt;br /&gt;“Saya suka semua pengamen, asal nggak maksa-maksa penumpang ngasih uang kayak di terminal Rajabasa.” Aku menjawab pertanyaan Bapak itu. Kuingat pengalaman waktu di terminal bus Rajabasa. Pengamen di sana selalu mengancam penumpang kalau tidak memberi uang.&lt;br /&gt;“Makasih...terimakasih” ibu pengamen tadi menampung uang dari penumpang.&lt;br /&gt;“Yang ada aja mas! Yang ada aja. Gimana lagunya, enak?” masih saja ia tersenyum.&lt;br /&gt;“Nih, ada sedikit” seorang bapak memberi tulus.&lt;br /&gt;“Iya dikit aja, pak. Kalau banyak ntar saya kaya dong. Nggak bakalan ngamen lagi” balasnya yang di sambut riuh penumpang lain.&lt;br /&gt;Pengamen eksentrik itu telah sampai di dekat kami. ia melirik bapak yang ada di sampingku dengan seksama.&lt;br /&gt;“Pak produser kapan saya rekaman?” keluhnya dengan maksud bercanda.&lt;br /&gt;“Entar deh kalo saya udah bosan naik kereta.”&lt;br /&gt;“Kejaaaaaaam...” suaranya melengking menirukan lagu dangdut Elvi Sukaesih.&lt;br /&gt;Geerrrrrrr...semua orang tertawa tertawa terbahak-bahak.&lt;br /&gt;“Oke...makasih semuanya ya. Sampai jumpa lagi. Cup...cup...cup.” Ia pun pamit sambil menempelkan tangan di bibir.&lt;br /&gt;Aku merasa jengah dengan sikap orang-orang di kereta ini. Pernahkah mereka membayangkan jika posisi ibu pengamen itu berpindah pada mereka. Mampukah mereka membuat pengamen itu bahan tertawaan.&lt;br /&gt;Lamunanku terhenti karena ada yang mendesak-desak. Aku kebelet ingin buang air kecil. Segera aku bangkit dari tempat duduk. Menyusuri jalan di antara penumpang menuju toilet. Letak toilet cukup jauh di ujung dekat pintu gerbong yang menghubungkan dengan gerbong lain. Setelah selesai aku bergegas keluar. Tak tahan dengan bau pesing yang memualkan perut, biasa fasilitas umum. Aku memaklumi.&lt;br /&gt;Aku dikejutkan dengan suara isak tangis pelan.&lt;br /&gt;“Sudahlah Wati, apalagi yang kamu tangiskan. Sebentar lagi uang kita cukup untuk operasi si bungsu. Sabar saja...!” nasehat seorang laki-laki pada perempuan yang ada di sampingnya. Seorang wanita lusuh duduk jongkok di pinggir gerbong.&lt;br /&gt;Itu kan ibu pengamen itu tadi!. Ia menangis begitu memprihatinkan. Laki-laki buta yang tadi melewati kami tadi pastilah suaminya jika mendengar kata-katanya. Rupanya mereka sepasang suami isteri.&lt;br /&gt;“Aku sekarang menangis bukan karena si bungsu mau operasi Pak. Bukan juga karena takdir si bungsu yang harus buta seperti bapaknya” ujarnya terbata-bata.&lt;br /&gt;“Lantas kenapa?’&lt;br /&gt;“Aku merasa tak berharga. Selalu mengharapkan duit dari orang lain dengan tersenyum. Selalu harus menjadi lawakan agar orang suka tertawa. Aku tak dianggap manusia wajar” isak tangisnya makin keras. Ia mengelap hidungnya dengan ujung baju.&lt;br /&gt;“Tapi tak apalah, asal si bungsu bisa melihat sesuai dengan impiannya selama tiga belas tahun.” Ia menambahkan pasrah.&lt;br /&gt;Kini ia beringsut berdiri. Wajahnya kembali tegar.&lt;br /&gt;“Menangis saja kalau bisa lega. Jangan sampai kita menangis kecewa pada Allah. Tuhan tak pernah dzalim terhadap hamba-Nya. Aku pergi dulu ya, Ti. Hati-hati ngamennya!”&lt;br /&gt;Laki-laki itu berjalan terseok-seok mengikuti instingnya yang telah terasah meninggalkan isterinya.&lt;br /&gt;Aku mendekati ibu pengamen itu.&lt;br /&gt;“Tadi itu suami ibu ya?” tanyaku sesopan mungkin memastikan dugaanku.&lt;br /&gt;“Eh, iya” Jawabnya tersipu. Ia segera mengusap air matanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.&lt;br /&gt;Aku bertanya lagi, “Sama-sama satu kampung ?”&lt;br /&gt;“Nggak. Kami bertemu di kereta. Bapak mengemis dan ibu mengamen” ujarnya datar.&lt;br /&gt;“Oh maaf, Bu saya mendengar semuanya tadi” Aku berterus terang. Ibu itu terkejut. Ia sama sekali tak menyangka jika aku melihatnya sejak tadi.&lt;br /&gt;“Ya...sudahlah.”&lt;br /&gt;“Maaf, bu. Ini ambil saja untuk membantu si bungsu” Aku keluarkan walkman mahal dari tasku. Jam tangan yang melingkari tangan pun kulepaskan. Kedua benda itu kusodorkan padanya.&lt;br /&gt;“Ia menolak halus. “Tidak usah, kamu pasti kasihan pada nasib kami. Ibu tidak perlu dikasihani.”&lt;br /&gt;“Ambil saja Bu, nggak apa-apa kok Bu...”&lt;br /&gt;“Kamu lebih membutuhkan barang-barang ini.” Ia semakin menolak.&lt;br /&gt;“Saya kehabisan uang. Cuma ada barang-barang ini. Nanti saya bisa beli lagi.” Aku sangat berharap ia menerimanya.&lt;br /&gt;“Jangan mudah kasihan pada orang lain!”&lt;br /&gt;“Pokoknya ibu harus terima. Silahkan jual barang ini di toko. Jangan dijual pada orang lain, nanti murah. Anggap saja ini balas jasa ibu telah mengamen untuk saya.” Aku memasukkan jam tangan dan walkman kedalam tas kumal yang ia bawa.&lt;br /&gt;Ia berusaha menolak dengan mengambilnya kembali. Aku menggeleng, “Nggak usah Bu, ambil saja..” Akhirnya Ia menerima juga pemberianku.&lt;br /&gt;“Kalau begitu kamu harus mendengarkan nyanyian ibu sebagai pengamen. Biar sah...”. Ia berkomentar polos.&lt;br /&gt;“Boleh.” Aku tersenyum dengan usulnya.&lt;br /&gt;Timang-timang anakku sayang&lt;br /&gt;Buah hati Ibunda seorang&lt;br /&gt;Bila kelak kau telah dewasa&lt;br /&gt;Hidupmu kan bahagia..&lt;br /&gt;Tak terasa bening air mata menderas dari kedua sudut matanya. Ah, tiba-tiba aku merasa menjadi anaknya. Ia bernyanyi penuh cinta untukku.&lt;br /&gt;Aku teringat awal melihatnya saat pertama tadi. Penumpang di kereta pasti masih menyimpan senyum jika mengingat sosok di depanku. Sementara di sini ia menangis. Aku makin jengah. [Elzam Zami]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Foto/ilustrasi diambil dari www.tutinonka.wordpress.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Melihat ke bawah akan membuat kita takut pada Yang Di Atas**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-6255922404812999564?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/6255922404812999564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=6255922404812999564' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/6255922404812999564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/6255922404812999564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/08/perempuan-kereta.html' title='Perempuan Kereta'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/THh5K8F8YiI/AAAAAAAAAG8/CRRoGVWxb-E/s72-c/kereta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-8100238179224436202</id><published>2010-08-28T09:13:00.004+07:00</published><updated>2010-08-28T09:34:38.551+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Pada Gerimis Satu-Satu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/THhyDsZEl-I/AAAAAAAAAG0/r_Y2XMO5XW8/s1600/gerimis.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 208px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/THhyDsZEl-I/AAAAAAAAAG0/r_Y2XMO5XW8/s320/gerimis.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510279551869294562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(Dimuat di Harian Rakyat Bengkulu, 28 November 2004)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padanya aku menghamparkan persahabatan yang unik. Eve selalu hadir mengisi jenak-jenak waktu yang kucoba rangkai menjadi jauh lebih indah. Dan ternyata itu memang berhasil. Meskipun harus kuakui ada beberapa nama perempuan lain yang hadir mengisi memori sepanjang masa di belakangku kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Persahabatan kita adalah konsep saling memberi manfaat dalam kebaikan,” kata Evie ketika awal persahabatan kami di mulai. Aku lebih menyukai menyebutnya Eve &lt;span style="font-style:italic;"&gt;--dengan menghilangkan huruf i--&lt;/span&gt; lebih dekat kepada sebutan Hawa pada orang Barat. Namun bukan berarti aku mencintainya karena namaku Adam sehingga aku menganggapnya pasangan seperti Nabi Adam kepada Siti Hawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah bertanya padanya, “Kau tahu Eve, kenapa aku menyukai bergaul denganmu?” Dia hanya mengangkat bahunya sembari menyeruput segelas es jeruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu orangnya asyik banget menempatkan sahabat pada posisi yang terhormat. Bersamamu aku merasa dimanusiawikan dengan sikapmu...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm, Adam, Adam... Selagi kita ingin menikmati pertemanan, mengapa kita tidak memenuhi keinginan hati kita yang jujur untuk bersikap alamiah pada orang lain? Bukankah kebaikan itu alamiah? Banyak juga yang menyebut fitrah manusia adalah mencintai kebaikan,” jawab Eve yang membuat aku kian kagum pada sosoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oo, begitu ya? Sampai kau menjelma menjadi perempuan yang berkepribadian seperti Putri Abu dalam dongeng. Maaf, itu bukan berarti aku mengharapkan kau mendapat kemalangan seperti Putri tersebut. Kebaikanmu yang sama dengan kebaikan tulus putri yang malang itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan memujiku berlebihan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;friend&lt;/span&gt;. Aku Cuma Evie yang bersahabat padamu bukan karena latar belakang tertentu. Naluriku mengatakan persahabatan itu lumrah dan menyenangkan.” Jawab Eve santai. Sesantai penampilannya yang selalu sederhana. Ia tak pernah kulihat berdandan modis seperti kebanyakan perempuan. Padahal ia punya cukup uang untuk mempermak penampilannya agar menarik dan lebih &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wah&lt;/span&gt;. Seperti saat ini jeans yang ia kenakan hanya dipadu dengan kemeja gombrong bergaris kotak-kotak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Padahal aku punya teman dekat sebagai pacar. Tapi kedekatan kita sepertinya melebihi hubungan aku dengan Raisya!” ungkapku menyebut nama pacarku yang terbaru. Aku memang punya seorang saja sahabat dalam artian seperti persahabatanku dengan Eve. Berbeda dengan kekasih, ada beberapa banyak gadis yang memiliki hubungan denganku yang kata orang “cinta”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, bedakanlah kedekatan kita dengan kedekatan bersama gadis-gadismu. Kupikir ada nilai yang jauh berbeda ketimbang hubungan antar kekasih. Entahlah...aku masih terus memikirkannya Adam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, pikiranku bingung mengapa persahabatan kita lebih awet daripada ikatanku dengan mereka. Pacar-pacarku yang seabrek-abrek itu.” Aku tertawa akan kekonyolanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eve menjawab retoris, “Apakah itu berarti hubungan persahabatan kita tidak boleh lebih baik dari hubungan sepasang kekasih?” Aku terhenyak. Betul juga katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, ditengah kesibukan bermain cinta dengan beragam gadis yang biasanya tak bertahan lama. Persahabatanku dengan Eve kian bersinar terang memberi ruang segar untuk membagi kata, riang, gundah , dan emosi lain pada sosok manusia lain di luar diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tiba-tiba pada gerimis satu-satu yang turun ke bumi, saat matahari bersinar terik di siang hari, Eve berubah. Ia menggugat hebat konsep yang selama ini kami pertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pertemuan kami yang pertama kali di bulan November yang telah memasuki akhir bulan. Aku memang mengurangi jadwalku sekedar berbincang dengan Eve. Tidak ada alasan apa-apa yang melatarbelakangiku berbuat demikian. Aku cuma ingin demikian saja. Lagipula bulan ini aku bolak-balik menyelesaikan penelitian skripsiku di sebuah desa tertinggal. Praktis waktuku tersita kesana. Selebihnya aku mengunjungi Raisya. Perempuan yang kucoba dekati dengan lebih intensif lagi. Cewek itu sulit sekali ditaklukkan ternyata. Namun, ketika aku menemuinya serta merta ia mendepakku. Sambutan yang tak seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eve, apa yang baru kau ucapkan tadi? Kau?! Apakah kau dalam keadaan baik-baik?” aku bertanya sangsi. Mengapa tiba-tiba ia mendamprat semua perilakuku justru pada saat ini. Tidak ketika dulu-dulu, karena ia mengenalku sudah jauh sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau telah berlaku kurang ajar pada gadis-gadismu” Ia menjustifikasi kesalahanku dengan enaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha! Kurang ajar?! Apa yang telah kulakukan pada pacar-pacarku? Sekedar berbincang, jalan bareng, nonton,  merayu, mengelusnya dan...” Aku mencoba membela dengan tegas. “Dan bukankah itu wajar mewakili cinta pada kekasih” tambahku menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya! Wajar katamu. Dan  karena cinta sempitmu itu kau sampai melupakan sahabatmu. Dimanakah kau saat aku ingin cerita ketika aku sedih kehilangan Ayah? Dimanakah kau ketika aku ingin membagi kebahagiaan ketika syukuran wisudaku? Dimanakah CINTA untukku? Dimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha! Sedemikian banyakkah moment penting Eve yang ia lewati sampai aku tak memperdulikannya. Tapi apa yang ia katakan terakhir tadi? Cinta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eve...” potongku cepat. Tidak mengerti. “Apa-apaan ini! Oke, aku mengaku salah karena tidak pernah menghubungimu akhir-akhir ini. Aku bersalah karena terlalu sibuk dengan Raisya pacar baruku. Tapi apa yang kau ungkapkan terakhir tadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghela nafas. Berat sekali bagiku mengutarakannya. Takut ia lebih tersinggung dan melukai hatinya. Jujur aku tidak pernah merasa ia memperlakukanku kasar hingga tersinggung dan sakit hati. Tapi kenapa mesti ada rasa itu Eve? Berontakku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau mengharapkan cintaku, Eve?! Seorang Adam yang merupakan sahabatmu.” Lepas sudah kata yang mewakili kepenasaranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana cuaca yang tidak bersahabat meningkahi pertengkaran kami. Hujan gerimis bak jarum yang meluncur berpendar di bumi. Sementara matahari bersinar terik. Perpaduan panas dan dingin yang menimbulkan sensasi pening, apalagi ditambah  keadaan hati kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huh! Begitu sempit ternyata kau memandang cinta, seperti kataku tadi. Baru kusadari cinta memang tak pernah ada pada sosokmu Adam!” Eve menjelma menjadi sosok yang membingungkan, kalau tidak boleh kukatakan menyebalkan. Benar-benar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba menjelaskannya lagi dengan lebih tenang, “Aku tidak mungkin menjadi kekasihmu, Eve. Aku menyukaimu, tapi bukan berarti aku...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ya...! Tidak mungkin menjadi kekasihmu. Pelampiasan cinta yang dalam benakmu hanya ada kamus cinta busuk! Cinta nafsu.” Ia segera beranjak dari tempat duduk dan membayar minuman yang tadi kami pesan. Aku tak bermaksud mencegahnya. Biarlah kemarahannya mengendap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kejauhan pandangan mataku terus lurus. Gadis yang sebenarnya teramat baik itu menerobos alam terbuka. Pada gerimis satu-satu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam derai sunyi ini aku mengungkap diri. Pada sepi malam yang mungkin mampu memberiku masukan bagaimana harus berbuat untuk seorang Eve. Potongan hatinya telah kulihat di sini berkeping-keping. Dan Eve berpikir itu semua karena perbuatanku. Aku telah membuat ia rapuh dan berderai dalam keping-keping marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eve, sesungguhnya aku masih ingin menikmati hubungan kita seperti dulu lagi. Aku akan kembali menata komitmen ideologi persahabatan kita. Aku memang terlalu acuh pada konsep “memberi mamfaat dalam kebaikan untuk sebuah persahabatan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pacar-pacarku yang daftarnya berderet-deret aku mampu meninggalkan mereka. Meski setiap berakhirnya hubungan lebih di dominasi perpecahan hati. Cinta selalu meninggalkan luka, benci, dan mungkin dendam ketika berakhir miris pada setiap gadisku. Tapi itu wajarkan menurutku. Mereka tak berhak menuntut apa yang telah kami lakukan dan terukir kala cinta masih indah. Karena cinta sepasang kekasih ternyata juga seperti waktu, selalu berubah. Egois memang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun untukmu Eve! Aku tidak ingin semuanya berakhir negatif. Tidak juga luka di hatimu, luka di hatiku. Karena memang hubungan ini murni dalam kebaikan. Hubungan ini jujur memberikan banyak kebaikan tak terukur. Sama sekali berbeda dengan hubunganku dengan Naura misalnya, kadangkala kusisipkan sesuatu untuknya.   Ya. Sesuatu yang membuat aku berpikir saat ini. Kata apa yang harus mewakilinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh! Eve...aku bergidik ngeri! Aku menyisipkan nafsu untuk legalitas cinta. Kata yang tepat, benar apa yang kau tuduhkan waktu siang gerimis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini aku tak bisa memejamkan mata. Ada kecamuk gundah yang harus terungkap lepas. Jika kondisi seperti ini, biasanya memang Eve-lah yang kuajak bicara. Ia akan mendengarkan dengan tenang. Memberikan komentar dengan konsep filosofisnya yang kadang kupikir susah diaplikasikan. Tapi aku selalu suka dan menyimak kata demi kata dari bibirnya. Apakah pertengkaran tadi siang adalah salah satu konsepnya yang memang tak bisa kuterjemahkan itu. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah ada dihadapan Eve. Sengaja aku datang untuk mengungkapkan apa yang kurenungkan tadi malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, begitulah Eve...mungkin ada yang salah dalam aku menempatkan cinta” aku menutup uraian renunganku. Persis seperti apa yang terpikir padaku malam tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eve menatapku lembut, “Apa yang kau ketahui tentang cinta?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti yang kau lihat praktiknya selama ini pada hidupku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa salah aku mencintaimu? Apakah cinta harus terkekang pada definisi hubungan antar lawan jenis yang selalu kita ikat dengan kata pacaran atau pernikahan?” kejarnya bertubi-tubi. Kalimat itu tajam, meski aku tahu Eve tidak lagi marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eve...! &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Please deh&lt;/span&gt;, jangan membuatku bingung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cinta adalah kata yang universal. Tidak hanya satu untuk diambil alih paksa  istilahnya pada hubungan cinta Adam pada Naura, cinta Adam pada Raisya, atau cinta yang sah sekali pun, cinta suami pada isteri” ia mulai mengurai konsep. Aku mencoba menerjemahkannya dengan sederhana di benakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kau menempatkan cinta selama ini di mana? Mana cinta untuk sesama yang mesti kau bagi, padaku sebagai saudara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;plus&lt;/span&gt; sahabat. Pada kepapaan yang selalu tampak di lingkungan kita. Dan satu lagi Adam! Kau percaya pada Tuhan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kenapa tidak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana cintamu pada denting transendental. Sesejatinya cinta adalah pada Tuhan yang berlapis ganda cinta horison &lt;span style="font-style:italic;"&gt;an-nas&lt;/span&gt;, manusia. Maaf aku mengatakan ini, karena aku juga sedang memaknai cinta ini” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, God! Sejauh itu? Mungkin kau benar Eve, kata-katamu memang benar-benar tepat. Apakah aku memperdulikankan cinta Tuhan saat bercinta dengan pacar-pacarku? Bahkan aku telah melupakan cinta sesama saudara (seperti halnya cinta kita Eve) ketika asyik pada kekasihku. Ahh, kau benar Eve.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cinta kekasih...,” aku menggumam datar. Eve mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“KE KA SIH, menurutku ungkapan itu tidak hanya bisa kita sandangkan pada manusia. Bagaimana dengan kekasih kita yang maha mengasihi? Berarti Allah adalah kekasih kita. Bagaimana ini, Adam?” Eve bingung terjebak pada logika kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh! Tiba-tiba aku ingin mengatakan, “Ya, begitulah Eve. Pada ketenangan hati kita harus mengakui, jika ia bergejolak gundah turuti saja inginnya yang jujur, aku akan coba menata cinta proporsional ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Eve makin bingung muara cinta yang kami perdebatkan sampai pada puncak yang terkesan hakiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedetik kemudian Eve mengangguk tulus, ramah, “Dan jangan kau katakan cintaku padamu karena aku ingin menjadi kekasihmu.” Gadis itu mengubah perspektif cintaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama aku tak mengetahui kabar berita dari Eve. Terakhir suratnya menghampiriku dua bulan yang lalu. Katanya jika kami jarang berkomunikasi bukan berarti hubungan persahabatan putus. Ia selalu mengingat dan berdo’a untukku. Saat ini ia sedang mendalami apa itu cinta yang hakiki di pesantren. Tempat yang menurut Eve tepat untuk mengupas habis cinta yang selama ini dicari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eve, bagaimanakah penampilanmu sekarang? Bagaimanakah pandangan-pandanganmu sekarang? Suatu saat kita akan bertemu lagi kan, Eve? Tanyaku pada diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata gerimis bercampur terik matahari tak hanya meninggalkan sensasi pening. Keadaan cuaca siang kala perdebatan itu terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada gerimis satu-satu aku berterimakasih. (Elzam Zami)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ilustrasi/foto diambil dari www.santizaidan.wordpress.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Rindu ini, sampai kapan bermuara karya, Zam?**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-8100238179224436202?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/8100238179224436202/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=8100238179224436202' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/8100238179224436202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/8100238179224436202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/08/pada-gerimis-satu-satu.html' title='Pada Gerimis Satu-Satu'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/THhyDsZEl-I/AAAAAAAAAG0/r_Y2XMO5XW8/s72-c/gerimis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-2177590171735606728</id><published>2010-08-28T08:26:00.006+07:00</published><updated>2010-08-28T09:03:45.436+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>DZIKIR BINTANG-BINTANG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/THhtpuIc4FI/AAAAAAAAAGs/d6Zn_OZy6_0/s1600/ukhuwah+islamiah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 239px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/THhtpuIc4FI/AAAAAAAAAGs/d6Zn_OZy6_0/s320/ukhuwah+islamiah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510274707613343826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(Dimuat di Majalah Al Izzah, Oktober 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus menatap gundah pada malam. Apa yang lebih indah selain menikmati malam ini. Malam cantik. Setelah hujan di satu malam bulan Maret.Udara malam kian lembab karena hujan mengguyur bumi. Pun daun, tunas dan kelopak merekah segar. Bersyukur untuk desah nafas penghambaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkacalah pada ruang terbuka. Bernama alam. Seperti hujan bersama tumbuhan dengan saling pengharapan. Ibarat pelangi bersama butir hujan ditimpa mentari. Pada bintang dengan eksotika malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blaaam……!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menangis. Tidak berbentuk derai air mata. Tidak pada mata yang berkaca-kaca. Tidak pada sengau nafas yang sesenggukkan. Namun, lebih dahsyat menyentuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rabbi…mengapa jiwa&lt;br /&gt;Kian hampa…&lt;br /&gt;Khalik…mengapa gelora&lt;br /&gt;mahabbah&lt;br /&gt;Tak menyentuh fitrah….&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tak meragukan kredibilitas seorang Yudi dalam da’wah. Mahasiswa semester akhir yang telah lama tenggelam dalam aktivitas ruh itu. Ia menyebutya aktivitas ruh karena kegiatan mahasiswa satu-satunya yang ia ikuti di kampus dengan melibatkan orientasi ukhrawi. Berbanding lurus dengan kebersihan niat pada seorang aktivis da’wah kampus (ADK).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sosok da’i seperti apakah seorang Yudi? Agendanya menjawab, tadi sore ba’da ashar rapat, besok pembicara di pelatihan Jurnalisme Islam. Lusa, sebagai peserta pelatihan Bla...bla...bla....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, satu point telah ia dapat. Berikutnya, sosok pembelajar bagaimanakah seorang Yudi? Majelis-majelis ilmu menjawab, Kajian rutin menyela, buku-buku Keislaman, berbicara....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik, point kedua meyakinkan. Tapi apa salahku, begitu dahaga, tak menemukan muaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Afwan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;akhi...&lt;/span&gt; mengapa akhir-akhir  ini ana melihat antum selalu menghindar?" tanya Ridwan perlahan padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bukannya tak menyadari. Telah tiga tahun aku menenggelamkan diri pada rutinitas&lt;br /&gt;da’wah kampus. Konsep sekaligus praktik yang ideal menurutku. Mencoba berislam dengan baik, di tengah moralitas dan intelektualitas memprihatinkan di tempat bernama kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat pertanyaan Ridwan,aku menjawab resah, "entahlah..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridwan tersenyum lembut,"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ana&lt;/span&gt; siap mendengar" tawarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjawab diplomatis, "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ana&lt;/span&gt; belum siap berbicara"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muka Ridwan terlihat sedikit sendu. Aku berharap ia tidak kecewa atau tersinggung. Ia&lt;br /&gt;beranjak pergi meninggalkanku di teras masjid Darul Ulum selepas mengucapkan salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Akh&lt;/span&gt; Ridwan...&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Afwan&lt;/span&gt; ya!" Teriakku pelan dan tertahan. Lagi-lagi ia tersenyum, mengangguk. Lalu menghilang di kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah menjadi kebiasaanku untuk tidak membicarakan masalah yang kerap kuhadapi&lt;br /&gt;pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resah biar ku telan sendiri, nilai jeblok biar kujalani sendiri, malas berakhtivitas biar kuusahakan bangkit sendiri. Maka teman-temanku sesama ADK menganggapku tertutup. Tidak apa-apa. Bukankah satu masalah yang kuhadapi tak berarti dibanding beragam masalah umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begini aku selalu ingat ibu nun jauh di Sumatra. Beliau satu-satunya sosok inspiratif bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bu...Yudi pengen ngomong." ucapku melalui telpon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ehm,ya..." Ibu merespon singkat. Sepertinya beliau tahu lagi-lagi aku mau curhat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yudi lagi nggak enak nih, Selalu resah bawaannya..." prolog keluh-kesahku meluncur&lt;br /&gt;cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu kan bisa cerita dengan temanmu? Jangan selalu tergantung dengan orangtua. Apalagi Yudi jauh..." Ibu mengingatkan. Memang ini kali ketiga aku menelpon dalam satu minggu yang sama, dengan keluhan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh, Bu..." jawabku memelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu malah menjawab tegas, "Ibu bukannya melarang kamu sering nelpon tapi rugi kan&lt;br /&gt;budget mingguan buat interlokal. Kamu harus lebih berkomunikasi dengan teman-temanmu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bu..." potongku masih penuh harap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak! Kamu harus mulai membuka diri dengan orang lain. Ada suatu ketika ternyata kita memang perlu teman, walau sekedar berbicara masalah remeh temeh pribadi sekalipun," saran Ibu lagi. Aku tidak tahu bagaimana Ibu bisa seperti pengasuh rubrik psokologi majalah saja. Benar-benar nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku dengar di seberang sana Ibu menambahkan nasihatnya, "Bukankah ukhuwah Islamiah kental mewarnai aktivitas seperti Yudi. Itu kan yang selalu kamu katakan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku Terhenyak. Benar,kata-kata itu pernah kuungkapkan pada liburan beberapa waktu lalu. Saat Ibu menanyakan aktivitasku, teman-temanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makasih ya bu, udah ngingetin Yudi." Aku tidak ingin mendesak ibu untuk mendengar&lt;br /&gt;ceritaku. Sepertinya tak mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu Ibu bukannya tak mau mendengar keluhan alias curhat anaknya.Beliau sepertinya ingin agar aku tidak selalu bergantung pada Ibu. Sudah mahasiswa&lt;br /&gt;jangan selalu ada apa-apa lari ke ibu. Ah, aku... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hoooooow... Aku membuka mata. Suasana masih lenggang, gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berada di lapangan kampus. Tempat mahasiswa biasa bermain bola kaki. Sepi, hanya ada bintang-bintang. Gelap.Hanya ada denting simfoni daun mahoni di tepi lapangan, Berkresek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Hei, hei! Ada apa denganmu Yudi?"&lt;/span&gt; tegurku pada diri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hatiku. Ia ikut bertanya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Tidakkah kau ingin menggenapi dzikir bintang-bintang?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu ingin beramal. Aku ingin istiqomah di jalan-Mu ya Allah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;but&lt;/span&gt; kesendirian seperti ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bengong. Apakah organisasi yang kami bangun saat ini beranggotakan satu orang?&lt;br /&gt;Organisasi yang legitimate sebagai lembaga da’wah kampus. Aku jatuh di titik nadir&lt;br /&gt;bernama futur. Entahlah, bagaimana definisi futur yang kupahami. Saat ini aku ingin sendiri. Tanpa aktivitas, tanpa interaksi dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bad mood.&lt;/span&gt; Mending bersantai di kamar kost. Aku ingin membuat pengakuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarkan ya!Aku memang aktivis,miris melihat Islam ditinggalkan. Aku memang aktivis,&lt;br /&gt;laris menjadi pembicara di sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menangis karena ruhiyahku kritis.&lt;br /&gt;Aku...&lt;br /&gt;individualis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan yang sangat tepat. Meskipun baru kuakui di sudut kamarku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdiri di depan kost Ridwan yang sederhana. Baru saja aku hendak mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Pintu itu telah terbuka. Sosok ikhwah renyah di depanku telah tampil rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridwan terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba. Namun ia membalas menyalamiku dengan erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ana&lt;/span&gt; senang banget nih &lt;span style="font-style:italic;"&gt;antum&lt;/span&gt; datang, jarang-jarang sih…..” ujarnya membuka&lt;br /&gt;pintu lebar-lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enggak pernah" ralatku. Memang ini kali pertama aku sowan ke kost Ridwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, begitu ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Antum&lt;/span&gt; mo kemana &lt;span style="font-style:italic;"&gt;akh&lt;/span&gt;?"&lt;br /&gt;"Aku menjadi tak enak datang tidak tepat waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ana ada jadwal rutin. Nemuin adik-adik tingkat, silatuhrahim!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali bingung.Jadwal rutin? Proker, program kerjakah? Kok aku nggak tahu. Polos kutanyakan pada Ridwan, "Proker departemen apa sih?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"He-he-he..." Ridwan tertawa pelan. Lho kok?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kembali menambahkan penjelasannya, "Antum kok &lt;span style="font-style:italic;"&gt;prokerholic&lt;/span&gt; banget ya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum canggung dengan julukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak masuk dalam program kerja LDK manapun. Ya, proker ana lah. Bagaimana kalau antum ikut?" tawar Ridwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpikir keras,tujuanku kemari kan mau "study rukhiyah." Ya, semacam studi&lt;br /&gt;banding bagaimana ADK lain berkiprah sehari-hari. Samakah denganku. Tak apalah. Kuputuskan ikut dengan akh Ridwan. Aku akhirnya menjawab, "boleh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdua kami menuju rumah kost Gerry. Tidak lama memang pengamatanku. Satu jam acara&lt;br /&gt;silatuhrahim itu cukup untukku memberikan penilaian. Masih hangat di memoriku jabatan hangat disertai pelukan erat mereka. Canda Tawa yang lepas. Curhat Gerry mengenai cewek sekelasnya yang rspek dan “agak beda”. Sampai Ridwan sempat-sempatnya membawa sekantong makanan ringan untuk Gerry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika mereka pamitan. Binar-binar mata Gerry itu, Apakah itu berarti persahabatan berbingkai iman? Ukhuwwah Islamiahkah? Aku benar-benar takjub dengan&lt;br /&gt;jadwal rutin Ridwan. Apalagi ia bilang jadwal rutinnya bukan hanya untuk Gerry, tapi juga Irham, Ferdi, Firman, Jay…menjadi target rutinnya pula!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghempaskan tubuh di kursi meja Ridwan. Kamar yang nyaman. Tidak terasa capek setelah mengunjungi Gerry tadi.  Aku penasaran, menyapu pandangan pada dinding kamar. Kusentuh sebuah figura kecil. Foto lima ADK angkatanku, Ridwan salah satu dari mereka. Foto energik berlatar sebuah taman rindang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Acara kapan nih, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Akh&lt;/span&gt;?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;rihlah&lt;/span&gt; bareng. Waktu kita ajak bareng &lt;span style="font-style:italic;"&gt;antum&lt;/span&gt; dulu, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;antum&lt;/span&gt; bilang enggak bisa ikut&lt;br /&gt;karena lagi males “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridwan mencoba mengingatkan. Benar, ketika itu aku memang sama sekali tak berminat,&lt;br /&gt;meski pun waktuku kala itu cukup longgar. Ah, ada sedikit rasa sesal menggayutiku. Satu moment mereka lewati tanpa aku. Wajah-wajah mereka tampak teduh sekaligus riang di foto tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meraih album foto di atas meja. Kuperhatikan lembar demi lembar fotonya. Sepertinya semua anak-anak Kerohanian ada, kecuali aku dan ...&lt;span style="font-style:italic;"&gt;akhwat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;he-he-he... Foto-foto di pantai, kamar kost, kampus dan ini? Sepertinya di rumah Ardi. Aku tahu karena kami satu kota. Mereka pernah ke rumah Ardi rupanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridwan seperti tahu apa yang ada di benakku. “Foto &lt;span style="font-style:italic;"&gt;antum&lt;/span&gt; enggak masuk nominasi sih. Abis enggak pernah gabung bareng ikhwah-ikhwah. Kalau foto kepanitiaan ana enggak punya, enggak tahu klisenya dipegang siapa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdiri. Studi rukhiyahku dimulai bukan dengan wawancara. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Print-out&lt;/span&gt; berwarna cerah menarik minatku untuk membacanya. Tulisan motivasi yang ditempel di dinding.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Tiga hal yang membuat Umar bin Khattab betah di dunia: jabatan tangan yang menggugurkan dosa, qiyamulail, bertemu saudara seiman. Kudu itsar donk!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum membacanya. Kreatif juga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ikhwah&lt;/span&gt; Sosiologi ini. Terus kualihkan pada kertas kecil di dekat bantal. Contekkan ujian? Aku membacanya. Lagi-lagi moment privasi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ikhwah&lt;/span&gt; yang diurusi   Ridwan. Tanggal lahir &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ikhwah&lt;/span&gt; yang dia kenal  berurutan manis. Aku menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang selalu mendapat kado ultah dari Ridwan. Hadiah yang kerap kuanggap lucu.&lt;br /&gt;Pake kado-kadoan segala. Biasa saja. Namun kini aku melihat kerasnya perjuangan Ridwan mengistimewakan saudara seimannya. Aku merasa luruh, setitik debu dalam kilauan pribadi istimewa semacam Ridwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah aplikasi rukhiyah militan berdimensi ukhuwah itu? Sepertinya studi rukhiyah ini telah menemukan perbedaaannya dengan keseharianku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang baik dalam kesendirian, menikmati desahan nafas yang menyambar-nyambar itu.&lt;br /&gt;Berdua menemani zikir bintang-bintang di langit. Ketundukkan pada-Nya tidak terbatas pada aktivitas da’wah. Menyeru pada jalan Rabb, retorika lancar…terlalu dangkal hamba memahami berda’wah untuk agama-Mu, ya Allah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutemukan jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Bersama-sama mengakrabkan diri. Bersama-sama menghambakan diri. Dan cukuplah semesta alam menjadi saksi. Cinta manusia seperti apakah lagi yang kupinta? Ketika cinta saudaraku melebihi cintanya pada diri sendiri...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[ilustrasi diambil dari www.alfiyandi.wordpress.com]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Menulis adalah membaca apa yang kau anggap ada di semesta kita.**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-2177590171735606728?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/2177590171735606728/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=2177590171735606728' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/2177590171735606728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/2177590171735606728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/08/dzikir-bintang-bintang.html' title='DZIKIR BINTANG-BINTANG'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/THhtpuIc4FI/AAAAAAAAAGs/d6Zn_OZy6_0/s72-c/ukhuwah+islamiah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-2047491344190458867</id><published>2010-08-23T14:55:00.004+07:00</published><updated>2010-08-23T15:58:33.097+07:00</updated><title type='text'>Lho kok? Perut Saya Mual Pengen Muntah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/THI4KTDL0CI/AAAAAAAAAGU/lnBmJt5hHOY/s1600/tato+bayi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 227px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/THI4KTDL0CI/AAAAAAAAAGU/lnBmJt5hHOY/s320/tato+bayi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5508527043791015970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sudah tiga hari ini perutku mual. Bahkan saat menulis blog ini masih mual yang nggak jelas juntrungannya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Please&lt;/span&gt;, aku nggak tahan karena nggak bisa konsentrasi di kantor. Mau nulis sedikit aja, perut berasa diaduk-aduk dan pengen muntahin. Di toilet malah nggak keluar. Cuma tekanan yang kuat ketika muntah "kosong" itu membuat perutku sedikit kejang. Ampun dah... Mana dapat bonus pula, badan sedikit meriang dan migrain kembali &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sowan&lt;/span&gt; ke kepala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama saya tak mual-mual, yang berujung memuntahkan (biasanya) isi perut berupa air yang asem. Dulu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;seh&lt;/span&gt; langganan nggak di kantor, nggak di jalan, atau di kost. Hueksss.... Maag kronis saya udah lumayan berkurang sejak punya rumah, punya istri, punya makanan yang bisa di makan. Meski pas terakhir ke dokter beberapa bulan lalu gara-garanya aku males makan sehari semalam. Nggak tau, kalo lagi males maka saya bisa nggak nyentuh makanan. Paling cemilan sedikit &lt;span style="font-style:italic;"&gt;plus&lt;/span&gt; air yang sama sekali tak membantu pasokan perut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan ini, seingat saya makannya cukup. Tapi tetap mual. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oh my God&lt;/span&gt;, kenapa mesti berurusan dengan mual-mual begini ya. Dan aku sms My Honey "Say, badanku gak enak banget. Mual2. Gak bisa kerja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah ini kutukan karena aku ngeledek My Honey, "Sayang, kamu hamil nggak mual-mual terus muntah-muntah ya? Asyik deh, nggak ngerepotin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup, doi baru sebulan hamil. Ditanya dokter ketika cek Ultrasonografi (USG), apakah mual-mual atau tidak dijawabnya dengan menyahut,"Kalo dia (saya/suaminya, red)sih muntah-muntah mulu, Dok." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si dokter hanya tersenyum.Dan suster ikut nimbrung,"Nggak apa-apa Pak. Kadang-kadang begitu. jadi bagi-bagi capeknya hamil." Suster berjilbab(lumayan manis ^_^)itu ikut senyum-senyum melirik saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayaknya dokter dan susternya salah pengertian tuh. Maksud saya punya bini: mual saya adalah khas penderita maag rutin. Bukan mual hamil, Dok dan Sus :-(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sepertinya anggapan saya itu salah. Sekarang perut saya terombang-ambing dalam rasa mual yang mengelora. Di bawa tidur-tiduran dikit di perpustakaan kantor tetap saja. Hohoho... menderita sekali. Padahal itu belum cukup, tiap malam saya harus memijit kaki tuan puteri yang selalu merasa kecape'an meski libur dan seharian bermalas-malasan di rumah, kayak kemarin. Beginikah rasanya mengandung buah hati dambaan jiwa, penyejuk mata, penerus generasi itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mual-mual istri saya telah berpindah ke sang suaminya yang sama sekali tidak membuncit perutnya ini, hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oow, apakah saya mengidap&lt;span style="font-style:italic;"&gt; couvade syndrome&lt;/span&gt; atau yang biasa disebut gejala &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sympathetic pregnancy? &lt;/span&gt;Yakni sindrom seorang suami yang mengalami dorongan psikomatis yang melibatkan terjadinya perubahan hormonal. Penelitian di Amerika Serikat menyebutkan persentase suami terserang sindrom ini lumayan tinggi lho. Jadi dorongan psikis menjadi dorongan perubahan fisik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika istri hamil, maka ia pun membawa serta berbagai keluhan. Suami yang diajak berbagi terdorong simpati dan berkeinginan mengurangi beban sang istri. Tapi sayangnya karena tidak dapat melakukan bantuan secara riil, terjadilah proses unik di otak suami tanpa disadari yang mendorong terjadinya perubahan hormonal. Lalu timbul gejala ngidam seperti pusing, mual, muntah, perut kembung, tidak enak badan, malas, uring-uringan, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oalah, hampir semuanya saya rasakan. Benar, saya merasakannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sumber medis, pemicu utamanya sebagai kata kunci tentu saja emosi suami. Saya emang sedikit &lt;span style="font-style:italic;"&gt;parno&lt;/span&gt;, karena ini kehamilan kedua setelah dulu sempat keguguran. Apalagi jarak antara keguguran dengan kehamilan kembali sangat dekat. Dan ini anak pertama pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, apakah saya lebay?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hueeekss, mual neh, saya ke toilet dulu.&lt;br /&gt;:-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Banyak hal yang membuat saya menetapkan, jiwaku pada nyatanya adalah semua tentangmu**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-2047491344190458867?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/2047491344190458867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=2047491344190458867' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/2047491344190458867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/2047491344190458867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/08/lho-kok-perut-saya-mual-pengen-muntah.html' title='Lho kok? Perut Saya Mual Pengen Muntah'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/THI4KTDL0CI/AAAAAAAAAGU/lnBmJt5hHOY/s72-c/tato+bayi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-4477808151664599843</id><published>2010-07-22T16:37:00.003+07:00</published><updated>2010-07-22T16:52:30.156+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RAGAM'/><title type='text'>Kuah Pindang Ayam Kuning</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TEgUOJct_bI/AAAAAAAAAGM/XAHtyP7lvso/s1600/4703570011_f27860bdf4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 278px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TEgUOJct_bI/AAAAAAAAAGM/XAHtyP7lvso/s320/4703570011_f27860bdf4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496665578492788146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hehehe...liat-liat ada blog cewek yang ngaku hobi masak. Ehm, baca-baca resep andalannya, aku jadi kepengen banget makan pindang ini. Kebayang pindang ikan mas di rumah buatan nyokap ato ayuk (mbak) yang enakkk atau pindang tulang yang bisa slurrrph-slurrpph... Kuahnya itu lho, gurih banget. Aku emang suka makanan berkuah dan seger-seger kayak pindang atau sop. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya mau ngesave di flasdisk, buat pindahin ke NB di rumah, tp lupa (alias gak punya, hohoho...) Jadi biar gak lupa, aku taruh di blog-ku aja. Siapa tau nanti kalo ada waktu luang bisa praktik sama My Honey di kontrakan. ^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;Daging ayam, aku pake sayap ayam, cuci bersih, rendam dengan perasan jeruk nipis&lt;br /&gt;Belimbing wuluh, potong memanjang (aku ga pake soalnya disini ga ada)&lt;br /&gt;Tomat besar, potong besar2&lt;br /&gt;Cabe Merah besar, iris besar2&lt;br /&gt;Daun jeruk&lt;br /&gt;Daun salam&lt;br /&gt;serai dikeprek&lt;br /&gt;Jahe dikeprek&lt;br /&gt;air asam jawa&lt;br /&gt;kecap manis&lt;br /&gt;air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahan halus :&lt;br /&gt;Bawang merah&lt;br /&gt;Bawang putih&lt;br /&gt;Kunyit&lt;br /&gt;Kemiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya :&lt;br /&gt;1. Tumis bumbu halus, hingga harum, masukkan daging ayam,kecap, air,jahe, serai, daun salam, daun jerik. Masak hingga ayam empuk.&lt;br /&gt;2. Masukkan belimbing, cabe, tomat, air asam, masak hingga air menyusut. Angkat dan sajikan. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(disalin dari www.nisamufti.blogspot.com)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Menikmati kebahagian itu tak ubahnya meracik masakan. Butuh kesabaran, ketelitian, dan rela berbau asap ria untuk mendapatkan kenikmatan di ujungnya**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-4477808151664599843?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/4477808151664599843/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=4477808151664599843' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/4477808151664599843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/4477808151664599843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/07/kuah-pindang-ayam-kuning.html' title='Kuah Pindang Ayam Kuning'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TEgUOJct_bI/AAAAAAAAAGM/XAHtyP7lvso/s72-c/4703570011_f27860bdf4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-7348886895122999535</id><published>2010-07-20T19:19:00.004+07:00</published><updated>2010-07-20T19:54:59.353+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RAGAM'/><title type='text'>Pada Keriangan yang Jujur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TEWcctk5omI/AAAAAAAAAGE/JQHLL23tIv0/s1600/jujur.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TEWcctk5omI/AAAAAAAAAGE/JQHLL23tIv0/s320/jujur.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495970937360196194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang wajah riang sekali pun manusia dewasa masih bisa berbohong. Dengan berbagai alasan! Ada yang sekadar untuk basa-basi agar lawan bicara merasa nyaman, ada yang "meriang-riangkan" diri, ada yang bermaksud menghibur diri, atau agar orang lain menganggap dirinya sempurna (paling tidak seperti tidak mempunyai masalah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, kejujuran tak hanya soal kata-kata yang kerap kita dengar dari sepotong lidah. Kejujuran pada akhirnya bicara sampai pada perbuatan yang sejalan dengan kata, pada ekspresi yang tak pernah dibuat-buat. Seperti pesan Al-Qur'an yang kira-kira mengatakan "amat besar murka Allah pada manusia yang mengatakan apa-apa yang tidak mereka lakukan dengan perbuatan." Ah, tentu yang saya bicarakan dalam konteks menipu diri dengan ekspresi muka yang tidak baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, seringkali memerhatikan kanak-kanak yang nyaris tak pernah merasa sedih. Mereka dalam keadaan apapun, di manapun tetap bisa bergembira. Berlarian, memainkan apapun yang ada di dekatnya, bertanya ini-itu, tertawa-tawa bersama teman-temannya. Jujur sekali. Satu yang membuat saya iri, mereka, kanak-kanak itu tak punya beban.Mungkin saya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lebay&lt;/span&gt; kali ya? Menjadi dewasa memang selalu ditimpa masalah. Baik dan buruk. Lalu bagaimana kamu menanggapinya adalah bicara kadar kedewasaan dan sikap bijakmu memandang hidup. Toh hidup, selalu berada dalam himpitan senang-susah, miskin-kaya, damai-konflik, hitam-putih, lapang-sempit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memaknai hidup, adalah jujur memenuhi keinginan diri sendiri. Mengikuti nurani yang bahasa agamanya fitrah. Lalu hempaskanlah kata-kata nafsu, logika ngawur, atau pemakluman-pemakluman diri yang sebenarnya hanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ngeles&lt;/span&gt;; saya manusia yang tak luput dari salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, maafkanlah jika tulisan ini tidak jelas. Hanya sekadar curhat sebelum pulang kantor. Mencoba jujur menulis apa yang ada di pikiran (yang juga mikir tak jelas).&lt;br /&gt;^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Tak perlu susah membuat kata-kata, tapi ungkaplah apa yang dibisikkan nurani. Maka itulah kejujuran**&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-7348886895122999535?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/7348886895122999535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=7348886895122999535' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/7348886895122999535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/7348886895122999535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/07/pada-keriangan-yang-jujur.html' title='Pada Keriangan yang Jujur'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TEWcctk5omI/AAAAAAAAAGE/JQHLL23tIv0/s72-c/jujur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-3472541271550733057</id><published>2010-06-28T11:37:00.007+07:00</published><updated>2010-06-28T13:34:20.384+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TENTANG CINTA'/><title type='text'>Kontrol Ucapmu Untuk Laku yang Baik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TCg1ehZPWuI/AAAAAAAAAF8/6JGWCMtsv04/s1600/emotion1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TCg1ehZPWuI/AAAAAAAAAF8/6JGWCMtsv04/s320/emotion1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5487694944427530978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue&lt;/span&gt; kesal pagi ini. Sembari menikmati bubur ayam, sarapan di kantor, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue&lt;/span&gt; nelpon bini yang lagi pulang kampung. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;My Honey &lt;/span&gt;ke Sukabumi, sayang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue &lt;/span&gt;nggak bisa nemenin karena Sabtu dan Ahad kemarin ada acara &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;G2G alias Gathering Alumni Bengkel Cerpen Nida (BCN)dan Launching Antologi Cerpen Annida Online "Sebuah Kata Rahasia"&lt;/span&gt; di kantor. Padahal pengen banget ngerasain suasana damai dan adem di tempat asalnya Dessy Ratnasari itu. Hhuohoho...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai ada temen yang bilang&lt;span style="font-style:italic;"&gt; gue &lt;/span&gt;kacau, secara pasangan baru, istri pergi nggak dijemput atau diantar begitu. Halah? &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Gue&lt;/span&gt; pikir biasa aja. Lagian alasan gue logis, gue nggak bisa ikut mudik &lt;span style="font-style:italic;"&gt;coz&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;emang&lt;/span&gt; mesti ngantor. Bukan kegiatan tak jelas lainnya. Tapi beliau liat dari sudut pandang perhatian dan kebersamaan mungkin ya. Ternyata memang, waktu itu sangat berharga. Hohoho, kalau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue&lt;/span&gt; kerja terus sampe malam lalu capek kapan program keluarga yang lain? Apalagi di kantor baru nanti Sabtu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue &lt;/span&gt;masih masuk, walaupun setengah hari. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oh My God...&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal kesal buntut dari telpon-telponan tadi. Kesal kenapa? Nggak tau lah. Sepertinya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue &lt;/span&gt;belum berani &lt;span style="font-style:italic;"&gt;dah&lt;/span&gt; curhatan-curhatan di blog. Gue mulai berpikir menjadi seorang suami, memiliki pasangan membuat kita harus berpikir apakah pola komunikasi kita bisa memberi rasa nyaman atau tidak pada suami/istri. Biasanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue&lt;/span&gt; selalu bicara apa adanya yang ada di otak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue&lt;/span&gt; kepada seseorang jika dia telah menjadi bagian dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue&lt;/span&gt;. Katakanlah teman akrab, saudara, sahabat, atau rekan kerja yang telah dianggap saudara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kadang gue nyablak banget ngomong, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;maybe&lt;/span&gt; kultur Sumatera masih nyangkut mendarah-daging (kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;My Honey&lt;/span&gt;). Bilang nggak suka, nggak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;matching&lt;/span&gt;, norak, sewot, atau mengkritik sikap seseorang biasanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue&lt;/span&gt; bilang langsung. Karena udah "dekat" &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue&lt;/span&gt; pikir nggak perlu merasa tersinggung. Kadang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue&lt;/span&gt; melihat "kilat" di mata seseorang abis&lt;span style="font-style:italic;"&gt; gue &lt;/span&gt;coment sesuatu, di situlah gue pikir lawan bicara nggak suka atau merasa tersinggung dengan ucapan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue&lt;/span&gt;. Padahal sumpah mati, bukan niat menyinggung. Biasanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue&lt;/span&gt; segera meminta maaf dan mengklarifikasi :-) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Gue&lt;/span&gt; nggak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pengen &lt;/span&gt;orang sakit hati dengan kata-kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue&lt;/span&gt;, tapi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue&lt;/span&gt; juga mesti ngomong apapun yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ngerundel&lt;/span&gt; di dalam hati. Kayaknya ini pokok soalnya kali &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ye&lt;/span&gt;? Hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitulah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue &lt;/span&gt;menganggap pasangan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue&lt;/span&gt;, istri sekaligus teman yang sudah&lt;span style="font-style:italic;"&gt; gue&lt;/span&gt; anggap sodara, eh salah.... sudah menjadi sosok yang menjadi bagian dari hidup &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue&lt;/span&gt;, sudah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue&lt;/span&gt; akrabi (ya iya lah). &lt;span style="font-style:italic;"&gt;So&lt;/span&gt; ngomong aja, apa adanya seperti kamu adanya. Itu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue &lt;/span&gt;banget sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi susah, karena ngomong yang terlalu apa adanya versi ini, sering terjadi kesalahpahaman. Apalagi nada suara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue &lt;/span&gt;kadang yang mengelegar dan sedikit keras. Sungguh, bagian yang ini (mengatakan kritik, protes, atau komplain) gak bisa manis-manis, bernada riang, dan apalagi kayak merayu :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ujung-ujungnya kita (tepatnya dia) diem-dieman &lt;span style="font-style:italic;"&gt;dah&lt;/span&gt; :-) Doi jadi patung. Dan jadilah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue&lt;/span&gt; bingung tinggal ama patung berjalan di rumah. Susah buat ngajak dia mengibarkan bendera putih, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;peace&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;My Honey...!&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Gue &lt;/span&gt;nggak nyaman kalo ada seseorang di samping &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue&lt;/span&gt; tapi kita saling berkesel ria atau bersikap &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bete&lt;/span&gt; karena sikap salah satu atau keduanya. Beg beg beeg begghitulah kira-kira...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gue&lt;/span&gt; berhasil membuat dia tersenyum dan nggak marah lagi dalam satu kali rayuan. Meski cuma sekali doang, wakakaka...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mencintai bukan hanya pujian, tapi juga kritik…”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-3472541271550733057?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/3472541271550733057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=3472541271550733057' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/3472541271550733057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/3472541271550733057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/06/kontrol-ucapmu-untuk-laku-yang-baik.html' title='Kontrol Ucapmu Untuk Laku yang Baik'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/TCg1ehZPWuI/AAAAAAAAAF8/6JGWCMtsv04/s72-c/emotion1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-671038568357767323</id><published>2010-06-02T09:13:00.002+07:00</published><updated>2010-06-28T11:36:31.869+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RAGAM'/><title type='text'>Tersapa Sedih</title><content type='html'>Tak ada masa berakhirnya persaudaraan itu, jika kita saling mendekatkan hati-hati. Khilaf dan salah adalah niscaya. Bersahaja menerima akan meneguhkan cinta dalam hati setiap orang yang mengaku sahabat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-671038568357767323?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/671038568357767323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=671038568357767323' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/671038568357767323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/671038568357767323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/06/tersapa-sedih.html' title='Tersapa Sedih'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-1220293694221467643</id><published>2010-05-21T14:06:00.007+07:00</published><updated>2010-05-21T14:40:31.309+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Rahasia yang Tak Terungkap</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S_Y3eo_02GI/AAAAAAAAAF0/plqObMTGBBE/s1600/sufi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S_Y3eo_02GI/AAAAAAAAAF0/plqObMTGBBE/s320/sufi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473623396656142434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta),&lt;br /&gt;Itu semua hanyalah kulit.&lt;br /&gt;Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah&lt;br /&gt;rahasia yang tak terungkapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Jalaluddin Rumi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-1220293694221467643?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/1220293694221467643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=1220293694221467643' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/1220293694221467643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/1220293694221467643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/05/rahasia-yang-tak-terungkap.html' title='Rahasia yang Tak Terungkap'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S_Y3eo_02GI/AAAAAAAAAF0/plqObMTGBBE/s72-c/sufi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-1298176936966797254</id><published>2010-05-19T15:54:00.005+07:00</published><updated>2010-05-20T14:07:02.607+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TENTANG CINTA'/><title type='text'>Tak Boleh (Merasa) Lelah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S_TfYm2Il6I/AAAAAAAAAFc/3pgmhMwpIRI/s1600/love.jpeg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 259px; height: 194px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S_TfYm2Il6I/AAAAAAAAAFc/3pgmhMwpIRI/s320/love.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473245060999452578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Apa yang membuat berhenti di satu titik?&lt;br /&gt;Stagnan&lt;br /&gt;Begitu banyak hal yang membuatmu harus berjuang&lt;br /&gt;Memberi arti bahwa hidup adalah membuat orang-orang yang kau cintai tersenyum&lt;br /&gt;Karena engkau terus menebar kasih sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wake up, Man!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta dengan tak sekadar kata.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-1298176936966797254?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/1298176936966797254/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=1298176936966797254' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/1298176936966797254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/1298176936966797254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/05/tak-boleh-merasa-lelah.html' title='Tak Boleh (Merasa) Lelah'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S_TfYm2Il6I/AAAAAAAAAFc/3pgmhMwpIRI/s72-c/love.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-5731251894036452726</id><published>2010-05-10T10:42:00.012+07:00</published><updated>2010-05-14T10:25:27.764+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TENTANG CINTA'/><title type='text'>Jeruk Asem Pemberian yang Menjelma Dirinya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S-y7qDsF40I/AAAAAAAAAFU/6Pns7Gv7QOg/s1600/DSCN2323.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S-y7qDsF40I/AAAAAAAAAFU/6Pns7Gv7QOg/s320/DSCN2323.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5470953978567451458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, malam ke-21 pernikahanku dengan mojang Sukabumi. Dia mungil, manis, sekaligus membuatku enggan beranjak jika di dekatnya (ehm, syndrom pengantin baru kali ya, he-he-he....)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, apa yang membuatku sampai kepikiran menulis sepanggal kisah yang masih akan membentang berjuta episode (sinetron stripping kale!) di waktu mendatang? Halah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang dari kantor, aku melihat beberapa butir jeruk yang alamak; kisut, kecil-kecil, dan sama sekali tak menggairahkan. Padahal jeruk salah satu buah favoritku, cuma liat penampilannya yang sekadarnya jadi males nyentuh. Kok My Honey tega banget beli jeruk begituan, pikirku dalam hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ingat pas belanja bulanan pertama di Careffour bareng dia. My Honey nanya, "Sayang, kamu kok gak ambil apa gitu, keperluanmu?"&lt;br /&gt;Aku cuma menggeleng. Minyak rambut, shampoo, parfum, dll semuanya masih ada warisan jaman bujangan. Tapi, My God, kalau sendirian aku udah beli buah macam-macam biasanya. Budget buat buah biasanya lumayan sih kalo dulu. Bahkan kalau males makan aku mampir ke tokoh buah dekat kost, borong buah sebagai ganti makan malam, hohoho. Aku jadi curiga di biodata awal (hayoo, apa coba?) doi bilang suka buah, kenapa nggak inisiatif beli apel, jeruk, pir, pisang, jengkol... (eh, yang terakhir bukan buah ya?) Jadilah aku diam aja, sempat terhibur My Honey pengen es krim (aku juga kepengen he-he-he....). Tapi celingak-celinguk nggak ketemu, mana aku juga baru kali ini belanja di Careffour Depok. Es krim vanilla atau yang rasa buah Rp 2000-an kayak pelangi itu batal mampir di tenggorokan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, lanjut ke jeruk memprihatinkan tadi. Malam-malam aku liat my honey asyik ngupas jeruk yang entah ia beli di mana tadi. Aku sih udah memperkirakan jeruk itu asem dari penampilannya. Jeruk yang jaminan nggak asem itu jeruk medan, tapi kalo nggak beruntung dapat yang hambar atau manisnya nggak begitu. Jeruk yang pasti manis tapi aku biasanya nggak suka (karena jeruk impor) jeruk ponkam, kadang-kadang ada sensasi apa gitu yang "aneh". Kalo jeruk pontianak seger sih, kulitnya ijo, licin, tapi kadang asem kadang manis. Yang paling seger dan selalu manis sunkist, tapi repot makannya mesti pake pisau, sebelum pake mulut, whuakakaka.... Kulit sunkist tebal banget dan keras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu liat My Honey sibuk dengan jeruk-jeruknya, aku jadi nafsu juga. Tapi karena yakin asem nggak jadi ikut bergabung. Ngeri liat doi abis jeruk yang lumayan banyak itu.&lt;br /&gt;"Itu jeruk apaan Say, manis?" Kataku sambil menelan liur, membayangkan asemnya. &lt;br /&gt;"Asem...." My Honey menjawab santai, aku tambah heran. Asem ditelan juga. Kutanya kenapa diabisin, dia bilang asem-asem enak. Gubrakss....! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasaran, aku mengambil sesiung (benar gak sih istilahnya? dari tangannya. &lt;br /&gt;"Hueksss... sumpah! Ini mah benar-benar jeruk asem." Jeruknya kubuang. Males. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My Honey cekikikan, tapi tetap asyik menikmati asemnya jeruk. Walah, belum hamil aja doyan asem-asem. Begitu hamil jangan-jangan minta rujak belimbing wuluh campur asem jawa, mangga muda, asem kandis, cuka, pake asam sitrun, hohoho.... *Piss, Honey*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, tuh jeruk masih ada sisanya beberapa keping dari butir yang sama kumakan tadi. Aku nggak minat, jadi melihat doi aja. Bengong sekaligus takjub, doi bilang udah habis lima buah jeruk tersebut. Hebat, mantapff... Dengan pedenya My Honey ngasih aku sesiung jeruk yg udah dibersihin tali-tali alias urat-urat yang kadang nempel itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ogah, asem juga. Yang tadi aja dibuang," elakku. Romantis sih boleh, suap-suapan. Tapi jangan jeruk asem, Sayang. :-( &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My Honey berkeras, "nggak asem, coba deh." Tetap memaksa, tampangnya pede banget meyakinkan jeruk itu nggak asem. &lt;br /&gt;"Nggak, itu sama dengan yang tadi. Pasti asemlah logikanya." &lt;br /&gt;"Iya, tapi ini benar-benar manis kok! Coba ajjja dulu," katanya manis. &lt;br /&gt;Dipaksa-paksa mulu, aku manut juga. Penasaran, aku udah siap-siap mo jitak doi dan nyemprot kalo asem. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AMAZING.... AJAIB SODARA-SODARI!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JERUKNYA MANIS! Baru kali ini aku ngerasain sebutir jeruk belang-belang rasanya. Ada manis, ada yang asem. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, kok manis? Ini benar-benar manis, Sayang."&lt;br /&gt;My Honey tersenyum manis. Menang. "Dibilang juga apa, manis kan?" &lt;br /&gt;"Ho o... Kok bisa manis? Padahal yang lain asem. Kamu apain, dikasih mantera-mantera?&lt;br /&gt;"Dikasih cinta," jawabnya tangkas. Ehm, pas ngomong itu aku ngeliat doi manissss banget. Subhanallah. &lt;br /&gt;Waksss! Cinta bikin jeruk asem jadi manis. Tapi aku heran juga sampai sekarang, kok bisa ya? Hohoho.... Entahlah, apa sebabnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang baru merasakan keajaiban dalam ketakhabisan pikir merasa takjub. Cinta emang hebat euy. Jeruk asem yang menjelma cinta. Jeruk asem yang menjelma dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, kamu percayakah? Aku sih percaya, karena aku merasakannya bukan di negeri dongeng. Ah, cinta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-5731251894036452726?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/5731251894036452726/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=5731251894036452726' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/5731251894036452726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/5731251894036452726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/05/jeruk-asem-pemberian-yang-menjelma.html' title='Jeruk Asem Pemberian yang Menjelma Dirinya'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S-y7qDsF40I/AAAAAAAAAFU/6Pns7Gv7QOg/s72-c/DSCN2323.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-5765364511897119696</id><published>2010-03-25T16:07:00.003+07:00</published><updated>2010-03-26T18:02:36.441+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LITERASIdanSASTRA'/><title type='text'>Membuat Diri Memiliki “Sistem Menulis”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S6sqCUrnMSI/AAAAAAAAAFM/alqW0B7v6Ug/s1600/writing+keren.jpeg.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S6sqCUrnMSI/AAAAAAAAAFM/alqW0B7v6Ug/s320/writing+keren.jpeg.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452497993261855010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tips agar bisa produktif menulis? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya cukup sering kita membaca atau mendengar tips bagaimana supaya seseorang menjadi “pabrik” tulisan dengan produk yang membanjiri banyak media massa. Setiap penulis mempunyai kiat atau tips-tips yang berbeda, meski tujuannya tetap satu: terus menghasilkan karya secara periodik dengan kuantitas terjaga (tentu tanpa mengabaikan kualitas). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya sendiri belum bisa dikatakan produktif menulis  dan agak "gimana gitu" mendapatkan menuliskan ini. Tapi tidak apa-apa, setidaknya dengan menuliskannya besok saya akan malu mengatakan yang tidak saya kerjakan dan pada akhirnya menjadi produktif menulis, he-he-he… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dari pengalaman banyak penulis yang saya himpun dari berbagai perbincangan dan bacaan, saya menyimpulkan mereka yang “produktif” sebenarnya penulis yang memiliki sistem menulis atau writing system. Secara bebas saya mendefinisikannya mereka pemilik sistem menulis ini adalah individu yang menganggap segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan terjadi mengenai diri mereka harus ditulis. Dengan demikian pikiran mereka setiap saat terhubung supaya bagaimana  ide, pengetahuan, wawasan, dan gagasan yang dimiliki harus menjadi rangkaian kata-kata alias tulisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja dengan pikiran seperti di atas, maka pemiliknya secara sadar pula akan segera action menulis. Lalu kapan dia bisa berhenti menulis? Tidak pernah! Karena setiap orang tidak akan pernah berhenti mendapatkan ide, pengetahuan, wawasan, dan gagasan baru yang menjadi adonan sebuah tulisan. Dirinya tinggal menjalankan doktrin di otak yang sistematis itu dan melakukannya secara riil dengan tindakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memiliki writing oriented pada hidup yang dijalani, akhirnya sistem menulis telah melekat dalam otak manusia. Tinggal dirinya menerjemahkan sistem menulis ini secara praktis sesuai keinginan dan kebiasaan masing-masing. Inilah yang menjadi tips-tips yang bertebaran. Apakah dengan menuliskannya di notes, meluangkan waktu tertentu menulis blog, menulis di diary, menuliskannya malam hari/subuh, menulis di ponsel/PDA, dan sebagainya. Intinya mereka konsisten meluangkan waktu kapan pun itu untuk mengaduk bahan menjadi adonan, lalu memasaknya menjadi hidangan cerpen, novel, puisi, artikel, atau tulisan lain. Ehm, mengasyikkan bukan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun Sistem Menulis?&lt;br /&gt;Pada dasarnya semua orang bisa membangun sistem menulis masing-masing secara “unik” dan pas dengan karakter diri. Seperti jasad yang tidak bisa bergerak tanpa ruh, menulis pun demikian. Kita tidak akan bisa menulis (menggerakkan pena, memencet keyboard komputer) jika tidak memiliki motivasi psikis kenapa harus menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal di bawah ini mungkin bisa membantu untuk membangun sistem menulis pada diri kita masing-masing. Sehingga menulis menjadi sistem yang padu, include pada pada otak yang memerintahkan kita bergerak menulis kata demi kata, kalimat, paragraf, sampai sebuah tulisan utuh. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;1. Pancangkan dan perbaharui selalu niat (berdakwah, mencerahkan orang, berbagi pikiran, etc).&lt;br /&gt;2. Menulis membuat kita semakin kaya secara intuitif, wawasan, dan cerdas, dan lebih arif pada lingkungan.  &lt;br /&gt;3. Secara alamiah menulis akan memberikan keuntungan bagi kita. Apakah mendapatkan penghasilan, menjadi terkenal, aktualisasi diri, diakui kompetensi dan kepakarannya. &lt;br /&gt;4. Jika dorongan psikis “mengapa saya harus menulis?” telah menguasai diri, maka dengan gampang pula kita akan mendapatkan cara praktis sehari-hari untuk menulis, menulis, menulis…! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan, amin. [Elzam/foto diambil dari www.worldhum.com]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Tulisan yang menjadi bahan “Kiat Menulis Produktif” Pada Inagurasi FLP Bekasi ( 26-12-2009).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-5765364511897119696?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/5765364511897119696/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=5765364511897119696' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/5765364511897119696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/5765364511897119696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/03/membuat-diri-memiliki-sistem-menulis.html' title='Membuat Diri Memiliki “Sistem Menulis”'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S6sqCUrnMSI/AAAAAAAAAFM/alqW0B7v6Ug/s72-c/writing+keren.jpeg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-3268425665603279728</id><published>2010-03-10T17:44:00.013+07:00</published><updated>2010-08-28T09:06:18.185+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Tawa Tangis Gila</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bahkan, pada setiap kepahitan kita akan tertawa.&lt;br /&gt;Menertawakan penat diri yang tak lagi membuncah lelah.&lt;br /&gt;Ya, tawa itu adalah puncaknya...&lt;br /&gt;menjadi gila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merongrong hidup sampai busuk kau dibuatnya&lt;br /&gt;Maka sebodoh itukah kau menjadi keledai?&lt;br /&gt;Mengikis ketegaran sampai patah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu besok kau akan menangis&lt;br /&gt;Berulang&lt;br /&gt;Tawa; tangis&lt;br /&gt;Tangis; tawa&lt;br /&gt;Tawa &lt;br /&gt;Tangis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mati.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Elzam Zami]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-3268425665603279728?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/3268425665603279728/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=3268425665603279728' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/3268425665603279728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/3268425665603279728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/03/tawa-tangis-gila.html' title='Tawa Tangis Gila'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-5984058923866754897</id><published>2010-02-21T01:03:00.005+07:00</published><updated>2010-08-28T09:07:04.280+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Kusampaikan kata berbaris rapi menghadapmu.</title><content type='html'>Kusampaikan kata berbaris rapi menghadapmu.&lt;br /&gt;Sepertinya diam, tapi gegas di hati.&lt;br /&gt;Menghamparkan semua harap&lt;br /&gt;aku percaya padamu saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan bila  dihantamkan aku pada pilu pahit&lt;br /&gt;kuambil penawarnya darimu&lt;br /&gt;Lalu luka menguap suka&lt;br /&gt;Padamu, bersama adalah belajar&lt;br /&gt;menghapal bahwa hidup adalah tentang bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jadilah bara yang membakarku&lt;br /&gt;gelegakkan buncah cahaya&lt;br /&gt;sampai terang jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;padamu, aku lakukan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utan Kayu, 00:43/21.02.2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Elzam Zami]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-5984058923866754897?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/5984058923866754897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=5984058923866754897' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/5984058923866754897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/5984058923866754897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/02/kusampaikan-kata-berbaris-rapi.html' title='Kusampaikan kata berbaris rapi menghadapmu.'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-4971934279189918750</id><published>2010-02-12T20:15:00.012+07:00</published><updated>2010-08-25T12:04:35.546+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='INSPIRING'/><title type='text'>Tentang Emak:  Inspirasi Hidup Sang Anak, Cinta, dan Pengorbanan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/THSUMhW3ViI/AAAAAAAAAGc/4pS72Hq_TXc/s1600/Buat+blog.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 237px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/THSUMhW3ViI/AAAAAAAAAGc/4pS72Hq_TXc/s320/Buat+blog.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5509191187014571554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Emak melewati malam-malam sendiri di sebuah pondok kecil di pedalaman Bengkulu, tanah Sumatera. Sendiri saja. Wangi kelopak putih bunga kopi menemaninya. Menjelang senja, apalagi ketika hujan usai turun kelopak-kelopak kecil menyerupai bunga melati yang berbongkah-bongkah merekah dan memenuhi hamparan kebun kami hingga esok pagi ketika waktu dhuha sampai. Sungguh semerbak memenuhi udara segar pegunungan. Lalu bunyi serangga yang biasa kami sebut wirwir akan mendominasi suara malam beserta desir angin yang menggoyangkan rimbunan bambu, pohon durian, pohon puput, petai cina, atau hamparan batang kopi berdaun hijau dan tebal. Beliau tidur dengan kasur dan selimut seadanya. Kasur kapuk yang diisi sendiri oleh tangan beliau yang pohonnya juga tumbuh di sekitar kebun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum tidur Emak acapkali harus memperbaiki kertas bekas semen Padang yang direkatkan (menggunakan lem sagu) ke dinding untuk menghalau dingin. Dinding pondok tempat Emak melepas lelah adalah pelopoah. Terbuat dari bambu yang dibelah memanjang, lalu dimemarkan menyerupai kepingan papan di mana sebelumnya direndam supaya lembut. Dinding ini menyisakan celah-celah yang harus ditutup agar udara dingin dan angin pegunungan tak masuk ketika malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak akan tertidur lelap setelah seharian bekerja menjadi petani, yang berkarir dengan beronang,* sengkuit,** sepatu plastik hitam, dan topi bundar berpinggir lebar dari daun rumbia yang biasa dinamai serindak. Emak membersihkan rumput liar, membuang ranting-ranting mati, menumbangkan tunas, dan cabang tanaman kopi yang tak perlu, serta menyemprot hama. Semua pekerjaaan yang membutuhkan kekuatan otot itu dilakukannya sendiri. Padahal, bila melihat postur tubuh Emak, banyak orang seperti tidak akan memercayai kalau memang Emak melakukan pekerjaan-pekerjaan fisik itu. Jika musim panen tiba maka Emak akan memetik kopi, memikulnya sampai ke halaman pondok yang dipenuhi gundukan kopi hasil petikan. Kopi merah harus dijemur layaknya menjemur padi hingga kering. Setelah itu baru bisa dibawa ke heller, tempat menggiling kopi dengan mesin untuk memisahkan kulit dan biji kopi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang subuh Emak telah bangun, berwudhu dengan air dari gerigen yang telah disiapkan di belakang pondok sebagai persediaan sewaktu-waktu dibutuhkan. Sumber air cukup jauh, yakni sebuah aliran telaga berjarak sekitar 300 meter dari pondok, menujunya harus menuruni cadas yang berkelok-kelok. Lagipula terang yang belum sempurna membuat babi hutan, beruang, dan binatang lain semacam kalajengking masih punya alasan untuk berkeliaran. Jika menemani Emak di kebun saat-saat sekolah diliburkan, seringkali aku melihat Emak sholat dengan duduk saja. Kecapaian yang amat sangat menuntut demikian. Subhanallah. Duduk terpekur dengan mukenah putih tipis dan lusuh, membuat hatiku ngilu. Emak tetap menjalankan ibadah, melepaskan semua pengharapan pada Allah semata setelah segenap ikhtiar ditunaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah... bertahun-tahun sosok ibu yang kupanggil Emak berkiprah. Sampai kini ia tetap melakoninya. Menjadi petani sekaligus ibu bagi anak-anaknya yang sekarang telah beranjak dewasa semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ke manakah suaminya, anak-anaknya? Bapak hanya seorang guru. Dengan sembilan orang anak, maka mengandalkan gaji semata jelas tak mencukupi. Jadilah Emak mengurus kebun kopi. Sebelumnya kakak laki-laki keduaku yang mengurusnya. Emak hanya membantu. Tiga orang adikku –yang ketika itu belum bersekolah-- melewati masa kecilnya di kebun. Aku selalu tertawa mengingat Nina, adikku bungsuku kaget melihat ikan kok bisa ada di dalam kaleng? Maklum, sejak masih beberapa bulan dia dibawa ke kebun. Dan hampir-hampir tidak pernah melihat ikan sarden kalengan yang biasa dikonsumsi masyarakat. Sesekali saja ke Emak ke Curup, kota kabupaten tempatku tinggal. Bahkan ketiga adikku sering berlari berlindung di bawah rerimbunan kopi bila pesawat terbang lewat di atas sana. Mereka takut jika pesawat itu adalah pesawat Amerika yang membombardir Irak ketika Perang Teluk berkecamuk di tahun 1990-an lalu. Mereka hanya tahu pesawat untuk perang dan bisa saja mencelakai mereka yang sedang asyik bermain di sekitar pondok. Tentu saja informasi sepotong-sepotong itu hasil dari mendengar pembicaraan orang-orang dewasa kala itu. Namun ketika kakak keduaku memutuskan berhenti bertani dan ingin kuliah, Emak mengambil alih kebun. Hanya sesekali jika waktu libur sekolah dan saudara laki-lakiku yang lainnya ikut membantu. Menemani Emak di kebun yang hasilnya telah berjasa membiayai sekolah kami. &lt;br /&gt;Aku masih ingat, lekat dalam benakku sampai sekarang peristiwa-peristiwa yang berulang-ulang terjadi. Seringkali aku disuruh pergi ke kebun untuk mengabarkan perihal kakak ketigaku yang kuliah di Jogjakarta membutuhkan uang. Waktu itu aku masih SMP dan harus naik angkutan umum menuju desa asal kami, diteruskan berjalan kaki untuk mencapai kebun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak akan menjadi tumpuan harapan, dengan harapan kopi telah kering dan bisa segera dijual. Belum selesai kopi dipanen semua, belum kering keringat Emak. Sang anak telah meminta hasil, sedangkan aku tahu Emak di kebun makan sangat seadanya. Ketegaran macam apalagi yang bisa menandingi Emak? Sering aku menatapnya lamat-lamat ketika istirahat duduk beralaskan tanah. Berteduh di bawah pohon sekadar melepaskan sejenak rasa lelah. Matahari menyala-nyala membuat kerja gampang haus dan letih. Aku memperhatikannya takjub sekaligus perih. Emak petarung sejati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukatakan sekali lagi, jika melihat Emakku, pasti tidak akan mengira beliau bisa sekuat itu mengurus kebun kopi sendirian. Tubuh Emak kecil, kurus, tingginya mungkin sekitar 155 cm dan bobot kurang dari 40 kg. Tapi dia benar-benar kuat. Mampu berjalan kaki dari desa ke kebun yang berjarak sepuluh kilometer lebih, ditambah dengan mengangkut beronang berisi kayu bakar di pundaknya. &lt;br /&gt;Bapak memang cukup berpendidikan, lulus diploma sampai akhirnya bisa menjadi guru. Tapi tidak dengan Emak, beliau tak lulus SD dan hanya hanya bisa membaca seadanya. Meski demikian Emak tipe yang berpandangan jauh ke depan. Pendidikan bagi anak-anaknya adalah mutlak. Kondisi keuangan keluarga yang jauh dari mencukupi, bahkan sering kekurangan membuat dirinya menjadi orang pertama di keluarga yang turun membantu. Dan dialah sebenar-benarnya pahlawan bagiku dan saudara-saudaraku. Emak berjuang mati-matian mengurus kebun warisan satu-satunya kakekku untuk membantu pendidikan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak membesarkan kami dengan kasih sayang tanpa pernah mengeluh. Caranya membesarkan kami tidak dengan memberikan semua apa yang anak-anaknya inginkan atau menemani kami belajar setiap waktu. Bahkan karena lebih sering di kebun, banyak waktu kami untuk tidak bisa bersama Emak. Tapi kami memahami, pilihan itu diambil karena sesungguhnya bagi Emak kasih sayang harus dikonkritkan. Dan pilihannya saat itu adalah beliau harus bekerja membantu perekonomian keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya meski sering ditinggal Emak ke kebun, kami anak-anaknya terbiasa mengerjakan segala sesuatu secara mandiri. Kami terbiasa mencuci pakaian sendiri-sendiri, bergantian memasak, atau membersihkan rumah. Tidak ada pekerjaan rumah tangga yang tidak bisa kami selesaikan. Baik laki-laki ataupun perempuan, pekerjaan semacam itu tidak menjadi masalah lagi karena sudah biasa dilakukan. Berbeda dengan teman-teman kebanyakan yang semuanya serba tersedia karena ibu mereka mempunyai waktu yang banyak untuk mengurus keluarga sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila pekerjaan di kebun selesai dan bisa ditinggalkan cukup lama, maka Emak akan pulang ke rumah. Hal yang paling sulit kuungkapkan adalah beliau sebenarnya mengidap penyakit tubercolosis (TBC). Penyakit yang kemungkinan besar diakibatkan ketika tahun-tahun sebelumnya Emak pernah menjadi buruh harian pemilih biji kopi. Waktu itu bersama ratusan wanita lain Emak bekerja memisahkan biji kopi sesuai dengan tingkat kualitas masing-masing sebelum diolah lebih lanjut. Pekerjaan itu mengharuskan beliau bergumul seharian dengan kotoran kopi dan debu di gudang. Namun riwayat penyakit demikian tak membuat ia berhenti berbuat, Sembari kontrol rutin di Puskesmas, Emak tetap berjuang untuk kami anak-anaknya.&lt;br /&gt;Emak tidak akan bersantai-santai di rumah karena dia tidak bisa tinggal diam. Maka beragam kegiatan tambahan dilakukan Emak, bekerja menjadi pembuat kue, membantu toko kelontong, menanam kangkung di belakang rumah, dan pekerjaan lain yang tak bisa kuingat semua. Uang yang beliau dapatkan habis untuk membayar biaya sekolah kami, kuliah kakakku, dan membantu kebutuhan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang Emak adalah mengurai berjuta keteladanan. Bahwa kami harus giat belajar, harus mempunyai harapan, dan bangkit melebihi beliau beberapa langkah ke depan. Sebisa mungkin melesat lebih jauh beratus kali daripada kehidupan orangtua kami. Emak pernah berujar, “Cukuplah Emak yang tidak berpendidikan, tapi kalian tetap harus sekolah, kalau bisa sampai kuliah. Pendidikan tinggi bukan hanya untuk mencari pekerjaan, tapi agar bisa memanfaatkan hidup lebih baik. Orang yang bersekolah itu becaro,*** beda dengan yang tidak mengenyam pendidikan. Menyelesaikan pendidikan jangan sekali-kali hanya bertujuan supaya mendapatkan pekerjaan yang hebat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasihat Emak, ditambah melihat semangat kerasnya menjadi penopang keluarga bersama Bapak membuat aku berusaha sekolah sebaik mungkin. Dengan susah payah perjuangan Emak aku bisa menyelesaikan kuliah. Sama seperti kakakku yang kuliah di Jogjakarta -meski harus berhenti- Emak menjadi tumpuan membiayai kuliahku. Sampai sekarang Emak masih tetap bertahan menjalankan hidup yang penuh dengan kerja keras dengan menjadi petani kopi. Saran kami agar kebun itu dikerjakan orang lain dan keluarga kami mendapatkan bagi hasil tidak digubris. Menurut Emak hasilnya menjadi lebih sedikit karena harus berbagi, sedangkan kebutuhan sangat banyak. Lagipula bila diurus orang lain, Emak khawatir tidak dilakukan sebaik pemiliknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak sejak menikah dengan Bapak tak pernah berhenti berjuang. Terlebih ketika anak-anaknya mulai lahir satu-persatu. Masih kami kenang setiap fase-fase pekerjaan yang dilakukannya. Ketika merasa sedikit berbeda dengan teman-teman yang lain. Misalnya waktu aku masih SD antara kelas 2 atau 3, terasa sekali seakan tidak mempunyai ibu, karena ketika pulang Emak tidak menyambut kami. Beliau sibuk bekerja dan baru pulang menjelang magrib sebagai buruh harian pemilah biji kopi. Adikku masih dua kala itu dan si bungsu mendapatkan ASI setelah Emak pulang.&lt;br /&gt;Aku kerapkali terenyuh sekaligus kagum dengan kerasnya jalan hidup yang mesti dilalui Emak. Emak memang tidak berpendidikan, tapi demi bisa menjalankan ibadah lebih baik, dia terbata-bata membaca buku do’a dan panduan sholat. Emak masih menyempatkan mengikuti majlis taklim jika tidak sedang di kebun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang di usianya yang lebih dari 50 tahun, Emak masih bekerja mengurusi kebun kopi milik kami. Tiga orang adikku semuanya masih kuliah. Satu sedang menggarap skripsi, sedangkan adik yang tengah menginjak semester lima. Terakhir si bungsu yang baru saja masuk tahun pertama di sebuah perguruan tinggi negeri Bengkulu. Ditambah salah seorang kakakku yang berinisiatif mengambil pendidikan guru Taman Kanak-Kanak sambil nyantri di Pesantren Daurut Tauhid, Bandung. Alasan-alasan ini pula yang membuat orangtua kami masih bekerja. Di usia yang tak lagi muda Emak masih mengurus kebun. Terkadang adik yang laki-laki ikut membantu di sela-sela kuliah. Kakak lelakiku yang kebetulan belum menikah juga sesekali ikut membantu. Bapak yang telah pensiun pun masih mengajar di salah satu sekolah swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku malu sebenarnya. Sedih belum bisa membantu Emak dengan maksimal. Bekerja di Jakarta (dan hidup kost) membuatku tak bisa menyisihkan uang lebih banyak. Hanya sesekali aku membantu mengirim uang untuk adik-adikku. Selebihnya semua masih menjadi tanggungan orangtuaku dan dibantu saudara-saudara yang telah menikah. Sepanjang usianya Emak selalu memberikan apa yang terbaik bagi anak-anaknya. Seluruh tenaga dan waktu dicurahkan tanpa berpikir balas jasa apa yang akan kami berikan.&lt;br /&gt;Tentang Emak, aku akan merangkumnya menjadi satu kalimat. Emak selalu dan akan tetap ada untuk eksistensi keluarga kami. Beliau sangat-sangat bermakna bagi kami menyusuri lorong-lorong kehidupan di dunia. Emak akan menjadi sosok ibu yang selalu menjadi inspirasi ketika kami mulai malas dan enggan untuk bangkit dalam rintangan hidup. Belajar tentang cinta dan pengorbanan maka senyata-nyatanya guru adalah bagaimana Emak membesarkan kami. Menjadi beralasan ketika Rasulullah Saw menyampaikan bahwa orang yang pertama harus kita hormati adalah ibu. Rasulullah Saw menjawab sampai tiga kali dengan jawabannya yang sama ketika sahabat menanyakan siapa lagi yang harus dihormati setelah ibu. “Ibumu, ibumu, ibumu, lalu ayahmu,” itulah jawaban Rasul yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkhusus untuk Emak, aku mencintainya sepenuh jiwaku yang tak pernah lupa akan tetes keringat yang beliau kucurkan. Dan biarlah jejak-jejak kakinya yang terekam menyusuri bumi Allah ketika menjemput rezeki bagi anak-anaknya menjadi saksi. Satu hal yang ingin sekali kupersembahkan adalah menghajikan Emak, tentunya dengan Bapak. Apakah ini bisa terwujud, hanya Allah yang Maha Mengetahui. Aku akan tetap berupaya. Ya Allah, berkahilah umur yang panjang untuk kedua orangtuaku dan jadikan aku hamba yang bisa menunaikan bakti pada keduanya. Amiin. [Elzam]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-4971934279189918750?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/4971934279189918750/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=4971934279189918750' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/4971934279189918750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/4971934279189918750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2010/02/tentang-emak-inspirasi-hidup-sang-anak.html' title='Tentang Emak:  Inspirasi Hidup Sang Anak, Cinta, dan Pengorbanan'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/THSUMhW3ViI/AAAAAAAAAGc/4pS72Hq_TXc/s72-c/Buat+blog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-2276018667522923409</id><published>2009-08-10T12:19:00.002+07:00</published><updated>2010-03-26T18:10:04.043+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LITERASIdanSASTRA'/><title type='text'>Sutardji: Akan Selalu Ada Penyair Baru Seperti Rendra</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/Sn-vVF5GeoI/AAAAAAAAACo/dahj38m4TMg/s1600-h/pemakaman+rendra+3.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/Sn-vVF5GeoI/AAAAAAAAACo/dahj38m4TMg/s320/pemakaman+rendra+3.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368202057742711426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By: Elzam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyair &lt;/span&gt;bersahaja, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wahyu Sulaiman (W.S.) Rendra&lt;/span&gt; boleh pergi meninggalkan kita, bangsa Indonesia, dengan segenap warisan karyanya. Kini jasadnya telah dikebumikan di pemakaman yang menyatu dengan Bengkel Teater W.S. Rendra, Citayam, Depok. Tidak akan ada lagi puisi yang bisa dinikmati pecinta karyanya. Puisi dengan keindahan kata-kata yang lugas, khas Rendra. Terakhir puisi yang beliau tulis dan belum sempat diberi judul salah satu penggalannya adalah &lt;em&gt;Tuhan&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;aku cinta padamu. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;Akankah ada penyair baru yang mengikuti jejak cerdasnya? Rendra adalah penyair yang dikenal kritis pada penguasa tiap zaman yang digaulinya, yang menulis karya tanpa "bergenit-genit" dalam kata-kata. Tak heran sehingga karakter puisinya begitu jernih dan ringan untuk dipahami orang awam sekali pun. Tentang ini, teman sesama penyair Rendra, Sutardji Calzoum Bachri punya pandangan sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ditemui di sela-sela pemakaman Rendra, Sutardji mengakui kemahiran luar biasa Rendra berpuisi. Rendra telah begitu lama dia kenal. Sosok tersebut dalam penilaiannya sangat baik dan pemurah karena sering memberi uang pada siapa pun yang membutuhkan. Sebagai budayawan yang pernah dimiliki bangsa, penyair kelahiran Solo, 7 November 1935 ini dinilainya sangat berintegritas, cerdas, sekaligus humoris. Dan jika malam 6 Agustus 2009 lalu Si Burung Merak tersebut telah terbang, akan ada penyair baru yang lahir dari rahim bangsa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Pada suatu saat akan muncul. Penduduk Indonesia itu 220 juta jiwa. Kalau ada 1,5 persen saja yang suka berkesenian, yang diberi Tuhan kecerdasan akan selalu ada. Pada saatnya akan lahir penyair seperti Rendra," kata Sutardji.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Puisi Rendra menurut Sutardji memang banyak diakui sebagai puisi yang lugas bagi rakyat. Semua orang menyenangi, lalu membekas di hati masyarakat. Suatu bentuk kepenyairan yang tidak ditemui lewat karya penyair-penyair periode sekarang yang cenderung kabur dan gelap. "Karena penyairnya sibuk dengan dunianya sendiri, berbeda dengan Rendra yang berpuisi langsung ke masyarakat karena kelugasan itu."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Terlepas dari itu, Rendra juga meninggalkan komunitas Bengkel Teater W.S Rendra. Bagaimana arah perjuangan Bengkel Teater di Citayam yang menjadi tempat bergiat banyak penyair setelah Rendra tiada, akankah bentuk atau gagasan kepenyairan beliau pupus begitu saja? Soal ini, Rendra menurut Sutardji membangun bengkel teater dengan sikap apolitik. Sosoknya menjadi guru kreatifitas yang mendukung semua bentuk ide kreatif berkesenian. "Tidak memihak, karena kalau politik untuk mengumpulkan massa, mengumpulkan satu gagasan saya pikir bukan itu tujuan bengkel teater Rendra," tambahnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bengkel teater Rendra akan tetap menjadi tempat pendidikan teater. Dalam prosesnya adalah untuk menampung kreativitas yang masing-masing bisa berbeda, termasuk dengan Rendra sendiri misalnya. Perbedaan yang menurut Sutardji sangat mungkin terjadi. [&lt;strong&gt;Elzam&lt;/strong&gt;]&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Puisi terakhir Rendra yang ditulis ketika sakit, dan diperlihatkan masih dalam tulisan tangan Rendra sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Aku lemas&lt;br /&gt;Tapi berdaya&lt;br /&gt;Aku tidak sambat rasa sakit&lt;br /&gt;atau gatal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pengin makan tajin&lt;br /&gt;Aku tidak pernah sesak nafas&lt;br /&gt;Tapi tubuhku tidak memuaskan&lt;br /&gt;untuk punya posisi yang ideal dan wajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pengin membersihkan tubuhku&lt;br /&gt;dari racun kimiawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin kembali pada jalan alam&lt;br /&gt;Aku ingin meningkatkan pengabdian&lt;br /&gt;kepada Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, aku cinta padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rendra&lt;br /&gt;31 July 2009&lt;br /&gt;Mitra Keluarga&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-2276018667522923409?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://annida-online.com/berita.php?id=223' title='Sutardji: Akan Selalu Ada Penyair Baru Seperti Rendra'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/2276018667522923409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=2276018667522923409' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/2276018667522923409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/2276018667522923409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2009/08/sutardji-akan-selalu-ada-penyair-baru.html' title='Sutardji: Akan Selalu Ada Penyair Baru Seperti Rendra'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/Sn-vVF5GeoI/AAAAAAAAACo/dahj38m4TMg/s72-c/pemakaman+rendra+3.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-936450088397992491.post-1585627665233890911</id><published>2009-07-02T20:12:00.002+07:00</published><updated>2010-03-26T18:11:33.879+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RAGAM'/><title type='text'>Imelda cantik dan sepeda kecilnya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S6jFdW7CjPI/AAAAAAAAAE0/XRuyX7TPcHQ/s1600-h/DSCF1362.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S6jFdW7CjPI/AAAAAAAAAE0/XRuyX7TPcHQ/s320/DSCF1362.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5451824457092074738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambutnya sedikit pirang bergelombang dengan mata jenaka, kulit putih, dan wajah keindo-indoan yang cantik. Kelincahannya membuat kegembiraan bagi yang mengenalnya. Benar-benar gadis yang memesona...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu, ketika berangkat kerja aku terkejut (dan juga gembira) ketika ponsel berdering. Nyaring. Sederet nama yang kusave "Imelda Cantik" memanggil. Benar-benar kejutan. Sampai-sampai aku gelagapan mengangkat panggilanya. Wah, bisa nyombong neh di depan Ibu Lita, penjual nasi yang kuminta membungkus nasi untuk sarapan di kantor nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Halo, ini Kak Elzam ya? yang kurus itu?"&lt;br /&gt;Gubraks... Masa aku yang diingat kurusnya doang! Tapi demi terdengar keren, kujawab dengan sopan.&lt;br /&gt;"Iya, benar. Ini Kak Elzam yang ganteng itu. Kenapa Sayang?"&lt;br /&gt;Hahaha,ibu penjual nasi sempat melirik dan aku pura-pura nggak ngeliat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar suara Imelda yang ketawa-ketiwi, kayaknya neh anak agak gaptek. Nggak bisa menggunakan ponsel dengan baik, atau mungkin Ge Er-an ngobrol dengan cowok. Masa sih, gadis secantik Imelda polos banget. Kayak belum pernah ngomong ama cowok, karena cantik pasti nya dia banyak yang naksir dong.&lt;br /&gt;Hanya saja, begitulah Imelda.&lt;br /&gt;"Imelda lagi ngapain?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Lagi di rumah. Kak Elzam kapan mau ketemu lagi?"&lt;br /&gt;Hehehe.... Imelda mau ketemu aku. Asyiiik. Tapi jam segini masih di rumah?&lt;br /&gt;"Lho,nggak sekolah memang?"&lt;br /&gt;"Kan libur..."&lt;br /&gt;"Oh, ya udah. Ntar deh kita ketemu. Mau nonton, atau ke mana, hehe...". Aku menjawab pertanyaan sebelumnya dengan nada bercanda."&lt;br /&gt;"Mau tapi aku nggak boleh. Nanti ketemunya gimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus tiba-tiba obrolan terputus. Yaah, benar-benar gaptek atau apa si Imelda cantik ini?&lt;br /&gt;Aku biarkan saja. Nggak call balik. Lagian buru-buru berangkat. Nasi buat sarapan udah dibungkus, bayar, dan kabur sambil mengucapkan terimakasih plus bayar. Di kantor beberapa jam kemudian Imelda nelpon lagi. Males ah, ngangkatnya. Mana aku lagi repot begini. Siangnya aku sempatkan sms, "Maaf ya tadi Kak Elzam lagi sibuk. Ada apa Imelda?" Sayang, Imelda nggak balas. Hikss...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur aku sampai sekarang belum bisa melupakan Imelda. Abis dia cantik dan bikin aku tertawa kalau bertemu. Lantas soal sepeda kecilnya? Hampir ketinggalan menceritakan soal sepedanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai tertarik dengan Imelda ketika ia dengan riangnya bersepeda. Waktu itu ia dengan temannya yang kulupa siapa namanya. Imelda bolak-balik di depanku sambil melirik-lirik. Lama-lama dia negur, "nama Kakak siapa? Boleh kenalan nggak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pelataran Museum Fatahillah di kala menjelang senja menjadi saksi perkenalan kami. Berlanjut ke tukaran nomor. Dia dulu lho minta nomorku! Ngobrol tentang sekolahnya, toko orangtuanya, kakaknya, dan lain-lain. Polos dan menggemaskan. Juga riang, sehingga aku selalu tertawa-tawa gembira. Dari penuturannya, rumah Imelda tak jauh dari Kota Tua. Kutebak, dia adalah anak keturunan Portugis yang banyak tinggal di sana. Turun-temurun zaman Batavia tempoe doeloe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imelda cantik dan sepeda kecilnya. Benar-benar memesona.&lt;br /&gt;Sayang, tak hanya sepedanya yang kecil. Dirinya pun masih kecil. Masih kelas dua atau tiga SD. Hehehe...&lt;br /&gt;Kalau sudah kuliah, ehm... kayaknya lebih asyik punya kenalan seperti Imelda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Imelda. Nanti kita telpon-telponan lagi ya. Nomor XL-mu masih Kakak simpan kok, Sayang. :-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/936450088397992491-1585627665233890911?l=kecekambo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kecekambo.blogspot.com/feeds/1585627665233890911/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=936450088397992491&amp;postID=1585627665233890911' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/1585627665233890911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/936450088397992491/posts/default/1585627665233890911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kecekambo.blogspot.com/2009/07/imelda-cantik-dan-sepeda-kecilnya.html' title='Imelda cantik dan sepeda kecilnya'/><author><name>Elzam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15938765739341518998</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S4ONyFQBPuI/AAAAAAAAAD8/PvrtL4zAXf4/S220/DSCN2104.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QRvRp8e-dd8/S6jFdW7CjPI/AAAAAAAAAE0/XRuyX7TPcHQ/s72-c/DSCF1362.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
